Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Memberi syarat


__ADS_3

Tidak lama kemudian, datanglah beberapa mobil ambulans, serta polisi dan juga yang lainnya.


Semua membawa korban untuk dilarikan ke rumah sakit. Bahkan, Didit sampai lupa dengan janjinya untuk datang ke rumah mertua kakaknya.


"Pak, kita ke rumah sakit sekarang juga." Ucap Didit memberi perintah kepada orang kepercayaan Tuan Mawan.


"Tapi, Tuan. Semua sudah menunggu, dan waktu kita tidak banyak." Jawabnya menolak.


"Batalkan saja dulu, Pak. Pertemuannya bisa di lain waktu, saya ingin pergi ke rumah sakit." Ucap Didit yang tetap pada pendiriannya.


"Tidak, Tuan. Korban sudah ada yang menanganinya, dan juga identitas mudah untuk di dapatkan." Jawabnya yang tidak ingin mendapatkan masalah dari Bosnya.


"Terserah Bapak saja, tapi saya tidak peduli. Saya akan tetap pergi ke rumah sakit, Bapak bisa pulang sendirian." Ucap Didit yang tidak bisa goyah dengan keputusannya.


Saat itu juga, Didit menerima panggilan, dan langsung merogoh didalam tas kecilnya. Kemudian, ia segera menerima panggilan.


"Kak Anin, kebetulan sekali menelpon."


"Halo Kak, maaf, aku gak bisa datang sekarang. Mungkin, besok atau lusa. Sekarang ini, aku mau pergi ke rumah sakit." Ucap Didit yang terus bicara, sedangkan sang kakak tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara.


"Udah dulu ya, Kak. Ah ya, aku lupa, yang kecelakaan Ibu Rahel, tempat kita bekerja saat kita mendapatkan musibah." Ucap Didit melanjutkan bicaranya, dan memberitahunya siapa yang akan ia temui.


Tidak ingin membuang waktu, Didit langsung memutus panggilan teleponnya. Kemudian, segera pergi ke rumah sakit.


Di kediaman keluarga Alexander, Anin berubah menjadi tercengang saat mendengar kabar yang menurutnya membuatnya terkejut.


Elang maupun kedua orang tuanya melihatnya penuh keheranan.


"Anin, gimana dengan Didit?" tanya sang ibu mertua.


Anin kaget dibuatnya.


"Em ... itu, em ..."


Anin kebingungan, dan bercampur gelisah.


"Kamu kenapa, sayang? ada apa dengan Didit. Ayo, jelaskan."


Elang langsung bertanya karena rasa penasarannya, tentu saja mengenai keadaan adik iparnya.


Anin mencoba untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Itu, kecelakaan."


"Apa! Didit kecelakaan?"


Ketiganya berucap dengan serempak dan tentunya sangat kaget mendengar jawaban dari Anin.


"Bukan, tapi Ibu Rahel." Jawab Anin dengan tatapan bersedih.


"Apa! Ra-Rahel kamu bilang? Rahel siapa? teman kerja, atau rekan, atau pacar?"


Ibunya Elang sontak kaget, begitu juga dengan ayahnya. Seketika, langsung memberondong banyak pertanyaan.


"Bukan, tetapi Ibu Rahel yang datang kemarin." Jawab Anin.


Kedua orang tuanya Elang benar-benar tercengang saat mendengar apa yang dikatakan oleh menantunya.


"Rahel istrinya Tuan Vitton, Pa. Ayo, kita pergi ke rumah sakit sekarang juga." Ucap ibunya Elang yang begitu panik mendengarnya.


Sedangkan Anin merasa bingung saat melihat Ibu mertuanya begitu khawatir.


Tuan Mawan yang tidak ingin terjadi hal buruk yang menimpa istrinya Tuan Vitton, langsung bergegas keluar. Kemudian diikuti oleh istrinya, juga oleh Elang dan Anin.


"Kenapa jadi seperti ini sih, Pa?" Ucapnya lirih dengan penuh kekhawatiran.


Sang istri menggelengkan kepalanya, pertanda menolak perintah suaminya.


"Kenapa, Ma?"


"Gak, aku yakin dengan insiden kecelakaan istrinya ada hubungannya dengan Tuan Vitton." Jawab ibunya Elang yang tidak percaya dengan Tuan Vitton.


Sedangkan Elang langsung merangkul istrinya.


'Kasihan sekali denganmu, sayang. Seharusnya, kamu bahagia hari ini. Tapi, ternyata Tuhan memiliki cara lain untukmu bertemu.' Batin Elang yang ikut bersedih, lalu mengusap lengan milik istrinya.


Anin yang bingung untuk mencerna atas sikap suaminya yang seakan dirinya mendapatkan musibah, juga bingung untuk mencerna apa yang tengah dibicarakan oleh ayah dan ibu mertuanya.


'Kenapa kelihatan sedang bersedih? ada apa dengan mereka bertiga. Papa mertua, ibu mertua, dan juga dengan suamiku sendiri. Apakah Ibu Rahel bagian keluarga mertuaku? mungkin saja. Tapi ... kenapa saat acara pertunangan aku tidak melihat mereka berdua?' batin Anin penuh tanya-tanya.


Tidak memakan waktu yang lama karena rumah sakitnya tidak begitu jauh untuk di tempuh, akhirnya sampai juga di rumah sakit.


Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, semua menuju dimana pasien dari korban kecelakaan di tangani.

__ADS_1


Sampainya di tempat dimana istrinya Tuan Vitton dirawat, di situ juga sudah ada anggota keluarga Tuan Vitton bersama Didit.


"Kak Anin, Kak Elang." Panggil Didit dan segera mendekat.


Pandangan Tuan Vitton langsung tertuju pada Anin, tatapannya begitu serius. Sampai-sampai, Anin berubah menjadi ketakutan saat mendapatkan tatapan penuh kebencian terhadap dirinya.


Elang langsung merangkul istrinya, tentu saja agar tidak ada rasa ketakutan maupun gelisah.


'Benarkah kedua anak itu adalah anak dari Rahtair? wajah yang sangat mirip, sama seperti Rahtair.' Batin Vitton yang sudah dapat menebaknya, tentu saja lewat penyelidikan.


'Apa kabar, Tuan Vitton?" sapa Tuan Mawan sambil mengulurkan tangannya.


Tuan Vitton menyeringai saat mendapatkan sapaan dari lelaki yang dari dulu menjadi musuhnya.


"Kabarku, seperti yang kamu lihat. Akhirnya, kita bertemu juga disini." Jawabnya dan menerima uluran tangan dari Tuan Mawan.


Sedangkan ibunya Elang masih diam, tak ingin berbicara yang sia-sia.


"Ada perlu apa kalian datang ke rumah sakit?" tanya Tuan Vitton dengan santainya.


"Tentu saja ingin melihat kondisi istrimu, Tuan Vitton. Salahkah jika aku ingin mengetahui keadaan istri kamu? karena istriku adalah sahabat baiknya Rahel." Jawab Tuan Mawan, yang lainnya masih menjadi pendengar setia.


Di sebelah Tuan Vitton ada Tian dan Lara, putra dan putei dari Tuan Vitton sendiri. Keduanya mengarahkan pandangannya pada Anin dengan penuh kebencian, lebih lagi pada Lara.


Tentu saja, ingatan Lara kembali gagalnya pertunangan antara dirinya dengan mendiang Andika. Lara mengepal kuat pada kedua tangannya, seraya ingin melayangkan sebuah tinjuan ke wajah Anin.


"Ada syaratnya jika kalian ingin menemui istriku." Ucap Tuan Vitton sesuai yang direncanakan.


Karena tidak ingin menantunya dapat mendengarkan percakapan yang lebih serius, akhirnya Tuan Mawan memilih untuk menghindar, dan mencari tempat yang lebih aman.


Tentunya, jauh dari anggota keluarnya dan juga anggota keluarga Tuan Vitton sendiri.


"Tidak lazim jika kita membicarakan sesuatu di depan umum seperti ini, bagaimana kalau kita cari tempat lain?"


Tuan Vitton kembali menyeringai saat mendengar ucapan dan ajakan dari Tuan Mawan.


"Kenapa tidak di sini saja, bukankah lebih jelas dan juga gamblang?"


"Aku tidak suka mengumbar obrolan. Bagaimana, mau atau tidak?"


"Baiklah, ayo ikut aku di tempat lain." Jawabnya dan mengajak Tuan Mawan untuk pergi ke tempat lain, agar tidak ada yang mendengarkannya, terutama untuk Didit dan Anin.

__ADS_1


Tidak ingin membuang-buang waktunya, Tuan Mawan mempercepat langkah kakinya. Sedangkan Anin sendiri dibuatnya bingung, termasuk Didit.


__ADS_2