
Zionel sampai di rumah orang tuanya, ia segera masuk ke dalam rumah. Tanpa menyapa siapapun, ia langsung menaiki anak tangga bahkan sedikit berlari ke arah kamarnya. Pria itu sangat merindukan istrinya, ia sangat menyesal karena tak bisa menemani Stevani ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
Zionel langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk sama sekali membuat Stevani terkesiap di atas ranjangnya saat sedang berbaring.
"Zio... Kau..."
Zionel berlari ke arah ranjang seraya memeluk Stevani dengan erat. Wanita itu tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
"Ya Tuhan... Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Zionel.
"Bukankah kita setiap hari bertemu suamiku?"
Zionel menggelengkan kepalanya. "Beberapa hari ini, aku bahkan tidak bisa berbicara denganmu. Maafkan aku..."
"Aku mengerti kesibukanmu. Ini semua demi Zaline. Zio... bagaimana keadaan Zaline sekarang?"
Zionel melepaskan pelukannya. "Apa kau sama sekali tidak merindukan suamimu ini?"
"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Tentu saja aku sangat merindukanmu."
"Sepertinya Zaline lebih penting dari aku." ucap Zionel sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya Tuhan tuan muda Cruise, apa kau cemburu pada adikmu sendiri?" ejek Stevani sambil terkekeh.
Zionel akhirnya tertawa, ia kembali memeluk istrinya dan berkali-kali mengecup puncak kepala wanita itu.
"Aku hanya bercanda sayang, kondisi Zaline benar benar diluar dugaan. Setelah ia sadarkan diri, ia bahkan seperti tidak pernah mengalami koma. Gadis nakal itu sangat ceria, tanpa merasakan sakit sama sekali."
"Puji Tuhan... Benarkah itu Zio? Artinya ia benar benar sehat seperti sediakala."
Zionel menganggukkan kepalanya.
"Pertemukan aku dengan Zaline, kali ini jangan melarangku lagi. Aku sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya." pinta Stevani.
Sebelum menjawab permintaan Stevani, Zionel mencari cari buku kesehatan ibu hamil, ia ingin melihat hasil pemeriksaan dokter kandungan hari ini. Saat menemukannya, ia langsung membacanya.
"Aku baik baik saja." kata Stevani tak ingin permintaannya ditolak.
"Sayang... kau tidak bisa..."
Stevani melepaskan tangisannya, ia tidak ingin menunggu lagi. Kerinduannya pada Zaline sangat menyakitkan baginya. Setelah tahu Zaline sadar dan cepat membaik, ia tak ingin lagi dilarang untuk menemui gadis kecil itu.
"Oh ya Tuhan..." ucap Zionel seraya memeluk istrinya. "Bukankah aku sudah melarangmu untuk mengeluarkan air matamu sayang. Tangisanmu sangat menyakiti hatiku." imbuhnya.
"Aku sungguh merindukannya, aku tak sanggup lagi menahannya. Rasanya sakit sekali... benar benar sakit Zio... Aku terbiasa bersamanya, tolong izinkan aku menemuinya. Aku dan bayi kita baik baik saja, hanya bertemu saja aku pasti..."
"Ssstttt... Berhentilah menangis sayang. Aku janji akan membawamu menemuinya. Aku tidak akan melarangmu lagi, please don't cry honey."
"Kau janji."
__ADS_1
Zionel menganggukkan kepalanya. "Aku akan membawa kalian malam ini juga."
Stevani melepaskan pelukan suaminya. "Benarkah?"
Zionel tersenyum lalu kembali mengangguk. Tangisan Stevani justru semakin meledak karena terlalu bahagia. Zionel terbelalak, ia menarik istrinya ke dalam pelukannya lagi.
"Ya Tuhan nona cantik, jika kau terus menangis, maka aku tidak akan membiarkan kau turun dari tempat tidur. Aku benar-benar akan mengikatmu." ancam Zionel.
"Zio..." rengek Stevani.
Zionel terkekeh. "Demi apapun sayang, aku benar benar tak ingin melihatmu menangis seperti ini. Suasana pikiran dan hatimu sangat berpengaruh pada kandunganmu. Please... tenanglah demi anak kita juga."
Stevani menghentikan tangisannya, ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya seperti anak kecil membuat Zionel semakin terkekeh geli. Pria itu membantu istrinya menghapus air mata itu di pipi Stevani.
"Simpan air matamu sayang, aku yakin kalian akan kembali menangis saat bertemu Zaline." goda Zionel.
"Mengapa kau sangat menyebalkan?"
"Karena aku suamimu."
"Ciiiih... apa hubungannya?"
"Aku sedang menghibur istriku."
"Kau mengejekku bukan menghibur."
"Bukankah kau akhirnya tertawa."
"Aku sangat ingin mengunjungi anak kita, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat." ujar Zionel sambil mengelus perut Stevani. "Pangeran atau putri papa, bersabarlah... setelah masalah ini selesai, papa akan menjengukmu." imbuhnya.
"Ya ampun Zionel Cruise. Sempat sempatnya kau berpikiran kotor seperti itu."
"Dimana salahku sayang? Aku merindukan istri dan anakku. Sepertinya kau yang tidak sabaran, bagaimana jika..."
Seketika Stevani membungkam mulut Zionel dengan tangannya. "Jangan berpikiran macam macam, cepatlah katakan pada mommy dan daddy, kita harus bertemu Zaline malam ini."
Zionel mengerucutkan bibirnya. "Istriku... aku ingin..."
"Zio..." seketika wajah Stevani memerah karena malu.
Zionel tertawa karena berhasil menggoda istrinya. "Baiklah, kau bersiaplah. Setelah makan malam, kita akan ke rumah sakit. Tapi izinkan aku mandi terlebih dahulu sebelum menemui daddy dan mommy."
Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku sampai melupakan hal itu, aku akan turun dan menyiapkan makan malam untukmu. Kau mandilah terlebih dahulu."
Zionel menggelengkan kepalanya. "Kau tidak boleh bekerja keras. Tetaplah disini sampai aku selesai mandi."
"Tapi..."
"Jika kau keras kepala, aku akan menyeretmu ke kamar mandi dan memberikan hukuman yang pantas untuk kekeraskepalaanmu itu." ancam Zionel.
__ADS_1
"Ckckck... itu sih maumu."
"Kau benar, aku memang menginginkanmu. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat, aku akan menyuruh ponakan kecilku bersabar." jawab Zionel sambil tertawa.
"Pria me sum. Cepatlah mandi... aku tak sabar untuk bertemu dengan Zaline."
"Oke oke... tidak sabaran sekali. Aku mandi sekarang." ujar Zionel seraya mengecup kening Stevani lalu segera beranjak dari tempat duduknya.
Zionel melepaskan kemeja dan celana panjangnya. Pria itu berjalan setengah telan jang menuju kamar mandi tanpa rasa malu sama sekali. Stevani hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah suaminya yang seperti itu.
Stevani mengelus perutnya, ia tersenyum karena akhirnya diizinkan untuk menemui Zaline.
"Baby... sebentar lagi kau akan bertemu tante kecilmu yang imut. Ya Tuhan... aku lupa bertanya pada Zio. Apakah Zaline sudah tahu hubungan kami." pikir Stevani.
Karena sangat penasaran dan tidak sabaran, Stevani segera turun dari ranjangnya. Ia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya perlahan.
"Zio... Aku..."
"Ada apa sayang?" teriak Zionel dari dalam.
"Aku lupa bertanya, apakah Zaline tahu hubungan kita?"
"Hah... apa??? Suaramu kecil sekali..."
"Ya sudah nanti saja."
Pintu kamar mandi seketika terbuka, Stevani terbelalak saat melihat suaminya yang masih telan jang bulat menghampirinya. Pria itu seketika menarik Stevani masuk ke dalam kamar mandi.
"Zio..."
"Aku sudah bilang menginginkanmu. Aku berusaha menahannya, tapi kau justru membangunkannya. Kau sengaja melakukannya, kau sengaja memancing ponakan kecilku."
Dengan cepat Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku hanya..."
Terlambat sudah, Zionel langsung membungkam mulut Stevani dengan sebuah ciu man yang penuh hasrat. Pria itu dengan cepat membuka pakaian istrinya dan melemparkannya ke lantai.
"Ya Tuhan... aku tak sanggup bersabar." ucap Zionel dengan suara parau penuh hasrat.
Zionel langsung menuju ke gunung kembar milik istrinya, ia melahapnya secara bergantian membuat Stevani melenguh kenikmatan.
"Aaarrrgghhh..." de sahan itu terlepas dari mulut Stevani.
Dan suara itulah yang membuat Zionel semakin menggila. Pria itu tanpa henti melahap puncak gunung itu, menghisapnya kuat-kuat membuat Stevani semakin melengkungkan punggungnya. Wanita itu bahkan menelusuri helaian rambut suaminya sambil terus memejamkan matanya.
Sebelah tangan Zionel menelusuri perut Stevani, mengelusnya dengan lembut disana tanpa meninggalkan setiap kecupan di kedua payu dara istrinya. Pria itu menurunkan celana da lam Stevani dengan sebelah tangannya. Bibirnya mulai meninggalkan gunung kembar itu, ia terus mengecup setiap senti tubuh Stevani hingga turun ke bawah.
Dengan mahir kedua jempolnya membuka inti milik Stevani. "Cup..." kecupan itu tepat Zionel berikan di bagian inti itu. Nafas Stevani mulai memburu, dan saat lidah Zionel tiba tiba menyentuh bagian inti miliknya. Suara erangan keras keluar dari mulut Stevani.
*****
__ADS_1
Happy Panas Guys🤣🤣🤣