
Akhirnya, penantian yang ditunggu-tunggu datang juga. Kakek Pratama bersama Tuan Mawan telah datang dengan tepat waktu. Anin ditemani Elang dan Didit untuk menyambut kehadiran kakeknya.
Dibantu oleh Tuan Mawan, kakek Pratama naik ke panggung. Momen haru akan segera di putar secara live lewat media manapun.
Anin benar-benar menatapnya dengan nanar, kelopak matanya sudah dibasahi dengan tangis harunya saat pertemuan yang dinanti-nanti telah datang tepat waktu.
Tak di sadari, rupanya sudah ada sosok perempuan yang ditugaskan untuk merencanakan sesuatu.
"Kak-kak-kakek."
Anin maupun Didit langsung memeluk kakek Pratama yang kini usianya tak lagi muda, bahkan sudah renta.
"Cu-cucuku, kamu benar cucuku?"
__ADS_1
Anin dan Didit sama-sama mengangguk sambil memeluk kakek Pratama dengan isak tangisnya. Tidak hanya kakek Pratama dan kedua cucunya yang menangis sesenggukan, tetapi juga yang lainnya saat menyaksikan langsung momen berharga tersebut.
Setelah itu, kakek Pratama melepaskan pelukannya, dan menatap kedua cucunya yang sudah sama besarnya dan juga dewasa.
Kemudian, Kakek Pratama memegang kedua pipi milik cucu-cucunya.
"Kalian berdua benar-benar cucu-cucu Kakek, wajah kalian mendominasi ayah kalian, Rahtair Pratama. Andai saja ayah kalian masih hidup, pasti sangat bahagia. Tapi, kenyataan berbeda. Ayah kamu sudah berpulang lebih dulu. Meski Kakek harus kehilangan putra satu-satunya, Kakek masih punya kalian berdua." Ucap sang kakek dengan perasaan penuh bahagia.
"Ya, Kek, sama. Anin dan Didit juga sangat bahagia, ternyata kita berdua masih mempunyai orang tua dan juga Kakek." Jawab Anin dengan senyum bahagia, meski dirinya tak lagi mempunyai seorang ayah seperti sang suami.
"Selamat berbahagia ya, Kek. Akhirnya, penantian Kakek terwujud." Ucap Elang pada Kakek Pratama.
Saat itu juga, Anin langsung di sambar oleh ayahnya Tian dari belakang. Suasana pun menjadi tegang, lebih lagi semua tidak ada yang siap siaga untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"Jangan bergerak! sekali lagi ada yang berani menyerangku, maka peluru ini akan menembus kepala putrimu, Rahel." Ucap Tuan Vitton dengan nekad untuk memberi sebuah ancaman kepada semua orang, tentunya untuk memberi ancaman kepada istrinya sendiri.
Elang yang merasa geram, kesal, dongkol, dan ingin melenyapkan ayah tiri istrinya dengan tangannya sendiri.
Elang maupun ayahnya yang tidak siap siaga, tidak tahu harus berbicara apa, juga melakukan apa. Sama halnya dengan Didit, kekhawatiran kepada kakaknya mengingatkan saat sang kakak pernah menyelamatkan nyawanya di masa kecilnya.
Kakek Pratama yang tahu betul siapa Tuan Vitton, dengan berani mendekatinya, tida peduli jika akan menjadi korban kebia_dapan seorang Vitton.
"Apa tujuanmu mengancamku lewat cucuku, Vitton."
Bukannya menjawab, justru tertawa lepas ketika mendengar ucapan dari kakek Pratama. Sedangkan Tuan Mawan sendiri dibuatnya bingung, karena kondisi yang benar-benar tegang. Bahkan, tidak ada satu orang pun ikut membantunya.
Elang yang mengetahui acaranya masih live, secepatnya menggunakan kesempatan agar mendapatkan pertolongan.
__ADS_1
Tapi naas, sebelum melakukan aksinya, Tuan Vitton sudah lebih dulu mengatur semuanya. Sedangkan Tian sebagai putranya, kini tengah membantu rencana ayahnya untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya keluarga.
Elang yang khawatir dengan kondisi istrinya, langsung memutar otaknya untuk berpikir. Sedangkan Kakek Pratama sudah berhadapan dengan orang-orang yang sudah dengan berani untuk menyiapkan penganiayaan berikutnya.