
Anin yang melihat ekspresi suaminya, pun bergidik ngeri. Pasalnya, dirinya sama sekali belum siap untuk melayani suaminya.
"Bukankah besok kamu akan mulai bekerja di kantor?" tanya Anin mencoba untuk mengingatkan suaminya.
Sambil menggigit bibir bawahnya, Anin merasa gugup.
"Aku berangkatnya agak siangan, karena besok masih penyeleksian karyawan baru." Jawab Elang sambil menatap wajah ayu milik istrinya.
"Oh."
"Kok, oh. Kita tidak punya waktu lama-lama di rumah, ayo kita berangkat." Ajak Elang yang langsung meraih tangan istrinya, Anin sendiri langsung meraih tas kecilnya.
Tidak ada penolakan apapun dengan ajakan sang suami, Anin hanya bisa nurut padanya.
"Duduk di depan, aku yang akan menyetir mobilnya. Kita akan menikmati perjalanan kita ini, aku mau memberimu kejutan." Ucap Elang sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Anin yang tidak bisa menolak, akhirnya segera masuk ke dalam. Kemudian, Elang duduk di tempat duduknya pengemudi.
"Kamu yakin tidak kenapa-kenapa dengan kaki kamu? takutnya masih ada rasa sakit ataupun nyeri."
Elang tersenyum mendengarnya.
"Tidak apa-apa, aku akan pelan-pelan mengendarai mobilnya. Kamu tidak perlu khawatir." Jawab Elang.
Setelah itu, keduanya mengenakan sabuk pengamannya. Tidak ada yang tertinggal, Elang melakukan kendaraannya dengan pelan.
Posisi Anin menatap lurus ke depan. Elang sendiri berkali-kali menoleh pada istrinya yang terlihat tengah melamun.
"Kamu sedang memikirkan apa sih, sayang?" tanya Elang sambil menyetir.
Anin segera menoleh, lalu menarik serta menghembuskan napasnya.
"Aku sedang tidak memikirkan apa-apa, lagi pingin diam aja." Jawab Anin, dan kembali dengan arah pandangan yang sama.
"Kirain sedang memikirkan sesuatu, cerita saja sama aku."
"Tidak ada, aku hanya ingin diam aja. Aku tidak mempunyai obrolan dan pertanyaan yang ingin aku sampaikan, itu aja."
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana kabar terakhir ketiga teman kamu itu? Ayun, Nilam, dan Dinda."
Biar tidak membuat suasana sepi dan terasa jenuh, Elang membuka obrolan.
"Aku tidak tahu kabar mereka bertiga. Terakhir yang aku tahu sih, mereka bekerja dalam satu kantor. Soal pekerjaan, aku tidak tahu. Sejak selesai kuliah, aku sibuk di perkebunan bersama Didit. Jadi, aku jarang berkomitmen dengan mereka." Jawab Anin tanpa menoleh pada suaminya.
"Memangnya mereka bertiga kerja dimana, di luar daerah atau di kampung aja?"
"Katanya sih di ibu kota, aku juga kurang tahu. Aku mempunyai kesibukan sendiri, sampai-sampai aku tidak tahu."
Elang hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian, ia berhenti di depan sebuah counter yang cukup besar.
"Kok kesini, memangnya kamu mau beli apa?" tanya Anin ingin tahu.
"Aku mau membelikan kamu ponsel, ayo kita turun."
"Ponsel, untuk apa?" tanya Anin dengan polosnya.
"Ya untuk kamu, memangnya untuk siapa lagi?"
Pasalnya, Elang sudah begitu banyak membantunya di masa lalu.
"Kamu ini istriku, kalau aku ingin menghubungi kamu, bagaimana? masa ya aku harus pulang, jangan melucu. Tidak mungkin juga aku harus membawamu ke kantor setiap hari."
"Ya deh, terserah kamu aja." Kata Anin dengan pasrah.
Lagi-lagi Elang tersenyum dan langsung menc_ium bibir milik istrinya. Anin yang sempat ingin menolak, akhirnya pasrah begitu saja.
Setelah itu, Elang menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Kamu istriku, sekarang dan untuk selamanya." Ucap Elang tanpa malu dan juga canggung.
Perasaan akan cintanya kepada sang istri, tak membuatnya malu untuk berterus terang. Anin sendiri masih terdiam.
'Begitu besarkah lelaki di hadapan aku ini telah mencintaiku? haruskah aku melabuhkan perasaanku padanya? aku benar-benar tidak tahu, haruskah membuang egoku? mampukah aku memberinya cinta? sebagaimana dirinya telah memberi cintanya untukku.' Batin Anin masih bengong.
"Jangan banyak melamun, tidak baik. Lebih baik sekarang kita keluar dan turun. Setelah membeli ponsel, aku akan mengajak kamu ke suatu tempat, yakni memberimu kejutan lagi." Ucap Elang, Anin hanya mengangguk.
__ADS_1
Saat sudah berada di dalam counter yang begitu besar, Anin dibantu suaminya untuk memilih ponsel yang kiranya cocok dan bagus untuk istrinya.
"Aku mau membeli yang ini." Kata Elang saat sudah menemukan ponsel yang cocok untuk istrinya.
Elang yang tidak biasa harus menunggu lama, memilih untuk bangkit dari posisi duduknya dan melihat-lihat yang lainnya.
Anin yang merasa penasaran dengan harga ponsel pilihan suaminya, akhirnya nekad untuk bertanya.
"Apa! mahal banget." Ucap Anin dengan reflek dan langsung menutup mulutnya, karena suaranya cukup melengking.
Untung saja, Elang tidak begitu kaget.
"Nona istrinya, ya? beruntung sekali mempunyai suami yang sangat kaya raya dan perhatian. Bahkan, pembayarannya lewat kartu tanpa batas." Ucap seorang karyawan sambil membereskan sesuatu yang tergeletak.
"Ya, suami saya memang sangat perhatian." Kata Anin yang tidak tahu harus berkata apa.
'Yang benar saja itu, harga ponsel mahal banget. Kaya sih, tapi tidak seharusnya boros. Kalau tiba-tiba bangkrut, bagaimana? kan sayang uangnya.' Batin Anin yang benar-benar tidak menyangka dengan harga ponsel yang cukup menggila.
Setelah membeli ponsel untuk istrinya, Elang melanjutkan lagi perjalanannya. Kemudian, ia berhenti di depan toko perhiasan. Lagi-lagi Anin dibuatnya tercengang.
"Jangan bilang, kalau kamu mau membeli perhiasan. Tidak, aku tidak mau turun." Ucap Anin yang langsung menebak tujuan suaminya.
"Jangan nolak gitu dong, sayang. Aku kan, cuma mau memberimu suprise, itu saja kok. Emangnya ada yang salah, jika aku membelikan kamu perhiasan?"
"Sama sekali tidak ada yang salah, aku hanya tidak ingin kamu itu jadi boros. Kamu tahu, ponsel yang kamu belikan kepadaku itu, bisa jadi perhiasan yang banyak kalau untuk bergaya di kampung."
"Terserah kamu, mau kamu pakai atau tidak, yang jelas, aku mau membelikannya untukmu." Kata Elang yang terus membujuk istrinya agar mau menerima pemberian darinya.
"Aku mau menerima pemberian darimu, asalkan kamu sudah bekerja dalam satu bulan. Jadi, aku tidak mau menerimanya jika membelikannya sekarang." Jawab Anin yang tetap menolak.
Elang kalah telak pada istrinya. Karena dirinya tahu, istrinya paling sulit jika sudah mempunyai keputusan. Mau tidak mau, akhirnya menuruti permintaan istrinya.
"Baiklah, aku akan bekerja dulu. Setelah aku bekerja dalam satu bulan, aku akan membelanjakannya untukmu." Kata Elang dengan pasrah, Anin mengangguk dan tersenyum.
'Kamu tidak pernah berubah, masih Anin yang aku kenal. Perempuan sederhana dan sangat hati-hati membelanjakan sesuatu.' Batin Elang, dan menc_ium pipi kanan milik istrinya.
Setelah itu, Elang melajukan kembali mobilnya menuju tempat yang sudah dipesan sebelum berangkat.
__ADS_1