
Karena tidak ingin ada yang melihat dirinya tengah berkunjung di kediaman keluarga Alexander, segera masuk kedalam mobil.
Anin yang posisinya duduk di depan, sama sekali tidak menoleh kebelakang. Tapi tidak untuk istrinya Tuan Vitton, rasa penasarannya mulai menggebu di dalam hatinya.
'Apakah yang duduk di depanku ini adalah putriku, benarkah?' batinnya sambil memperhatikan Anin yang duduk di depan.
Saat mobil yang dikemudikan oleh ibunya Elang sampai di depan rumah, mobil pun berhenti.
"Kita sudah sampai di depan rumah, ayo kita turun." Ucap ibunya Elang sambil melepaskan sabuk pengamanannya.
Begitu juga dengan Anin, tapi tidak untuk istrinya Tuan Vitton. Karena tidak perlu untuk melepaskan sabuk pengamanannya, segera turun dari mobil.
Saat ketiganya sudah turun dari mobil, Anin yang juga ingin tahu teman ibu mertuanya, ia menoleh pada orangnya.
Seketika, Anin maupun istrinya Tuan Vitton sama-sama terkejut dibuatnya.
"Nyo-Nyonya Rahel."
"A-A-Anin."
Keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain sama-sama terbata.
Ibunya Elang sendiri merasa heran, kenapa bisa saling mengenal? pikirnya saat mendapati keduanya saling menyebutkan nama satu sama lain dalam waktu bersamaan.
Istrinya Tuan Vitton benar-benar tidak menyangkalnya.
"Kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya ibunya Elang yang pada akhirnya bertanya karena rasa penasarannya dan tentunya ingin mengetahuinya.
"Ya, Yen. Aku mengenal Anin, dia pernah menyelamatkan aku dari jambret. Tidak hanya itu saja, dia juga pernah bekerja di rumahku. Tapi ...."
DEG!
__ADS_1
Anin langsung teringat dengan kejadian di rumah mantan majikannya. Seketika, ingatannya kembali kepada Andika, mendiang kekasihnya.
"Tapi kenapa?" tanya ibunya Elang kembali.
Nyonya Rahel menggelengkan kepalanya, sedangkan Anin hanya diam saja tanpa menyahut ataupun ikut menimpali.
"Tidak ada apa-apa, Yen. Oh ya, apakah Anin menantu kamu?"
Ibunya Elang tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya Tuan Vitton, kemudian mengangguk pelan.
"Ya, Anin menantu kesayangan kami sekeluarga." Jawabnya sambil merangkul tubuh Anin.
"Kamu sangat beruntung, Yenizar." Ucapnya dengan perasaan yang begitu sedih, lantaran tak mampu untuk memeluk putrinya, dan hanya penuh angan-angan.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Tidak baik jika mengobrol di depan rumah seperti ini, yang ada kita seperti kekurangan tempat saja." Kata ibunya Elang untuk mengganti topik obrolannya.
Istrinya Tuan Vitton hanya bisa nurut, lantaran dengan posisinya sebagai tamu di kediaman keluarga Alexander.
"Kamu istirahat saja di kamar, biar Mama yang akan menemani Nyonya Rahel. Lagi pula, sebentar lagi Elang akan segera pulang. Jadi, jangan sampai ketika suami kamu pulang, kamu masih sibuk mengobrol." Ucap Ibu mertua beralasan, karena sengaja agar tidak mengetahui obrolannya bersama istrinya Tuan Vitton.
Anin yang tidak bisa menolak, akhirnya hanya bisa nurut perintah dari ibu mertuanya.
"Ya, Ma. Kalau gitu, Anin masuk ke kamar duluan. Untuk Nyonya Rahel, permisi." Jawab Anin, dan sekaligus berpamitan kepada tamu ibu mertuanya.
Setelah Anin berjalan menuju anak tangga, istrinya Tuan Vitton memperhatikannya sampai tak terlihat bayangan putrinya masuk kedalam kamarnya.
"Bersabarlah, ada waktunya untuk saling mengungkapkan rasa kerinduan. Ah ya, aku sampai lupa. Silakan duduk." Ucap ibunya Elang mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Saat keduanya sudah berhadapan dengan posisi duduk, ibunya Elang akhirnya membuka suara untuk mempertanyakan atas kedatangan istrinya Tuan Vitton.
"Apa kamu tidak diawasi oleh anak buah suami kamu?" tanyanya ingin tahu. Tentu saja, takutnya akan terlibat dengan masalah yang besar, pikirnya.
__ADS_1
Tidak hanya itu saja, takutnya identitas menantunya akan diketahui oleh Tuan Vitton, pikir ibunya Elang yang dihantui dengan perasaan takut dan juga khawatir.
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah mengakalinya." Jawabnya.
"Kalau sampai suami kamu tahu, bagaimana? apa tidak menjadi khawatir akan keselamatan kedua anakmu? kamu benar-benar ceroboh. Seharusnya kamu menghubungi aku terlebih dahulu, bukan begini caranya." Ucap ibunya Elang yang lebih mengkhawatirkan keadaan menantunya, jika yang ditakutkannya akan terjadi.
"Tolong aku, Yen. Aku sudah tidak sabar ingin memeluk putriku, dan juga putraku. Bantu aku untuk dipertemukan dengan mereka, aku ingin sekali memeluk kedua anakku." Jawabnya sambil mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.
"Tapi, bagaimana jadinya kalau kedua anak kamu menjadi ancaman? bukankah kamu sudah tahu sendiri, seperti kebencian suami kamu dengan keluarga Rahtair? apa kamu tidak memikirkannya sampai di situ?"
"Tentu saja aku memikirkannya. Tapi, apa aku salah untuk memeluk kedua anakku? aku ini ibunya, dan aku yang melahirkan. Kesalahan dari suamiku, dia tidak mengatakannya padaku, jika putriku Anindita dan putraku Aditya masih hidup, seumur hidupku tidak akan pernah menyetujui pernikahanku dengan Vitton." Ucapnya dengan rasa sesak saat menarik napasnya ketika berbicara.
"Maafkan aku, jika kurang peka akan posisi kamu. Kita tidak bisa menyalahkan Rahtair, mendiang suami kamu dulu. Aku hanya takut, putrimu dan juga putramu akan menjadi sasaran empuk untuk suami kamu yang sekarang, yakni Vitton." Kata ibunya Elang yang terus kepikiran akan menantunya dan juga Didit, pikirnya yang mulai mencemaskan keduanya.
"Terserah kamu saja bagaimana baiknya, yang aku inginkan bisa bertemu dengan kedua anakku, meski mereka tidak menyadari jika akulah ibu kandungnya."
'Kasihan sekali akan kehidupan kamu, Rahel. Ternyata, kamu begitu tersiksa dalam pernikahan kamu. Aku yakin, bekas yang tertinggal di pipi kamu itu, yang tidak lain adalah kekerasan dari suami kamu.' Batin ibunya Elang yang juga ikutan sedih saat membicarakan sesuatu yang penting.
"Kenapa kamu diam, Yen?"
"Maaf, aku tadi melamun. Baiklah, aku akan mempertemukan kalian malam ini. Tapi ... bagaimana dengan suami kamu?"
"Jangan malam ini, bagaimana kalau besok saja. Aku usahakan untuk datang ke rumah kamu pada jam yang sama seperti hari ini, atau gak lebih pagi. Aku mohon, penuhi permintaan aku."
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi putramu untuk dimintai datang ke rumah ini."
"Makasih banyak ya, Yen. Hanya kamu teman baikku dari dulu. Rahtair tidak salah menjodohkan putrinya dengan putramu, karena putramu bisa menjaga putriku dan juga memberi cinta untuknya."
Ibunya Elang tersenyum saat mendapatkan pujian dari istrinya Tuan Vitton.
"Jangan berlebihan, lebih baik kamu pulang. Aku tidak ingin ada sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kamu. Masih ada hari esok untuk datang ke rumah ini lagi, yakni bertemu dengan kedua anakmu." Ucap ibunya Elang dengan terpaksa harus mengusirnya, lantaran takut terjadi sesuatu, antara istrinya Tuan Vitton dan menantunya.
__ADS_1
"Baiklah, aku nurut dengan apa yang kamu sarankan. Tolong sampaikan salam dariku untuk putriku, Anindita." Jawabnya, tak lupa untuk meninggalkan pesan kepada ibunya Elang.