
Dengan meyakinkan diri, Anin bersama Didit masuk kedalam ruang rawat dengan perasaan yang entah bagaimana untuk menggambarkannya.
Istrinya Tuan Vitton, yakni Ibu Rahel yang dikenali Anin dan Didit saat menolong beliau dari seorang jambret.
Seperti mimpi, benar-benar seperti mimpi. Dengan erat, Didit menggandeng tangan milik kakaknya yang dipenuhi keringat dingin.
Istrinya Tuan Vitton sendiri sama halnya seperti Anin dan Didit, seperti mimpi dan tak percaya jika perempuan cantik dan laki-laki tampan yang tengah berjalan mendekat itu adalah anak kandungnya sendiri.
Sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah bertemu, kini kembali dipertemukan dengan usia yang sudah dewasanya.
Sang ibu, pun berusaha untuk merentangkan kedua tangannya, meski masih terpasang dengan selang infus sekalipun.
Anin dan Didit telah berpisah, satu sebelah kanan dan satunya sebelah kiri. Kemudian, keduanya langsung memeluk ibunya secara bersamaan.
Seketika, semuanya meneteskan air matanya dan menangis sesenggukan.
"Anak-anak Mama, Anindita dan Aditya, Mama sangat bahagia." Ucap sang ibu sambil memeluk kedua anaknya sambil menangis sesenggukan.
"Mam-Mama, Anin juga sangat bahagia bisa bertemu dengan Mama." Jawab Anin masih memeluk ibunya.
"Did-Didit juga, Ma. Didit sangat bahagia karena bisa dipertemukan dengan Mama." Ucap Didit ikut mengutarakan nya.
"Kalian sudah besar-besar, dan juga sudah dewasa. Maafkan Mama, jika selama ini Mama gagal mencari keberadaan kalian berdua." Kata sang ibu masih memeluk kedua anaknya.
Kemudian, Anin dan Didit segera melepaskan pelukannya.
"Kalian berdua benar-benar mirip dengan Papa kalian, Papa Rahtair Pratama. Kakek kalian pasti sangat bahagia bila bertemu dengan kalian berdua." Ucap sang ibu saat mengamati wajah kedua anaknya begitu lekat.
Saat itu juga, ingatannya kembali kepada Rahtair, suaminya.
"Benarkah kita berdua mirip dengan Papa?" tanya Anin yang begitu penasaran dengan sosok ayahnya.
Sang ibu mengangguk pelan.
__ADS_1
"Benar, sekali. Nanti kalau Mama sudah sembuh, Mama akan mengajak kalian bertemu dengan kakek kalian, kakek dari Papa kalian." Jawab sang ibu.
"Mama benar-benar sangat beruntung, bisa dipertemukan lagi dengan kalian." Ucapnya sambil menangis lebih terasa sesak untuk bernapas.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Didit yang khawatir saat melihat ibunya menangis.
"Tidak apa-apa, Mama hanya sangat bahagia, sampai-sampai tidak tertahan untuk menangis." Jawabnya beralasan, sebenarnya teringat dengan kakek dari kedua anaknya yang keberadaannya kini memprihatinkan.
"Oh ya, apa benar, orang tua asuh kalian sudah meninggal?" tanya sang ibu memastikannya.
Anin tertunduk sedih.
"Ya, Ma. Ibu Amira sudah meninggal saat kita belum selesai kuliah. Ibu Amira sangat baik, memperlakukan kita berdua begitu tulus memberikan kasih sayangnya." Jawab Didit dengan jujur tanpa ada yang dilebihkan.
"Ya, orangnya memang sangat baik. Mama sedih, Mama tidak dipertemukan lagi dengannya. Amira sebenarnya pengasuh kalian sejak bayi, karena kecelakaan itu, keluarga menjadi hancur dan berantakan." Ucap ibunya dengan penuh kesedihan.
"Jadi, Ibu Amira pengasuh kita berdua? Anin juga belum sempat membahagiakan Ibu Amira, Ma." Timpal Anin ikut bicara, hatinya ikut sedih, lantaran belum membalas kebaikannya selama ini, pikir Anin.
"Kamu bisa melakukan hal baik lainnya atas nama Ibu Amira, sayang. Kamu masih ada kesempatan, asalkan niat dan dilakukan." Ucap Elang ikut menimpali, dan meraih tangan kirinya.
"Aku akan memikirkannya lagi nanti, apa yang kamu katakan barusan." Jawab Anin.
"Benar, sayang. Yang dikatakan suami kamu memang benar. Kamu masih bisa melakukan sesuatu yang terbaik atas nama ibu Amira." Timpal ibu mertuanya ikut andil memberi saran yang sama seperti suaminya.
"Ya Kak, yang dikatakan Kak Elang ada benarnya. Bukankah Kakak menginginkan untuk pulang kampung? nanti Kak Anin akan menemukan jawabannya." Ucap Didit ikut komentar.
"Benar, Nin, aku mendukungmu." Ucap Lara saat masuk ke dalam.
"Nah, semua mendukung kamu, Anin. Jadi, apa salahnya jika kamu mencobanya saat sampai di kampung bersama suami kamu." Sahut ayah mertua saat baru saja masuk.
"Semua mendukungmu, seperti saran dari suami kamu. Jadi, mau tunggu apa lagi?" kata ibunya, Anin tersenyum bahagia saat orang-orang baik berada di sekelilingnya.
"Makasih ya, sayang. Sekarang aku sudah tahu, apa yang harus aku lakukan. Tapi bukan sekarang aku memberitahunya, nanti setelah kita sampai di kampung kita." Ucap Anin sambil menatap suaminya.
__ADS_1
Lara yang melihatnya, pun merasa iri dan cemburu akan keberuntungan yang didapatkan oleh Anin.
"Wah, wah, ada drama apa lagi, ini? oh, rupanya ramai sekali ya, ini ruangan." Ucap Tuan Vitton yang baru saja masuk, tentunya dapat mendengar apa yang tengah dibicarakan.
Semua yang kaget saat mendapati kehadiran Tuan Vitton, seakan muak menatapnya.
'Jadi, putranya Tuan Mawan dan menantunya akan pergi ke kampung halamannya? kesempatan emas untuk aku menghancurkan keluarga Alexander sebelum menghancurkan hidupku.' Batin Tuan sambil memperhatikan satu persatu diantara mereka, termasuk istrinya.
"Tuan Mawan, terimakasih ya, atas kebaikan darimu yang sudah menolong istriku. Aku dengar, bahwa menantumu dan lelaki muda ini adalah anak kandung Rahelia, benarkah?"
Tuan Mawan yang mendapati pertanyaan dari ayah tiri menantunya, rasanya begitu malas untuk menjawab pertanyaan darinya. Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan sudah terungkap, mau tidak mau, akhirnya berkata jujur.
"Ya, mereka berdua adalah anak dari Rahtair Pratama dan Rahelia, cucu dari keluarga Pratama." Jawab Tuan Mawan yang akhirnya menjelaskannya dengan jujur.
Meski terasa muak untuk menjawabnya, Tuan Mawan tidak mempunyai cara lain untuk menghindari pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya.
Tuan Vitton dengan percaya dirinya langsung mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Perkenalkan, Tuan Vitton, ayah dari Tian Gunanda dan Lara Gunanda." Ucap Tuan Vitton dengan percaya dirinya untuk memperkenalkan dirinya, serta kedua anaknya.
"Anin."
"Didit."
Jawab Anin dan Didit bersamaan.
"Kompak juga ya, kalian berdua. Oh ya, kalau kalian berdua ingin pulang, pulang saja. Biar aku dan putriku yang akan menemani ibunya Lara, bersama Tian putraku." Ucapnya tanpa merasa bersalah.
Tuan Mawan maupun yang lainnya merasa muak melihat serta mendengar ucapan dari Tuan Vitton yang penuh dengan drama semata.
Bahkan, Tuan Vitton sendiri tak menunjukkan sikapnya yang penuh kebenciannya terhadap sang istri.
"Tapi tidak untuk aku dan Kak Anin, karena kami berdua juga anaknya. Maka dari itu, kami akan tetap berada di rumah sakit." Jawab Didit yang tetap bersikukuh akan menjaga ibunya.
__ADS_1
Lebih lagi baru saja selesai berkelahi dengan Tuan Vitton dan putranya, tentu saja sangat khawatir akan keselamatan ibunya. Bukan tidak percaya, Didit takut akan ada sesuatu yang membuatnya khawatir, dan juga takutnya ada dendam yang sedang direncanakan.
"Sama, akupun tidak akan pergi dari rumah sakit ini. Karena apa, karena aku suaminya Anin, yakni menantunya Mama Rahel." Timpal Elang untuk tetap berada di rumah sakit, menjaga ibu mertuanya dari perbuatan keji dari ayah tiri istrinya.