
Cukup lama berada di depan kantor polisi, Didit mulai bosan dan juga jenuh. Akhirnya memilih keluar dan meninggalkan sang kakak yang masih tertahan dibalik jeruji besi.
Sambil menyusuri jalanan sendirian tanpa sang kakak, Didit terus memikirkannya. Semua harapan lenyap begitu saja, dan tidak ada yang tersisa apapun. Rencana yang sudah tersusun rapi dan berharap semuanya akan baik-baik saja, tetapi kenyataannya begitu pahit dan berbanding terbalik dari semua yang dipikirkan.
Begitu juga dengan Anin, sang kakak yang mempunyai tujuan untuk bertemu dan bisa menyatukan cintanya, harus berakhir dengan kematian.
BRUK!
"Kalau jalan itu jangan ngelamun, nabrak kan! jadinya." Bentak seorang perempuan yang hampir saja jatuh karena Didit.
"Maaf, saya tidak sengaja." Jawab Didit yang merasa bersalah.
Sedangkan perempuan tadi, langsung pergi begitu saja.
"Galak banget itu perempuan. Apa ya, tinggal di kota itu orangnya keras-keras. Sepertinya tidak juga, buktinya Pak Tejo dan Bi Asih orangnya baik." Gumam Didit setelah menabrak perempuan yang tengah berjalan berlawanan arah.
Tidak terasa sudah hampir sore, Didit terus menyusuri jalanan tanpa berbelok arah ke kiri maupun ke kanan. Didit terus berjalan dengan pikirannya yang benar-benar sangat penat untuk dipikirkan. Saat itu juga, dirinya baru menyadari ketika perutnya terasa keroncongan.
"Jam berapa ini? sepertinya sudah hampir sore. Astaga! dimana aku? kenapa aku sampai lupa, aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi." Ucapnya lirih sambil memperhatikan langit yang cahayanya mulai terlihat redup, yang artinya matahari akan terbenam bersama harapannya yang mulai hilang.
Didit akhirnya duduk dibawah pohon yang rindang, air matanya pun jatuh dan membasahi kedua pipinya.
Tidak munafik bagi Didit, jika dirinya tak kuasa menahan kesedihannya, dan lolos lah pertahan air matanya yang langsung jatuh. Ingatannya, pun kembali kepada sang kakak yang tidak tahu bagaimana keadaannya yang sudah berada dibalik jeruji besi.
"Apa ya, aku harus menerima tawaran ibu-ibu tadi? kalau ibu itu hanya menjebak aku, bagaimana?" gumam Didit yang sudah tidak bisa untuk berpikir lagi.
Didit merogoh sakunya, dan diambilnya sebuah kartu nama dari perempuan paruh baya.
"Kasihan Kak Anin, jika harus mendekam di penjara seumur hidupnya. Apa aku coba aja, apa ya? siapa tahu, ibu tadi memang baik." Ucapnya lirih sambil memikirkannya lagi, yang ditakutkan akan menjebak dirinya dan juga sang kakak, pikir Didit yang dihantui dengan ketakutan.
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Didit segera menghubungi nomor yang tertera di kartu nama dengan uang yang sudah diberikannya.
Saat sambungan telpon sudah terhubung, Didit mengatur pernapasannya, agar tidak gugup saat bicara.
"Saya Didit, Bu. Saya menerima tawaran dari Ibu." Kata Didit saat menjawab pertanyaan dari sebrang telpon.
__ADS_1
Saat itu juga, Didit akan segera dijemput oleh pihak yang memberi tawaran kepada Didit. Tidak ada pilihan lain, semua demi keselamatan kakaknya.
Didit yang merasa lega dan juga cemas, berusaha untuk menenangkan diri sendiri agar tidak dihantui hal buruk yang bisa saja menghampirinya.
"Maafkan aku ya, Kak Anin. Jika aku menerima tawaran dari orang yang tidak aku kenal, karena aku tidak mempunyai pilihan lain untuk mencari cara agar Kak Anin bisa dibebaskan." Gumam Didit yang sudah menyerah dengan keadaan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah tengah menghampiri Didit.
"Apakah Anda yang bernama Didit?" tanya seorang supir.
Didit mengangguk, ingatannya langsung tertuju dengan seseorang yang sudah memberinya tawaran.
"Ya, saya Didit. Kalau boleh tahu, Anda siapa?" jawab Didit dan balik bertanya.
"Saya orang suruhan dari keluarga Alexander, yakni yang sudah memberi tawaran kepada Anda." Jawabnya.
Didit mengangguk, karena sudah mengerti siapa orang yang dimaksudkan.
"Mari, silakan masuk. Nyonya Xandria sudah menunggu Anda."
"Terima kasih." Jawab Didit dan segera masuk ke dalam mobil.
'Jadi penasaran, tawaran apa yang akan diberikan padaku? apakah aku diminta untuk menjadi pekerjanya? semoga saja orangnya benar-benar baik.' Batin Didit bertanya-tanya karena penasaran.
Cukup lama dalam perjalanan, Didit sama sekali tidak berucap sepatah katapun didalam mobil, dan memilih untuk diam.
Tidak terasa juga, mobil yang ditumpanginya, rupanya sudah memasuki halaman rumah. Lagi-lagi Didit terkagum-kagum dengan luasnya halaman rumah yang begitu mewah dan juga megah.
"Kita sudah sampai, ayo turun."
Didit yang tersadar dari lamunannya karena kagum dengan rumah yang sangat mewah, langsung membenarkan posisi duduknya.
"Kita beneran sudah sampai nih, Pak?" tanya Didit seperti tidak percaya.
"Ya, kita sudah sampai." Jawabnya sambil melepaskan sabuk pengamannya.
__ADS_1
Saat itu juga, dirinya teringat kembali ketika ditolong perempuan paruh baya, yang juga sama halnya orang kaya. Siapa lagi kalau bukan di rumah milik perempuan yang akan menjadi tunangan mendiang Andika, dan sayangnya pertunangannya harus gagal, lantaran adanya sang kakak dan dirinya di rumah tersebut.
"Ayo kita turun." Ajaknya lagi yang sudah ketiga kalinya.
Didit yang merasa tidak enak hati, akhirnya turun dari mobil.
Rupa-rupanya, Didit sudah ditunggu di teras rumah oleh pemilik rumah. Yakni, sepasang suami-istri yang tidak lagi muda.
"Permisi, Bu." Ucap Didit sambil membusungkan badannya, untuk menghormati yang lebih tua.
"Ayo, ikut kami masuk ke dalam. Kami tidak mempunyai waktu untuk basa-basi, kita akan akan membahas ke topik intinya secepat mungkin. Lebih cepat lebih baik." Ucapnya, Didit mengangguk.
"Ya, Bu." Jawab Didit dengan panggilan Ibu.
"Silakan duduk." Ucapnya mempersilahkan Didit untuk duduk.
Ada rasa sedikit gugup, sebisa mungkin, Didit berusaha agar tetap terlihat tenang.
"Perkenalkan, nama saya Mawan Alexander, dan ini istri saya yang bernama Yenizar Xandria." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Dan saya, Aditya, biasa dipanggil Didit, Pak." Jawab Didit yang juga ikut memperkenalkan diri.
"Kamu pasti penasaran, 'kan? sebenarnya tawaran apa yang akan kami berikan padamu. Seperti itukah yang ada didalam pikiran kamu?"
"Ya, Pak. Saya sangat penasaran dengan tawaran yang akan diberikan kepada saya. Kalau bukan karena Kakak saya, tidak mungkin saya akan mendatangi rumah ini." Jawab Didit dengan sangat hati-hati ketika berucap.
"Tawaran dari kami tidaklah berat, cukup menyetujuinya saja."
"Benar, imbalannya juga besar. Selain kakak kamu akan aman, kamu juga akan mendapatkan pekerjaan dari kami." Timpal dari seorang istri pemilik rumah, yakni Nyonya Yenizar.
"Kalau boleh tahu, tawaran apa yang akan kalian berikan kepada saya?" tanya Didit yang sudah tidak sabar untuk mengetahuinya.
"Kakak kamu akan kami nikahkan dengan putra kami, tapi ..." jawab Beliau yang tiba-tiba terhenti.
"Tapi kenapa, Pak?"
__ADS_1
"Putra kami lumpuh, emosional, dan harus sabar menghadapinya."
Didit langsung membulatkan kedua bola matanya. Mana mungkin tega, kakaknya harus menikah dengan lelaki yang lumpuh, emosional, dan harus sabar menghadapi, pikir Didit yang lumayan keberatan untuk menikahkan kakaknya dengan lelaki yang jauh dari kata lumayan.