
Selesai membersihkan diri, Anin segera keluar dari kamar mandi karena harus bergantian dengan suami.
Saat baru saja keluar, rupanya Elang tengah menunggu dan ditemani pak Ratno. Kemudian, gantian Elang yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anin yang gugup, segera mengeringkan rambutnya.
Karena bingung tidak tahu harus bagaimana saat menunggu suami yang sedang mandi, Anin duduk di sofa sambil membaca buku yang tergeletak di atas meja.
Tidak memakan waktu yang lama, pak Ratno telah menyelesaikan tugasnya membantu majikannya mandi. Kemudian, segera keluar dari kamar.
Baru aja mau mendekati istrinya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Anin yang mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu, segera membukanya. Sedangkan Elang membiarkan istrinya yang membuka.
"Selamat malam, Nona, permisi. Bibi mau mengantarkan makan malam untuk Nona Anin sama Den Elang." Sapa Bi Narsih sambil membawa nampan besar yang berisi makanan dan minuman dibantu pelayan lainnya.
"Terima kasih banyak, Bi. Maaf, jika sudah merepotkan Bibi. Mari, silakan masuk."
"Ini semua sudah menjadi tugas kami, Non." Kata Bi Narsih sambil berjalan menuju meja, dan meletakkannya nampan yang berisi beberapa menu makan malam serta minumnya.
Kemudian, Bi Narsih menghadap pada Elang yang tengah duduk di kursi roda.
"Den Elang, Nona Anin, selamat menikmati makan malamnya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, panggil saja kami."
"Ya, Bi, terimakasih. Bibi dan Mbak Dita boleh keluar, silakan."
"Baik, Den." Jawab Bi Narsih dan Mbak Dita bersamaan.
Kini, tinggal Anin dan Elang yang berada di dalam kamar.
"Sudah malam, waktunya kita makan malam dulu. Setelah itu, baru istirahat. Ayo, duduklah. Kamu tidak perlu sungkan saat bersamaku atau dengan kedua orang tuaku, bersikaplah dengan tenang dan kamu tidak perlu gugup." Ucap Elang sambil meraih piring dan sendok.
Anin merasa aneh dengan sikap suaminya. Yang dia tahu, Elang tidak seperti yang dikenalinya. Tapi kenyataannya, Elang tetaplah Elang yang dikenalinya.
Hanya saja, Elang sedikit menjaga jaraknya. Tidak seperti dulu, bahkan bisa dikatakan sudah seperti pacarnya sendiri. Tapi kini, yang dirasakan Anin ada sikap dinginnya pada sang suami, tetap saja masih seperti biasa ketika berbicara dengannya.
"Jangan banyak melamun, nanti perut kamu tambah sakit loh. Ayo, kita makan dulu."
"I-iya." Jawabnya dengan gugup.
Dengan malu, Anin mengambil porsi makan malamnya. Tanpa bersuara, Anin dan Elang sama-sama menikmatinya. Sambil makan, sedari tadi Elang terus memperhatikan istrinya.
Keduanya duduk bersebelahan. Hanya saja, Elang duduk di kursi roda.
Selesai makan, Elang memanggil Bi Narsih untuk membereskannya. Kemudian, dirinya pindah tempat ke balkon sambil duduk santai dan menikmati angin malam.
Sedangkan Anin membantu Bi Narsih membereskan bekas makan malam.
__ADS_1
"Biar Bibi saja yang membereskannya, Non. Mendingan Nona Anin istirahat aja, sudah malam dan waktunya untuk beristirahat."
"Tidak apa-apa kok, Bi."
"Sudah sini, biar Bibi dan Mbak Dita yang bawa. Sudah malam, waktunya Nona untuk istirahat." Kata Bi Narsih.
"Makasih ya, Bi." Ucap Anin yang merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan orang lain saat makan malam, sedangkan Bi Narsih tersenyum mendengarnya.
"Permisi, selamat istirahat, Nona."
"Ya, Bi, makasih." Jawab Anin.
Bi Narsih dan Mbak Dita segera keluar dari kamar majikannya.
Merasa bingung harus ngapain, Anin duduk di sofa sambil melanjutkan baca bukunya yang sempat tertunda.
"Sudah malam ini loh, kenapa kamu masih belum juga tidur?"
Anin yang terkejut saat dikagetkan oleh suaminya, langsung meletakkan bukunya.
"Aku belum ngantuk, kamu aja yang tidur duluan." Jawabnya dengan gugup.
Elang mendekati istrinya.
"Sudah malam dan waktunya untuk istirahat. Jadi, cepat ke kamar mandi, cuci mukamu dan sikat gigi juga." Perintah Elang, Anin hanya bisa nurut.
Elang sendiri, dengan alat bantuannya yang canggih, dirinya mampu pindah ke tempat tidur tanpa bantuan siapapun.
Anin yang baru saja keluar, bingung harus tidur dimana. Pasalnya, pernikahannya bukan dilandasi dengan sama-sama cinta, melainkan karena sebuah persyaratan untuk bisa bebas dari lapas.
Anin masih saja bengong, entah kemana pikirannya. Sampai-sampai suaminya merasa aneh melihatnya.
"Kenapa masih berdiri di situ? apa kamu tidak capek berdiri kek gitu terus?"
"Eh ya, aku lupa." Jawabnya sambil mengigit bibir bawahnya karena masih gugup dengan suaminya sendiri.
"Cepetan sini."
Pinta Elang sambil menepuk bantal yang ada di sebelahnya.
Anin yang melihatnya, seakan tidak percaya jika dirinya akan tidur dalam satu ranjang dengan Elang, teman dekatnya sendiri.
Dengan langkah kakinya yang sedikit gemetaran, Anin berjalan menuju tempat tidur, dan memilih yang paling pinggir. Tentu saja, Anin menjadi salah tingkah sendiri, dan juga gugup saat berada dalam satu kamar dengan Elang.
Bagaimana tidak salah tingkah dan gugup, teman dekat harus menjadi suaminya tanpa diduga sebelumnya. Ditambah lagi sikapnya tidak pernah berubah atas perhatiannya, meski terkadang sikapnya berubah dingin dan kaku.
__ADS_1
"Kalau kamu jatuh, bagaimana? sudah cepetan geser kesini."
"Tenang aja, aku tidak bakalan jatuh kok." Jawab Anin tanpa menoleh sama sekali pada suaminya.
"Bandel, kamu ya. Sini, nanti kamu bisa jatuh." Kata Elang yang langsung meraih tangan istrinya.
"Ya deh ya, tapi tolong lepaskan tangan kamu ini." Kata Anin sambil meminta suaminya untuk melepaskan tangannya.
Elang langsung melepaskannya, dan membenarkan posisi tidurnya.
"Pakai selimutnya, nanti kamu bisa kedinginan. Karena aku tidak bisa memelukmu, maka dari itu kamu pakai selimutnya."
Anin justru tersenyum mendengarnya.
"Ngapain kamu senyum senyum gitu? memangnya ada yang lucu denganku? sudah cepetan buruan tidur, ini sudah malam."
"Ya," jawab Anin dengan lirih.
Kemudian, Anin menyelimuti tubuhnya dan langsung memejamkan kedua matanya karena tidak ingin berurusan dengan suaminya. Tidak ingin ambil pusing, lambat laun terlelap dari tidurnya karena kecapean.
Berbeda dengan Elang, meski kedua matanya terpejam, kesadarannya masih terjaga. Justru, dirinya membuka kembali kedua matanya. Setelah itu, dia menoleh pada istrinya dan mengusap pucuk kepalanya.
Pelan-pelan, Elang menggeser posisinya untuk lebih dekat lagi dengan istrinya. Selanjutnya, Elang mendaratkan ciu_mannya di kening milik istrinya.
"Kamu tidak pernah berubah, masih seperti dulu." Gumamnya saat dirinya dapat mencuri kesempatan emasnya.
"Jangan, jangan pergi. Jangan, jangan tinggalkan aku." Ucap Anin yang tengah mengigau.
Meski ada rasa cemburu, Elang berusaha untuk membangunkan istrinya yang tengah mengigau.
"Nin, bangun. Nin, bangun." Berkali-kali Elang terus membangunkan istrinya yang masih terus mengigau.
Anin langsung tersadar dari tidurnya, dan duduk bersandar di sebelah suaminya.
Napasnya terasa sesak, seperti dikejar makhluk lain.
"Kamu kenapa? mimpi buruk? atau ... bermimpi dengan Andika? maaf, aku hanya menebak saat kamu mengigau, itu saja."
Anin langsung menoleh, dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan, aku tidak memimpikannya."
"Terus?" tanyanya sambil mengernyit.
'Kalau bukan dengan Andika, lantas bermimpi dengan siapa? masa ya denganku, itu mustahil sekali.' Batinnya yang merasa dibohongi.
__ADS_1
"Makasih ya, sudah bangunin aku." Bukannya menjawab, Anin mengalihkan ucapannya.
"Ya, lanjutkan tidurmu. Lain kali kalau mau tidur itu, tenangkan dulu pikiranmu, biar kamu tidak mengigau dan ngelantur." Kata Elang, Anin hanya mengangguk dan tersenyum mendengarnya. Lalu, kembali membenarkan posisi tidurnya.