
Anin dan Elang duduk bersama Gion, mereka bertiga melanjutkan obrolannya sambil menikmati kopi panas di malam hari.
"Elu mah, nikah aja diem-diem. Sudah lupa apa Lu, sama Gue. Sampai lupa, dapat istri dari mana Lu, perasaan di rumah terus. Apa jangan-jangan lewat perjodohan?" Tanya Gion, arah pandangannya tertuju pada Anin karena takut menyinggung perasaannya mengenai perempuan yang disukai dari kampung.
"Maaf, Nona. Saya tidak bermaksud untuk menjadi kompor di rumah tangga kalian. Saya hanya kaget aja, kalau Alex sudah nikah." Sambung Gion pada Anin.
"Ya, gak apa-apa kok." Jawab Anin dengan senyum yang ramah.
"Oh ya Gion, sudah berapa lama kamu pulang ke tanah air? tumben gak pernah main ke rumah."
"Belum lama ini sih, aku tuh sibuk di dunia kerjaku. Tahu sendiri, menjadi pewaris tunggal tuh gak enak. Semua diserahkan padaku, sampai kualahan akunya. Kamu mah enak, orang tua kamu masih ada. Lah aku, cuma sama kakek doang. Malam ini aja, aku minta ditemani sama keponakan teman Papaku untuk mengajakku jalan-jalan. Eh, palah sial." Jawabnya dan berkeluh kesah.
"Sial, sial kenapa kamunya? perasaan dari dulu selalu hoki. Tumben tumbennya Elu sial, lagi kurang sajen Lu ya."
"Tau, itu teman-teman dari keponakan teman Papaku yang lagi pada berantem. Biasalah anak muda, merebutkan lelaki yang bukan miliknya. Ah ngapain Gue cerita, kek emak-emak aja." Jawab Gion yang tersadar sudah bergosip layaknya ibu-ibu Kompleks.
Elang tertawa mendengarnya, sedangkan Anin hanya menahan tawanya.
"Salah kamunya sendiri, ngapain ikut kumpul bareng itu orang."
"Mana aku tahu, Lex. Sudahlah gak perlu di bahas, kita ngobrolin yang lainnya aja. Oh ya, dapat istri dari mana kamu? tadi kan, belum jawab pertanyaan dariku."
"Ah ya, sampai lupa akunya. Dia ini perempuan yang dulunya sering aku ceritakan sama kamu, cewek kampung yang membuatku tergila-gila, namanya Anin." Jawab Elang memperkenalkan istrinya.
Gion yang mendengarnya, pun tak percaya. Jika perempuan yang ada di hadapannya ini adalah memang benar-benar sosok yang sangat dicintai oleh Elang.
'Pantes aja si Elang tergila-gila, cantik gini. Akupun juga mau, tapi sayangnya cinta matinya Elang.' Batin Gion tengah memuji istri temannya sendiri.
"Pantas, istrimu biasa-biasa aja saat aku bicara perempuan yang kamu cintai, rupanya sudah menjadi istrimu sekarang." Ucap Gion yang merasa aneh pada istrinya Elang yang tidak menunjukkan kecemburuannya.
__ADS_1
Rupanya yang dibicarakannya yang tidak lain istrinya Elang, tentu saja tidak muncul getaran rasa cemburu sedikitpun.
"Ya, sekarang sudah menjadi istriku. Aku tidak peduli dengan kepribadiannya mau seperti apa kekurangannya, yang jelas aku hanya mencintai dia tak berujung waktunya." Ucap Elang dengan terang-terangan jika dirinya sangat mencintai istrinya, meski mempunyai banyak kekurangan sekalipun.
Bagi Elang, cinta tak melulu harus sempurna, dan tidak menuntutnya lebih dari batas kemampuan istrinya.
Gion yang mendengar ucapan dari Elang, serta pengakuannya, sungguh perlu untuk dicontoh dalam mempertahankan perasaannya dan juga cara dia berpikir dalam menjalani hubungan dalam pernikahan.
"Salut Gue sama Elu, Lex. Entah sudah sebesar apa dengan perasaan kamu itu pada istrimu, rasa cinta monyet, kini sudah meluas seluas samudera." Puji Gion yang benar-benar kagum dengan prinsipnya yang bertahan akan perasaan cintanya terhadap perempuan yang sangat dicintainya itu.
Anin yang mendengarnya sendiri, pun tidak melihat suaminya tengah bermain rekaya. Ucapannya memang terdengar asli dari pengakuannya sendiri tanpa dibuat-buat.
"Makasih, Gion. Aku do'akan kamu, semoga segera mendapatkan pendamping hidupmu." Kata Elang, tak lupa mendoakannya.
Gion tersenyum.
"Thanks ya, Lex. Ah ya, aku juga lupa. Selamat ya, atas pernikahan kalian berdua. Semoga bahagia selalu menyelimuti kalian, dan tergapai impian kalian dalam berumah tangga." Ucap Gion yang baru tersadar jika dirinya baru menyempatkan memberi ucapan selamat pada kedua mempelai suami-istri.
Meski keduanya sama-sama dari keluarga yang kaya raya, tetapi tidak menjadikannya sombong. Bahkan, penampilan Gion terbilang biasa-biasa sana.
"Boleh banget kok Lex, sering-sering juga boleh." Jawab Gion sambil meledek.
"Kalau kamu mau aja sih, gak apa-apa. Tapi ada syaratnya, nikah dulu."
"Bah! itu namanya gak cuma syarat aja, hem."
"Udah ah, aku mau panggil pelayan dulu." Ucap Elang dan memanggil pelayan yang tidak jauh dari tempat duduknya.
Setelah itu, memesan sesuai seleranya masing-masing.
__ADS_1
Di tempat lain, Burnan bersama Ayun dan Nilam, ketiganya baru saja sampai di rumah kos-kosan.
Saat membuka pintu rumah, alangkah terkejutnya saat Dinda sudah menarik kopernya untuk pergi dari tempat kosannya.
"Din, kamu mau kemana?" tanya Burnan.
Ayun sendiri mendekatinya.
"Ya Din, kamu pergi kemana? kendalikan emosi kamu. Kita berangkat bersama, jangan sampai kita berpisah. Kita sudah berteman sejak dulu, sejak masih kecil. Masa ya, kamu mau putuskan hubungan pertemanan kita ini."
Sedangkan Nilam sendiri masih diam, perasaan kesalnya masih menguasai dirinya dengan penuh emosi.
"Untuk apa aku tinggal disini, kalian bertiga tuh sama aja. Selalu dan selalu memberi nasehat yang gak penting. Sekarang tuh, gak jamannya nyerah atau terima nasib, harus berusaha dan kita sendiri yang menentukan pilihan kita." Jawab Dinda yang tetap bersikukuh dengan keputusannya dari awal.
"Terus, kamu mau pergi kemana? kita aja baru masuk kerja. Tentu saja, kita belum dapat gaji." Ucap Ayun mengingatkan.
"Soal tinggal dimana mah, itu gampang buatku. Yang terpenting, aku tidak mudah menyerah dan tidak untuk selalu dibawah." Jawab Dinda dengan entengnya.
"Baiklah, terserah kamu. Kita-kita tidak akan menahan kamu, yang terpenting kita sudah mengingatkan kamu. Selebihnya, kamu bertanggung jawab atas diri kamu sendiri di kota ini." Ucap Burnan mewakilkan kedua temannya.
Dinda tidak peduli dengan ucapan dari Burnan, dan memilih untuk segera pergi dari hadapan ketiga temannya tanpa berpamitan serta meminta maaf. Justru, perasaan kesalnya semakin membuat napasnya terasa panas. Bahkan, otaknya saja seperti serasa mendidih.
Sedang Ayun dan Nilam tak berkata sepatah katapun pada Dinda. Begitu juga dengan Burnan, memilih untuk diam dan tak ingin memaksakannya untuk tetap berada dalam satu kos-kosan dengan Ayun dan Nilam.
"Permisi, apakah ini kos-kosan milik Mbak Ayun?"
"Ya, Pak, saya sendiri orangnya." Jawab Ayun.
"Ini, ada pesanan dititipkan lewat Bapak. Tadi katanya sih udah datang ke sini, tapi katanya gak mau bukakan pintu. Jadi dititipkan sama Bapak." Ucapnya sambil menyodorkan pesanan milik Ayun.
__ADS_1
"Oh, kalau gitu makasih banyak ya, Pak." Kata Ayun berterimakasih.
"Ya, Nak Ayun, sama-sama." Ucap Bapak tersebut, sekaligus berpamitan setalah mengantarkan pesanan yang di pesan oleh Ayun.