Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kedatangan Varisa


__ADS_3

Setelah meminta pihak hotel melihat tamu di depan kamar mereka, tak lama kemudian terdengar suara perdebatan di luar. Zionel dan Stevani terus mendengarkan suara itu. Keduanya saling bertatapan.


"Varisa..." ujar Zionel dan Stevani bersamaan.


Aku tahu ini kamar Zionel dan istrinya, aku hanya ingin bertemu mereka untuk berpamitan. Mengapa kalian menganggapku penjahat dan mengusirku. teriak Varisa di depan pintu kamar.


Maaf nona, tamu kami merasa terganggu dan meminta kami untuk menemui anda. Mereka adalah tamu utama hotel ini, kenyamanan dan keselamatan mereka adalah prioritas utama kami.


Zio... aku mohon keluarlah... aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu... teriak Varisa lagi.


Zionel menatap Stevani setelah mendengar teriakan itu. "Apa aku boleh menemuinya?"


Stevani menghela nafas panjang lalu mengangguk. "Tapi tetap berhati-hati Zio, aku takut ia membawa senjata tajam."


Zionel mengangguk. "Tetaplah disini." pintanya seraya beranjak dari sana.


Zionel menuju pintu lalu membukanya, mendengar suara pintu kamar terbuka sontak perdebatan mereka terhenti. Varisa membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk Zionel saat melihat pria itu. Zionel terbelalak, ia segera melepaskan tangan Varisa yang melingkar di tubuhnya dengan kasar, mendorongnya hingga wanita itu jatuh ke lantai.


"Apa kau sudah gila?" bentak Zionel. "Untuk apa kau datang kemari dan menggangguku? Bukankah kau dan ibumu sudah memutuskan untuk pergi dari negara ini." teriaknya.


Seketika Varisa terisak. "Kau benar... aku berterima kasih padamu karena mau melepaskan aku. Aku baru keluar dari rumah sakit dan akan segera ke bandara. Tapi... hatiku tetap tidak tenang sebelum bertemu denganmu. Aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya Zio."


"Bukankah sekarang kau sudah melihatnya. Pergilah... sebelum aku berubah pikiran dan memanggil polisi kemari." ujar Zionel.


Varisa mengepalkan tangannya dengan erat. "Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" pintanya sambil terisak.


Zionel bergeming.


"Zio... kau adalah cinta pertamaku. Sulit sekali aku bisa melupakanmu. Aku mohon biarkan aku memelukmu sebentar saja." pinta Varisa lagi.


Zionel menarik sudut bibirnya penuh kebencian pada wanita itu. "Aku sudah memiliki istri sekarang dan kau ingin aku memeluk wanita lain? Pikiranmu sudah tidak waras, pergilah... jangan memancing emosiku."


Varisa justru semakin menangis. Zionel memalingkan wajahnya dan meminta pelayan hotel yang ada disana membantu wanita itu bangun dan membawanya keluar dari sana.


"Zio..."


"Lupakan semua yang ada disini Varisa. Sudah cukup hukuman yang kau dapatkan dari Tuhan. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Pergilah dan jaga ibumu dengan baik. Aku yakin jika ibumu tahu kau datang kemari, maka ia akan histeris dan murka padamu." ujar Zionel dengan suara yang lebih tenang.


Varisa menghapus air matanya, ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan dengan lunglai meninggalkan Zionel. Pria itu menghela nafas panjang dan berterima kasih pada pihak hotel yang sudah membantunya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamar menemui Stevani.


Tentu saja istrinya sedang menunggu dengan penasaran. Zionel menghampiri istrinya lagi di atas ranjang.

__ADS_1


"Apa yang ia inginkan?" tanya Stevani.


"Berpamitan." jawab Zionel datar.


Stevani mengerutkan keningnya. "Ada apa Zio? Mengapa kau terlihat tidak senang setelah menemuinya? Apa kau menyesal melepaskan wanita itu?"


Zionel menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Aku menyesal karena tak bertemu denganmu lebih awal agar masalah seperti ini tidak terjadi. Aku hanya tak tega melihat wanita seperti Varisa yang kehilangan akal sehatnya karena cinta. Wanita itu sebenarnya sangat baik, tapi ia harus kehilangan ayahnya karena bertindak bodoh. Vani... kau jangan salah paham dengan ucapanku ini sayang. Bukan berarti aku masih perduli pada wanita itu, hanya saja aku tak menginginkan hal ini terjadi pada kehidupanku."


Stevani mengulas senyumnya lalu menepuk punggung suaminya dengan lembut untuk menenangkannya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku tidak akan salah paham tapi..."


"Tapi? Tidak ada kata tapi." jawab Zionel.


Stevani melepaskan pelukannya. "Tapi aku tidak suka wangi parfum yang ada di tubuhmu sekarang." ujarnya cemberut.


Zionel mengendus-endus tubuhnya sendiri. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Wanita itu yang tiba-tiba memelukku. Aku langsung mendorongnya, aku akan mengganti pakaianku dan membuangnya."


Stevani terkekeh. "Aku hanya bercanda, aku tahu kau tak mungkin memeluk wanita itu."


Zionel menghela nafasnya. "Demi Tuhan Vani, aku benar benar takut kau marah padaku."


"Bukankah kau memang sangat suka membuatku marah?"


Zionel menggelengkan kepalanya. "Tidak lagi."


"Bagaimana jika kita coba mandi bersama?" goda Zionel.


"Zio..."


Zionel terkekeh. "Aku hanya bercanda, aku akan mengumpulkan tenagaku untuk nanti malam. Jadi..."


"Ya Tuhan mes um..."


"Bukankah kau juga menyukainya?"


Stevani mendorong tubuh suaminya. "Mr. Arogan yang mes um. Saat kita pulang nanti lebih baik kita ke gereja."


"Untuk?"


"Membuatmu bertobat."


Sontak saja Zionel tertawa terbahak-bahak. Stevani segera turun dari ranjangnya, rasa nyeri pada tubuhnya sudah tidak terasa begitu sakit. Wanita itu mempercepat langkahnya menuju kamar mandi dalam keadaan tanpa busana.

__ADS_1


"Tubuhmu sangat menggoda nona." goda Zionel.


Stevani tak mendengarkan ucapan suaminya, ia terus mempercepat langkahnya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Zionel terus tertawa membuat lukanya kembali nyeri. Pria itu segera membuka pakaiannya dan membuangnya karena memang wangi parfum Varisa menempel pada tubuhnya. Pria itu melihat lukanya yang sudah mulai mengering.


"Luka sialan..." umpatnya.


Ponsel Zionel berdering, pria itu segera mengambil ponselnya dan melihat layar.


Alex calling...


Zionel segera mengangkatnya. "Ada apa Lex?"


"Pak Zio maaf mengganggu, ada kabar dari anak buahku tentang pelaku."


"Bagus... lalu?"


"Aku akan ikut mereka kesana untuk menangkapnya jika berhasil..."


"Bawa ke apartemenku." potong Zionel. "Hotel ini juga sudah tidak aman, aku akan segera check out dan membawa Vani ke rumah besar Cruise." imbuhnya.


"Tidak aman? Apa yang terjadi pak?"


"Varisa datang menemuiku. Entahlah darimana ia mengetahui dimana aku menginap. Walaupun akhirnya wanita itu pergi dengan tenang, tapi aku takut ia kembali nekat dan akan kembali kemari."


"Bukankah mereka setuju untuk pindah ke luar negeri?"


"Benar. Ia datang dengan alasan berpamitan. Tapi aku tidak yakin dengan seseorang yang sedang terobsesi Lex. Sepertinya nyonya Yudistira juga tidak mengetahui jika putrinya menemuiku lagi."


"Ya Tuhan... mengerikan sekali. Wanita itu benar benar kehilangan akal sehatnya karena anda pak Zio. Anda benar pak, anda harus tetap waspada. Aku akan mengabari anda lagi jika berhasil menangkap pelaku."


"Ingat Lex... tidak ada yang boleh tahu tentang masalah ini termasuk istriku, daddy dan mommy. Aku tak ingin membuat mereka khawatir."


"Tenang saja pak Zio, aku akan merahasiakannya."


"Aku tunggu kabar baiknya." kata Zionel seraya menutup teleponnya.


Zionel menghela nafas panjang. Pria itu menatap pintu kamar mandi lagi lalu tersenyum.


"Aku harap masalah ini cepat selesai sayang, aku akan tenang membawa adikmu kemari jika sudah menyelesaikan masalah ini. Aku ingin kau dan adikmu hidup dengan bahagia bersamaku setelah apa yang sudah kalian lalui sebelumnya. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua hidup seperti dulu lagi. Kebahagiaanmu adalah prioritas utamaku saat ini. Setelah itu aku akan mencari Haena, kebahagiaan kita akan semakin lengkap setelah ia kembali. Perasaanku mengatakan, aku akan segera menemukan adikku itu." pikir Zionel.


Zionel mengambil pakaian yang baru lagi lalu memakainya. Ia mengemas semua barang barangnya, setelah kedatangan Varisa dan mendengar kabar dari Alex. Pilihan terbaik untuk mereka saat ini adalah keluar dari hotel dan sementara menetap di rumah keluarga besar Cruise sebelum mereka pindah ke rumah baru mereka. Ia akan melindungi Stevani sekuat tenaga agar tidak ada yang bisa menyakitinya. Ia percaya kedua orang tuanya akan melindungi Stevani dengan baik.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2