
Di kediaman Tuan Vitton, Didit sudah disediakan kamar untuknya. Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia memandangi langit-langit di kamarnya.
Sungguh tidak pernah terbayangkan olehnya, jika hari ini adalah hari yang kedua kalinya menginjakan kakinya di rumah yang pernah dijadikan tempat kerjanya. Meski hanya sebentar, Didit sudah mengenal ibunya sendiri.
Pertemuan yang tidak pernah disangkakan, rupanya perempuan peruh bayar yang ia tolong, ternyata ibu kandungnya sendiri.
"Jadi penasaran dengan Kakek, dimana beliau tinggal? apakah ditempat layak, atau ... jauh dari kata layak. Semoga saja, Mama menempatkan kakek di tempat yang baik." Gumamnya saat teringat ucapan ibunya mengenai bahwa kakeknya masih hidup.
Baru saja mau memejamkan kedua matanya, tiba-tiba dirinya harus dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya.
Didit segera bangkit dari posisinya, dan membuka pintu.
Dilihatnya sosok laki-laki yang seumuran dengannya, tetapi tidak ada kemiripan sama sekali. Benar saja yang ia dengar, bahwa lelaki yang ada dihadapannya itu bukanlah saudara lewat keturunan, hanya lewat saudara tiri semata.
"Mau apa?" tanya Didit dengan santai, ia sadar untuk tidak mudah ditindas.
"Sombong kali kau ini, mentang-mentang diakui anak dari Rahtair Pratama. Jangan harap, kau akan menjadi penerus Pratama." Jawabnya dengan tatapan yang sinis.
Didit menatapnya, pun tak kalah sinisnya. Tentu saja, ekspresinya seakan mengejek yang ada dihadapannya.
"Ya dong, aku harus bangga dengan siapa aku yang sebenarnya. Aditya Rahtair Pratama, pewaris dari keluarga Pratama. Memangnya kamu, yang tak bisa bercermin." Ucap Didit dengan berani, dan tidak menunjukkan sikapnya yang lemah.
Justru, Didit menunjukkan sikap keberaniannya untuk melawannya. Tak peduli siapa orangnya, Didit tetap pada pendiriannya.
"Kau!"
"Mau apa? mau menghajar aku, sayangnya aku bukan orang lemah seperti yang kamu sangkakan. Kau hanya numpang di rumah ini, maka jaga sikapmu." Ucap Didit sambil menangkis tangan Tian yang hendak menghajar dirinya.
'Sia_lan! ternyata dia jago dalam menangkis, jangan-jangan dia ini jago juga dalam segi bela dirinya.' Batin Tian menerka-nerka saat mendapati Didit yang begitu tanggap saat mendapatkan serangan pukulan darinya.
"Lihat saja, aku bakal membalas kamu." Kata Tian, dan ia langsung pergi dari hadapan Didit.
"Tian, ada perlu apa kamu menemui Didit?" tanya Lara saat mendapati adiknya yang menuruni anak tangga sebelah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya ingin bertanya saja." Jawab Tian beralasan, tak mungkin juga jika dirinya berkata jujur.
"Oh, kirain." Kata Lara, sedangkan Tian segera pergi dari hadapan sang kakak.
Lara menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan sikap adiknya itu.
"Semoga saja, tidak ada ancaman dari Tian kepada Didit. Jika sampai itu terjadi, Didit pasti tidak akan bertahan lama untuk tinggal di rumah ini." Gumamnya sedikit ada rasa khawatir pada Didit.
Sedangkan di dalam kamar, Tuan Vitton duduk di sebelah istrinya yang baru saja mengganti pakaiannya.
"Ma, seriusan nih, Didit mau tinggal di rumah ini?" tanya Tuan Vitton yang seakan tidak ada masalah apapun pada dirinya.
Sang istri segera menoleh pada suaminya.
"Ya, karena dia putra kandungku. Bukankah kamu sendiri sudah tahu, Aditya adalah pewaris ayahnya."
"Apa kamu lupa, bahwa akulah pemegang harta warisan Pratama? bahkan, Papa menyetujuinya." Kata Tuan Vitton yang merasa jika dirinyalah pewaris keluarga Pratama, dikarenakan sudah dianggapnya anak oleh keluarga Pratama.
"Tapi, apa kamu juga lupa, jika pewaris sesungguhnya masih hidup?"
"Tetap saja, aku yang berhak." Kata Tuan Vitton yang tidak mau tersingkirkan menjadi pewaris.
"Sudahlah, aku sedang malas untuk berdebat denganmu. Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku." Ucap sang istri, Tuan Vitton sendiri beranjak pergi dari kamarnya, dan memilih untuk berada di ruang kerjanya.
Selain itu, Tuan Vitton mencoba mencari cara untuk mempertahankan apa yang sudah ia miliki.
"Enak saja mau ganti pewaris, aku juga putranya. Meski aku anak tiri, aku mempunyai hak atas harta keluarga Pratama. Ah ya, besok aku harus menemui Papa di rumahnya. Aku akan membuatnya untuk tidak percaya dengan kehadiran kedua anaknya Rahtair." Gumamnya sambil menyibukkan diri dengan layar komputernya.
Di lain sisi, Elang tengah sibuk dengan pekerjaannya yang numpuk beberapa hari tidak ke kantor, demi menemani istrinya berada di rumah sakit.
Meski sudah ada orang kepercayaan, tetap saja ada pengecekan ulang untuk meneliti data-datanya.
Anin sendiri yang bingung harus ngapain saat ditinggal suaminya untuk menyelesaikan pekerjaannya, hanya bisa mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar.
__ADS_1
Merasa suntuk di dalam kamar, akhirnya memilih pergi ke dapur. Selain waktunya yang hampir sore, Anin membantu pelayan rumah yang sedang menyiapkan makan malam.
"Aduh Non, jangan ke dapur. Nanti kalau Den Elang tau, Bibi bisa kena marah. Mendingan Nona kembali ke kamar saja, atau bersantai di taman belakang rumah." Ucapnya yang takut ketahuan majikannya jika diketahui istri majikan tengah sibuk di dapur.
"Gak Papa sih Bi, lagian cuman bantu bantu ala sekedarnya aja. Soalnya saya bosan di kamar terus, Bi. Di taman belakang rumah juga bosan kalau tidak melakukan sesuatu yang dikerjakan." Jawab Anin yang tetap bersikukuh untuk berada di dapur.
"Tapi, Non. Kalau Den Elang tau, bagaimana? bisa-bisa Bibi kena marah. Kata Tuan, Nona sedang promil. Jadi, Bibi gak bisa mengizinkan Nona berada di dapur." Ucapnya yang berusaha meminta istri majikannya segera pergi dari dapur.
"Kalau promil sih, ya. Tapi kan, apa ya, saya tidak boleh melakukan aktivas lainnya. Toh, cuma bantu yang mudah-mudah doang kok Bi."
"Gimana ya, Non. Nanti kalau Den Elang lihat, Bibi yang dapat marah."
"Bibi tenang aja, semua akan baik-baik saja. Lagi pula ada CCTV di ruangan ini." Kata Anin tetap bersikukuh.
"Ya udah deh, Non. Ingat tapi, Bibi gak mau bertanggung jawab kalau Den Elang marah."
"Ah, Bibi kaya gak tahu aja sama suami saya." Kata Anin dengan senyumnya.
Bibi tersenyum mendengarnya.
"Ya udah, sekarang mau masak apa, Bi?"
"Ada di menu masakan di setiap jadwalnya Non." Jawabnya.
"Oh, jadi gak bisa semaunya ya, Bi."
"Tidak, Non. Soalnya biar gak lupa dan tidak sama dengan menu yang kemarin."
"Oh, saya baru tahu, Bi."
"Ya, Non."
"Oh ya, Bi. Kalau boleh tau, memangnya suami saya tidak pernah punya pacar ya, Bi? duh! kenapa jadi ngasih pertanyaan macam ini, ya."
__ADS_1
Bibi pun tersenyum mendengarnya, rupanya istri majikan mulai penasaran dengan suaminya.
"Gak, Non. Dari dulu Den Elang tidak punya pacar, kalau disukai banyak wanita sih, ya." Jawabnya, Anin mulai penasaran dengan perempuan yang menyukai suaminya.