
Waktu yang dilewati, rupanya sudah disambut dengan pagi hari yang begitu cerah dan hangat bersama mentari.
Anin dan Didit yang semalaman sudah diberitahu tentang tugas-tugasnya, keduanya bersemangat untuk melakukan pekerjaan sebagai asisten rumah bersama sang adik.
Tidak peduli dengan pendidikan yang sudah didapatkan, Anin dan Didit sama sekali tidak bergengsi dengan apa yang dilakukannya sekarang. Yang terpenting bagi keduanya yaitu, bisa menjalani hidupnya dengan semestinya.
"Sini! kamu." Panggil seseorang menunjuk pada Anin.
"Saya, Tuan?"
Dengan gugup, Anin menunjuk pada diri sendiri.
"Ya! kamu, memangnya siapa lagi yang ada di ruangan ini. Cepat kesini, buruan." Bentaknya dengan suara yang kedengaran cukup keras.
"Baik, Tuan." Jawab Anin dengan terburu-buru mendekati anak majikannya.
"Apa kamu tidak pernah bekerja? kalau ngepel lantai itu, yang benar. Lihat! masih basah ini, bisa-bisa aku jatuh. Cepat kamu selesaikan pekerjaanmu ini."
"Maaf, Tuan. Saya orang baru di rumah ini. Jadi, saya masih harus belajar." Jawab Anin sambil menunduk.
Saat itu juga, datanglah ibunya yang baru saja keluar dari kamar.
"Tian, masih pagi kok sudah marah. Memangnya ada masalah apa, Kamu Nak?"
"Ini dia, Ma. Kerja aja tidak becus, ngepel lantai saja tidak bisa." Jawabnya dengan kesal.
"Anin, kamu boleh lanjutkan pekerjaan kamu."
"Baik, Nyonya. Saya minta maaf, jika saya sudah melakukan kesalahan." Jawab Anin dengan gugup dan gemetaran saat mendengar bentakan dari anak majikannya.
"Mama juga, ikutin membela. Seharusnya Mama tuh marahi dia, bila perlu kasih hukuman atau pelajaran." Ucapnya dengan sungut.
"Anin itu baru bekerja di rumah kita, tentu saja harus beradaptasi dulu. Kamu juga, seharusnya jangan membentak, tapi diberi masukan yang bagus. Agar orangnya tidak takut dan mau menerima komentar dari kamu. Kalau kamu aja udah galak gitu, yang ada semua akan kabur dan tidak mau bekerja dengan kamu." Jawab Ibunya yang berusaha untuk memberi nasehat kepada putranya.
"Kak Lara, mana? belum pulang juga kah, dari luar negri?"
Bukannya berterima kasih karena sudah diingatkan ibunya, justru mengalihkan dengan pertanyaan lain.
"Katanya sih, pulangnya nanti sore. Memangnya kenapa? tumben tumbennya nanyain kakak kamu."
__ADS_1
Tian menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma tanya aja kok, Ma."
"Hem. Kebiasaan kamu kalau lagi kena omel Mama, selalu cari alasan untuk bertanya." Kata ibunya, Tian hanya nyengir dan pergi begitu saja.
Sedangkan Anin, dirinya tengah sibuk mengepel ulang lantai yang diperintahkan oleh anak majikannya.
"Anin, kemari sebentar." Panggil sang majikan sambil melambaikan tangannya.
"Ya, Nyonya." Jawab Anin, dan segera mendekati majikannya.
"Tolong panggilkan Bi Asih, ya. Suruh cepat datang kemari, dan kamu boleh melanjutkan lagi pekerjaan kamu." Perintahnya, Anin mengangguk.
"Baik, Nyonya, permisi." Jawab Anin, balik badan dan mencari keberadaan Bi Asih.
Saat sudah menyampaikan pesannya, Bi Asih sudah menghadap majikannya.
"Permisi, Nyonya. Maaf, apa benar Nyonya memanggil saya?"
"Benar, Bi. Oh ya, malam nanti akan ada acara lamaran. Jadi, Bibi siapkan semuanya untuk menyambut kedatangan dari keluarga Putra Utama. Jadi, persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Jangan sampai ada yang kurang, apapun itu."
"Ya, Bi. Ingat ya, Bi, persiapkan semuanya dari sekarang. Karena nanti sore, Bapak dan Lara akan pulang." Jawabnya.
"Ya, Nya. Bibi sangat senang sekali mendengarnya, bahwa Nona Lara akan segera menikah."
"Ya, Bi. Silakan untuk kembali melanjutkan pekerjaan Bibi."
"Baik, Nya, permisi." Kata Bi Asih dengan penuh semangat.
'Akhirnya Nona Lara menikah juga, sudah tidak sabar ingin melihatnya dalam acara pernikahan Nona Lara. Semoga acaranya berjalan dengan lancar.' Batin Bi Asih dengan perasaan bahagia, dan tidak henti-hentinya untuk berdoa.
"Bi Asih kelihatannya lagi seneng deh, bagi-bagi dong, Bi." Ledek asisten rumah lainnya.
"Ya nih, kek lagi seneng banget. Dapet berita apaan? cerita dong, Bi." Timpal yang satunya.
Sedangkan Anin yang belum begitu akrab dengan asisten lainnya, hanya bisa diam dan menjadi pendengar setia.
"Hari ini, Nona Lara akan pulang dari luar negri. Yang artinya, bahwa nanti malam akan ada acara lamarannya Nona Lara."
__ADS_1
"Serius nih, Bi. Yah ... bakalan banyak kerjaan kitanya."
"Ya ih, kirain kabar apaan. Tidak tahunya, kabar banyak kerjaan."
"Hus, kita harus senang." Ucap Bi Asih, Anin sendiri masih saja diam dan memilih untuk jadi pendengar.
"Ya sih, Bibi yang bahagia. Kitanya ini yang rempong, kerjaan bakal numpuk." Kata asisten yang baru saja datang.
"Sekarang, ayo lanjutkan lagi kerjaan kita. Setelah semua sudah beres, kita lanjut untuk mempersiapkan acara nanti malam." Ucap Bi Asih yang menjadi kepala asisten rumah.
Yang lainnya hanya bisa nurut dan melakukan tugasnya masing-masing sesuai yang diperintahkan.
"Anin, diam aja kamu ini. Eh, adikmu ganteng juga ya. Sayangnya, kita udah pada emak emak. Andai saja mssih gadis, udah aku pepet adikmu." Ucapnya tanpa malu-malu.
"Kamu mah emang dari dulu kek gitu, ada yang ganteng aja langsung di taksir." Sahut temannya.
"Biarin aja, sekarang udah punya suami, tidak mungkin lah." Jawabnya, Anin sendiri hanya tersenyum mendengarnya.
"Sudah, sudah, ayo kita kerja lagi." Perintah Bi Asih, semua nurut dan langsung melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Anin, jangan kaget ya. Semua asisten di rumah ini memang rame, kalau ngomong kadang juga asal. Jangan mudah untuk di ambil hati, mereka semua baik-baik dan suka bersenda gurau." Ucap Bi Asih pada Anin, memberitahu sikap pada asisten rumah.
"Tidak apa-apa kok, Bi. Justru saya sangat senang, mempunyai teman kerja yang bisa diajak bersenda gurau." Jawab Anin yang tak lupa dengan senyumnya yang ramah.
"Ya sudah, kamu lanjutkan kerjaan kamu. Setelah itu, kamu bisa langsung temui mereka untuk mempersiapkan acara lamaran nanti malam." Ucap Bi Asih, Anin mengangguk.
Anin kembali teringat dengan janji kekasihnya, yang akan pulang ke kampung menjemput dan mengajaknya ke kota. Setelah itu, langsung lamaran dan menikahinya.
Tetapi, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan. Justru dirinya serasa tersesat dan terasa sulit untuk mencari jalan keluarnya. Lagi-lagi Anin meneteskan air matanya lagi, tidak tahu siapa yang harus disalahkan.
Janji yang sudah tersusun rapi dan juga begitu lamanya, semua seakan telah berubah menjadi mimpi buruk untuknya.
"Nak Anin, kamu kenapa menangis? kamu sakit? atau ... ada sesuatu yang lainnya."
Seketika, Anin langsung menghapus air matanya dengan jari jemarinya.
"Nyonya, maaf. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya, permisi." Jawab Anin dan langsung pamitan dengan majikannya, demi menutupi kesedihan yang sedang ia rasakan.
"Ada apa dengannya? sepertinya sedang bersedih, kenapa dengan Anin?" gumamnya bertanya-tanya.
__ADS_1