
Banyak karyawan yang tengah sibuk akan menyambut kehadiran Bosnya barunya.
Elang yang baru saja memasuki gedung yang menjulang tinggi dan juga besar. Beberapa karyawan yang sudah berada di kantor lebih awal, semua berbaris dengan rapi.
Elang yang tidak tahu akan adanya penyambutan dirinya, sungguh tidak pernah ada dalam pikirannya.
Saat memasuki gedung kantor milik orang tuanya, Elang dibuatnya kaget saat mendapatkan sambutan hangat dari banyaknya karyawan di kantor.
Sedangkan Tuan Mawan, rupanya sudah sampai dulu.
"Tunggu, ada acara apa ini?" tanya Elang kepada salah satu karyawan laki-laki yang ia hampiri.
"Kami karyawan di kantor ini diminta untuk menyambut kehadiran Bos baru, Tuan." Jawabnya sambil membusungkan badannya.
"Sudah, sudah, lebih baik kalian semua kembali ke tempat kerja kalian masing-masing." Perintah Elang sambil memperhatikan banyaknya karyawan yang tengah berjejer rapi menyambut kehadirannya.
"Tapi, Tuan. Kalau Bos besar mengetahuinya, bagaimana? bisa-bisa gaji kita di potong." Jawabnya masih menunduk.
"Tidak akan, silakan kembali ke tempat kerja kalian masing-masing." Ucap Elang memberi perintah.
Karena tidak mau menjadi masalah, akhirnya nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Bos barunya.
"Baik, Tuan." Jawabnya.
Sedangkan karyawan yang lain masih dengan rasa penasarannya dengan sosok Bos barunya. Pasalnya, dengan beredarnya kabar, bahwa Bos barunya masih sangat muda dan juga tampan. Bahkan, statusnya saja masih belum di ketahui, antara sudah menikah atau belum menikah.
Semua karyawan perempuan tengah saling berbisik membicarakan Bos barunya. Tentu saja, banyak kehaluan untuk menjadi pacar atau istri kedua.
Dengan sulitnya menuruti gengsi, tidak peduli dengan statusnya, meski dijadikan kedua, ketiga, ataupun keempat sekalipun.
Setelah mendapatkan perintah dan tidak bisa menolak, semua karyawan akhirnya kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
Sedangkan Elang, menuju ruang kerjanya sesuai yang diarahkan oleh orang kepercayaan orang tuanya. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan juga berisi, sosok Elang menjadi pusat perhatian oleh para karyawan yang sempat memperhatikan Bos barunya menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Ternyata Bos baru kita sangat tampan, ya. Mau dong, jika aku dijadikan istrinya." Ucapnya lirih di sekeliling rekan kerjanya.
"Hem, kamu mah, sapa aja di embat. Udah kek kurang stok aja kamu ini, pacar juga udah dua. Sadar woi! sadar, mending buat aku si Bos."
"Hu...! ngimpi, kamu. Si Bos pantasnya buat aku, secara aku cantik, sek_si, dan cocok lah." Timpal satunya.
"Dih, jangan ngarep. Levelnya si Bos tuh ya, bukan kek kita-kita ini, tetapi yang sepadan dengannya. Apalagi posisinya jadi Bos, tentu saja akan mencari istri yang sama derajatnya. Dah ah, jangan ngimpi." Ucap satunya lagi ikut berkomentar.
"Sudah dong, jangan ngomongin si Bos. Kita lanjutin kerjaan kita, ntar posisi kita di tukar loh, mau? secara nih ya, ada penerimaan karyawan baru di kantor ini. Jadi, jangan malas-malasan." Kata rekan kerjanya ikut berkomentar.
"Ya juga, ya." Jawab semuanya dengan serempak.
Sedangkan Elang, sudah duduk di ruang kerjanya. Saat itu juga, dirinya tengah dikagetkan dengan suara bel pintu ruang kerjanya. Dengan otomatis, pintunya terbuka dengan sendirinya.
"Papa, kirain siapa. Bagaimana dengan karyawan barunya, Pa?"
"Papa sudah interview beberapa pertanyaan, dan ada 10 karyawan yang di terima. Jadi, hari ini juga karyawan baru di kantor ini bisa berkenalan dengan karyawan yang lainnya. Sedangkan untuk kamu, nanti akan perkenalkan di ruang kerja karyawan, termasuk karyawan barunya." Jawab Tuan Mawan tanpa duduk, dikarena hanya memberi penyampaian saja kepada putranya.
"Jadi, Elang harus memperkenalkan diri, begitu kah, Pa?"
"Kenapa tidak di privat aja sih, Pa."
"Hem, kamu ini penerus keluarga Alexander. Jadi, tidak ada yang ditutup-tutupi."
"Tapi, Pa. Perusahaan yang lainnya juga tersembunyi, kenapa tidak dengan Elang?"
"Kamu ini sudah beristri, statusmu juga harus jelas. Entar, kalau ada yang godain istri kamu, bagaimana? kamu mau?"
"Nggak dong, Pa. Baiklah, Elang akan memenuhi permintaan Papa." Jawab Elang dengan nurut.
"Kalau gitu, ayo ikut Papa ke ruang kerja karyawan. Papa tidak mempunyai waktu yang lama, kamu harus segera memperkenalkan diri." Ucap sang ayah, Elang mengangguk.
"Ya, Pa." Jawab Elang.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama-lama, Tuan Mawan dan putranya segera menuju ke ruang kerja karyawan.
Semua karyawan lama maupun karyawan baru, tengah duduk dengan rapi sambil menunggu kedatangan Elang bersama ayahnya. Lantaran, Tuan Mawan akan memperkenalkan putranya sebagai penerus.
Semua karyawan yang sudah duduk dengan rapi, semua tegang untuk melihat sosok Bos barunya dengan jelas.
Sebenarnya Elang tidak ingin memperkenalkan diri, tetapi dirinya tak bisa untuk menolaknya. Mau tidak mau, akhirnya menyetujuinya.
Setelah masuk di ruang karyawan, posisi semuanya benar-benar dibuat tegang. Bahkan, Dinda, Ayun, dan Nilam, serta yang lainnya ikut tegang.
Ditambah lagi, Bos barunya tengah berdiri di belakang Tuan Mawan, sama sekali belum terlihat jelas.
"Din, sepertinya cakep deh. Lihat tuh postur tubuhnya, benar-benar menggoda." Ucap Ayun setengah berbisik didekat telinga Dinda.
"Postur tubuh tuh gak menjamin, pas-pasan juga kita tidak tahu." Timpal Nilam ikut berbisik diantara kedua temannya.
"Dah ah, diam. Kita lihat aja setelah orang tua ini selesai memperkenalkan anak laki-lakinya, ntar juga di perlihatkan kok." Ucap Dinda yang sudah bosan dengan rasa penasarannya.
"Ya juga sih, kita tunggu aja dulu." Sahut Ayun, kemudian ketiganya membenarkan posisi duduknya.
Setelah Tuan Mawan memperkenalkan putranya tanpa menyebutkan namanya, semua karyawan ditambah menyimpan rasa penasarannya.
Selanjutnya, giliran Elang maju ke depan beberapa langkah untuk memperkenalkan diri sebagai Bos barunya. Sedangkan Tuan Mawan sendiri, menyingkir beberapa langkah dari putranya.
Semua begitu terkejut saat melihat siapa orangnya yang tengah berdiri dengan tegap. Bahkan, Ayun, Dinda, dan Nilam membulatkan kedua bola matanya. Kemudian, ketiganya mengucek kedua matanya yang dirasa seperti mimpi belaka.
Bahkan, Dinda maupun kedua temannya tengah menepuk pipinya masing-masing. Selanjutnya, saling menepuk satu sama lain untuk memastikan jika apa yang dilihatnya tidaklah mimpi belaka.
Karyawan lainnya yang melihat tiga karyawan baru yang terlihat aneh itu, menggelengkan kepalanya. Secara, dianggapnya seperti kurang kewa_rasan.
Karena merasa bukan mimpi, keduanya memanggil dengan suara cukup keras dan juga melengking.
"Elang!" teriak Ayun, Dinda, dan Elam secara bersamaan.
__ADS_1
Karyawan lainnya menoleh pada mereka bertiga yang baru saja memanggil dan mengarahkan pandangannya tepat pada Elang, sosok yang akan menjadi Bos baru.
Saat itu juga, pandangan Elang tertuju pada tempat duduk yang paling ujung, dan paling belakang sendiri dengan keterkejutannya.