
Didit yang mendengar kakaknya menjerit histeris, segera masuk kedalam ruangan. Begitu juga dengan ayahnya Andika, langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
Anin semakin terisak dan menangis histeris saat mengetahui kekasihnya tidak mendapatkan respon apapun.
Didit langsung menekan tombol, agar sang dokter segera datang.
"Andika! bangun, Nak. Andika! bangun." Teriak sang ayah mengguncangkan tubuh milik putranya.
Kemudian, Tuan Herman langsung mendorong Anin dengan kursi rodanya. Untungnya, Didit langsung menahannya dan tidak sampai kakaknya terjatuh.
"Kamu apakan anakku! hah! katakan! cepat." Bentak Tuan Herman yang sudah hilang kendali, dan menatap tajam pada Anin.
Sedangkan Anin gemetaran saat mendapat amukan dari Tuan Herman.
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dan langsung memeriksa kondisi Andika.
Dengan fokus, sang dokter memeriksanya. Kemudian, menoleh pada Tuan Herman sambil menggelengkan kepalanya.
"Pasien telah meninggal dunia. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain." Ucap sang Dokter bagai sambaran petir kepada Tuan Herman dan Anin selaku kekasihnya.
Anin langsung jatuh pingsan saat itu juga, Didit langsung menangkapnya, dan dibawanya ke ruangannya untuk mendapatkan penanganan.
"Tidak mungkin, Dokter pasti bohong. Tolong, Dok, coba periksa lagi." Perintah Tuan Herman sambil mengguncangkan tubuh sang dokter.
"Kamu yang sabar, Tuan Herman. Aku turut berduka cita, hidup dan mati sudah takdir. Mungkin hanya sampai disini putramu menjalani hidupnya, relakan kepergiannya." Jawab sang dokter selaku teman Tuan Herman.
"Andika ...!" teriak Tuan Herman yang begitu terpukul saat menerima kenyataan yang begitu pahit, karena harus kehilangan putranya semata wayangnya.
Seakan dunianya menjadi gelap, hancur seketika harapannya yang sudah ditata rapi. Hidup tak seindah yang ia bayangkan, seakan semua hanya mimpi untuk bisa digapai.
Saat itu juga, Tuan Herman teringat dengan masa lalunya. Yang mana dirinya menjadi egois dan lupa dengan janjinya dengan perempuan yang dicintainya, yakni mendiang istrinya dulu.
Dan kini, Tuan Herman harus ditinggalkan oleh putranya setelah istri pertamanya.
__ADS_1
Bukannya menyadari atas apa yang terjadi dan apa yang diterima, Tuan Herman semakin menjadi-jadi.
Sedangkan jenazah Andika segera diurus dan diantar ke rumah utama Tuan Herman.
Dengan emosi yang masih menguasai Tuan Herman, langsung menuntut pada Anin. Tapi, niatnya diurungkan, lantaran harus mengurus pemakaman putranya.
Di lain sisi, Anin belum juga sadarkan diri. Didit semakin bingung dibuatnya, tidak ada siapa-siapa yang bisa membantunya. Bahkan, untuk tempat tinggal saja tidak punya.
Ditambah lagi dengan isi dompet yang mulai menipis, Didit tidak tahu harus bagaimana.
"Bagaimana ini? haruskah aku mengajak Kak Anin langsung pulang ke kampung? tapi ...
Belum sempat berpikir, Anin mulai memanggil nama kekasihnya.
"Andika, jangan tinggalkan aku. Andika, jangan pergi. Kamu sudah berjanji, kamu akan setia bersamaku. Andika, aku sangat mencintaimu." Panggil Anin yang tengah mengigau, dan terus menyebut nama kekasihnya.
"Kak, sadar, Kak." Kata Didit berusaha untuk memenangkan pikiran kakaknya.
Anin yang setengah sadar dan seperti mimpi, membuka kedua matanya dengan sempurna. Kemudian menyempurnakan ingatannya, dan Anin kembali menangis sesenggukan.
Anin masih terus menangis, dirinya merasa sangat kehilangan orang yang begitu dicintainya.
Janji yang sudah dijanjikan akan ditepati, harus gagal begitu saja. Ingatannya kembali masa ke masa lalunya, penuh kenangan yang indah bersama orang yang dicintainya.
Bertahun-tahun lamanya, Anin dan Andika menjalani hubungannya, keduanya sama-sama berjanji untuk tidak berpaling. Janji itupun telah dibuktikan oleh Anin dan juga Andika, meski kenyataannya hanya sampai pada napas terakhirnya.
Anin sangat terpukul menerima kenyataan yang begitu pahit, melebihi pil yang harus ditelan.
Dengan kondisinya yang masih butuh perawatan, harus bertambah pikiran. Terus dan terus menangis.
"Sudah Kak, sudah. Relakan kepergian Kak Andika, biarkan pergi dengan tenang. Kita juga bakal kembali, hanya menunggu giliran." Ucap Didit yang terus mencoba untuk menenangkan pikiran kakaknya.
Anin masih diam dan menangis, dan hati kecilnya masih belum siap untuk menerima kenyataan.
__ADS_1
"Antar Kakak ke rumahnya, Kakak ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya." Pinta Anin sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Tapi bagaimana dengan kondisi Kakak saat ini? Kakak butuh istirahat yang cukup. Masih ada waktu untuk besok, Kakak bisa mendatangi makamnya." Kata Didit, sedangkan Anin tetap bersikukuh dengan keinginannya.
Didit yang sebenarnya ada rasa takut, jika kakaknya akan mendapatkan penghinaan dan dijadikan tersangka, terasa berat untuk mengantarkan sang kakak untuk pergi ke rumah ayah Andika.
Tapi, mau bagaimana lagi, Didit tidak bisa menolaknya karena tak ingin melihat kakaknya yang terus bersedih.
"Baiklah, aku akan menemani Kakak. Tapi, kalau seandainya dokter tidak mengizinkan, kita tidak bisa memaksa." Ucap Didit, Anin pun mengangguk.
Karena tidak ingin menunggu lama-lama, Didit segera menemui dokter untuk bertanya langsung.
Saat sudah berada di ruangan dokter, Didit mengatur pernapasannya. Kemudian, memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf, kesehatan kakak kamu harus pulih dulu, baru bisa diizinkan pulang. Dengan kondisinya yang lemah, dan takutnya akan bertambah drop. Jadi, saya menyarankan untuk tetap dirawat di rumah sakit. Kesehatan lebih penting dari apapun, pikirkan baik-baik sebelum memutuskan untuk memilih pulang."
"Baik, Dok. Kalau begitu, saya permisi."
Setelah mendapatkan jawaban dari dokter, Didit kembali untuk menemui kakaknya, dan memberitahunya.
"Bagaimana, Dit? Kakak boleh pulang, 'kan?" tanya Anin penasaran, karena sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit.
Didit menggelengkan kepalanya, dan berjalan mendekati.
"Kakak masih butuh istirahat yang cukup, kondisi Kakak masih lemah. Jadi, dokter menyarankan untuk bertahan beberapa hari di rumah sakit ini. Jika kondisi Kak Anin benar-benar sudah pulih, baru diizinkan untuk pulang." Jawab Didit yang tengah berdiri disebelah adiknya.
Anin sangat kecewa mendengar jawaban dari adiknya, tentu saja diluar dugaan.
"Tidak bisa, Dit. Kakak harus bertemu dengannya, Kakak ingin sekali bertemu. Bagaimana kalau kita kabur saja, Kakak sudah sehat kok." Kata Anin yang tidak percaya apa yang dikatakan adiknya.
"Aku serius, Kak. Lagi pula, masih ada hari esok. Kakak jangan egois, kesehatan juga penting." Ucap Didit mencoba mengingatkan kakaknya.
"Dit, apa kamu sudah lupa? Andika yang sudah menyelamatkan nyawa Kakak. Tanpa dia, mungkin Kakak sudah tiada." Jawab Anin dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Didit langsung memeluknya.
"Aku tahu, ini sangat berat untuk Kakak, tapi keadaan yang tidak bisa dipaksakan, Kak. Aku mohon, Kak Anin jangan egois. Kakak juga butuh sembuh dan juga sehat, bukan juga untuk menyiksa diri Kakak sendiri." Ucap Didit berusaha untuk membujuk kakaknya, agar tidak menuruti keegoisannya.