Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kabar Baik Zaline


__ADS_3

Nicholas Cruise duduk di taman rumahnya setelah sarapan, pria itu terus melihat galeri foto dalam ponselnya. Ia melihat keluarga kecilnya juga keluarga besar Cruise dengan tatapan muram. Pikiran pikirannya terus saja berkecamuk karena masalah putrinya yang menghilang. Sebelumnya memang ia menyerahkan semuanya pada Zionel, tapi setelah kecurigaannya sama dengan istrinya, ia kembali harus memutar otaknya untuk mencari siapa dibalik hilangnya Haena.


Falera Cruise menghampiri suaminya setelah ia memperhatikannya dari dalam rumah. Wanita itu memijat pundak Nicholas dengan lembut saat sudah sampai di taman. Nicholas tersenyum merasakan pijatan lembut dari istrinya itu lalu ia pun menolehkan kepalanya.


"Dad... sejak semalam kau terus saja melamun. Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentang hilangnya Hae?"


"Duduklah sayang." pinta Nicholas.


Falera menghentikan pijatannya lalu duduk di samping suaminya.


"Sebenarnya aku tidak melamun, justru aku sedang memperhatikan satu per satu keluargaku. Mom... aku terus berpikir kemungkinan tentang hilangnya Hae ini ada kaitannya dengan adikku Nile."


Falera terkejut. "Kak Nile? Kenapa kau mencurigainya dad?"


"Kau masih ingat ucapannya semalam?"


"Ucapan yang mana dad?"


"Ia berkata jika masalah penusukan itu adalah kesalahan kecil. Menyangkut nyawa seseorang mengapa ia menganggap ini hanya kesalahan kecil mom?"


"Lalu apa hubungannya dengan hilangnya putri kita?"


"Sayang... jika ia menganggap perbuatan jahat Cecil adalah kesalahan kecil. Coba kau tebak menghilangnya putri kita ia anggap apa."


Falera mencerna semua ucapan suaminya lalu membelalakkan matanya. "Aku tidak percaya jika ini benar benar ada hubungannya dengan kak Nile. Ia sangat menyayangi Hae dad."


"Aku juga tidak ingin mempercayainya, aku harap perasaanku ini tidak benar. Jika ia benar benar menyayangi keponakannya, mengapa ia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Zio mom. Jelas jelas putra kita hampir kehilangan nyawanya karena ulah Cecil, tapi Nile terus berkilah dan sama sekali tidak menyesali perbuatan putrinya. Diantara keluargaku, hanya Nile yang patut dicurigai tentang masalah hilangnya Haena." ujar Nicholas sedih.


Falera menggenggam tangan suaminya agar pria itu tetap tenang. "Kita tidak bisa asal menuduh saja, kita harus mencari bukti tentang masalah ini dad. Aku juga berharap tidak ada satupun keluarga kita yang terlibat dengan hilangnya Hae. Tapi jika memang diantara keluarga Cruise terlibat, maka Cruise akan benar benar hancur. Bukan hanya aku yang tidak akan memaafkannya, Zio juga akan murka. Ia sejak awal tidak menyetujui masalah penusukan ini ditutup demi reputasi keluarga Cruise, kali ini pasti ia tidak akan mengalah lagi."


"Apa yang kau pikirkan mom. Aku pun tidak akan melepaskan siapapun yang terlibat dalam masalah hilangnya Haena. Aku sudah mengatakannya padamu, aku tidak akan perduli lagi dengan reputasi keluarga Cruise. Jadi... kita akan menghadapi masalah ini bersama mom."


Falera menganggukkan kepalanya, air matanya mulai menetes. "Hae... Hae... mommy harap kau tetap sehat dan tumbuh dengan baik nak. Dimana kau nak, mommy merindukanmu."


Seketika Nicholas memeluk istrinya dan menenangkan wanita itu. "Percayalah pada Tuhan sayang, ia akan melindungi putri kita. Hae adalah anak yang penurut, Tuhan pasti melindunginya."


Falera menganggukkan kepalanya di pelukan suaminya. Ia berharap fakta dibalik hilangnya Haena segera terkuak. Selama ini mereka hanya terus berfokus pada pencarian Haena, kini mereka sudah saatnya mencari penyebabnya terlebih dahulu.


*****


Zionel menutup teleponnya setelah menghubungi dokter Mark. Kabar baik akhirnya datang dari rumah sakit, setidaknya dua minggu lagi Zaline bisa dipindahkan ke rumah sakit kota D. Pria itu menatap istrinya yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya.


Senyumannya merekah setiap kali menatap wajah istrinya tersebut. Zionel pun melangkahkan kakinya mendekati Stevani. Pria itu duduk di tepi ranjangnya.

__ADS_1


"Istriku... mau sampai kapan kau tertidur sayang? Aku mulai bosan." ujar Zionel sambil membelai pipi Stevani.


"Ehm..." gumam Stevani.


"Bangun nona cantik, aku ada kabar baik tentang Zaline."


Mendengar ucapan Zionel seketika membuat Stevani membuka matanya, wanita itu sontak duduk di atas ranjangnya dan membuat selimutnya terlepas. Zionel terbelalak saat melihat kedua gunung kembar milik Stevani yang terbebas tersebut karena istrinya memang masih dalam keadaan telan jang.


"Kabar baik apa Zio? Katakan..." ujar Stevani belum menyadari tubuhnya yang tidak berbusana.


Zionel menelan saliva nya, ia harus menahan diri karena baru saja membersihkan tubuhnya.


"Istriku... bagaimana aku bisa mengatakannya jika kau terus menggodaku." jawab Zionel sambil menatap tubuh Stevani.


Stevani mengikuti tatapan suaminya, seketika ia tersadar sepenuhnya lalu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Zio... kau menyebalkan." teriak Stevani.


Zionel tertawa. "Salahku dimana sayang? Siapa yang memamerkan keindahan tubuhnya padaku?"


"Zionel Cruise, stop it..."


Zionel langsung memeluk Stevani. "Berhentilah merasa malu pada suamimu sendiri sayang. Aku sudah melihat semuanya, mencicipinya, menikmatinya. Sudah banyak bukti yang ada pada tubuhmu terutama di sekitar payu daramu. Jadi... untuk apa kau malu."


Stevani memukul dada suaminya. "Jangan diteruskan lagi." pintanya.


"Kau akan bertemu dengan adikmu dua minggu lagi. Keadaan Zaline semakin baik, tubuhnya mulai merespon setiap namanya dipanggil dokter atau perawat. Semuanya semakin membaik sayang." ujar Zionel.


Seketika air mata Stevani mengalir. Rasa bahagianya membuncah hingga membuat air mata itu tak terasa keluar.


"No baby... i don't like your tears. Please, don't cry honey." pinta Zionel.


"Aku hanya terlalu bahagia mendengar kabar ini Zio."


"Sedih menangis, sakit menangis, bahkan bahagia pun kau menangis. Apa kau ingin terus menyiksaku?"


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menyiksamu."


"Jika itu ucapanmu, maka berhentilah mengeluarkan air matamu sayang. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum setelah bersamaku. Kau bisa berjanji untuk melakukan itu?"


Stevani mengangguk. "Kau tenang saja, aku wanita yang paling kuat. Aku sangat jarang menangis. Hanya saja akhir akhir ini aku merasa lebih melow sedikit."


Zionel terkekeh, ia kembali menarik tubuh Stevani ke dalam pelukannya. "Yang aku tahu Stevani Yunsu memang sangat kuat seperti wonder woman. Ia sangat kuat membantah ucapan orang lain, keras kepala dan..."

__ADS_1


"Zio... kau yang lebih keras kepala." potong Stevani.


"Oke baiklah istriku, aku akan mengalah."


"Kau terpaksa melakukannya."


"Tidak sayang." jawab Zionel seraya menggelengkan kepalanya.


Stevani terkekeh. "Zionel Cruise yang arogan itu pergi kemana?" ejeknya.


"Menghilang saat bersama wanita yang aku cintai." jawab Zionel.


Stevani mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Zio atas segalanya."


"Aku sudah mengajarimu bagaimana caranya berterima kasih pada suamimu kan."


"Aku lelah Zio. Kau tidak membiarkan aku beristirahat sejak semalam."


"Tunggu nona cantik. Apa yang ada dalam pikiranmu?" tanya Zionel seraya melepaskan pelukannya.


Stevani menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Sepertinya bukan hanya aku yang berotak mes um. Istriku pun sama." ejek Zionel.


"Aku tidak... kau... menyebalkan." ucap Stevani dengan wajah yang memerah.


Seketika Zionel kembali melepaskan tawanya, pria itu menciu mi wajah istrinya hingga akhirnya Stevani pun ikut tertawa. Saat keduanya asyik bermesraan, suara bel pintu kamar berbunyi mengganggu mereka. Keduanya saling bertatapan.


"Siapa yang datang?" tanya Stevani.


Zionel menggelengkan kepalanya. "Aku tidak memesan layanan kamar. Aku juga tidak menyuruh Alex datang kemari."


"Lalu siapa? Zio... jangan buka pintunya, aku takut itu orang jahat yang ingin membunuh kita."


Bel pintu kamar itu kembali berbunyi.


"Aku akan melihatnya sayang. Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani melakukan kejahatan di hotel ini."


Stevani menggelengkan kepalanya, ia tetap tidak setuju jika Zionel membuka pintu kamarnya.


Zionel menghela nafasnya. "Baiklah... aku akan menghubungi layanan kamar untuk melihat siapa yang ada di depan kamar kita."


Stevani akhirnya lega, ia menganggukkan kepalanya. Zionel beranjak dari sana lalu segera menghubungi pihak hotel.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2