Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Ngidam Bakpao


__ADS_3

Zionel berkali-kali menguap, ia sama sekali belum tidur karena hampir mengelilingi kota D untuk mencari makanan yang Stevani inginkan. Setelah berkeliling kota, ia pun berhasil mendapatkan bakpao isi daging tersebut.


Namun kesabarannya kembali diuji, setelah ia kembali ke rumah sakit dengan bakpao nya. Ia pun membangunkan Stevani, namun jawaban istrinya membuatnya tersenyum kecut.


"Aku tidak ingin lagi." ucap Stevani tanpa membuka matanya.


Zionel terus menatap bungkusan bakpao yang ada di depannya dengan perasaan bercampur aduk. Bagai sebuah lelucon baginya, tapi seperti itulah seorang wanita yang sedang mengandung, setidaknya kekesalan Zionel mereda setelah membaca beberapa artikel tentang ibu hamil di ponselnya.


"Ya Tuhan... lebih sulit daripada menghadapi pesaing bisnis." gumam Zionel seraya memejamkan matanya.


Sepertinya baru saja ia tertidur, namun suara gemerisik mengganggu waktu tidurnya. Dengan malas Zionel membuka matanya sedikit. Dua orang perawat sedang sibuk di dalam ruangan.


Zionel meregangkan tubuhnya lalu terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam tangannya dan langsung terkesiap. Dengan cepat Zionel beranjak dari sofa.


"Sus... apa dokter Herman sudah datang?" tanya Zionel.


"Dokter sudah menunggu anda di ruangannya tuan, maaf kami tidak berani membangunkan anda."


"Baiklah, terima kasih." jawab Zionel seraya masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Stevani sudah terbangun, yang lebih membuatnya terkejut, wanita itu sedang memakan bakpao yang ia belikan semalam.


"Kau sudah bangun sayang, bakpao nya pasti sudah dingin." ujar Zionel.


"Maaf semalam aku tak ingin, tapi sekarang ingin memakannya lagi. Tidak masalah sudah dingin, ini masih tetap enak." jawab Stevani berbohong.


Zionel tersenyum. "Jika kau menginginkan sesuatu katakan saja padaku, aku sekarang ingin menemui dokter terlebih dahulu."


Stevani menganggukkan kepalanya, sedangkan Zionel langsung keluar dari ruangan. Wanita itu meletakkan bakpao nya ke dalam plastik lagi.


"Benar benar tidak enak." gumam Stevani.


"Kakak terpaksa memakannya karena tidak ingin mengecewakan bang Zio?" tanya Zaline seraya membuka matanya.


"Gadis nakal, kau sejak tadi sudah bangun?"


Zaline terkekeh. "Aku mendengar semua ucapan kakak."


"Ssstttt... ini rahasia. Aku tahu Zio kesulitan mencarinya, tapi aku benar benar tidak menginginkannya lagi."


Zaline kembali terkekeh. "Sepertinya keponakanku ingin mengerjai ayahnya sebagai hukuman karena membuat ibunya bersedih."


Stevani tertawa. "Aku harap anakku tidak usil seperti dirimu Zaline."


"Mana ada... aku anak baik."


"Ciiiih... Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Seperti yang kakak lihat, aku sangat baik. Setelah masalah ini selesai, kita harus bicara serius." ujar Zaline.


Stevani mengerutkan keningnya. "Bukankah kita selalu berbicara, apalagi yang ingin kau ketahui."


"Aku masih kesal dengan hubungan kakak dan bang Zio. Kakak lupa aku pernah bilang ingin menjadi pengiring pengantin, mengapa kalian menikah justru tanpa kehadiranku?"


"Kami melakukan kesalahan, bukankah kau sudah tahu itu."


"Bukan kami tapi bang Zio. Aku akan menghukumnya."

__ADS_1


"Jangan berulah Zaline, apa yang ingin kau lakukan padanya?"


Zaline mendekati telinga Stevani dan mulai membisikkan rencananya. Stevani terbelalak namun membuatnya tertawa geli.


"Ayolah nona kecil jangan melakukan itu."


"Ayolah kak, bekerjasama denganku. Hanya sebentar saja, aku ingin tahu seperti apa sikap bang Zio."


Stevani tertawa lalu menganggukkan kepalanya.


"Yeeee..." ujar Zaline senang.


Stevani menatap wajah Zaline dengan serius. Wanita itu mengelus pipi adiknya dengan lembut.


"Kau yakin bisa menghadapi Gilbran? Kau yakin akan baik baik saja?" tanya Stevani kembali serius.


"Sedikit takut tapi..."


"Zaline... jika kau tidak siap, jangan memaksakan diri." potong Stevani. "Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan bisa hidup lagi." imbuhnya.


"Tidak sampai seperti itu kak. Aku hanya takut salah bicara saja. Aku harus belajar berani sekarang untuk menghadapinya, jika aku kembali lari dan bersembunyi seperti dulu, maka masalah ini tidak akan selesai."


"Zaline... setelah kau terbangun, pikiranmu langsung berubah. Aku merasa kau bukan seperti Zaline yang aku kenal."


"Kakak... waktu aku bangun dan langsung melihat bang Zio, sebenarnya aku sangat terkejut karena harus kembali bertemu dengannya. Rasa takut muncul saat tidak melihat kakak. Lalu abang langsung mengatakan semuanya membuatku langsung merasa aman, dan saat pak Alex menceritakan penderitaan bang Zio selama aku menghilang, rasa bersalahku semakin besar padanya. Saat aku koma, aku berkali-kali bermimpi mendengar bang Zio, daddy, mommy dan kakak memanggil namaku. Aku menggabungkan mimpiku dengan kenyataan yang ada, dan dorongan hatiku untuk menyelesaikan masalah ini tanpa rasa takut lagi semakin kuat. Aku semakin yakin, kalau kalian bisa melindungiku dari kejahatan mereka."


"Ucapanmu semakin dewasa Zaline. Kakak bangga padamu." kata Stevani seraya memeluk adiknya. "Sudah saatnya membersihkan tubuhmu, kakak akan membantumu." imbuhnya.


Zaline menganggukkan kepalanya, keduanya turun dari tempat tidur. Dengan alat bantu Zaline berusaha berdiri. Stevani segera mencari pakaian yang sudah disiapkan semalam. Stevani merasa tidak nyaman dengan infusnya, ia kembali melepaskan infus itu.


"Tidak apa apa." jawab Stevani seraya mengambil plester yang ia minta tadi dari perawat.


Stevani mendekati Zaline dan memapah gadis kecil itu menuju kamar mandi. Zaline memang tidak merasa malu jika Stevani membantunya membersihkan tubuhnya.


*****


Zionel kembali ke ruangan setelah selesai bicara dengan dokter Herman. Pria itu terkejut saat melihat satu infus ditinggalkan. Ia segera mencari keduanya.


"Apa kalian di dalam?" tanya Zionel di depan pintu kamar mandi.


"Iya kami di dalam." jawab Stevani.


"Sayang, apa yang kau lakukan dengan infusnya? Kau mulai lagi membuatku kesal."


"Aku tidak nyaman membantu Zaline mandi, aku juga tidak perlu diinfus lagi. Aku baik baik saja Zio."


"Sepertinya aku harus menyuruh dokter untuk membiusmu agar kau menjadi penurut." ujar Zionel kesal.


Terdengar suara tawa dari dalam kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi itu terbuka, seketika Zionel menarik tangan Stevani.


"Ya Tuhan... aku baik baik saja." ucap Stevani sambil menarik tangannya.


Zionel menatap Zaline. "Mengapa kau membiarkan kakakmu melepaskan infusnya?"


"Bang Zi saja tidak sanggup melarangnya." ejek Zaline.


Zionel menggertakkan giginya, ia segera membantu Zaline keluar dari kamar mandi menuju sofa. Sedangkan Stevani tetap berada di kamar mandi karena ia juga butuh membersihkan dirinya.

__ADS_1


*****


"Perawat akan membawakan sarapan, makanlah sebelum kita ke perusahaan sayang. Kau sudah siap kan?" tanya Zionel pada adiknya.


Zaline menganggukkan kepalanya.


"Dokter Herman bersama perawat akan pergi bersama kita, kau ingat dokter Julius kan?"


"Dokter keluarga kita?"


"Benar, ia dan beberapa dokter ahli jantung dari rumah sakit pusat juga akan datang untuk menemanimu ke perusahaan. Jika kau merasa ada yang tidak nyaman pada tubuhmu, segera katakan padanya."


"Bukankah itu sangat berlebihan bang?"


"Kakakmu akan lebih tenang jika kau diawasi banyak dokter." jawab Zionel seraya menatap pintu kamar mandi. "Mengapa istriku sangat keras kepala? Ia sudah berkali-kali melepaskan infusnya." imbuhnya kesal.


"Kakak lebih tahu kondisi tubuhnya, ia wanita yang sangat kuat bang. Abang terlalu memaksanya untuk melakukan perawatan."


"Kondisinya masih belum baik Zaline, bukankah kau menyaksikannya saat pingsan? Mengapa ia lama sekali dalam kamar mandi?"


Zaline terkekeh. "Lihatlah sana..."


Zionel mengangguk seraya beranjak dari sana, ia mendekati kamar mandi dan langsung masuk ke dalam tanpa mengetuknya lagi.


*****


Stevani terkesiap saat di peluk dari belakang. "Apa yang kau lakukan Zio?"


Zionel mengecup pundak istrinya. "Mengapa kau lama sekali?"


"Aku mandi, tentu saja lama. Keluarlah... sebentar lagi selesai."


Zionel membalikkan tubuh Stevani. Pria itu memegang pipi Stevani dengan lembut seraya melahap bibirnya.


"Zio... hent..."


Zionel justru menerobos masuk ke dalam mulutnya saat Stevani mulai memberontak. Pria itu sulit untuk ditolak, justru Stevani akhirnya membalas permainan bibirnya. Keduanya saling memanggut penuh hasrat. Ciu man panjang itu nyaris menghabiskan nafas mereka.


Zionel menghentikan ciu man itu terlebih dahulu, keduanya saling mengatur nafas mereka yang menggebu-gebu.


"Kita akan lanjutkan setelah aku kembali dari perusahaan." ucap Zionel sambil mengecup kening Stevani.


"Kau gila, ini rumah sakit."


"Apa aku tak boleh menci um istriku sendiri?"


"Berhentilah menggodaku, keluarlah aku mau mengganti pakaian."


Zionel menyentuh perut Stevani. "Aku benar benar ingin mengunjungi anak kita."


"Ya Tuhan Zio... keluarlah..." ujar Stevani seraya mendorong tubuh suaminya pelan.


Zionel melepaskan tawanya seraya keluar dari kamar mandi.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2