Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Pertemuan Menyedihkan


__ADS_3

Stevani semakin tidak sabar menunggu, sudah setengah jam berlalu namun suaminya masih juga belum kembali ke kamarnya. Ia berpikiran jelek, ia justru takut ditinggalkan Zionel. Wanita itu turun dari ranjangnya melanggar perintah suaminya agar tetap diam disana. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membukanya.


Namun siapa sangka, secara kebetulan Zionel pun ingin masuk ke dalam kamar. Keduanya sama sama terkesiap. Zionel langsung memiringkan kepalanya menatap istrinya yang terpaku di depannya.


"Kau melanggar janjimu sayang." ucap Zionel.


"Kau lama sekali." jawab Stevani.


"Setelah makan, aku harus berbicara dengan mommy dan daddy. Kau sangat tidak sabaran sayang."


"Aku takut kau meninggalkanku. Aku takut tidak bisa bertemu Zaline."


Zionel menghela nafasnya, ia merangkul pundak Stevani dan membawa wanita itu menuju sofa kamar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Zionel setelah mereka duduk berdampingan.


"Ya Tuhan... aku baik baik saja. Kau bisa mencari tahu tentang ibu hamil jika tidak percaya."


"Aku bukannya tidak percaya sayang, tapi keadaanmu tidak bisa dibiarkan dan diabaikan begitu saja. Kau bisa tumbang jika sama sekali tidak mau makan. Setidaknya asupan makanan itu bisa dilakukan dengan melakukan opname."


"Aku tidak ingin berdebat lagi, aku sudah janji akan mengikuti keinginanmu. Tapi bukankah sekarang yang terpenting bertemu dengan Zaline?"


"Kau juga penting untukku. Tapi ya sudahlah, aku akan membereskan beberapa barang barangmu. Kita berangkat ke rumah sakit."


"Zio... Semalam saja."


"Setidaknya selama 3 hari."


"Zio..."


"Kau tidak ingin berdebat kan, aku pun sama."


Stevani menghela nafas panjang. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan pada suaminya yang keras kepala. Setelah Zionel memasukkan beberapa pakaian di dalam tas, mereka pun keluar kamar. Kedua orang tua Zionel sudah menunggu mereka di ruang keluarga. Untuk menghindari kecurigaan para pelayan keluarga Cruise, maka mereka memberi alasan pergi ke rumah sakit untuk perawatan Stevani.


*****


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit menjadi tegang dan terasa sunyi. Zionel berusaha mencairkan suasana namun tetap saja tidak bisa menutupi perasaan mereka karena akan bertemu Zaline.


Saat mereka semua sudah sampai di rumah sakit. Ketegangan itu semakin terlihat terutama pada Falera Cruise, wanita itu terus berwajah sedih, berkali-kali ia mengepalkan tangannya dan berkeringat dingin.


"Mommy baik baik saja?" tanya Zionel.


Falera menganggukkan kepalanya. "Hanya saja..."


air mata wanita itu merebak keluar sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Oh ya Tuhan..." ucap Nicholas sambil memeluk pundak istrinya.


Zionel menghela nafas panjang, ia pun memeluk pundak Stevani. Belum sampai ke ruangan saja, kesedihan itu mulai terasa. Langkah yang perlahan lahan itu semakin berat saat akhirnya mereka tiba di lantai ruangan perawatan Zaline.


Mereka semua berdiri tepat di depan pintu perawatan Zaline. Zionel kembali menghela nafasnya, ia membalikkan tubuhnya menatap keluarganya yang semakin tegang.


"Inilah ruangan perawatan Zaline, apakah kalian sudah siap bertemu dengannya?" tanya Zionel.

__ADS_1


Mereka semua menganggukkan kepalanya. Zionel menatap Stevani dengan lekat.


"Sayang... bisakah kau mengendalikan emosimu? Pikirkan kondisi tubuhmu sendiri, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Zio benar Vani, jika kau tidak bisa menahan emosimu, lebih baik tidak menemui Zaline." sahut Nicholas.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, aku mohon biarkan aku bertemu dengannya." pinta Stevani.


Zionel menyisir rambutnya dengan jari, ia sangat frustasi berada dalam posisi seperti ini. Pria itu menggenggam tangan Stevani, menganggukkan kepalanya seraya membuka pintu ruangan.


Alex langsung bangun dari tempat duduknya, pria itu terkejut dan langsung menyambut kedatangan mereka. Namun ranjang pasien kosong, mereka semua mencari cari keberadaan Zaline.


"Nona Zaline ada di kamar mandi." ujar Alex.


Tak ada tanggapan atas ucapan Alex, mereka berdiri mematung sambil menatap pintu kamar mandi. Alex tak ingin menyaksikan pertemuan yang penuh haru itu, ia berpamitan keluar ruangan dan meninggalkan mereka semua.


Pintu kamar mandi terbuka, seorang gadis kecil keluar tanpa menyadari kehadiran mereka, karena sibuk mengancingkan pakaiannya sendiri.


"Pak Alex... apa abang belum da..."


Ucapan gadis kecil itu terhenti saat mengangkat kepalanya, mereka semua saling bertatapan dengan mata yang berkaca-kaca. Zaline melepaskan tangisannya saat melihat ayah, ibu dan juga kakak angkatnya berdiri di depannya. Falera berlari ke arah gadis kecil itu, memeluknya dengan erat seraya menangis dengan keras.


Nicholas mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menahan air matanya yang nyaris tumpah, pria itu menghela nafasnya dan terus menatap ke langit langit kamar untuk menahannya. Zionel hanya bisa menepuk pundak ayahnya untuk menenangkan pria itu.


Tentu saja Stevani pun menangis tanpa henti saat melihat adiknya berdiri di depannya, namun kakinya lemah untuk melangkah lagi, ia hanya bisa menyaksikan Zaline memeluk ibunya yang sudah lama tidak ia temui.


"Mommy..." ucap Zaline berkali-kali sambil menangis dengan keras.


"Iya Hae... ini mommy... ya Tuhan... benarkah ini putriku." jawab Falera disela tangisannya.


Nicholas mengangguk seraya melangkahkan kakinya mendekati mereka, pria itu langsung memeluk keduanya dan tak bisa lagi menahan tangisannya. Tangisan itu kembali meledak dan sangat menyakitkan.


Zionel tidak menyadari jika kaki Stevani semakin lemah, wanita itu nyaris terjatuh karena tak sanggup lagi berdiri.


"Sayang..." ujar Zionel sambil menahan tubuh istrinya.


Namun terlambat, Stevani langsung pingsan.


"Vani..." teriak Zionel panik.


Mereka semua menghentikan tangisan pertemuan itu.


"Vani..." "Kakak..." teriak mereka bersamaan.


"Lex... panggil dokter cepat..." teriak Zionel.


Alex mendengar teriakkan Zionel, walaupun ia tak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan, tapi ia segera berlari mencari dokter. Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat juga Alex masuk ke dalam ruangan, mereka kebingungan karena pasien yang mereka rawat hanya sedang menangis memeluk seorang wanita.


"Cepat dok... istriku..." teriak Zionel.


Akhirnya mereka sadar saat melihat seorang wanita terbaring di sofa.


"Segera pindahkan ke ranjang." ujar dokter.

__ADS_1


Zionel langsung mengangkat tubuh Stevani dan membaringkan istrinya ke ranjang Zaline. Dokter langsung memeriksa keadaan Stevani dan perawat dengan sigap memasangkan infus ke tangan wanita itu.


"Dok..." ucap Zionel panik.


"Tuan anda tenanglah jangan mengganggu dokter." pinta seorang perawat.


"Bagaimana aku bisa tenang." bentak Zionel.


"Ya Tuhan... Zio..." ucap Nicholas sambil menarik putranya menjauh dari sana.


"Kak Vani baik baik saja kan? Mom... kakak..." ucap Zaline terus terisak.


"Ia baik baik saja, tenanglah sayang." jawab Falera ikut terisak.


Zionel memukul dahinya sendiri berkali kali karena frustasi saat melihat istrinya semakin memucat.


"Dad... aku sudah bilang kondisinya..."


"Tenanglah Zio, Vani pasti baik baik saja." ucap Nicholas terus menahan Zionel.


Akhirnya dokter selesai memeriksa Stevani lalu menemui mereka.


"Apa pasien sedang hamil?" tanya dokter Herman.


Mereka semua menganggukkan kepalanya.


"Kondisinya lemah karena tidak ada asupan makanan. Soal kondisi kandungannya, sebaiknya pasien diperiksa langsung oleh dokter kandungan dan ruangannya dipindahkan. Kami akan segera menyiapkannya. Anda tak perlu khawatir tuan Zio, istri anda akan segera sadarkan diri." imbuh dokter Herman.


Zionel tak menjawab ucapan dokter, ia justru langsung mendekati Stevani lagi. Nicholas lah yang menanggapi dokter.


"Terima kasih dok atas bantuannya, aku dan ini istriku adalah orang tua Zionel dan Zaline." ucap Nicholas.


"Oh baiklah aku mengerti, tapi sebaiknya nona Zaline juga segera beristirahat. Bagaimanapun ia baru sadarkan diri dari komanya."


"Baiklah... Sekali lagi terima kasih dok." jawab Nicholas.


Dokter Herman menganggukkan kepalanya, ia berpamitan keluar setelah menyuruh perawat untuk menyiapkan ruangan baru untuk Stevani.


Mereka semua mendekati Stevani, Zaline kembali menangis di samping wanita itu.


"Kak Vani... maafkan aku..." ucap Zaline sambil memegang tangan Stevani.


Falera mengusap usap pundak putrinya dengan lembut.


"Kau keras kepala sayang, inilah yang aku takutkan sejak di rumah. Bagaimana jika kau... oh ya Tuhan, aku tidak ingin kehilanganmu." ujar Zionel seraya terisak.


"Tenanglah Zio, dokter mengatakan ia akan segera sadar. Ia lemah karena beberapa hari tidak makan." kata Nicholas.


"Kakak tidak makan?" tanya Zaline.


"Wanita hamil terkadang sulit menghadapi kondisinya sendiri. Kakakmu terus memuntahkan makanannya karena bawaan bayi yang ada di kandungannya. Itu kondisi normal untuk beberapa ibu hamil, tapi juga membahayakan bagi keduanya." jawab Falera.


Zaline hanya bisa mengangguk walaupun ia sama sekali tidak mengerti.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2