Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Pengakuan hubungan


__ADS_3

Sambil menunggu Elang mengambil ponselnya dari kamar, Ayun dan yang lainnya tengah menikmati kue dan minuman yang sudah dihidangkan oleh asisten rumah.


Sampai di dalam kamar, Elang mendekati istrinya yang tengah merapikan penampilannya di depan cermin.


"Gimana, kamu sudah siap untuk bertemu dengan mereka, 'kan?" tanya Elang sambil memeluk istrinya dari belakang.


Anin langsung memutar balikkan badannya dihadapan sang suami.


"Aku malu, jika mereka mengatai aku yang tidak tidak, bagaimana?"


"Terus, kamu gak mau menemui mereka, begitu. Katanya kamu sudah siap, kenapa harus malu, sayang?"


"Ya sih, tapi ..."


"Tapi kenapa lagi? takut, malu, atau gak percaya diri? sudahlah, mau sembunyi sampai di manapun, mereka bakal tahu kalau kita ini suami-istri. Jadi, lupakan saja kekhawatiran kamu itu. Percayalah denganku, semua akan baik-baik saja." Kata Elang meyakinkan istrinya agar tidak banyak beban pikirannya.


Anin yang tidak mempunyai pilihan lain, hanya bisa mengangguk sebagai tanda nurut kepada suaminya. Dengan tekadnya yang sudah bulat, Anin ikut suaminya untuk menemui keempat temannya yang sudah menunggunya di ruang tamu.


Awalnya kembali ragu saat sudah diambang pintu untuk keluar dari kamar, tapi pada akhirnya mengikuti suaminya dari belakang.


Saking asiknya saat menikmati makanan ringan yang disajikan oleh asisten rumah, sampai-sampai tidak ada satupun yang tersadar jika Elang dan Anin sudah menuruni anak tangga paling akhir.


Anin yang masih menyimpan rasa takut dan malu, memilih berdiri di belakang suaminya sambil memegangi milik sang suami.


Burnan yang tahu jika dibelakang Elang ada sosok Anin, dirinya berpura-pura tidak mengetahuinya dan memilih untuk menikmati kuenya.


Sedangkan Ayun sendiri tidak menoleh sama sekali, lantaran pandangannya tertuju pada sebuah lukisan yang terpajang dengan ukuran yang cukup besar.


Begitu juga dengan Nilam, sama halnya dengan Ayun yang tengah menikmati kuenya sambil memperhatikan pada sudut ruang tamu yang terdapat pahatan kayu yang begitu bagus.


Sedangkan Dinda sendiri tengah mengamati isi ruang tamu yang begitu luas dan juga terlihat mewah. Kemudian, tiba-tiba pandangannya tertuju pada Elang yang tengah berjalan mendekati dan diikuti sosok perempuan yang membuat dirinya penasaran.


Elang terus berjalan mendekati keempat temannya.


Dengan serempak, semua pandangannya tertuju pada Elang yang sudah berdiri bersama istrinya, hanya saja sang istri berada di belakangnya.


Nilam maupun kedua temannya, mereka sama sekali tidak berani untuk meledek Elang seperti dulu lagi. Dikarenakan, yang ditakutkannya sang istri bukanlah sembarangan orang, melainkan dari keluarga yang sama kaya rayanya seperti Elang, pikir mereka semua dengan perasaannya yang takut akan mendapatkan ancaman yang tidak diinginkannya itu.

__ADS_1


"Lang, kok ditutupi sih istrinya?" tanya Ayun yang pada akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.


Tidak peduli baginya jika istri temannya itu dari keluarga terkaya sekalipun, pikir Ayun.


Elang tersenyum mendengarnya.


"Ya, entar bisa-bisa di bawa pulang ke kampung sama kamu Yun, repot akunya. Makanya, aku tutupin aja dulu nih istriku." Jawab Elang.


"Elang mah gitu, suka bikin penasaran orang." Timpal Nilam yang juga ikut bicara.


"Kalau bukan jahil, namanya bukan Elang, Nil, Yun." Ucap Burnan ikut menimpalinya.


"Ya, Elang dari dulu memang suka bikin penasaran." Kata Dinda ikut bicara juga.


Sedangkan Anin yang tengah berdiri dibelakang suaminya, detak jantungnya berdegup sangat kencang.


'Bagaimana ini, jika Ayun, Dinda, dan Nilam marah besar terhadapku? sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa kepada mereka. Apa yang harus aku jawab, jika mereka mendesakku?' batin Anin dengan gelisah.


Seketika, tiba-tiba Nilam seperti menaruh curiga terhadap Elang.


Batin Nilam yang tiba-tiba menaruh kecurigaan terhadap temannya sendiri, dan juga teringat akan janji Elang, yang mana dirinya diminta untuk menjadi saksinya atas perasaannya kepada perempuan yang sangat di cintainya itu.


Sambil menaruh kecurigaan, Nilam memperhatikan gerak gerik perempuan yang berada di belakang Elang.


'Apa ya, istrinya Elang itu Anin?' batinnya lagi yang sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.


Karena tidak ingin membuat keempat temannya penasaran, Elang meraih tangan istrinya seraya memberi isyarat untuk memperkenalkan istrinya di hadapan mereka berempat.


Anin yang sedikit gugup, berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikan pikiran buruknya. Dengan yakin, bahwa semua akan baik-baik saja, pikirnya.


Ayun, Burnan, Nilam, dan Dinda tengah antusias untuk melihat istrinya Elang yang masih bersembunyi di balik badan suaminya.


Dinda dan Ayun yang tidak menaruh curiga sama sekali, mereka berdua tetap bersikap santai. Tidak seperti Nilam, yang merasa penasaran dengan siapa sosok istri temannya itu.


Saat itu juga tanpa basa-basi, Elang berhasil meminta istrinya untuk berdiri di sebelahnya. Tanpa ada penolakan, Anin nurut dengan ajakan suaminya.


Alangkah terkejutnya saat Anin tengah berdiri disebelah Elang, semua sepasang matanya mendadak membulat dengan sempurna pada kedua bola matanya masing-masing.

__ADS_1


"Anin!" teriak ketiga teman perempuannya.


Dengan reflek karena sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu, Ayun dan Nilam langsung bangkit dari posisi duduknya dan memeluk Anin dengan erat. Bahkan, lupa dengan pengakuan Elang yang akan memperkenalkan sosok istrinya.


Tetapi, tidak untuk Dinda. Justru, Dinda terdiam membisu saat melihatnya. Bagai mimpi buruk di siang bolong, seakan mimpinya hangus begitu saja. Saat melihat Anin berdiri di sebelah Elang, menambah kebenciannya terhadap sosok Anin yang dijadikan pesaing atas rasa cemburunya itu.


Setelah merasa sudah cukup memeluk Anin, keduanya segera melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Anin dengan lekat.


"Anin, ini beneran kamu?" tanya Nilam dan Ayun bersamaan, serta bagai mimpi oleh mereka berdua.


"Ya, Nil, Yun, Aku Anin teman kalian. Aku kangen banget sama kalian, bagaimana kabarnya?"


"Kabar kami sangat baik, Nin. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? aku juga sangat rindu sama kamu, Nin. Oh ya, aku ikut turut berdukacita ya, Nin, atas kepergian Andika untuk selama-lamanya." Jawab Nilam sambil memegangi tangan milik Anin, dan ikut berbelasungkawa atas meninggalnya mendiang kekasihnya.


"Aku juga, Nin. Aku ikut turut berduka cita ya, Nin. Kamu yang sabar ya, maafkan kita yang tidak ada waktu untuk kamu saat kamu sedang berduka." Timpal Ayun ikut bicara, sedangkan Dinda berjalan mendekati.


"Nin, apa kabarnya?" sapa Dinda dan memeluknya, entah hanya pura-pura atau sekedar basa-basi, hanya Dinda sendiri yang mengetahuinya.


Kemudian, Anin melepaskan pelukan dari Dinda.


"Kabarku sangat baik, Din. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Anin dan balik bertanya.


"Kabarku juga baik, seperti yang kamu lihat." Kata Dinda dengan perasaannya yang terasa dongkol saat melihat penampilan Anin yang sudah sangat berbeda.


'Jadi, Elang dan Anin suami istri. Sia_lan! lihat aja, aku bakal membalasnya.' Batin Dinda sambil menyembunyikan perasaannya yang terasa sangat dongkol.


"Bentar, bentar." Kata Nilam yang teringat akan pengakuan dari Elang.


"Kenapa, Nil?" tanya Ayun.


"Tidak kenapa-kenapa, Yun. Aku cuma mau memastikan aja sama Elang dan Anin. Apa benar, mereka berdua ini beneran suami istri?"


Nilam yang menyimpan rasa penasaran, ia langsung memastikannya langsung karena rasa ketidaksabarannya.


Elang berjalan satu langkah, lalu meraih tangan sang istri dan merangkulnya.


"Benar, kami berdua suami-istri. Sebelumnya aku dan istriku mau minta maaf sama kalian, atas hubungan pernikahan kami ini yang tidak pernah di sangka oleh kalian. Jujur, aku sama sekali tidak ada niat apapun untuk merebutnya dari mendiang Andika. Tapi karena perasaan cintaku kepada Anin yang tulus, akhirnya aku menikahinya." Jawab Elang yang pada akhirnya berterus terang di hadapan keempat temannya.

__ADS_1


__ADS_2