Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Aku Mencintaimu Stevani Yunsu


__ADS_3

Alex meninggalkan ruang perawatan Stevani setelah wanita itu terlihat benar benar memejamkan matanya. Ia langsung menuju ruang perawatan Zionel. Di ruangan tersebut masih ada beberapa keluarga Cruise dan orang tua Zionel. Ia segera mendekati mereka.


"Lex... bagaimana keadaan Stevani?" tanya Nicholas.


"Untuk apa daddy perduli pada wanita itu." sahut Falera kesal.


Nicholas menghela nafasnya. "Ia calon istri putra kita mom. Ia juga tidak punya siapa siapa di kota ini. Jika Zio bangun dan mengetahui semua ini, aku yakin ia akan marah padamu."


"Wanita itu yang mencelakai Zio, mana mungkin Zio justru marah pada ibunya sendiri. Ia harus meninggalkan wanita pembawa sial keluarga ini."


"Maaf pak, bu Presdir aku menyela perdebatan kalian. Pak Zio sudah baik baik saja, bagaimana jika kalian beristirahat saja di rumah. Aku akan menjaganya disini." pinta Alex. "Dan soal nona Stevani, ia sudah lebih baik juga sekarang." imbuhnya.


"Syukurlah jika Stevani baik baik saja. Benar juga kata Alex mom, lebih baik kita kembali ke rumah sekarang. Biarkan Zio beristirahat, kita akan kembali besok pagi." kata Nicholas.


"Tapi..."


"Pulanglah Fal... kau juga baru keluar dari rumah sakit. Keadaan disini tidak baik untuk kesehatanmu." sahut Ramirez.


"Baiklah kak... terima kasih kalian sudah datang menemani kami disini." jawab Falera. "Cecil... Roxy... terima kasih sudah datang juga sayang." imbuhnya.


"Tante tak perlu sungkan, maaf mama dan papa belum sempat kesini." jawab Cecil.


"Tante, om... bolehkah Roxy menemani pak Alex disini. Roxy tidak ada kegiatan lagi." sahut Roxy.


"Jika kau berkenan, tentu saja boleh. Kami akan lebih tenang sekarang." jawab Nicholas dan mendapat persetujuan dari Falera juga.


"Kalau begitu kami pulang sekarang. Lex aku titipkan Zio padamu dan Roxy. Kak Ram, kau juga lebih baik pulang. Cecil, mau kami antarkan pulang?" tanya Nicholas.


"Tenang saja pak Presdir, aku akan menjaga pak Zio." jawab Alex.


"Aku juga bawa mobil sendiri om." jawab Cecil.


"Baiklah, berhati hati di jalan." ujar Falera. "Kak Ram?"


"Supir masih menunggu, besok aku juga akan mengunjungi Zio lagi." jawab Ramirez.


"Baiklah... ayo kita pulang sekarang." ajak Nicholas.


"Aku berharap kau tidak mengizinkan wanita itu menemui Zio lagi, aku tak ingin..."


"Mom... ayolah kita pulang." potong Nicholas sambil menarik tangan istrinya.


Mereka pun akhirnya keluar ruangan membuat Alex bernafas lega. Tinggal ia dan Roxy yang berada di ruangan.


"Bagaimana keadaan kakak ipar? Ia dirawat di ruangan mana pak Alex?" tanya Roxy.


"Jangan mengganggu nona Stevani, ia sedang beristirahat sekarang. Dan aku rasa pasti abangmu tidak ingin kau dekat dekat dengan wanitanya." jawab Alex.


"Aku hanya kasihan saja melihatnya. Sejujurnya tadi aku ingin membantunya saat tante Fal menamparnya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, tante Fal sejak dulu menakutkan jika sedang marah."

__ADS_1


"Ssstttt... pelankan suaramu, jangan sampai pak Zio mendengar semua ini Roxy. Ia masih dalam keadaan kurang baik."


"Tapi aku tidak yakin bisa merahasiakan ini lebih lama. Aku suka keceplosan jika bicara dengan abang." kata Roxy seraya tertawa.


"Apa yang kau rahasiakan dariku?" tanya Zionel seraya membuka matanya.


Keduanya terkejut mendengar suara Zionel.


"Pak Zio..."


"Bang Zio..."


Keduanya mendekati Zionel, pria itu meminta Alex menaikkan ranjangnya sedikit. Setelah Alex menurutinya, Zionel pun langsung menghardik Roxy.


"Cepat katakan Roxy." pinta Zionel.


"Tidak ada apa apa bang, tadi aku sedang curhat masalah kampus dengan pak Alex. Ya kan pak?" ujar Roxy.


"Iya benar. Bagaimana keadaan anda sekarang?" tanya Alex.


"Yang jelas aku masih hidup, apa kau sudah mengurus masalah ini Lex?"


Alex menganggukkan kepalanya. "Saat ini masih dalam penyelidikan kepolisian. Besok kepolisian akan datang menemui anda pak. Sebenarnya apa yang terjadi disana?"


"Roxy... aku belum selesai denganmu. Tapi aku akan membicarakan masalah ini dulu dengan Alex. Tetaplah disini, jangan kemana-mana." perintah Zionel.


Roxy hanya bisa menghela nafas panjang, ia tak mungkin bisa lari dari Zionel. Zionel mulai menceritakan kejadian itu pada Alex dengan lebih detail.


Zionel menganggukkan kepalanya. "Aku melihatnya dari kejauhan, ia memang sudah menunggu saat aku dan Stevani lengah. Jadi aku rasa ada yang tidak beres dengan masalah ini. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan bisnisku."


"Tapi nona Stevani baru saja ke kota ini, ia tak mungkin memiliki musuh secepat itu kecuali..." Alex menghentikan ucapannya.


"Varisa." jawab Zionel. "Selidiki wanita itu, saat dalam perjalanan pulang ke apartemen, daddy menghubungiku soal kedatangan keluarga Yudistira. Dan sepertinya mereka tidak senang dengan keputusan orang tuaku." imbuhnya.


"Maksud anda, penusukan ini memang diarahkan pada nona Stevani?"


Zionel menganggukkan kepalanya. "Sejak aku sadar, aku belum melihatnya. Dimana Vani Lex?"


"Oh... ehm... nona Stevani sudah aku antarkan ke apartemen." jawab Alex berbohong.


Seketika Zionel murka. "Apa kau bodoh?" bentaknya. "Bagaimana kau bisa membiarkan Stevani sendirian? Jika pelaku mengikutinya... ya Tuhan... mana tabletmu? Aku akan melihat cctv di apartemen." imbuhnya geram.


Alex kebingungan, tentu saja Zionel tidak akan melihat Stevani di apartemennya. Roxy menghela nafas panjang, ia mendekati Zionel lagi.


"Bang... kakak ipar ada di rumah sakit." ujar Roxy membuat Alex kesal.


Zionel menatap Roxy. "Apa maksudmu? Suruh ia masuk."


"Kakak ipar dirawat bang, ia..."

__ADS_1


"Lex..." teriak Zionel.


"Pak Zio tenanglah, nona Stevani baik baik saja. Ia hanya terkilir." jawab Alex.


Zionel membuka selimutnya dan memegangi perutnya. Ia berusaha turun dari ranjangnya membuat Alex kesal pada Roxy.


"Tunggu apa? Bantu aku menemuinya." bentak Zionel.


"Tapi pak Zio luka anda..."


"Aku tidak akan mati dengan luka seperti ini." bentak Zionel lagi.


Alex menghela nafas panjang lalu segera membantu Zionel turun. Alex segera mengambil kursi roda namun Zionel menolaknya. Roxy hanya bisa kebingungan dengan sikap Zionel yang menggila karena seorang wanita.


Alex pun terpaksa membawa Zionel ke ruang perawatan Stevani. Dengan langkah perlahan Zionel berjalan, ia hanya memperdulikan keadaan Stevani sekarang.


Sesampainya di ruangan Stevani, Zionel terbelalak saat melihat kaki wanita itu dibalut perban.


"Tunggulah diluar." pinta Zionel pada Alex.


Alex menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan mereka. Zionel perlahan lahan mendekati Stevani yang masih tertidur, ia kembali terkejut saat melihat pipi wanita itu yang memerah dan berbekas beberapa jari akibat pukulan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa seperti ini Vani?" gumam Zionel sambil duduk di samping ranjang.


Zionel mengelus pipi wanita itu. "Apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri? Siapa yang memukul wanita yang aku cintai ini?" pikirnya.


Stevani terbangun karena sentuhan itu, ia terkejut saat membuka matanya.


"Zio..." ujarnya seraya memaksakan diri untuk bangun.


Seketika Stevani memeluk Zionel dan menangis di pelukan pria itu.


"Kau benar benar sadar, aku takut Zio... aku takut..." ujar Stevani sambil terisak.


Zionel sedikit meringis karena pelukan erat Stevani. Namun ia tak ingin mengeluh, ini adalah pelukan yang sangat ia inginkan saat ini. Zionel membalas pelukannya sambil mengelus punggung Stevani.


"Tenanglah, aku baik baik saja. Ini hanya luka kecil, tidak akan melukai keturunan Cruise. Ini ketiga kalinya kau menangis karena aku Vani, kau bisa membuat matamu besar seperti mata panda." goda Zionel.


Stevani melepaskan pelukannya. "Mengapa kau masih saja bercanda? Apa kau tak tahu seberapa takutnya aku saat melihatmu terluka?"


Zionel mengangkat tangannya dan mulai mengusap air mata Stevani. "Jangan menangis, sakit karena tusukan ini tidak sesakit saat aku melihatmu menangis."


"Bagaimana aku tidak takut, aku pikir aku akan kehilanganmu. Aku..."


Zionel seketika menarik leher Stevani lalu menciumnya. Keduanya terhanyut dalam ciuman mereka.


"Aku mencintaimu Stevani Yunsu." ujar Zionel setelah menghentikan ciumannya dan menempelkan keningnya pada kening wanita itu.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


uhukkk... kenapa aku juga jadi ingin ditembak babang Zio juga yak...🤣🤣🤣🙈🙈🙈


__ADS_2