
Zionel menghela nafas panjang saat semua pekerjaannya selesai.
"Akhirnya semua selesai juga Lex. Demi Tuhan, ini sangat melelahkan." ujarnya.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya pak?" tanya Alex.
"Pulang ke rumah."
"Hah...?"
"Oh ayolah... sudah tiga hari aku sangat merindukan istriku karena menyelidiki masalah ini."
"Ck... Bukankah anda masih pulang saat sudah larut malam?" tanya Alex.
"Kau benar... Aku memang pulang tapi istriku sudah tertidur, aku berangkat saat istriku belum bangun. Aku tidak bisa mengganggunya Lex, ia cukup berat menghadapi kehamilannya. Aku bahkan hari ini tidak bisa menemaninya ke dokter kandungan, suami macam apa aku ini?"
"Anda tidak bisa menyalahkan diri sendiri pak. Anda sedang berusaha melindungi semuanya. Anda sangat bertanggung jawab pada keluarga anda."
"Ciiiih... bertahun tahun kau bersamaku, ucapan seperti ini yang paling bagus aku dengar."
Alex melepaskan tawanya. "Pak Zio... bagaimana pak Presdir?"
"Setelah aku meletakkan berkas berkas itu di ruang kerjanya, aku yakin hari ini ia sudah melihatnya. Aku berharap daddy tidak terpukul dengan kenyataan ini. Tapi aku tidak yakin dengan mommy. Aku belum mendapat kabar apapun dari rumah artinya situasi saat ini masih terkendali. Lex... terima kasih telah bekerja keras beberapa hari ini."
"Astaga pak Zio, sudah berapa kali aku bilang jangan mengucapkan kata kata yang tidak pernah anda ucapkan."
"Sialan..." umpat Zionel membuat Alex kembali tertawa.
"Aku harap Zaline terbangun saat ini. Aku sudah mendapatkan semua bukti namun belum lengkap tanpa kesaksiannya Lex."
"Aku juga berharap seperti itu pak. Nona Zaline harus segera sadar dan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
"Kalian akan menerima hukuman atas perbuatan kalian, aku tidak akan pernah melepaskan kalian lagi. Daddy, mommy, Stevani, Zaline... penderitaan kalian akan segera terbayar. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian menderita lagi." pikir Zionel.
"Baiklah Lex... Sebelum pulang antarkan aku ke rumah sakit. Aku ingin memberikan kabar ini secara langsung pada Zaline." ucap Zionel.
"Baik pak." jawab Alex.
Keduanya seraya beranjak dari ruangan kantor Zionel. Mereka segera keluar dari perusahaan menuju rumah sakit.
*****
Dokter dan perawat berlari ke ruangan Zaline, entah apa yang terjadi pada gadis kecil itu sehingga membuat mereka terlihat sangat panik.
Zionel dan Alex bergegas ke rumah sakit karena baru setengah perjalanan mereka mendapat kabar dari rumah sakit.
"Lex... cepatlah..." pinta Zionel.
"Baik pak." jawab Alex seraya mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, keduanya berlari menuju ruang perawatan Zaline. Zionel langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Air matanya seketika tumpah saat melihat adiknya membuka matanya dan sedang duduk bersandar di ranjang itu.
"Hae..." ucap Zionel lirih.
Langkahnya terhenti di tengah tengah ruangan itu. Tubuhnya membeku masih tidak mempercayai apa yang ia lihat saat ini.
"B...b...bang... Zio." ucap Zaline parau.
Zionel melepaskan tangisannya, ia berlari ke arah ranjang lalu memeluk gadis kecil itu. Keduanya menangis sambil berpelukan. Tangisan itu membuat siapapun ikut merasakan kesedihan mereka, bahkan Alex tanpa sadar ikut meneteskan air matanya.
"Kau benar benar Hae? Kau benar benar adikku." ucap Zionel sambil terisak.
Zaline menganggukkan kepalanya. "Maaf... maaf bang..."
Zionel melepaskan pelukannya, ia menggeleng. Pria itu menghapus air mata adiknya. Tapi ia kembali tak bisa menahan kebahagiaannya, Zionel kembali melepaskan tangisannya dan kembali memeluk Zaline dengan erat. Suasana haru itu berlangsung cukup lama.
*****
"Bagaimana kondisi adikku dok?" tanya Zionel saat mereka sudah mampu mengendalikan emosi mereka.
"Hasil pemeriksaan keseluruhan sangat baik, tapi untuk sementara nona Zaline mungkin belum bisa berjalan, butuh waktu untuk saraf sarafnya bekerja setelah ia mengalami koma." jawab dokter Herman.
Zaline terbelalak saat nama itu disebutkan, ia hampir melupakan Stevani. Ia juga baru sadar mengapa ia bisa bertemu dengan kakaknya.
"Bang... aku dimana?" tanya Zaline panik.
"Hae... tenanglah." jawab Zionel.
Zionel menarik Zaline ke pelukannya lagi. "Tenanglah sayang, tenang... Kakakmu baik baik saja."
"Ini dimana bang?"
"Kalian bicaralah, jika ada apa apa panggil kami." ujar dokter Herman seraya berpamitan.
Alex mengantarkan dokter itu keluar dan membiarkan Zionel berbicara dengan adiknya.
*****
"Hae... tidak... sepertinya aku harus memanggil nama barumu Zaline." ucap Zionel. "Sayang... ceritanya panjang..."
Zionel mulai menceritakan semuanya pada Zaline mulai dari pertemuannya dengan Stevani sampai saat ini, namun ia belum mengatakan soal pernikahan mereka agar Zaline tidak terlalu terkejut.
"Seperti itulah aku bisa menemukanmu Zaline." ujar Zionel di akhir ceritanya.
"Bang Zio maaf, aku bersembunyi karena takut. Aku tidak ingin kalian semua dalam bahaya." jawab Zaline.
"Saat itu usiamu baru 7 tahun, mengapa kau berpikir terlalu jauh? Kami orang dewasa bisa menjaga diri kami sendiri. Selama beberapa hari ini, aku berusaha menemukan semua bukti kejahatan mereka. Aku ingin sekali membunuh mereka."
Seketika Zaline menggelengkan kepalanya. "Jangan membunuh, kak Vani selalu mengajarkan aku untuk menjadi orang baik. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejatahan."
__ADS_1
"Kau menemukan seorang malaikat penolong sayang. Tapi sebenarnya apa yang terjadi 5 tanun yang lalu? Tolong katakan dengan jelas pada abang." pinta Zionel.
"5 tahun yang lalu... setelah bang Zio mengantarkan aku ke sekolah, aku ditarik seseorang. Aku sempat ketakutan tapi saat aku melihat wajah tante Nile, aku lega. Tante Nile membawaku ke mobilnya, ia bilang ingin berbicara denganku. Setelah itu, tante Nile mulai mengatakan soal perusahaan kakek, aku mendengarkannya walaupun tidak mengerti. Saat ia bilang aku harus meninggalkan kalian demi keselamatan kalian, disitulah aku baru mengerti apa keinginan tante Nile."
Zaline menghela nafasnya, tangannya mengepal karena mulai ketakutan saat mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. Zionel seketika memegang tangannya yang dingin.
"Zaline... Jika kau belum siap bercerita, lebih baik nanti saja."
Zaline menggelengkan kepalanya. "Aku harus berani, kak Vani juga mengatakan hal itu padaku. Menghadapi hidup harus dengan keberanian agar tetap bertahan di dunia ini."
"Istriku mengajarkan banyak hal baik padamu Hae. Aku semakin bangga padanya." pikir Zionel.
"Tante Nile mengancamku." lanjut Zaline. "Ia bilang jika tidak mau meninggalkan kalian, ia dan om Gilbran akan membunuh kalian satu per satu dan membuatku hidup sendirian dalam penderitaan dan rasa bersalah." imbuhnya.
Zionel geram, ia menggertakkan giginya menahan amarahnya.
"Aku ingat ucapan bang Zio jika abang akan menjadi pelindung keluarga. Aku percaya hal itu lalu tetap menolak permintaan tante Nile."
"Lalu?"
"Tante Nile..." Zaline menghentikan ucapannya karena tahu akan membuat kakaknya semakin murka.
"Katakan Zaline setelah itu apa yang terjadi?" tanya Zionel setelah melihat keraguan adiknya.
"Abang harus janji tidak akan membunuh mereka." pinta Zaline.
Mendengar ucapan itu, Zionel tahu ada sesuatu yang akan membuatnya sangat marah.
"Bang Zi... berjanjilah..." pinta Zaline lagi.
Zionel menarik nafas dalam-dalam seraya menganggukkan kepalanya. "Abang janji akan menghukum mereka tanpa mengotori tangan abang."
Zaline tersenyum, ia lega mendengar janji abangnya.
"Zaline apa yang terjadi setelah itu, abang mohon katakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun."
"Tante Nile menarik tanganku dengan kasar, aku memberontak dan berteriak lalu ia mencekik leherku dengan keras. Aku hampir mati karena kehabisan nafas, tapi aku justru pingsan. Aku tak tahu ia membawaku kemana, saat aku terbangun aku sudah berada di sebuah gudang sepertinya pabrik kosong bang. Lalu..."
Zionel mengepalkan tangannya dengan erat, ia nyaris menusukkan kukunya ke telapak tangannya sendiri.
"Lalu apa yang ia lakukan lagi padamu?" tanya Zionel geram.
Zaline mulai gemetar, air matanya kembali tumpah. Seketika Zionel memeluknya lagi sambil menenangkan adiknya.
"Maaf... Abang tidak menjagamu dengan baik. Maaf sayang... Jangan katakan jika kau benar benar takut." ujar Zionel.
Zaline menangis dengan keras di pelukan kakaknya. Ia masih ketakutan saat mengingat kejadian di gudang itu.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...