Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Mendapat kebaikan


__ADS_3

'Sia_lan! awas, kau Burnan.' Batin Dinda penuh kesal saat melihat Burnan yang tengah menghadang sambil merentangkan kedua tangannya.


"Burnan, ada apa dia?"


"Mana aku tahu." Jawab Dinda sedikit ketus, Elang yang melihat ekspresinya, pun menahan tawa.


"Bentar, aku turun dulu." Ucap Elang sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Dinda yang merasa sebal, ia menggerutu tidak jelas, sedangkan Elang menghampiri Burnan yang masih berdiri di depan mobilnya.


"Awas aja kamu, Burnan. Berani-beraninya menggangguku, aku akan membalasnya." Gumamnya penuh geram sambil berdecak kesal.


Lain lagi dengan Burnan, justru dirinya menahan tawanya.


"Ada apa, Bro?" tanya Elang saat mendapati Burnan yang sudah berdiri di depan mobilnya.


Burnan meninggikan satu alisnya, tentu saja mengerti akan maksud dari semuanya. Bukannya menjawab pertanyaan dari Elang, justru menghampiri Dinda yang tengah duduk di dalam mobil bak nyi ratu.


Dengan pelan, Burnan mengetuk jendela kaca, tepatnya dimana posisi Dinda tengah duduk.


"Buka." Pinta Burnan sambil ketuk-ketuk jendela kaca mobil milik Elang.


Dinda yang merasa risih dan berusaha untuk tidak bersikap kaku, akhirnya membuka jendela kaca mobil. Sedangkan Elang, ia berdiri dibelakang Burnan.


"Ada apa?" tanya Dinda dengan muka yang ditekuk.


"Turun, dan pindah ke belakang." Jawab Burnan sambil memainkan jari-jemarinya.


"Aku tidak mau, kenapa?" kata Dinda yang justru dengan terang-terangan menolaknya.


"Kamu itu perempuan, dan Elang sudah ada istri. Tentu saja, aku yang seharusnya duduk di depan. Noh! lihat, Nilam dan Ayun juga mau ikutan nebeng, motor kita tadi kena apes, tadi kena paku di jalanan, terpaksa harus mencari tumpangan. Jadi, cepat turun. Kamu bersama Ayun dan Nilam, duduk dibelakang." Ucap Burnan sambil meninggikan satu alisnya sebelah kanan.


Dinda memasang muka masamnya, rencana yang sudah disusun rapi, harus gagal begitu saja. Yang pastinya, membuat Dinda semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


"Jadi, motor kamu bocor?" tanya Elang ikut menimpali.


"Ya, Bro. Makanya, aku tadi lihat kamu belum pulang. Jadi, aku menunggu mobil kamu lewat. Gak tau kenapa, tadi di jalanan seperti ada banyak paku yang sengaja di tabur di atas aspal." Jawab Burnan.


"Ya udah, kamu panggil Nilam dan Ayun untuk naik mobilku. Dan kamu Dinda, maaf, jika kamu harus duduk di belakang bersama mereka berdua. Tidak apa-apa, 'kan? lagi pula sama aja, mau depan atau belakang." Ucap Elang dengan keputusannya.


"Baik, Bro. Kalau gitu, aku panggilkan dulu mereka berdua. Terus buat Dinda, buruan pindah ke belakang." Jawab Burnan dan segera memanggil kedua temannya. Yakni, Ayun dan Nilam.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Dinda hanya bisa nurut saja dengan perintah dari Burnan. Meski terasa dongkol, mau tidak mau, Dinda segera turun dan pindah ke belakang.


Ayun dan Nilam yang sudah dipanggil Burnan, keduanya bergegas naik ke mobil dan duduk bersebelahan dengan Dinda.


'Awas lu ya, Yun, Nilam, dan Burnan, lain kali aku tidak akan Kecolongan lagi seperti ini." Batin Dinda merasa dongkol karena gagal dengan rencananya.


Tidak ingin sang istri menunggunya lama, Elang segera naik dan mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan ketiga temannya.


Dinda yang seperti tertangkap basah oleh ketiga temanya, memilih diam dan tidak untuk membuka suara.


Nilam yang menang dasarnya tidak mempunyai rasa takut, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Soal dijawab atau tidaknya, Nilam tidak begitu peduli.


"Oh, tadi Burnan gak tahunya udah keluar duluan. Terus, aku bertemu dengan Elang dan memberiku tumpangan. Jadi, aku tidak bisa untuk menolak ajakannya." Jawab Dinda beralasan.


Karena dirinya tidak mungkin untuk berkata jujur, semua demi kebaikannya, pikir Dinda.


"Oh, kirain." Kata Nilam.


Sedangkan Ayun yang sedari tadi memperhatikan isi dalam mobil, benar-benar dibuatnya kagum dengan isi dalam mobil milik temannya.


"Lang, kamu gak kangen kampung?" tanya Ayun mencari obrolan.


"Kangen sih Yun, tapi mau bagaimana lagi, kerjaan aku padat banget akhir-akhir ini. Jadi, mungkin nanti nunggu ada hari libur panjang, baru bisa pulang ke kampung. Terus, kalian juga gak kangen kampung halaman?" jawab Elang dan balik bertanya.


"Sama aja, Lang. Kita pulangnya nunggu libur panjang, itupun kalau dapat hari libur panjang. Kalau pihak kantor tidak memberi izin yang maksimal, kita tidak bisa pulang kampung." Kata Burnan sambil menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Ya, Lang. Yang dikatakan Burnan sangat benar, kita mah pulangnya nunggu libur panjang dan ongkos banyak. Kalau hanya pas-pasan aja, mending di rumah aja." Timpal Ayun ikut bicara.


"Tenang aja, nanti aku ikut pulang bareng kalian. Untuk hari libur, bakal akan ada keringanan, tidak seperti dulu." Ucap Elang sambil menyetir mobilnya.


"Anin juga di ajak kan, Lang?" tanya Nilam memastikan, tentu juga memanasi Dinda.


"Ya ya lah, Nil. Kamu mah aneh, Anin kan istrinya Elang, yang pasti diajak lah." Kata Ayun ikut Menimpali, sedangkan Dinda hanya menjadi pendengar setia selama perjalanan.


"Sudah, diam. Elang lagi nyetir mobil, jangan banyak pertanyaan untuknya. Mendingan tahan dulu obrolan kalian, nanti di lanjut lagi kalau sudah sampai rumah kosan." Ucap Burnan menengahi, takutnya akan mendapatkan teror lagi.


"Ya deh, ya." Jawab keduanya dengan serempak, Dinda sendiri hanya diam dan tidak bersuara.


Tidak terasa dalam perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampai juga di rumah kosan milik Ayun, Nilam, dan Dinda. Kemudiaj, Ayun maupun Nilam, keduanya segera keluar dari mobil.


Berbeda dengan Dinda, dirinya masih bengong. Seakan belum bisa menerima kenyataan, jika Elang sudah beristri.


"Din, sudah sampai." Panggil Burnan sambil melambaikan tangannya di depan Dinda yang masih melamun.


"Apa, sudah sampai?"


"Ya, sudah sampai. Tuh, Ayun sama Nilam turun dari mobil." Kata Burnan.


Dinda menoleh ke sebelah. Benar saja, ternyata kedua temannya sudah turun lebih dulu.


'Ini semua gara-gara kalian bertiga, yang sudah menggagalkan rencanaku. Awas saja kalian, aku akan balas semuanya.' Batin Dinda, dan bergegas turun.


"Lang, thanks ya, atas tumpangannya." Ucap Nilam dibarengi senyum, Elang mengangguk dan juga ikut tersenyum.


Berbeda dengan Dinda, ucapan terima kasih aja tidak ada. Justru, dirinya langsung masuk ke dalam rumah dengan perasaan dongkol. Ayun yang melihatnya, pun menahan tawa.


'Makanya jangan suka ganggu rumah tangga orang, enak kan, dikerjain.' Batin Ayun sambil memperhatikan Dinda yang tengah membuka pintunya yang terkunci.


Setelah itu, Elang kembali melajukan mobilnya menuju rumah yang menjadi tempat tinggal Burnan.

__ADS_1


"Makasih ya, Bro. Sudah membebaskan aku dari ulah Dinda, kamu dan Ayun sama Nilam memang teman baik." Ucap Elang sambil menyetir mobilnya.


"Selagi kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, kita tidak akan membiarkan kebahagiaan teman hancur hanya karena satu orang yang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya." Jawab Burnan.


__ADS_2