Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Keras Kepalanya Zionel


__ADS_3

Keduanya menyelesaikan sarapan mereka. Zionel menatap Stevani yang mulai membereskan meja makan.


"Sebentar lagi pelayan akan datang, biarkan saja semuanya. Stevani... bersiap siaplah, sebentar lagi Alex menjemput kita. Kau bisa berdandan sedikit kan? Dan aku mohon pakailah pakaian yang aku belikan semalam." ujar Zionel.


Stevani menghentikan kegiatannya, ia menatap Zionel. "Apa harus sepagi ini?"


Zionel melihat jam tangannya. "Satu jam lagi Alex tiba, perjalanan dari apartemen ke rumah besar Cruise satu jam lamanya. Mommy sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Apa kau takut?"


"Sedikit... aku hanya takut mempermalukanmu."


Zionel tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Kau tidak memalukan, pilihan Zionel Cruise sudah memenuhi standar."


Wajah Stevani merona merah. "Kau yakin hanya bertemu dengan orang tuamu?"


Zionel mengangguk. "Tentu saja, bukan hanya pertemuan biasa. Hari ini aku akan meminta izin untuk menikahimu minggu depan."


"Hah?"


"Mengapa kau terkejut, bukankah aku memang berniat menikahimu. Kau sudah tahu apa alasannya." ujar Zionel.


"Sejak di kota X, kita belum membicarakan ini dengan benar Zio. Bisakah kita berbicara soal... ehm... itu..."


Zionel menautkan kedua alisnya. "Aku mengerti, ayo kita bicarakan."


Zionel beranjak dari tempat duduknya menunju sofa diikuti oleh Stevani. Keduanya duduk saling berhadapan, namun tak ada satupun diantara mereka yang memulai pembicaraan karena sangat canggung.


Setelah beberapa menit, akhirnya Zionel mengalah lebih dulu untuk berbicara.


"Ehm... soal malam itu... aku memang lepas kendali. Tapi itu bukan kemauanku sendiri, coba ingat ingatlah sedikit tentang malam itu Van."


"Kau masih menyalahkan aku." celetuk Stevani.


"Bukan seperti itu... tapi kita benar benar sama sama menginginkannya."


"Mana mungkin, aku berusaha menjaga kesucianku selama bertahun tahun. Aku bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan."


"Aku tidak mengatakan itu Stevani. Mungkin saja pengaruh alkohol, kau minum pertama kali jadi kau tidak tahu efek yang terjadi pada tubuhmu jika kau minum. Malam itu kau benar benar nekat untuk meminum satu botol, tapi baru saja kau habiskan setengahnya, kau jatuh pingsan. Aku hanya ingin membantumu lepas dari teman temanku, aku berniat untuk mengantarkanmu pulang." jawab Zionel.

__ADS_1


"Lalu mengapa aku justru berakhir di hotel?" tanya Stevani kesal.


"Itu kebodohan Alex, aku sudah menyuruhnya untuk meminta izin pada manager klub, aku pikir ia akan menanyakan alamat rumahmu. Setelah setengah perjalanan, justru Alex tidak tahu dimana rumahmu. Aku terpaksa membawamu ke hotel."


"Kau bisa membuka kamar untukku, aku bisa membayarnya sendiri. Kenapa aku harus berada di kamarmu Zio."


"Bagaimana aku bisa membuka kamar untukmu jika kau tidak memiliki kartu identitas. Aku juga sedikit khawatir jika kau tidur sendirian dalam keadaan mabuk seperti itu. Aku terpaksa melakukannya."


Stevani menghela nafas panjang, "setidaknya kau bisa membiarkan aku tidur di kamarmu sendirian, dan kau bisa tidur dengan pak Alex."


"Bagaimana pun ini sudah terjadi diantara kita, aku berniat untuk bertanggung jawab dan secara kebetulan kita bisa bertransaksi karena kau membutuhkan uang."


"Jika kau tidak memberikan cek 500 juta pada mas Dani, aku tidak mungkin memiliki hutang. Bukankah malam itu kau setuju memberikan uangmu sebagai taruhan." bentak Stevani.


"Apa itu kesalahanku? Bukankah kau yang meninggalkan ATM itu di kamar hotel. Jika melihat taruhannya, kau pun gagal disini. Kau tidak bisa menghabiskan satu botol wiski. Aku tak biasa bernegosiasi pada siapapun Stevani, saat aku melihatmu diganggu seorang pria karena uang, aku spontan saja memberikan cek itu. Sekarang berhentilah berdebat karena masalah ini, aku cukup sabar menanggapi negosiasi darimu. Kau tidak bisa mundur lagi." jawab Zionel tegas.


"Ya Tuhan... mengapa kau tidak mau mengucapkan kata maaf sama sekali. Kau malah terus menyalahkan aku. Setidaknya tenangkan hatiku dengan kata maafmu." pikir Stevani kesal.


"Stevani... aku tahu ini terdengar gila. Tapi aku akan bertanggung jawab atas malam itu. Aku tak akan melepaskanmu sampai aku tahu kau..."


"Aku yakin tidak hamil, jadi bisakah kita hanya berpura pura sudah menikah saja? Aku tak ingin sumpahmu di hadapan Tuhan hanya untuk membuktikan aku hamil atau tidak." ujar Stevani ketus.


Zionel terbelalak, saat Stevani mengatakan hal itu. Ia justru merasa ketakutan luar biasa jika wanita yang ada di hadapannya akan lari darinya. Ia sendiri tak tahu mengapa tidak ingin melepaskan wanita itu, apakah benar benar takut ia hamil atau karena alasan lain yang belum ia ketahui sendiri.


"Jangan ubah rencana kita, aku sudah mempersiapkan semuanya setelah kau menyetujui kontrak itu. Kita bukan sedang membahas pembatalan Stevani, tapi kita sedang membahas malam itu." kata Zionel.


"Apa kau yang merasa ternodai dan dirugikan disini?"


Pertanyaan yang diajukan Stevani tepat mengenai sasaran, Zionel sangat arogan hingga terus mempertahankan egonya dan selalu menyalahkan Stevani seolah-olah wanita itu yang sudah menodainya bukan justru sebaliknya.


"Lalu apa yang kau inginkan selain pernikahan ini? Apa kau butuh lebih banyak uang? Aku akan mengabulkannya."


Stevani terbelalak saat mendengar ucapan Zionel, hatinya bagai tersayat pisau yang tajam. Zionel masih menganggapnya wanita murahan yang membutuhkan uang hingga menjual kesuciannya.


Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, ia bertolak pinggang dan menatap Zionel dengan penuh amarah.


"Apa kau pikir aku yang menginginkan pernikahan ini? Apa kau pikir aku benar benar menjual tubuhku demi uang? Apa seorang Cruise hanya memikirkan uang, uang dan uang saja." bentak Stevani.

__ADS_1


Wanita itu seketika mengeluarkan air matanya karena sangat emosional. Ia hanya membutuhkan kata maaf dari mulut Zionel, tapi yang pria itu lakukan selalu saja merendahkan harga diri Stevani.


Zionel terkejut, ia ikut beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Stevani. Namun wanita itu justru terus melangkah mundur untuk menjauhi Zionel.


"Jika bukan pernikahan dan uang, lalu apa yang kau inginkan Stevani?" tanya Zionel dengan lembut.


"Aku memang butuh uang untuk pengobatan Zaline, tapi aku sama sekali tak berniat menjual tubuhku. Jika itu memang kemauanku, mungkin saja sejak dulu aku sudah menjual kehormatanku."


"Tapi ini semua sudah terjadi, sengaja atau tidak sengaja itulah kenyataannya."


"Apa kau tetap menganggapku wanita rendahan?"


"Kapan aku mengatakannya? Anggap saja ini sebuah kesalahan yang kita perbuat bersama."


"Kita? Kau lah yang menghancurkan aku." teriak Stevani.


Zionel terkejut mendengar teriakan Stevani, air mata wanita itu semakin mengalir dengan deras. Zionel mengusap wajahnya sendiri karena frustasi.


"Apa yang bisa aku lakukan agar kau tidak marah seperti ini Stevani? Demi Tuhan, aku benar benar tak mengerti."


Stevani menggelengkan kepalanya dengan rasa tak percaya, pria yang ada di depannya masih bertanya apa yang harus dilakukan.


"Sepertinya aku bertemu dengan pria yang tak punya hati." celetuk Stevani seraya berlari ke kamarnya.


Zionel terkejut mendengarnya, namun ia tak ingin kembali menambah masalah. Ia harus sabar dan tetap diam saat ini. Zionel menghempaskan tubuhnya lagi ke sofa. Ia menyenderkan kepalanya disana lalu menatap langit langit apartemennya.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan seorang wanita. Aku sudah memberikan yang ia mau, uang untuk pengobatan adiknya juga rasa tanggung jawabku untuk menikahinya. Mengapa ia masih saja belum puas dengan apa yang aku lakukan, sebenarnya apa yang kau inginkan Stevani Yunsu." pikir Zionel.


*****


HAPPY NEW YEAR 2022...


UPS... AUTHOR TELAT DEH MENGUCAPKANNYA... HEHE...


MAAF KARENA BARU BISA UP LAGIπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2