Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Sakit


__ADS_3

Stevani menegang saat mendengar ucapan Zionel. Ia masih tercengang seperti sedang bermimpi saat ini. Zionel melepaskan Stevani lalu menatapnya.


"Katakan padaku siapa yang melakukannya? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada kakimu?" tanya Zionel sambil mengelus pipi Stevani.


Stevani masih dalam keadaan linglung, ia sama sekali tak mendengar pertanyaan Zionel.


"Hei... apa kau mendengar ucapanku? Mengapa kau malah bengong?" tanya Zionel lagi.


"Hah... kau bilang apa?" ujar Stevani masih linglung.


Zionel seketika menarik hidungnya. "Apa yang kau pikirkan sayang?"


Stevani memeriksa kepala Zionel tanpa ragu, ia mengacak acak rambut pria itu dan menolehkan kepalanya kesana kemari membuat Zionel kebingungan.


"Bukankah kau tertusuk di bagian perut, tapi apakah otakmu yang terluka?" tanya Stevani.


Zionel mengerutkan keningnya. "Apa kau sedang mengejekku? Jangan memancingku nona, aku bisa membuatmu menyesal."


Stevani menggelengkan kepalanya. "Aku serius, apa kau baik baik saja?"


"Demi Tuhan... kau justru menggemaskan di saat seperti ini. Apa aku perlu mengulangi ucapanku? Aku hanya takut tidak ada kesempatan lagi untuk mengakuinya. Stevani Yunsu... aku Zionel Cruise sebenarnya sangat mencin..."


Seketika Stevani membungkam mulut Zionel dengan tangannya. Jantungnya berdegup kencang sebelum mendengar ucapan Zionel hingga selesai.


"Ava yong kau lakokan Vane." ucap Zionel tak jelas karena mulutnya terbungkam.


Stevani akhirnya tak bisa menahan tawanya, ia melepaskan tangannya lalu memeluk pria itu dengan erat.


"Aw..." ujar Zionel kesakitan.


Seketika Stevani melepaskan pelukannya lalu memeriksa luka di perut pria itu.


"Kau berdarah lagi, pak Alex..." teriak Stevani panik.


"Ssstttt... aku tidak apa apa." jawab Zionel.


Namun Alex langsung menghambur ke dalam mengganggu suasana romantis mereka. Zionel mengumpat karena belum mendapat jawaban dari Stevani, bukan hanya pertanyaan atas perasaannya, namun luka di pipi dan kaki wanita itu pun belum ia ketahui penyebabnya.


"Ada apa nona?" tanya Alex panik.


"Tolong bawa Zio kembali dan panggilkan dokter untuk memeriksa lukanya. Lukanya kembali berdarah." jawab Stevani.


"Oh ayolah... aku tidak apa apa." ujar Zionel.


"Pak Zio, luka anda bisa infeksi. Kita kembali sekarang." pinta Alex.


"Tolong dengarkan aku dan Alex, Zio..." pinta Stevani sambil memohon pada Zionel.


Melihat kekhawatiran Stevani, Zionel menghela nafasnya dan akhirnya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi kau harus janji tidak boleh turun dari ranjang ini, setelah dokter memeriksa lukaku, aku akan kembali kemari. Kau mau kan mendengarkan aku?" tanya Zionel.


Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku akan menuruti ucapanmu."


Zionel beranjak dari tempat duduknya lalu mencium pipi Stevani. "Masih banyak yang ingin aku ketahui, tapi aku tidak ingin membuatmu khawatir saat ini. Aku akan segera kembali."


Alex membawa Zionel kembali, dengan langkah yang berat pria itu meninggalkan ruangan Stevani.


"Kau benar benar menggangguku Lex." ujar Zionel kesal sambil berjalan ke ruangannya.


"Aku masih mengkhawatirkan luka anda pak Zio." jawab Alex.


"Aku belum mendapatkan jawaban yang aku inginkan."


"Jawaban? Ah... Apa anda menyatakan cinta pada nona Stevani?"


"Ingin sekali aku memukulmu, keingintahuanmu akan memperpendek umurmu Lex."


"Ya Tuhan... amit amit..." jawab Alex membuat Zionel tergelak.


"Katakan Lex, apa yang terjadi saat aku sedang di operasi?"


"Tentang?"


"Jangan pura pura bodoh, kau tahu apa maksudku. Tapi sepertinya rahasia yang dikatakan Roxy adalah masalah ini."


"Lebih baik anda tanyakan saja pada nona Stevani, aku tak terlalu jelas apa yang terjadi. Karena aku datang kemari sudah terjadi."


"Bukan seperti itu pak Zio, tapi aku benar benar tak tahu detail kejadiannya."


"Tapi kau tahu kan siapa yang memukulnya?" tanya Zionel lagi.


"Mungkin karena panik dan salah paham saja pak." jawab Alex.


Zionel menghentikan langkahnya lalu menatap tajam Alex. "Kau sangat berbelit-belit. Siapa diantara keluargaku yang melakukannya?"


"Pak Zio... aku tidak ingin membuat anda salah paham pada keluarga anda. Ini terjadi karena bu Presdir sangat mengkhawatirkan anda, ia juga sempat pingsan saat mendengar anda tertusuk."


"Mommy... Ia yang memukul Stevani? Sejak kapan mommy melakukan hal serendah ini. Ya Tuhan... apa yang ia pikirkan sampai berbuat seperti ini." ujar Zionel terkejut.


"Anda tenanglah pak Zio. Anda bisa bicarakan ini baik baik dengan bu Presdir."


Zionel melanjutkan langkahnya. "Bukankah ia sudah menyetujui hubungan kami, aku semakin tidak mengerti apa yang ia pikirkan. Lalu bagaimana dengan kakinya?"


"Itu ulah anda pak Zio."


Zionel kembali menghentikan langkahnya, ia mengingat kejadian saat penusukan itu terjadi.


"Ya Tuhan... aku begitu panik hingga mendorongnya dengan kuat. Aku dan keluargaku telah menyakitinya." kata Zionel menyesal.

__ADS_1


"Anda bukan menyakitinya, justru anda telah menyelamatkan nyawa nona dan mengorbankan diri anda sendiri pak Zio." jawab Alex.


"Jika ini terjadi pada Stevani, aku tak akan bisa memaafkan diriku karena tak bisa menjaganya. Sekarang aku mengerti apa yang terjadi saat aku tak sadarkan diri, sepertinya mommy menyalahkan Stevani atas kejadian ini. Tapi seharusnya ia tak main tangan, seingatku mommy tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya."


"Bu Presdir sangat panik dan ketakutan saat anda terluka pak. Dan satu hal lagi, ia masih belum bisa menerima nona sepenuhnya masuk ke dalam keluarga Cruise. Jadi aku harap, anda lebih bersabar pada bu Presdir pak."


Zionel melanjutkan langkahnya lagi dan memasuki ruang perawatannya. "Aku tidak akan membiarkan Stevani terluka lagi. Cukup yang terakhir aku melihatnya di pukul seperti itu, aku tidak akan memaafkan siapapun yang melukainya."


"Maksud abang termasuk tante Fal?" sahut Roxy karena mendengar ucapan Zionel.


"Aku sama sekali tidak membenarkan pemukulan seperti ini. Roxy... kau berani merahasiakan hal seperti ini dariku, sepertinya kartu kreditmu sudah siap aku ambil." jawab Zionel.


"Ya Tuhan jangan bang. Mami dan papi tidak memberiku kartu ATM, hanya abang harapanku satu satunya." ujar Roxy.


Zionel menatap Roxy. "Kau lebih banyak menganggur kan, bagaimana jika mulai saat ini kau aku beri tugas untuk mengawasi kakak iparmu. Sekecil apapun yang terjadi dengannya, kau harus melaporkannya padaku. Sebagai imbalannya, aku akan menambah limit kartu kreditmu."


Wajah Roxy seketika berseri, ia tanpa ragu langsung menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Zionel.


Alex membantu Zionel naik ke ranjangnya. "Aku akan memanggil dokter pak."


"Lex... sekalian kau urus kepulanganku dari sini." pinta Zionel.


"Mana mungkin pak, anda..."


Zionel menatapnya dengan tajam membuat Alex menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku akan mencobanya." ujar Alex seraya keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.


"Luka abang berdarah lagi, bang Zio baru saja selesai operasi, setidaknya harus berada disini selama 5 hari bang." kata Roxy.


"Jangan sok tahu, aku tidak akan terkapar hanya karena luka kecil seperti ini."


"Apanya... abang bahkan pingsan saat tertusuk." ejek Roxy.


"Itu karena aku hampir kehabisan darah, apa kau mau mencobanya untuk membuktikan seberapa tahan kau tertusuk." ancam Zionel.


Roxy bergidik. "Ucapan abang benar benar menakutkan."


Zionel terkekeh. "Roxy... seberapa keras mommy menampar Stevani?" tanyanya.


Zionel kembali serius setelah menghentikan tawanya.


"Emmm... sebenarnya kakak ipar sampai terjatuh ke lantai. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kakak ipar memohon dan bersimpuh di kaki tante Fal untuk memaafkannya. Tapi..."


"Sudah hentikan." potong Zionel karena hatinya merasakan sakit yang luar biasa saat mendengarnya. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi." imbuhnya sedih.


Roxy menganggukkan kepalanya, dokter dan perawat serta Alex akhirnya masuk ke dalam ruangan. Dokter terbelalak saat melihat darah di baju Zionel. Mereka langsung memeriksa keadaan luka di perut Zionel lalu dokter tersebut berkali-kali menggelengkan kepalanya.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2