Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ketahuan


__ADS_3

Kini, hanya Tuan Mawan dan Tuan Vitton saling berhadapan. Kemudian, keduanya duduk dengan menyimpan kebenciannya masing-masing.


"Katakan padaku, apa syarat yang kamu minta dariku." Ucap Tuan Mawan dengan tegas.


Sedangkan Tuan Vitton menyeringai dengan tatapan mengejek.


"Kau yakin, mau memenuhi syarat dariku?"


Tuan Vitton tanpa ada rasa malu sedikitpun meminta syarat dari Tuan Mawan.


"Tentu saja, jika syarat itu menguntungkan bagiku."


Tuan Vitton yang mendengarnya tertawa lepas. Mana ada yang namanya dimintai syarat akan menguntungkan bagi yang diminta, pikirnya.


"Apa kau sudah gila, Tuan Mawan. Mana ada syarat yang menguntungkan untukmu, jangan mimpi." Ucapnya tak kalah dengan suaranya yang cukup keras untuk didengar.


"Lantas, syarat apa yang akan kau berikan padaku? cepat! katakan sekarang juga."


Tuan Mawan semakin tidak sabar untuk menunggu, membuang-buang waktu saja, batinnya.


"Sekarang aku sudah tahu semuanya, bahwa kau dan istrimu sudah merencanakan sesuatu di belakangku. Katakan dengan jujur, siapa istri putramu, dan siapa lelaki muda tadi? apakah mereka berdua anak dari Rahtair? jawab pertanyaanku ini dengan jujur."


Tuan Mawan tersenyum sinis saat mendapati pertanyaan dari Tuan Vitton.


"Tak perlu kau bertanya padaku, bukankah kau sendiri seorang detektif. Bahkan, kecelakaan istrimu saja, aku rasa ulah dari kamu sendiri, bukankah begitu? aku bukan orang bodoh, yang tidak tahu siapa kau sebenarnya." Jawab Tuan Mawan dengan tatapan penuh kebencian.


Tuan Vitton mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Jadi benar, mereka berdua adalah anak dari Rahtair?"


"Ya! benar, kau mau apa? mereka berada dalam genggamanku. Sedikitpun tak 'kan ku biarkan kau menyakitinya." Jawab Tuan Mawan dengan tatapannya yang terlihat begitu tajam, kedua tangannya sudah siap untuk melayangkan tinjuannya pada Tuan Vitton.


Dengan napasnya yang terasa begitu panas, Tuan Vitton segera bangkit dari posisinya.

__ADS_1


BRAK!


Tuan Vitton menatap tajam pada Tuan Mawan dengan tubuh yang sedikit membungkuk setelah menggebrak meja yang ada di hadapannya.


"Kau pikir, aku juga bodoh. Aku bisa melenyapkan menantu kesayangan kamu, dan juga sekaligus putramu, jika kau tidak mau menyetujui syarat dariku." Ucap Tuan Vitton dengan penuh ancaman.


Tuan Mawan bangkit dari posisi duduknya. Dengan tegak dia berdiri sambil menatap tajam pada Tuan Vitton.


"Jangan bertele-tele jika kau ingin bicara denganku. Cepat katakan, apa maumu, Tuan Vitton yang sombong." Jawab Tuan Mawan yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan diucapkan oleh Tuan Vitton mengenai permintaannya.


Keduanya nampak seperti musuh yang kembali bangkit dari persembunyian.


"Suruh kedua anak Rahtair untuk menyerahkan semua harta milik orang tuanya, maka aku akan membebaskan ibunya. Kalau sampai tidak mau, maka aku akan meleny_apkan ibunya." Ucap Tuan Vitton menggunakan istrinya sebagai ancamannya.


Tuan Mawan yang mendengar atas permintaan dari Tuan Vitton, justru menyeringai padanya.


"Kau memberi ancaman kepadaku? aku tidak takut. Kamu pikir, aku akan menuruti permintaanmu? jangan harap." Kata Tuan Mawan dengan terang-terangan menolak syarat dari Tuan Vitton.


Tanpa disadari, rupanya Didit sedari tadi menyaksikan pembicaraan antara Tuan Vitton dan ayah mertua kakaknya.


Saat juga, tak disengaja, Tuan Mawan mengarahkan pandangannya tepat pada Didit.


"Did-Didit." Sebut Tuan Mawan pada Didit.


Tuan Vitton ikut menoleh dan mengarahkan pandangannya pada Didit. Sama halnya seperti Tuan Mawan yang terkejut melihat keberadaan Didit yang tengah berdiri tidak jauh dari keduanya.


Dengan berani, Didit melangkahkan kakinya untuk mendekati Tuan Mawan dan juga Tuan Vitton.


"Apakah yang dibicarakan kalian tadi itu benar?" tanya Didit memberanikan diri untuk bertanya.


Tuan Mawan dan Tuan Vitton sama-sama menatap satu sama lain, yakni berkata jujur atau harus berkata bohong.


Setelah itu, Tuan Mawan menoleh kembali pada Didit. Kemudian, beliau mengangguk, tanda membenarkan atas jawabannya.

__ADS_1


"Yang kita bicarakan tadi adalah benar, kamu dan kakak kamu adalah anak dari Rahtair Pratama yang istrinya bernama Rahel, perempuan paruh baya yang tengah berbaring di rumah sakit karena insiden kecelakaan."


Bagai tersambar petir saat mendengar penuturan dari Tuan Mawan, Didit membulatkan kedua bola matanya seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar langsung lewat ucapan ayah mertua kakaknya sendiri.


Saat itu juga, Anin dan Elang ikut mendengarkan penuturan dari ayah mertuanya yang baru saja diucapkannya kepada sang adik.


Tuan Mawan maupun Tuan Vitton, keduanya sama-sama terkejut saat mendapati Anin yang tengah berdiri disebelah suaminya.


"Apa! jadi, Ibu Rahel adalah orang tuaku dan Didit?"


Dengan reflek, Anin akhirnya membuka suara saat mendengar pengakuan dari ayah mertuanya pada sang adik.


Tuan Mawan menunduk, bingung harus menjelaskannya. Sedangkan Tuan Vitton mengambil kesempatan emas saat mendapati situasi yang cukup genting.


"Tuan Mawan, aku tunggu keputusan darimu. Ingat, apa yang sudah aku ucapkan padamu mengenai syarat yang aku berikan, atau nyawa yang akan melayang." Ucap Tuan Vitton sedikit cukup keras saat bicara untuk memberi ancaman kepada Tuan Mawan.


Tuan Vitton berharap, ingin sekali kedua anak tirinya dapat mendengarkan apa yang yang sudah dikatakan kepada Tuan Mawan.


Tidak ingin banyak bicara dan berurusan dengan kedua anak tirinya itu, Tuan Vitton segera pergi dari hadapan Tuan Mawan dan yang lainnya.


Kini, tinggallah Tuan Mawan bersama anak dan menantunya, juga Didit. Beliau tertunduk sedih, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ingin berkata bohong, itupun tidak akan mungkin untuk dilakukannya.


Anin yang sudah tidak sabar karena ingin mengetahui kebenarannya, ia mendekati ayah mertuanya. Sedangkan ibunya Elang tengah menunggu istrinya Tuan Vitton yang tengah diatasi oleh beberapa dokter, berharap segera dipindahkan ke ruang khusus untuk pasien.


"Pa, katakan yang sejujurnya. Benarkah kami berdua anaknya ibu Rahel? katakan pada Anin, Pa. Katakan juga, apa maksudnya orang tadi bicara tentang syarat dan juga nyawa yang akan melayang? jawab, Pa."


Anin terus memberondong banyak pertanyaan, tentang semua yang ia dengar obrolan dari ayah mertuanya sendiri dan lelaki yang tidak ia kenali.


Meski pernah bekerja di rumah Tuan Vitton, Anin sama sekali belum pernah bertemu langsung padanya.


"Tuan kenapa diam? jawab pertanyaan dari Kak Anin, Tuan?"


Didit yang sudah tidak sabar, ingin cepat-cepat dapat mengetahuinya.

__ADS_1


Elang yang melihat istrinya mulai terbawa emosi, sedih, dan apakah harus memberontak atau harus bahagia. Elang langsung merangkul istrinya, tentunya agar tidak terbawa emosi.


Sedangkan Anin sendiri benar-benar dilema dengan apa yang ia terima tentang banyaknya masalah yang menghampiri dirinya.


__ADS_2