
Zionel menghampiri Stevani sambil menunjukkan wajah yang tenang di depan keluarga yang lain. Ia kembali duduk di samping Stevani.
"Kalian tidak menganggu kekasihku kan?" tanya Zionel pada mereka.
Mereka justru tertawa mendapat pertanyaan dari Zionel seperti itu.
"Mereka semua baik." jawab Stevani.
Zionel menyunggingkan senyumnya lalu mendekati telinga Stevani. "Aku rasa mereka hanya berpura pura saja."
Stevani tersenyum dengan canggung.
"Oh ya Cecil, aku tak sabar menanti penampilanmu dengan gaun hasil desain wanitaku. Beruntung kau tak perlu membayar desain itu. Stevani terlalu baik padamu." ujar Zionel.
Cecil kembali tersedak saat diingatkan soal itu.
"Bang... Aku sudah menyiapkan gaun spesial saat bang Zio menikah. Aku akan menggunakan desain ini lain kali saja, bolehkan?" pinta Cecil.
"Mengapa kau terus menolak sih, desain kak Stevani sangat cantik dan indah." sahut Roxy.
Cecil menatap Roxy dengan tajam. "Bukan urusanmu." celetuknya.
"Mengapa kalian masih membahas soal gaun? Cecil... tante akan membawamu ke desainer kenalan tante. Tante rasa desain Stevani benar benar sangat indah dan pantas untukmu." ujar Falera menghampiri mereka bersama Nicolas.
"Seorang Cruise selalu memegang kata katanya, kau harus menepati janjimu untuk memakai desain itu Cecil." sahut Nicolas.
Zionel menahan tawanya, ia kembali mendekati telinga Stevani. "Kau berhasil." bisiknya membuat Stevani tersenyum kembali.
"Aku semakin tidak sabar menantimu memakai gaunnya. Semoga saja desainernya mampu membuat pakaiannya sedetail gambarku." kata Stevani.
"Kau tenang saja sayang, desainer mommy tidak akan mengecewakanmu. Benarkan mom?" kata Zionel.
Falera tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tenang saja Van, tante akan meminta desainer itu membuatnya sama persis dengan gambarmu tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Lain kali tante juga ingin kau membuatkan satu desain untukku."
"Apa tante ingin aku membuatnya sekarang?" tanya Stevani.
Falera menggelengkan kepalanya. "Tidak sekarang, sejak tadi kita lebih banyak bicara daripada makan. Ayo... kita lanjutkan makan ini dengan tenang." pintanya.
__ADS_1
Mereka semua menyetujui permintaan Falera, sedangkan Cecil terus meminta bantuan orang tuanya dengan memberi kode kode dengan tubuhnya, namun kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa apa. Karena tindakan Cecil kali ini harus dibayar dengan kebodohannya sendiri.
Zionel dan Stevani terus memperhatikan Cecil, keduanya nyaris melepaskan tawanya karena berhasil mengerjai balik wanita sombong itu.
Setengah jam kemudian...
Acara makan besar pun selesai, beberapa anggota keluarga Cruise yang masih memiliki urusan berpamitan pulang. Sedangkan Stevani menjauhi mereka lalu segera mengambil ponselnya. Ia belum menghubungi dokter Mark hari ini, perasaannya tidak tenang karena belum mendengar kabar tentang Zaline.
Namun saat baru saja ingin menghubungi dokter Mark, ia terkesiap saat pundaknya di tepuk oleh Falera Cruise.
"Ah tante..." ujar Stevani.
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Falera.
Stevani menggelengkan kepalanya.
"Zio adalah putraku penerus grup Cruise Kontruksi. Tanggung jawabnya terhadap keluarga besar Cruise sangat besar terutama untuk menjaga nama baik keluarga ini. Tante sudah berusaha mencari pasangan yang terbaik untuknya, namun selalu gagal. Tapi tante tidak menyangka, hanya dalam hitungan hari saja, ia tiba tiba mengenalkanmu pada kami dan akan segera menikahimu. Kami memang bukan keluarga yang akan memaksakan kehendak kami, namun bisakah kau merayu Zionel untuk tidak terburu-buru menikahimu." pinta Falera.
Stevani terkejut mendengar ucapan dari Falera.
"Aku juga tak ingin menikah dengan kebohongan seperti ini, aku ingin menikahi pria yang mencintaiku bukan pria yang menikahiku karena hutang dan rasa tanggung jawab seperti putra anda tante. Tapi sejak kapan aku bisa mengubah keinginan putra anda yang arogan itu." pikir Stevani.
"Maaf tante... Sejak awal aku tidak pernah memaksa Zio untuk segera menikahiku. Namun keinginannya itu..."
"Aku yang menginginkannya, dan aku tidak akan mengubahnya lagi." potong Zionel sambil mendekati mereka. "Mommy... bukankah kita sudah membahasnya tadi, tolong jangan ganggu Stevani dengan permintaan mommy yang tidak mungkin. Jika Stevani menolaknya, aku akan menyeretnya ke altar. Itu yang akan aku lakukan." ancamnya.
"Zio..." namun ucapan Zionel kembali dipotong oleh Zionel.
"Sudah waktunya kita pulang sayang." ajak Zionel. "Kami akan mengunjungi mommy lagi nanti."
Falera menghela nafas panjang karena percuma berdebat dengan putranya saat ini, ia pun menganggukkan kepalanya. Zionel dan Stevani pun berpamitan pada Falera dan yang lainnya. Zionel membawa keluar Stevani dari rumah besar Cruise.
"Dimana pak Alex?" tanya Stevani.
"Aku tidak menghubunginya, aku akan membawamu pulang ke apartemen dengan mobilku yang lain." jawab Zionel.
"Tapi... bukankah kau berjanji akan menghubunginya jika ingin pulang?"
__ADS_1
Zionel mengerutkan keningnya. "Apakah harus ada Alex diantara kita?"
"Bu... bu... bukan seperti itu. Hanya saja..."
"Apa aku begitu menakutkan di matamu? Tak bisakah kau menurut seperti saat kita berhadapan dengan keluarga besar Cruise tadi?"
Stevani menundukkan kepalanya. "Sepertinya orang tuamu menentang pernikahan kita."
"Aku akan tetap menikahimu walaupun tanpa kehadiran mereka."
"Tapi kenapa kau begitu memaksakan kehendak Zio? Aku tidak akan menuntutmu karena tidak bertanggung jawab, dan soal hutangku..."
"Berhentilah berdebat atau aku akan membuatmu menyesal." ancam Zionel seraya meninggalkan Stevani mengambil mobilnya.
Stevani menghela nafasnya, ia hanya bisa menatap Zionel yang terus melangkah dengan penuh amarah.
"Ya Tuhan... apakah aku akan memulai hidupku di dalam neraka setelah aku menikah dengannya? Walaupun pernikahan ini hanya sebuah kontrak, tapi ini semua sangat nyata. Aku sudah cukup menderita selama ini, haruskah aku menambah penderitaanku saat masuk ke dalam keluarga Cruise." pikir Stevani seraya menatap rumah mewah itu.
Stevani terhanyut dalam lamunannya sampai tidak menyadari kedatangan mobil Zionel. Wanita itu terkesiap saat Zionel menekan klakson mobilnya.
"Mau sampai kapan kau berdiri seperti patung seperti itu? Masuklah..." ujar Zionel.
Stevani pun masuk ke dalam mobilnya.
"Pakai sit belt nya." perintah Zionel.
Stevani menarik sit belt itu, namun sepertinya tersangkut hingga membuatnya harus lama melakukannya. Zionel menghela nafasnya, ia mendekati Stevani dan membantu wanita itu menarik sit belt nya. Wajah Stevani merona saat ia begitu dekat dengan wajah Zionel.
Zionel menatapnya saat memasangkan sit belt itu. Kedua mata mereka saling bertemu, Zionel terus menatap wajah Stevani hingga akhirnya terpaku pada bibir merah wanita itu. Hasrat untuk mencium wanita itu semakin kuat saat Stevani tiba tiba membasahi bibirnya dengan lidahnya tanpa sadar.
Zionel pun menundukkan kepalanya lalu melahap bibir Stevani. Kedua tangan Stevani mendorong dada Zionel, namun pria itu seketika menahan kedua tangan Stevani dengan satu tangan. Ia terus menggoda bibir Stevani dengan bibirnya. Dan akhirnya Stevani menyerah, ia memejamkan matanya lalu ikut berpartisipasi dalam ciuman itu.
Ingatan ingatan Stevani saat malam kejadian itu berangsur angsur pulih. Tubuhnya tiba tiba menegang saat ingat bagaimana ia merayu Zionel di atas ranjang. Matanya tiba-tiba terbelalak lebar, seketika ia mendorong tubuh Zionel dengan kuat.
Zionel menelan saliva nya, ia berdeham untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi beberapa detik yang lalu. Cukup lama keduanya saling bergeming, Stevani terus memalingkan wajahnya keluar jendela. Zionel menghela nafas panjang lalu ia pun mulai mengendarai mobilnya meninggalkan rumah besar Cruise, sedangkan Stevani terus memalingkan wajahnya keluar jendela.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...