Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Tingkah Stevani Membuat Zionel Bahagia


__ADS_3

Stevani masuk ke dalam apartemen Zionel, ia terkejut saat melihat keadaan apartemen itu sudah bersih dan rapi.


"Zio benar benar menghubungi seorang pelayan, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Stevani.


Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, wanita itu terus berpikir sambil menyalakan televisi. Namun kebiasaannya bekerja keras setiap hari membuatnya tak ingin duduk diam seperti itu. Ia juga jika banyak diam akan membuatnya semakin merindukan Zaline.


"Zio bilang akan kembali sebelum makan malam, baiklah aku akan memasak sesuatu untuk malam ini. Aku harap ia mau makan masakanku lagi." gumam Stevani lagi.


Ia beranjak dari tempat duduknya menuju kamar ganti. Ia memakai pakaian santainya seperti di rumahnya sendiri. Setelah selesai, ia pun segera menuju dapur. Membuka kulkasnya dan tersenyum saat isinya sudah penuh dengan bahan bahan makanan.


"Pria itu tahu aku suka memasak. Lumayan perhatian jika ia menyuruh pelayannya mengisi lemari es ini dengan bahan bahan makanan. Tapi apa yang harus aku buat sekarang? Aku belum tahu makanan apa yang disukai pria itu. Ah... sudahlah... aku memasak apa saja yang aku bisa. Aku harap ia menyukainya juga dan sejauh ini yang aku lihat, Zio tak pernah memilih milih makanan." kata Stevani sendiri.


Setelah ia bergumam dan berbicara dengan dirinya sendiri, ia pun mulai mengeluarkan bahan bahan makanan itu dari dalam lemari es. Hanya masakan rumahan biasa yang Stevani pikirkan. Ia harus memasak dengan perlahan karena waktu makan malam masih lama.


Wanita itu keluar dari dapur untuk mengambil headset nya yang ia bawa sebelum mulai memasak. Ia menyambungkan headset tersebut dengan ponselnya, ia memutar musik dan mulai memasang headset itu di telinganya. Ia pun kembali ke dapur.


Dengan santainya ia mulai bersenandung, menari sedikit sambil terus memotong bahan bahan makanannya. Stevani tidak sadar jika di apartemen tersebut terpasang kamera cctv di setiap sudutnya, kecuali di kamar ganti dan kamar mandi.


*****


Zionel sampai di perusahaan membuat seluruh staf terkejut dengan kedatangannya secara tiba tiba tanpa pengawalan. Bahkan Alex pun tak tahu jika Zionel akan datang ke perusahaan.


Zionel meminta seluruh staf agar bersikap biasa saja karena ia datang seperti itu, ia segera masuk ke dalam lift pribadi menuju kantor Alex.


Alex benar benar karyawan yang baik, pria itu masih sibuk dengan beberapa dokumen di depannya, ia tak menyadari kedatangan atasannya. Zionel hanya bisa tersenyum lalu mengetuk pintu ruangan Alex.


"Masuk..." ujar Alex tanpa mendongak.


Zionel masuk ke dalam kantor Alex. Ia melangkahkan kakinya lalu mendekati Alex. Tentu saja Alex segera mendongak saat mencium aroma parfum yang biasa digunakan Zionel. Pria itu nyaris terjungkal saat bangun dari tempat duduknya dengan tiba-tiba.


"Pak Zio..." ujar Alex dengan keterkejutannya.


Zionel tertawa. "Apa aku seperti hantu?"


"Bagaimana anda bisa datang kemari?"

__ADS_1


"Aku meminjam sayap burung lalu terbang kemari." ejek Zionel.


"Bukankah anda seharusnya masih di rumah Presdir. Itu yang aku maksud pak Zio." kata Alex.


Zionel menghempaskan tubuhnya ke sofa, mengangkat kaki kanannya lalu menyilangkannya diatas kaki kirinya dengan santai.


"Pertemuan yang penuh kejutan Lex. Cecil membuatku hampir mati berdiri karena terus mengetes Stevani dengan identitas yang aku kenalkan. Bahasa Inggris, desain pakaian... membuatku gila."


"Lalu...?"


"Lalu apalagi? Stevani membuat kejutan, ia fasih berbahasa Inggris dan bisa mendesain."


"Hah? Benarkah?"


Zionel menganggukkan kepalanya. "Tuhan benar benar membantuku. Tapi masalah pernikahan, aku harus berdebat dengan orang tuaku. Mommy dan daddy tetap tidak menyetujui aku menikahi Stevani minggu depan. Sepertinya daddy akan mencari tahu tentang Stevani, Lex."


"Anda tak perlu khawatir pak Zio, identitas lama nona Stevani di kota X sudah terhapus dan tergantikan dengan identitas barunya. Jika orang suruhan pak Presdir tidak teliti, maka semuanya aman. Tapi jika ini gagal, maka..."


"Aku akan tetap menikahinya walaupun tanpa persetujuan mereka." potong Zionel.


"Anda yakin akan melawan orang tua anda karena nona Stevani?"


"Sepertinya anda benar benar menyukai nona Stevani."


"Aku hanya tak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah. Bukankah aku sudah mengatakannya. Hanya satu tahun aku bisa mengetahui keberadaan anakku itu." jawab Zionel.


"Bagaimana jika nona Stevani tidak hamil?" tanya Alex.


"Apa kau sedang mempertanyakan kemampuanku diatas ranjang?"


"Tidak berani pak Zio." jawab Alex.


"Aku tidak ingin melepaskannya sekarang, tapi aku tak tahu saat nanti aku mengetahui jika ia tidak hamil. Ini baru beberapa hari setelah kami melakukannya. Dan Aku juga selalu ingin menciumnya, perasaan gila apa yang aku rasakan saat ini." pikir Zionel.


"Pak Zio..." panggil Alex karena Zionel terhanyut dalam lamunannya.

__ADS_1


"Kita lihat setahun ke depan Lex, jangan tanya sekarang." jawab Zionel.


"Tapi anda hanya perlu memastikan nona Stevani hamil bulan depan pak Zio, anda tak perlu menunggu sampai satu tahun."


"Ikuti sesuai kontrak, kau cerewet sekali."


Alex terkekeh, Zionel sangat keras kepala untuk mengakui perasaannya saat ini. Pria yang ada di depannya sekarang ini belum juga menyadari perasaannya sendiri jika ia menginginkan Stevani lebih dari sebuah tanggung jawab yang ia lakukan.


"Bagaimana laporan dari kota X?" tanya Zionel.


"Semuanya masih berjalan dengan baik, bu Heni benar benar wanita yang kompeten." jawab Alex.


"Syukurlah... Pilihanku memang tak akan pernah salah."


"Lalu dimana sekarang nona Stevani?" tanya Alex.


"Aku hampir lupa, ia aku antarkan ke apartemen. Aku akan kembali sebelum makan malam. Aku takut wanita itu ketakutan sendirian di dalam apartemen." jawab Zionel.


"Anda mengkhawatirkannya pak Zio."


"Tentu saja, wanita itu tanggung jawabku. Dimana tabletmu? Aku ingin melihat apa yang sedang ia lakukan di dalam apartemen."


Alex beranjak dari tempat duduknya menuju meja untuk mengambil sebuah tablet miliknya dan menyerahkannya pada Zionel. Zionel menyambungkan tablet itu pada cctv online di rumahnya. Ia mencari cari keberadaan Stevani, matanya terbelalak saat melihat apa yang sedang dikerjakan wanita itu di dapur.


Ia memfokuskan satu layar disana, Zionel tersenyum dan menahan tawanya saat melihat Stevani terus menari sambil berkutat dengan masakannya. Rasa penasaran Alex seketika bangkit, pria itu mendekati Zionel namun seketika Zionel menutup tabletnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zionel.


"Anda tidak sedang melihatnya membuka pakaian kan?" ejek Alex.


Seketika Zionel memukul pelan kepala Alex dengan tabletnya.


"Pikiranmu terlalu kotor Lex. Ia sedang melakukan hal lucu, dan aku tidak akan membiarkanmu melihatnya." kata Zionel posesif. "Kembalilah bekerja, aku belum selesai melihatnya." imbuhnya.


Alex menghela nafasnya, ia pun segera kembali ke mejanya. Sedangkan Zionel kembali melihat layar tablet. Berkali-kali Zionel terkekeh geli melihatnya membuat Alex semakin penasaran, namun apalah daya, sampai matipun Alex tidak akan tahu. Namun Alex bisa melihat perbedaan atasannya yang kaku dulu dengan sekarang. Kehadiran Stevani mampu mengubah Zionel walaupun belum disadari Zionel sendiri.

__ADS_1


*****


Happy Reading...


__ADS_2