
Stevani tak sadar jika ia hampir menghabiskan semua makanan di meja. Zionel terus tersenyum, ia bangga diri karena wanita itu menyukai masakannya dan memakannya dengan begitu lahap. Ia lebih memilih menatap wanita itu dari pada makan malam. Saat sedang asyik memandang kecantikan wajah Stevani yang tanpa make up, ponsel Zionel berdering.
Seketika pria itu menatap layar ponselnya lalu tersenyum. "Aku sudah selesai makan, teruskan makanmu, aku akan menerima telepon sebentar." ujarnya seraya meninggalkan meja makan.
Stevani menatap meja makannya lalu terkesiap saat ia sadar hampir menghabiskan semua makanannya.
"Apa aku sudah gila, mengapa aku makan seperti orang kelaparan." pikir Stevani.
Wanita itu pun menghentikan makannya, ia mulai membereskan alat alat makan yang kotor itu lalu membawanya ke wastafel untuk mencucinya.
Sedangkan Zionel menuju balkon rumahnya lalu mengangkat teleponnya.
"Lama sekali kau mengangkat teleponmu Zio." Falera Cruise langsung menghardiknya.
"Aku sedang makan malam mom. Apa kalian sudah pulang dari rumah sakit?"
"Jika kau tahu kami di rumah sakit, mengapa tidak menunggu di rumah. Kau langsung ke apartemen dan membawa wanita itu kan? Apa kau tak ingin mengenalkannya pada mommy?"
"Namanya Stevani Yunsu mom. Kami baru saja kembali, tak bisakah kami beristirahat malam ini. Kami akan menemui kalian besok pagi."
"Stevani Yunsu, namanya cantik. Mommy harap namanya secantik wajahnya."
"Oh tentu saja, mommy tidak akan kecewa pilihanku. Bukankah aku sudah mengatakannya."
"Mommy belum percaya jika tidak langsung melihatnya. Bisakah kita melakukan panggilan video, mommy ingin melihatnya sekarang."
"Oh ayolah mom... Ia sedang makan malam, aku tak ingin membuatnya canggung. Biarkan kami beristirahat terlebih dahulu."
"Ya Tuhan... apa kau tidak tahu seperti apa mommy sekarang. Rasa penasaran ini bisa membunuh mommy Zio."
Zionel tertawa. "Jangan berlebihan bu Presdir. Bagaimana keadaan daddy?"
Zionel mulai mengalihkan pembicaraan agar ibunya tidak terus merengek dan membuatnya pusing.
"Keadaan daddy baik baik saja, tapi ia tetap harus tinggal di rumah. Dokter tidak mengizinkannya menangani perusahaan Zio."
"Katakan pada daddy tak perlu khawatir mom. Lihatlah putranya yang sanggup menangani perusahaan dengan baik."
"Mommy juga sudah mengatakannya, daddy mu bukan khawatir pada perusahaan, tapi ia lebih mengkhawatirkan putranya yang bekerja sendirian."
"Jangan mulai mom, aku tidak seperti itu. Tapi aku masih memiliki tanggung jawab atas perusahaan. Aku belum setua itu sayang." sahut Nicolas Cruise.
"Aku tahu itu sayang, tapi dokter menyarankan kau beristirahat lebih lama lagi. Kau dengar kan Zio, daddy tetap bersikeras untuk bekerja." ujar Falera.
__ADS_1
"Serahkan teleponnya pada daddy mom, aku ingin bicara dengannya." pinta Zionel.
Falera menghela nafas panjang. "Urusan kita belum selesai Zio, kau pandai sekali mencari alasan. Dad... Zio ingin bicara."
Zionel hanya bisa terkekeh geli mendengar keluhan ibunya.
"Zio... daddy sudah tahu kabar soal perusahaan cabang. Kau memang putraku yang hebat." ujar Nicolas.
"Itu sudah menjadi pekerjaanku dad, dan semua ini bukan karena aku saja, ada Alex dan juga karyawan di perusahaan yang ikut membantu. Soal sekertaris yang aku angkat menjadi manager..."
"Daddy juga sudah tahu itu Zio. Daddy selalu mendukung pilihanmu. Lupakan soal pekerjaan, daddy dengar dari mommy kau menemukan kekasih di kota X. Ini bukan seperti dirimu Zio, sebenarnya apa yang terjadi?" suara Nicolas sedikit berbisik saat menanyakan hal itu.
Zionel tentu saja tak ingin ayah dan ibunya tahu apa yang sudah ia lakukan pada Stevani. Mereka pasti sangat kecewa jika tahu putranya melewati batas dan menodai wanita yang sedang mabuk.
"Daddy tak perlu khawatir, aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan aku juga tak menyangka, wanita itu tak menolak saat aku mengajaknya menikah." jawab Zionel.
"Kau yakin tidak sedang menutupi sesuatu dari kami?"
"Oh ayolah dad... kalian bisa melihatnya besok. Aku sudah meninggalkannya makan malam, lebih baik aku tutup teleponnya sekarang. Dad... tolong katakan pada mommy jangan terlalu cerewet." ujar Zionel seraya tertawa.
"Daddy bisa jadi daging cincang jika mengatakan itu." jawab Nicolas sambil tertawa.
"Kalian jangan coba coba membicarakan aku di belakang, aku bisa merasakannya." ujar Falera.
Zionel menghela nafas panjang, ia kembali masuk dan mendapati meja makan yang sudah bersih. Pria itu mencari keberadaan Stevani dan menemukannya di dapur sedang membereskan semua yang berantakan disana.
"Hentikan... ini sudah larut. Kau pasti lelah karena perjalanan tadi. Aku juga memiliki pelayan yang akan datang setiap pagi untuk membereskannya nona." ujar Zionel.
Stevani membalikkan tubuhnya lalu menatap Zionel. "Aku terbiasa bekerja, rasanya aneh jika hanya duduk manis saja. Oh ya, kau pemilik apartemen ini, jadi lebih baik kau yang tidur di ranjang, aku yang di sofa."
Zionel menautkan kedua alisnya. "Bukankah kau wanita, kau juga masih belum pulih benar. Kau tidurlah di ranjang itu."
"Kau tidak cocok tidur di sofa, tubuhmu melebihi sofa itu. Kau pasti akan menekuk kakimu saat tertidur."
"Jadi kau sedang mengkhawatirkanku?"
Stevani melototkan matanya, ia juga menarik sudut bibirnya. Zionel justru tertawa melihat ekspresi wajah wanita itu.
"Begini saja, bagaimana jika kita berbagi tempat tidur? Kau sebelah kanan dan aku sebelah kiri." goda Zionel.
"Jangan mimpi tuan Zio, aku tidak ingin berbagi denganmu." celetuk Stevani.
Zionel melepaskan tawanya lalu meninggalkan wanita itu begitu saja.
__ADS_1
Stevani menghela nafasnya, setelah ia selesai membereskan dapur, ia pun segera menuju kamar mandi untuk menggosok giginya.
*****
Beberapa menit kemudian...
Stevani keluar dari kamar mandi, ia segera masuk ke dalam kamar Zionel. Wanita itu menatap ranjang besar itu, semuanya tercium wangi parfum Zionel.
"Bagaimana aku bisa tidur di ranjang pria itu? Wangi kamar ini dipenuhi wangi tubuh Zionel, secara tidak langsung aku seperti sedang tidur dengannya." pikir Stevani seraya bergidik ngeri.
Stevani menatap keluar, ia bisa melihat Zionel yang sedang sibuk dengan laptopnya di sofa. Pria itu benar benar tampan saat sedang serius seperti itu.
"Kau lebih baik diam dari pada banyak bicara tuan Zionel." gumam Stevani.
Wanita itu terpaksa naik ke atas ranjangnya, ia menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya. Sebelum memejamkan matanya, Stevani terus mengingat ingat catatan identitas baru yang diberikan Zionel. Ia akan menjadi wanita terpelajar lulusan Harvard. Kedua orang tuanya sibuk bekerja di Amerika.
"Apa tidak keterlaluan, aku bahkan tidak lulus sekolah dasar. Aku tak tahu seperti apa universitas Harvard." desis Stevani lalu seketika duduk di atas ranjangnya.
Gerakan wanita itu yang tidak tenang, tentu saja membuat Zionel menoleh ke arah ranjang.
"Bisakah kau lebih tenang?" tanya Zionel.
Stevani turun dari ranjangnya lalu keluar menghampiri Zionel.
"Apa kau tidak keterlaluan?" tanya Stevani.
Zionel menutup laptopnya lalu mendongakkan kepalanya. "Kali ini apalagi Stevani?"
"Identitasku... aku bahkan tidak lulus sekolah dasar, bagaimana aku bisa menjadi wanita yang lulus dari universitas Amerika dan orang tuaku ada disana. Kau bahkan mengatakan aku adalah seorang desainer di kota X."
"Standar keluarga Cruise seperti itu. Hanya dengan cara ini aku bisa melindungimu dari mereka selama satu tahun." jawab Zionel sambil melipat tangannya.
"Bagaimana jika orang tuamu..."
"Kau tak perlu khawatir, orang tuaku memang memiliki standar tinggi terutama mommy. Tapi ia bukan seperti keluarga besar Cruise yang lain, mommy akan menghormati pilihanku dan aku yakin ia akan menyukaimu." sergah Zionel. "Kau tak perlu banyak bicara, aku akan menjawab semua pertanyaan daddy dan mommy. Jadi bisakah kau tenang sekarang?" imbuhnya.
"Mengapa aku harus terjebak seperti ini dengan keluarga Cruise?"
"Berhentilah untuk mengeluh, sudah sangat terlambat kau mundur nona Yunsu. Baiklah begini saja, jika kau ingin mempertahankan identitas aslimu silahkan, tapi bersiaplah setiap hari mendapat hinaan dari mereka. Bahkan bukan kau saja yang akan menderita, adikmu... Zaline akan ikut terseret di dalamnya." kata Zionel mulai kesal.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1