Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Silsilah Keluarga Cruise


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Cecil terus saja mengumpat, ia dan ibunya justru saling berdebat membuat Gilbran kesal mendengarnya.


"Bisakah kalian berhenti, aku sangat pusing mendengarnya." bentak Gilbran.


"Putrimu ini memang bodoh, ia terjebak dengan pemainannya sendiri. Bagaimana aku tidak kesal dibuatnya, dan satu lagi bukankah Zionel tahu jika ada tanda lahir di kedua paha Cecil, lalu mengapa ia pura pura tak tahu." kata Nile.


"Kau sama bodohnya ma, tentu saja Zionel membela calon istrinya. Ia sengaja melakukan itu karena Cecil mempersulit wanitanya. Dan kau Cecil, kau sangat tidak sabaran. Ini pertemuan pertama kita, tapi kau tidak berpikir panjang untuk memojokkan wanita itu. Sepertinya kau salah orang, wanita itu terlihat sangat cerdas." ujar Gilbran lagi.


"Aku memang salah perhitungan pa, tapi aku tidak ingin wanita itu masuk ke dalam keluarga Cruise." jawab Cecil.


"Kau pikir aku senang melihatnya. Setelah kita menyingkirkan Haena selama bertahun-tahun, jika sampai Zionel berhasil menikah, bukankah sia sia saja kita melakukannya dulu. Kita tetap tidak akan bisa mengambil alih Cruise Grup." kata Gilbran.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pa?" tanya Nile.


"Kita harus tenang, kita akan mencari cara agar pernikahan itu gagal."


"Lalu bagaimana dengan nasibku?" tanya Cecil.


"Urus masalahmu sendiri Cecil, kau bukan anak kecil lagi." jawab Gilbran.


"Ma..." rengek Cecil.


"Kau tenanglah, mama akan mencari cara agar gaun itu tidak kau pakai. Tapi kau harus ingat, jangan melakukan kebodohan lagi Cecil."


Cecil menganggukkan kepalanya, perdebatan pun akhirnya berhenti sampai akhirnya mereka sampai di rumah.


*****


Stevani membanting serbet di meja, ia sangat kesal dan malu karena kembali diejek oleh Zionel. Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya ingin meninggalkan Zionel, namun seketika Zionel menutup mulutnya dan menghentikan tawanya.


"Oh ayolah... jangan marah seperti itu. Aku sudah lama tidak tertawa seperti ini Van. Rasanya sangat menyenangkan." ujar Zionel.


"Menyenangkan karena berhasil mengejekku."


"Bukan seperti itu, tapi jujur saja aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini sejak kehilangan adikku. Duduklah... aku tidak akan menggodamu lagi."


Stevani menghela nafas panjang lalu kembali duduk, ia menatap Zionel yang tiba-tiba bersedih sekarang.


"Ehm... apa aku boleh tahu soal adikmu?" tanya Stevani.


"Biarkan aku makan terlebih dahulu, mengingat Haena membuat nafsu makanku hilang." jawab Zionel.


"Baiklah... silahkan makan Zio. Kedepannya, kau boleh memintaku untuk memasakkan sesuatu untukmu."


"Benarkah? Tawaran yang menggiurkan." kata Zionel seraya menyeringai.


"Eh... tapi... kau benar benar tidak meletakkan cctv di tempat..."

__ADS_1


"Aku bukan pria seperti itu Van." potong Zionel. "CCTV ini hanya di ruangan terbuka, jika kau tidak nyaman aku bisa melepaskannya. Tapi tujuanku hanya untuk keamanan." imbuhnya.


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya hak untuk mengaturmu, ini bukan rumahku. Jika ini untuk keamanan, itu lebih baik. Setidaknya aku sudah tahu, jadi..."


"Tetaplah jadi dirimu sendiri. Aku tidak bermaksud melihatnya tadi, tapi aku hanya sedikit khawatir karena kau baru datang di kota ini. Dan aku yang salah karena meninggalkanmu di apartemen sendirian. Saat melihatnya hanya kebetulan saja, aku tidak mengejekmu justru itu hiburan untukku."


"Tidak akan ada lain kali, kau pikir aku badut yang bisa kau jadikan hiburan." kata Stevani sambil menundukkan kepalanya.


"Sisi lain dari wanita keras kepala sepertimu, sangat lucu, tapi bukan berarti kau badut." goda Zionel.


Stevani kembali merasa canggung, tingkahnya selama ini hanya Zaline yang tahu. Tapi sekarang justru pria yang tidak terlalu dekat melihat tingkah laku yang kekanakan itu.


"Oh baiklah... aku akan berhenti membahasnya." kata Zionel saat melihat wajah Stevani kembali memerah.


"Fokuslah makan, kau banyak bicara." ujar Stevani.


Zionel terkekeh. "Kau juga makanlah Van."


Stevani menganggukkan kepalanya lalu mulai menikmati makan malam bersama Zionel dengan tenang.


Beberapa menit kemudian...


Keduanya pun menyelesaikan makan malam mereka. Stevani mulai membereskan meja makan, namun Zionel seketika menahan tangannya membuat Stevani terkejut.


"Kau sudah memasak untukku, giliranku membersihkan semuanya." ujar Zionel.


Zionel memerangkap tubuh Stevani hingga wanita itu nyaris duduk di atas meja makan.


"A... a... apa yang kau lakukan?" tanya Stevani gugup.


Zionel terus menatapnya tanpa bicara sepatah kata pun.


"Kau sudah berkali kali melanggar janjimu untuk tidak menyentuhku Zio." sambung Stevani.


Zionel terkekeh, ia mengambil alat makan yang kotor di belakang tubuh Stevani lalu mundur setelah berhasil mengambilnya.


"Aku tidak berniat menyentuhmu nona, aku hanya mengambil ini. Apa justru kau ingin aku sentuh?" ejek Zionel.


Seketika Stevani mengumpat dengan kesal. Ia segera meninggalkan ruang makan membuat Zionel tertawa geli.


"Mengapa aku merasa jika menggodamu sangat menyenangkan?" pikir Zionel sambil menatap Stevani yang berlari kecil meninggalkannya.


Zionel mulai membawa alat makan yang kotor itu ke wastafel pencuci piring. Ia dengan telaten mulai membersihkan semuanya. Setelah selesai, ia pun menghampiri Stevani yang sedang menonton televisi.


"Apa aku boleh bergabung disini?" tanya Zionel.


Stevani menatapnya. "Apa aku bisa bilang tidak?"

__ADS_1


Zionel terkekeh lalu duduk di sampingnya. "Aku akan menceritakan soal keluarga besar Cruise padamu. Bagaimanapun kau akan menjadi istriku, kau harus tahu semuanya. Aku akan menceritakan dari keluargaku sendiri."


Stevani segera mematikan televisinya, lalu menghadap ke Zionel.


"Kau tak perlu seserius itu." kata Zionel.


"Aku harus mengingat silsilah keluarga Cruise, aku tidak ingin salah mengingat." jawab Stevani.


Zionel menghela nafasnya. "Baiklah... sebenarnya daddy adalah anak kedua dari keluarga Cruise. Tapi kakek justru menyerahkan perusahaan Cruise pada daddy. Anak pertama dari keluarga Cruise sebenarnya om Ramirez yang lebih banyak diam diantara keluarga besar Cruise, ia tidak keberatan dengan keputusan itu, ia sepenuhnya percayakan perusahaan pada daddy. Om Ramirez tidak ingin ikut campur dalam urusan perusahaan, ia lebih memilih membuka bisnisnya sendiri di bidang lain. Namun berbeda dengan adik adik daddy yang lain. Mereka justru sedikit kecewa dengan keputusan kakek. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kakek memberikan saham terbesar perusahaan Cruise pada adikku Haena yang saat itu masih berusia 5 tahun. Haena adalah cucu termuda kesayangan kakek."


"Tunggu Zio, aku tidak ingin tahu soal warisan keluarga Cruise." ujar Stevani.


"Aku tahu, tapi silsilah keluargaku harus aku ceritakan dari sini. Aku tak mungkin menceritakan saat aku lahir." ejek Zionel.


"Bukan seperti itu juga tuan. Aku masih sedikit bingung, jika orang tuamu anak kedua artinya 3 saudara yang lain adalah adik kan? Lalu mengapa ibumu memanggil ibu Cecil kakak?"


Zionel menyeringai. "Kebiasaan... karena tante Nile usianya lebih tua dari mommy."


"Oh seperti itu, baiklah lanjutkan." pinta Stevani.


"Lanjutkan bagian yang mana? Kau sudah memotong ceritaku nona."


"Baiklah, aku sangat penasaran soal adikmu."


Zionel menghela nafas panjang, wajahnya kembali terlihat sedih saat Stevani mengungkit tentang Haena.


"Kami sebelumnya hidup dengan tenang dan bahagia. Haena mengisi hari hari keluarga Cruise dengan tingkah lucunya. Tidak ada yang salah sampai usianya beranjak 7 tahun. Saat itu ia baru naik ke kelas dua sekolah dasar. Sebulan sebelum ia menghilang, ia terlihat murung tidak seperti biasanya. Saat kami terus bertanya, ia selalu menjawab pelajaran di sekolah semakin sulit. Hari kejadian, pagi itu... sebelum berangkat ke sekolah, aku dan ia masih bercanda gurau. Aku mengantarkannya ke sekolah seperti biasa tanpa mencurigai apapun."


Zionel menghentikan ucapannya, ia semakin terlihat murung dengan tatapan yang nanar.


"Zio... jika kau tidak berkenan menceritakannya, hentikan saja."


Zionel mengulas senyumnya. "Kau harus tahu sebelum memasuki keluarga Cruise. Aku hanya sedang merindukannya."


"Maaf jika aku sudah mengungkit rasa sakitmu."


"Aku tidak butuh dikasihani nona."


"Ciiiih... kambuh lagi sikap sombongnya. Menyesal aku berpikir kasihan padanya." pikir Stevani.


*****


Happy Reading All...


Karena Begitu Terlambat Up, Kalian pasti akan bahagia karena aku akan crazy up hingga 10 episode...


Dukung terus karyaku dengan cara like, komen, rate dan gift. Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2