
Sampailah di tempat yang sudah di pesan oleh Elang, mobil pun berhenti di area parkiran.
"Tempat apa ini?" tanya Anin sambil celingukan.
Elang yang baru aja mematikan mesin mobilnya, lalu melepas sabuk pengamannya. Kemudian, ia menoleh pada sang istri yang tengah memperhatikan di sekelilingnya.
"Kita akan menginap di Danau ini, aku akan mengajakmu berkeliling. Meski tempatnya tidak begitu luas seluasnya pantai, tapi keindahannya tidak kalah jauh, karena banyak bukit disekelilingnya." Ucap Elang menjelaskan, Anin tersenyum tipis mendengarnya.
Tidak mungkin juga untuk menolak, Anin memilih nurut pada suaminya. Khawatir, itu sudah pasti. Lantaran, dirinya sendiri masih merasa canggung dengan sang suami yang bisa dikatakan teman sendiri.
"Sudah yuk, kita turun. Kita bisa istirahat dulu sebelum berkeliling." Sambungnya lagi setelah melepas sabuk pengamannya.
Anin mengangguk.
"Ya," jawab Anin dan tersenyum tipis.
Ketika keduanya sudah turun dari mobil, Elang mendekati istrinya dan menggandeng tangannya. Sambil berjalan, keduanya menjadi pusat perhatian.
"Elang! kamu Elang, 'kan?" dengan reflek, menyebutkan nama Elang dengan suara cukup keras.
"Ya, apa kabarmu?" jawab Elang dan menyapa balik.
Setelah itu, pandangannya tertuju pada Anin yang tengah digandeng oleh Elang. Saat itu juga, Anin benar-benar terkejut dibuatnya. Apa yang ia lihat di hadapannya itu, tidak begitu asing dalam ingatannya.
"Kau! perempuan sialan, perempuan pemb_unuh. Gara-gara kamu, aku harus gagal bertunangan dan juga menikah."
"Aw! lepaskan." Pekik Anin berusaha untuk melepaskan tangan milik perempuan yang hampir saja membuat nyawanya melayang.
"Lara! sudah, lepaskan." Ucap Elang sambil menolong istrinya yang hampir saja tidak bisa bernapas.
Tenaga Lara begitu kuat, hingga Elang begitu kesulitan untuk melerainya. Sedangkan Anin batuk berulang kali karena kesulitan bernapas.
Dengan tenaganya Elang yang cukup kuat, akhirnya istrinya terlepas juga dari cekikan perempuan yang hampir saja mencelakai istrinya.
"Kalian sudah kenal?" tanya Elang menyelidik satu persatu.
Anin memilih diam, karena masih merasakan sakit pada bagian lehernya.
"Perempuan ini siapanya kamu, Lang? hati-hati dengan perempuan ini, dia pemb_unuh." Tanyanya dan sekaligus menuduh Anin yang tidak tidak.
Elang masih belum mengerti sama sekali. Kemudian, menoleh pada istrinya. Anin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bohong, Dia. Gara-gara perempuan sialan ini, aku gagal bertunangan dan juga menikah. Da_sar! perempuan tidak tahu diri."
"Cukup! hentikan celotehan kamu, Lara. Memangnya apa yang sudah dilakukannya? sampai-sampai kamu mengatainya sekasar itu."
"Tanyakan saja padanya, aku tidak perlu menjelaskannya padamu." Jawabnya dengan tatapan penuh kebencian terhadap Anin.
Saat itu juga, dirinya terlintas teringat dengan mendiang Andika.
'Mungkinkah ada kaitannya dengan mendiang Andika?' batinnya.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun padanya, aku sendiri tidak tahu kebenarannya." Ucap Anin sambil menundukkan pandangannya.
Elang masih belum juga mengerti dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Enak aja tidak melakukan kesalahan apapun, kamu itu penyebab meninggalnya Andika, calon suamiku. Kalau kamu tidak ada di acara pertunanganku dengan Andika, pastinya
sekarang dia sudah menjadi suamiku." Ucap Lara yang terus menuduh Anin sebagai penyebab meninggalnya mendiang sang kekasih.
Saat itu juga, Elang baru paham apa permasalahanya.
"Berarti kamu belum berjodoh dengan Andika, begitu juga dengannya. Jadi, kamu tidak perlu untuk menyalahkannya." Ucap Elang yang tahu tentang hubungan Andika dengan istrinya, sedangkan untuk sosok Lara, Elang dapat menyimpulkan sendiri.
"Tetap saja, perempuan ini akar penyebabnya." Jawab Lara yang masih belum bisa menerima kenyataan, dirinya terus menyerang Anin.
Saat itu juga, Lara sangat terkejut mendengarnya. Perempuan yang dianggap pengacau dalam acara pertunangan, rupanya sudah menikah.
"Perempuan ini istri kamu?" tanyanya serasa tidak percaya.
Elang mengangguk.
"Ya, istriku." Jawab Elang dengan senyumnya.
Kemudian, Lara menatap tajam pada Anin dengan penuh kebenciannya.
"Kau! benar-benar perempuan gatal, tidak tahu diri dan perusak hubungan orang lain." Ucap Lara dengan segala tuduhannya.
"Tutup mulutmu, Lara. Jaga ucapan kamu itu."
Dengan geram, Elang langsung berucap dengan tatapannya yang tajam. Tentu saja, tidak terima jika istrinya dikatai yang tidak tidak.
"Lihat aja, aku bakal membalaskan dendamku padamu." Bisiknya dan segera pergi dari hadapan Anin dan Elang.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut, dia memang perempuan keras kepala. Ayo, ikut denganku." Ucap Elang menenangkan istrinya.
Anin mengangguk.
"Makasih ya, kamu sudah menolongku. Andai saja tidak ada kamu, mungkin aku sudah tidak bernyawa." Kata Anin dengan menunduk.
Elang langsung memeluk istrinya.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain melukaimu. Bahkan, aku tidak segan-segan untuk membalasnya, jika ada yang menyakitimu." Ucap Elang sambil memeluk istrinya.
Anin yang mendengarnya, pun merasa sangat beruntung mempunyai suami sebaik dan penuh perhatian seperti Elang.
Kemudian, Elang melepaskan pelukannya dan mengajak istrinya ke suatu tempat yang sudah dipesan, yakni tempat untuk penginapan.
Sambil menyusuri pinggiran danau, Anin menikmati suasana di sore hari bersama suaminya. Saat sudah berada di tempat penginapan, Elang mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan yang didesain begitu elegan.
"Malam ini kita akan menginap disini, kamu mau, 'kan?"
"Ya, aku tidak akan menolak ajakan darimu. Oh ya, aku mau ke kamar mandi dulu, bentar ya."
"Ya, aku juga mau pesan makanan dulu untuk makan malam." Jawab Elang, dan segera menelpon untuk memesan makanan.
Anin yang sudah berada di dalam kamar mandi, sejenak menatap dirinya lewat cermin.
"Bagaimana ini, kalau nanti malam Elang meminta haknya padaku. Aku benar-benar belum siap, tapi ... istri macam apa aku ini, kalau sampai aku menolak ajakannya." Gumamnya sambil menatap dirinya sendiri lewat cermin di kamar mandi.
Karena tidak ingin suaminya menunggu lama, Anin cepat-cepat buang air kecil, serta mencuci mukanya.
Selesai mencuci muka, Anin segera keluar. Dilihatnya Elang tengah berada di dalam kamar dengan pintu yang terbuka lebar.
Detak jantung Anin seketika berdegup sangat kencang. Ditambah lagi suaminya hanya mengenakan celana kolor saja tanpa mengenakan baju apapun sambil terlentang di atas tempat tidur. Tentu saja, membuat pikirannya melancong kemana-mana.
Karena ruangan yang tidak begitu luas, dan hanya ada kamar tidur dan tempat untuk makan sama kamar mandi. Membuat Anin tidak bisa duduk bersantai.
Mau tidak mau, akhirnya Anin masuk ke dalam kamar. Setelah itu, meletakkan tasnya di atas meja.
Elang mengetahui istrinya masuk ke kamar, ia tidak ambil diam. Secepatnya ia segera bangkit dari posisinya, dan langsung menggendong istrinya.
Dengan reflek, Anin langsung melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher milik suaminya.
"Aku mau dibawa kemana?" tanya Anin dengan gugup.
__ADS_1
Elang tersenyum, dan menc_ium bibir milik istrinya.
"Istirahat, karena kita butuh energi yang cukup untuk lembur nanti malam." Jawab Elang sambil menggoda istrinya. Anin membulatkan kedua bola matanya.