Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Makan Malam Di Luar


__ADS_3

Zionel beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri sebuah meja kecil lalu menarik lacinya. Zionel mengambil sebuah kotak kecil yang ternyata berisi rokok. Ia mengambil sebatang rokok tersebut lalu melangkahkan kakinya menuju balkon apartemen.


Hari mulai berganti malam, lampu lampu gedung dan jalanan mulai menyala dan bersinar terang menghiasi malam kota D. Pria itu menyalakan sebatang rokok tersebut, mulai mengisap dan mengepulkan asapnya. Ia memang bukan pecandu rokok, namun ia selalu melakukan itu jika benar benar frustasi.


Zionel sering merokok disaat frustasi mencari keberadaan Haena, namun kali ini ia mulai frustasi karena adanya wanita yang ia cintai namun ia belum berani mengungkapkan isi hatinya. Harga diri karena takut ditolak, itulah alasan utama mengapa ia belum menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Stevani.


Sambil terus mengisap rokok tersebut, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Alex.


"Apa yang sedang kau lakukan Lex?" tanya Zionel setelah mendapat jawaban dari Alex.


"Pertanyaan macam apa itu bos, anda meninggalkan pekerjaan begitu saja padaku. Tentu saja aku masih berada di perusahaan." jawab Alex.


Zionel menyeringai, ia memang segera kembali ke apartemen karena mengkhawatirkan Stevani. Ia bahkan menyerahkan semua pekerjaan perusahaan pada Alex.


"Apa anda sedang merokok?" tanya Alex tiba tiba.


Zionel terkekeh. "Kau seperti paranormal Lex, bagaimana kau bisa tahu jika aku sedang menikmati sebatang cerutu ini?"


"Aku mendengar suara tiupan berkali-kali. Apa yang terjadi pak Zio? Anda baik baik saja kan?"


"Aku tidak apa apa. Bisakah kau membantuku mereservasi restoran di hotel Marriott Lex."


"Untuk kapan pak Zio?"


"Sekarang."


"Hah... mana mungkin. Restoran itu tidak bisa dipesan mendadak, anda sudah tahu itu."


"Ternyata ada yang tidak bisa kau lakukan Lex. Aku pikir kau adalah asistenku yang sempurna." ejek Zionel.


Terdengar suara helaan nafas Alex. "Baiklah, aku akan mencobanya pak."


"Aku menginginkan jawaban yang bagus. Aku ingin tempat duduk di dekat jendela gedung. 5 menit aku tunggu kabarmu lagi."


"Tapi pak Zio."


Zionel langsung menutup teleponnya lalu menyeringai. Ia memang sangat suka membuat Alex kesusahan. Namun ia selalu memberi bonus lebih untuk asistennya tanpa perhitungan. Zionel duduk di kursi santai, ia mematikan rokoknya lalu memejamkan matanya sambil menunggu kabar dari Alex.


Di lain sisi, Stevani sudah menyelesaikan mandinya. Wanita itu memakai gaun berwarna hitam yang dibelikan oleh Zionel. Warna itu ternyata sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna putih. Ia pun berdandan secantik mungkin karena ia masih menginginkan keluar bersama Zionel.


Setelah ia selesai, ia pun keluar mencari keberadaan Zionel. Hembusan angin malam menerpa rambutnya saat mendekati pintu balkon, wanita itu mendapati Zionel sedang memejamkan matanya, masih tercium bau asap rokok disana. Stevani menatap meja yang terletak di samping Zionel dan mendapati sisa sisa rokok yang dihisap pria itu.


"Sejak kapan Zionel merokok, ini baru pertama kali aku melihatnya. Bahkan saat pria itu datang ke klub, ia sama sekali tidak merokok." pikir Stevani.


Suara dering ponsel Zionel mengejutkan keduanya, Stevani segera menyembunyikan dirinya di balik pintu balkon sedangkan Zionel segera mengangkat teleponnya.


"Kau telat 5 menit Lex, aku akan memotong bonusmu bulan ini." ancam Zionel.

__ADS_1


"Oh ayolah pak Zio, jangan salahkan aku. Hotel Marriott sepertinya dalam keadaan sibuk, aku berusaha menghubunginya dan mereka baru menjawab teleponku setelah 5 menit." jawab Alex.


"Aku tidak akan memotong bonusmu jika kau memberikan jawaban yang memuaskan."


"Syukurlah... karena anda memang mendapat satu meja tepat di dekat jendela gedung restoran. Dan aku harus membayar 2 kali lipat untuk itu."


"Aku tidak perduli masalah itu, bukankah kau sudah tahu. Kerja bagus Lex."


"Apa anda akan menyatakan cinta pada nona Stevani?" tanya Alex penasaran.


"Jangan terlalu ingin tahu urusanku Lex. Lanjutkan pekerjaanmu, jangan pulang jika kau tidak menyelesaikannya."


"Ya Tuhan pak Zio, tak bisakah kau memberikan aku waktu untuk kencan juga?"


"Wanita mana yang menginginkanmu? Kau lebih cocok melajang seumur hidup." ejek Zionel.


Seketika Alex mengumpat membuat Zionel tertawa. Zionel pun menutup teleponnya, ia menangkap bayangan dari balik pintu balkon.


"Apa kau sudah puas menguping pembicaraan orang lain?" tanya Zionel pada Stevani.


Stevani pun dengan malu keluar dari balik pintu, ia memperlihatkan dirinya pada Zionel membuat pria itu terbelalak saat melihat penampilan Stevani yang begitu cantik.


"Maaf... aku tidak bermaksud menguping pembicaraanmu." ujar Stevani.


"Aku maafkan karena kau begitu cantik malam ini." jawab Zionel tanpa ragu. "Tunggu... apa yang terjadi dengan matamu?" imbuhnya.


Seketika Stevani menundukkan kepalanya, matanya tentu saja sembab karena menangis begitu lama. Zionel beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Stevani.


Stevani terus menundukkan kepalanya tanpa memperdulikan permintaan Zionel. "Apa kau masih ingin mengajakku keluar dari sini?"


Zionel menghela nafasnya, ia tak ingin bertanya lebih lanjut walaupun sangat penasaran. "Tentu saja, tunggu sebentar, aku akan berganti pakaian dengan cepat." jawabnya seraya melewati Stevani menuju ruang ganti.


Stevani menatap punggung Zionel saat meninggalkannya, ia menghela nafas panjang karena tidak dihardik pertanyaan lagi oleh pria itu. Wanita itu menutup pintu balkon lalu beranjak dari sana menuju pintu apartemen. Ia terus menunggu Zionel hingga akhirnya pria itu keluar dengan penampilan yang tak kalah tampan seperti biasanya.


"Kita berangkat sekarang." ajak Zionel.


Stevani menganggukkan kepalanya seraya mengikuti Zionel keluar dari apartemen.


*****


Sepanjang perjalanan menuju hotel Marriott, Zionel terus saja mencuri pandang ke arah Stevani. Bukan hanya karena mengagumi kecantikan wanita itu, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada mata Stevani yang begitu sembab.


"Ehm... Van... apa kau masih marah padaku?" tanya Zionel ragu.


"Ah... tidak."


"Maaf karena aku terlalu terburu-buru. Tapi aku benar benar menginginkannya, aku tak ingin berpura-pura tak ingin."

__ADS_1


"Hanya sebuah hasrat sek*ualmu yang tidak terkendali tuan Zio. Aku tidak hanya ingin mendengar kata menginginkanmu di dalam sebuah sek*." pikir Stevani.


"Van..."


"Lupakan saja, aku tidak ingin membicarakannya." ujar Stevani.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, sampai saat ini aku masih menginginkanmu. Ingin sekali aku menurunkan tali gaunmu, menyikap bagian bawah gaun itu dan menikmati seluruh tubuhmu." pikir Zionel.


"Baiklah lupakan saja." jawab Zionel menolak pikirannya sendiri.


"Kemana kau akan membawaku pergi?"


"Ini pertama kalinya kita keluar, jadi bagaimana jika kita makan malam terlebih dahulu. Setelah itu aku akan membawamu berkeliling ke tempat warga biasa menikmati malam indah di kota ini."


Stevani menganggukkan kepalanya. "Bagaimanapun aku berterima kasih atas apa yang kau lakukan untukku Zio."


"Jangan terlalu sungkan Van, sudah saatnya kita saling mengenal satu sama lain. Pernikahan kita tinggal 4 hari lagi, setidaknya kita harus menunjukkan pada keluarga Cruise bahwa kita saling mengenal dengan baik."


"Kali ini aku setuju denganmu. Aku tidak ingin membuatmu malu di depan keluargamu." jawab Stevani.


"Aku tidak perduli pada diriku, aku hanya perduli padamu. Jadi pikirkanlah untuk dirimu sendiri, aku bisa mengatasi masalahku." kata Zionel.


"Aku tahu, karena kau memang terlahir dari kalangan atas tidak sepertiku. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mempermalukanmu."


"Bukan itu maksudku Van. Aku sama sekali tidak memandang rendah dirimu. Mengertilah sedikit ucapanku."


"Iya... aku mengerti." jawab Stevani datar.


Keduanya memasuki parkiran hotel mewah, seketika Stevani berpikiran negatif. Ia menatap sekeliling hotel tersebut dari jendela mobil. Saat Zionel menepikan mobilnya di parkiran, wanita itu langsung menatap Zionel dengan tajam.


"Mengapa kau membawaku kesini? Aku bukan wanita murahan." bentak Stevani.


Zionel mengerutkan keningnya lalu melepaskan tawanya. "Ya Tuhan... apa yang kau pikirkan nona?"


"Sungguh tidak lucu tuan Cruise, aku sedang serius."


"Oh baiklah... Bukankah aku tadi ingin mengajakmu makan malam, aku sudah menyuruh Alex untuk memesan restoran di hotel ini. Aku tidak ingin mengajak wanita cantik sepertimu ke tempat makan di pinggir jalan. Bagaimanapun ini pertama kalinya kita makan di luar." ujar Zionel.


Wajah Stevani memerah karena malu, ia langsung memalingkan wajahnya keluar jendela. Zionel tak ingin mengejek wanita itu lagi, ia langsung keluar dari mobilnya lalu berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu Stevani.


"Silahkan nona Stevani Yunsu." kata Zionel sambil mengulurkan tangannya.


Wanita itu justru mengabaikan tangan Zionel dan keluar dari mobil begitu saja. Pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kekeras kepalaan Stevani. Keduanya pun beranjak dari sana menuju restoran hotel Marriott.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


Stevani Yunsu Bersolek...👇🏻👇🏻👇🏻



__ADS_2