Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Rencana Zionel Cruise


__ADS_3

Cukup lama Zionel memikirkan pertanyaan ayahnya. Ia harus mengungkap kebenaran atas menghilangkannya Haena. Jika tebakan awal mereka benar tentang keterlibatan keluarga besar Cruise, maka untuk sementara ia harus menyembunyikan kembalinya Haena.


"Besok Zaline akan datang, awalnya aku, Stevani dan Alex yang akan menyambutnya. Tapi setelah mengetahui jika Zaline itu Haena, sepertinya biarkan aku dan Alex saja yang menjemputnya di bandara. Mommy dan daddy tetaplah menunggu disini bersama Stevani. Itu lebih baik untuk merahasiakan kedatangannya. Jika kalian ikut ke bandara, kalian akan histeris dan mengundang para penumpang yang lain, dan beberapa awak media yang tahu tentang keluarga kita akan meliput berita ini. Jika sampai bocor, kita akan sulit lagi mendapatkan kebenarannya." ujar Zionel.


"Kau benar Zio... Lebih baik kita menutupi penemuan Haena terlebih dahulu sampai semuanya jelas." jawab Nicholas.


"Zio... mommy tak pernah bertanya soal keadaannya karena mommy tidak tahu jika ia adalah putriku sendiri. Apakah keadaan Hae baik baik saja saat ini?" tanya Falera.


"Sementara ini tetap panggil namanya Zaline mom. Stevani sangat sensitif saat ini, ia takut kita memisahkannya dari gadis kecil itu. Kebiasaan panggilan mommy juga untuk menghindari ucapan yang akan membongkar keberadaannya. Menurut dokter yang merawatnya, keadaan Zaline semakin membaik. Beberapa hari ini ia mulai merespon setiap panggilan namanya. Pemulihannya berjalan dengan baik mom, ia akan segera sehat dan berkumpul lagi bersama kita."


Falera tak kuasa menahan air matanya, ia kembali menangis. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Zaline bersama Stevani selama ini, bahkan putri kecilnya sangat menderita karena penyakitnya.


"Mommy... kau bisa drop lagi jika seperti ini terus." ujar Nicholas.


"Aku tidak berada disisinya saat ia sakit, aku tak bisa mendampinginya saat ia melakukan operasi, aku bukanlah ibu yang baik."


Zionel memalingkan wajahnya, kelemahannya ada di air mata ibunya dan juga istrinya sekarang. Ia ikut merasakan sesaknya saat ibunya mengucapkan kata itu. Zionel mengerjapkan matanya agar ia tak ikut menangis di depan mereka, ia menghela nafas panjang untuk menutupi perasaannya saat ini.


"Akulah yang bersalah, adikku berada di depan mataku tapi aku tidak tahu. Aku justru memanfaatkan keadaan Stevani dengan menggunakan kekuasaanku. Jika saat itu Stevani menolak bantuanku, bukankah aku tidak akan pernah menemukannya." ujar Zionel sambil menggertakkan giginya.


"Kalian berhentilah menyalahkan diri sendiri, kesalahan ini adalah tanggung jawabku sebagai kepala keluarga. Aku justru tak bisa menjaga keluarga kecilku sendiri. Untuk apa kekuasaan yang aku miliki saat ini jika keluargaku sangat menderita." sahut Nicholas.


"Dad..." Falera terisak lagi, ia memeluk suaminya dan melepaskan kesedihannya.


Zionel menghembuskan nafasnya dengan keras. "Aku tak sanggup lagi berada disini, mom berhentilah menangis. Kesedihan ini akan segera berakhir mom. Aku akan menangani masalah ini dengan baik dan membongkar kebenarannya. Aku kembali ke ruangan Stevani dulu, lebih baik mommy beristirahat dengan baik. Jangan menemui Stevani sebelum aku memberi kabar kondisinya."


Zionel meninggalkan orang tuanya tanpa menunggu jawaban mereka. Ia tak tahan lagi melihat kesedihan orang tuanya saat ini.


*****


Zionel melangkahkan kakinya menuju ruangan Stevani lagi. Ia melihat Roxy sibuk main game dengan ponselnya di depan ruangan.


"Bagaimana kau bisa tahu jika kakak iparmu sadar jika kau terus sibuk dengan ponselmu Roxy."


Seketika Roxy terkejut, ia nyaris menjatuhkan ponselnya saat mendengar suara Zionel.


"Aku baru saja keluar bang, kakak ipar belum bangun."

__ADS_1


"Jika penjaga keamanan sepertimu, bisa bisa pencuri masuk saja tidak ketahuan."


"Ayolah bang, aku masih waspada menjaga kakak ipar."


"Hubungi Alex jika kau bosan, aku membutuhkanmu sampai besok. Aku dan Alex ada urusan yang mendesak dan harus meninggalkan rumah sakit besok. Apa kau keberatan?"


Roxy menggelengkan kepalanya.


"Jika kau berhasil menjaga kakak iparmu dengan baik, maka aku akan menambah lagi limitnya."


Roxy terbelalak, wajahnya langsung terlihat sangat senang. "Iya bang... aku pasti bisa menjaga kakak ipar."


Zionel mengangguk. "Tetep jaga di luar, tak ada satu orang pun yang boleh masuk ke dalam."


"Siap bos." jawab Roxy.


"Ciiiih... kau bersemangat jika aku membahas soal limit. Dasar anak yang boros." ejek Zionel seraya masuk ke dalam ruangan.


*****


Zionel duduk di samping ranjang istrinya, ia menarik tangan Stevani seraya menggenggamnya.


Tanpa terasa ia mengeluarkan air matanya. Zionel mengumpat dalam hati karena tak mampu lagi menahan kesedihannya. Ia sebenarnya takut tak bisa menahan emosinya saat melihat Zaline besok. Zionel menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata.


"Zio..." panggil Stevani lirih.


Zionel mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil. Ia tersenyum saat melihat istrinya sudah tersadar lagi.


"Zio... mengapa kau menangis?" tanya Stevani.


"Ah... tidak sayang. Sepertinya ruangan ini berdebu, jadi aku mengusap mataku terlalu kasar tadi."


"Kau tidak bisa membohongiku. Mommy baik baik saja kan? Ia masih belum percaya padaku, ia masih marah karena aku menyembunyikan Haena, kau menangis karena keadaan ini sangat sulit buatmu kan?"


"Mengapa kau selalu mengkhawatirkan orang lain sayang? Keadaanmu saja masih seperti ini. Aku tidak menangis, mommy baik baik saja dan kabar baiknya, mommy sudah tahu semuanya. Aku sudah meluruskan kesalahpahaman ini dan ia pun sangat menyesal karena salah menilaimu."


"Kau yakin mommy sudah percaya padaku?"

__ADS_1


Zionel menganggukkan kepalanya.


"Tapi mengapa kau bersedih, aku janji akan mengembalikan Haena pada kalian."


"Apa yang kau katakan sayang? Zaline atau Haena akan bersama kita. Ucapanmu seolah-olah kau yang ingin pergi dariku. Aku tak ingin mendengarnya lagi."


"Aku tidak akan kemana-mana. Aku juga ingin bersama kalian."


"Kalau kau ingin seperti itu, maka jangan berpikir terlalu banyak. Fokus pada tubuhmu yang lemah, jaga anak kita."


Stevani menganggukkan kepalanya.


"Vani... aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi kau harus janji tidak akan salah paham pada tindakanku ini." pinta Zionel.


"Kau membuatku takut. Ada apa Zio?"


"Berjanjilah terlebih dahulu, aku tidak ingin kau salah paham dan marah padaku."


Stevani menyetujuinya.


"Ini soal kedatangan Zaline besok. Sepertinya masalah menghilangnya Hae bukan masalah sederhana. Aku sudah berbicara dengan mommy dan daddy. Untuk membongkar siapa dalang yang sebenarnya, kami berniat menyembunyikan kedatangannya dari siapapun termasuk keluarga besar Cruise. Jadi besok aku dan Alex yang akan menyambut kedatangannya di bandara, hanya kami berdua, aku akan membawa Zaline ke rumah sakit yang lain. Tapi kau tetaplah disini untuk memulihkan kondisimu. Aku tahu kau sangat merindukannya, tapi ini semua aku lakukan untuk melindungi Zaline."


"Maksudmu aku tidak boleh menjemputnya atau menemuinya lagi?"


"Hanya sementara sampai aku membongkar masalah ini. Sayang... aku mohon mengertilah. Aku tidak bermaksud memisahkan kalian. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini."


Seketika Stevani menangis. "Bukankah kau tahu sudah berapa lama aku menantikan pertemuan ini Zio. Aku merindukan Zaline sampai dadaku rasanya sesak sekali. Saat waktunya tiba, kau ingin aku menahan diriku untuk tidak bertemu dengannya lagi. Sakit sekali hatiku Zio, saat aku tahu Zaline itu adikmu saja, aku sudah membayangkan bagaimana rasanya aku tak akan bisa bertemu kembali dengannya. Haruskah aku bersabar lagi?"


Zionel mendekati Stevani seraya memeluk wanita itu. "Ya Tuhan... mengapa aku terus melihat air mata orang yang aku sayangi hari ini? Tolong Vani, berhentilah menangis. Aku tahu perasaanmu, tapi ini juga demi kebaikan adik kita. Tolong mengertilah sayang. Saat ada kesempatan, aku akan membawamu menemuinya."


Stevani terus terisak di dalam pelukan Zionel, dadanya teramat sangat sesak karena harus menahan dirinya lagi untuk bertemu dengan Zaline.


"Sayang... Aku janji tidak akan lama. Aku dan Alex akan segera mencari bukti-bukti yang kuat untuk masalah ini. Kau percaya kan pada suamimu? Beri aku waktu setidaknya satu minggu. Ah tidak... aku akan melakukannya lebih cepat lagi, mungkin tiga sampai lima hari untuk mengungkap semua ini. Setelah itu kesabaran kita akan menjadi kebahagiaan yang tiada henti." ujar Zionel.


Stevani akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia tak boleh egois, ini demi kebaikan Zaline untuk mendapatkan keadilan atas penderitaannya selama ini. Wanita itu menyetujui permintaan Zionel tapi air matanya tak bisa ia hentikan. Mungkin kehamilannya membuatnya lebih sensitif dari biasanya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2