
'Kenapa juga, mesti Anin yang dibicarakan. Benar-benar sangat menyebalkan.' Batin Dinda dengan penuh kekesalannya.
"Kamu sedang tidak berbohong, 'kan?" tanya Nilam memastikan.
"Serius, aku sedang tidak berbohong dengan kalian. Bahkan, kita sudah disiapkan pakaian untuk menghadiri acara pernikahan mereka." Jawab Burnan sejujur mungkin.
"Wah, pasti acaranya sangat besar dan juga mewah. Duh, sudah gak sabar menghadiri acara pernikahan mereka. Anin pasti tambah cantik, pasangan serasi menurutku sih. Satunya tampan, satunya cantik." Ucap Ayun ikut menimpali dengan perasaan senang.
Dinda yang mendengarkan, pun tersenyum getir. Terlalu berlebihan dengan apa yang dikatakan Ayun, pikirnya.
"Ya, sangat cocok mah mereka berdua. Udah gak sabar pingin bertemu dengan mereka, serius." Timpal Nilam yang juga ikutan berkomentar.
"Serasi sih serasi, itu semua juga karena Elang yang tajir. Kalau gak tajir, belum tentu si Anin mau dengan Elang." Sahut Dinda tanpa merasa malu sedikitpun.
"Jaga ucapan kamu, Din. Hati-hati kalau bicara, kalau kamu tidak tahu kebenarannya. Namanya juga berjodoh, mana kita tahu. Toh, apa salahnya dengan Anin. Lagi pula, Elang sudah lama menyukai Anin sejak dulu, sebelum kenal sama kamu. Apa kamu lupa, dulu Elang selalu di ejek, dan Anin lah yang selalu menemani kemanapun perginya Elang selama belum beradaptasi di lingkungan? apa kamu juga lupa, kamu sendiri jijik dengan kehadiran Elang yang seperti anak yang tidak punya didikan. Jadi, ingat ingat dulu masa lalu saat itu." Ucap Nilam yang sudah merasa geram dengan tingkahnya karena kesombongannya.
Nilam sendiri tak peduli, jika ucapannya terdengar jelas dihadapan Gion. Baginya itu, meluapkan segala kekesalannya itu sangat perlu.
Dinda yang merasa terhina dan terpojok oleh ucapan dari Nilam napasnya terasa panas, dan juga seraya ingin menamparnya.
"Sekarang juga, pertemanan kita berakhir. Aku tidak sudi mempunyai teman seperti kalian, yang selalu menyudutkan aku. Lihat saja, bakal aku tunjukkin kalau akulah pemenangnya. Awas saja, kalau sampai menyebutkan namaku di acara pernikahan Anin dan Elang, aku bakal balas kalian."
Ucap Dinda sambil menatap tajam satu persatu kepada temannya, terakhir melirik ke arah Gion, yang seraya tak kalah memberi ancaman untuknya.
"Ya, sana pergi. Aku juga tidak butuh punya teman seperti kamu, meresahkan. Bersihkan dulu otak kotormu itu, juga pikiran burukmu itu saat menilai seseorang." Kata Nilam yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya yang selalu mendengar hinaan hinaan dan kalimat yang tidak pantas dilontarkan lewat mulutnya.
"Nil, sudah Nil. Kalian berdua itu teman, jangan saling bertengkar." Ucap Burnan ikut menimpali.
__ADS_1
Sedangkan Dinda memilih pergi begitu saja dari hadapan ketiga temannya dengan segala emosinya.
Nilam masih dikuasai oleh emosinya sendiri, penuh kekesalan dan juga geram, serta dongkol. Kedua tangannya saja mengepal kuat, dengan tatapan matanya yang tajam ke sembarang arah, persis seperti orang tengah kesurupan.
Ayun yang berusaha mengejar Dinda, tidak dapat untuk mencegahnya. Kemudian, Ayun mendekati Nilam.
"Seharusnya kamu diamkan saja si Dinda, itu anak memang seperti itu tabiat wataknya. Kalau udah begini, kita bisa apa? kita datang ke kota untuk mengadu nasib bersama, dan pulang sama suksesnya." Ucap Ayun saat berada di dekat Nilam.
Saat itu juga, Nilam langsung bangkit dari posisi duduknya, begitu juga dengan Burnan.
"Sudah, sudah, pertengkaran ini tidak perlu dilanjutkan. Stop! lebih baik kita kejar Dinda, pasti pulang ke rumah kos. Mau bagaimanapun, meski Dinda memang salah, kita bicarakan baik-baik. Ingat loh, kita akan menghadiri acara pernikahan Anin dan Elang, juga akan ada acara live nya juga." Kata Burnan ikut menimpali.
"Tapi, Burn. Dinda itu sudah keterlaluan, kalau kita mencegahnya, bisa bahaya untuk hubungan Anin dan Elang. Kita temannya, kita tahu mana yang benar dan juga yang salah, tentunya kita nasehati dan beri peringatan untuknya."
"Ya, tapi bukan begitu caranya."
"Terus, caranya seperti apa? membiarkan Dinda untuk melakukan perbuatan jahatnya, gitu maksud kamu."
Sedangkan Gion, hanya memilih untuk menjadi pendengar setia.
"Oh ya, aku ke sana dulu. Kalian selesaikan dulu masalah kalian ini, jangan sampai ada dendam yang tersembunyi." Ucap Gion yang akhirnya membuka suara, sekaligus pindah tempat.
"Maaf ya, Bro. Aku gak tahu kalau jadinya seperti ini. Padahal aku mau mentraktir kamu dan memperkenalkan kamu dengan teman-temanku. Tapi kenyataannya menjadi runyam gini. Ok lah, besok lagi aku akan mentraktir kamu. Sekalian ya Bro, aku pamit pulang."
"Ya, gak apa-apa, santai aja denganku mah. Oh ya, memangnya kalian ini gak makan dulu."
"Nanti kita pesan aja. Kalau gitu, ya udah ya, kita bertiga pulang duluan." Ucap Burnan sekaligus berpamitan, yakni untuk mengejar Dinda.
__ADS_1
Takutnya, dengan segala emosi, Dinda susah dikendalikan dan nyasar entah kemana dengan pikirannya yang bertambah kacau.
"Ya, hati-hati di jalan." Kata Gion saat Burnan pamitan.
Setelah berpamitan, Burnan dan kedua temannya segera mengejar Dinda.
Kini tinggallah Gion yang sendirian di tempat tongkrongan anak muda dan suami istri yang berpasangan.
Tidak ada teman untuk mengobrol, Gion memilih untuk berkeliling. Siapa tahu aja, bertemu dengan seseorang yang ia kenal dan bisa diajaknya mengobrol.
Saat itu, pandangan Alex tertuju pada seseorang yang sangat dikenalinya.
"Alex! woi!" teriak Gion sambil memanggil dengan suara yang cukup keras.
Sang pemilik nama, pandangannya langsung tertuju pada Gion.
"Gion! Elu rupanya. Ngapain Lu kesini, tumben banget kamu." Ucapnya saat keduanya saling menatap satu sama lain.
"Reseh, Lu mah. Oh ya, ini bini Lu?"
"Oh ya, dia ini istriku. Kamu sendiri, masih sendiri?"
"Hem, payah Lu. Nikah aja gak kabari aku, kaki kamu sudah sembuh? rupanya nyerah juga kamunya, dan akhirnya menikah. Terus, cewek yang di kampung itu, di kemanain? buat aku aja gimana? dari pada gak ada yang miliki."
Bukannya menjawab, justru menatap Gion dengan tajam. Sedangkan istri hanya bingung mendengar percakapan dan obrolan yang didengarnya.
"Tunggu, kok panggil nama Alex?" tanya sang istri penasaran.
__ADS_1
"Dia mah memang begitu, sayang. Dari dulu aku kenal dia, selalu memanggilku dengan nama Alex. Secara, nama yang mudah untuk diucap di luar negri, gitu. Kalau Elang, katanya terasa aneh." Jawab Elang menjelaskan, sedangkan sang istri hanya tersenyum.
"Oh, kirain apa." Kata Anin yang baru mengetahuinya.