
Zionel masuk ke dalam ruangan, setelah ia berbicara pada perawat yang akan memindahkan Stevani ke ruang perawatan lain. Ia melihat ibunya sudah tertidur pulas di sofa sedangkan ayahnya sibuk dengan ponselnya sambil duduk disana. Zionel menghela nafas panjang lalu tatapannya beralih ke tempat tidur pasien, ia tersenyum lebar saat melihat kedua wanita yang sangat ia cintai dan sayangi sedang tidur sambil berpelukan disana.
"Adegan yang tidak biasa." ucap Nicholas saat melihat putranya terus menatap tempat tidur pasien.
Zionel mengalihkan tatapannya ke ayahnya seraya menganggukkan kepalanya.
"Daddy tak menyangka jodohmu adalah wanita yang menyelamatkan adikmu. Ini benar-benar berkah dari Tuhan untuk keluarga kita." imbuh Nicholas.
"Daddy benar, ini masih seperti mimpi buatku." jawab Zionel sambil mendekati ayahnya.
"Zio... apa Vani akan menyetujui tindakan kita besok? Ia sama sekali belum tahu soal ini, daddy merasa ia akan marah besar jika tahu Zaline akan dibawa keluar demi perusahaan. Ini sedikit tidak masuk akal, kita mengorbankan keselamatan Zaline demi..."
"Aku akan bicara dengannya perlahan." potong Zionel. "Dad... Vani pasti akan mengerti dengan apa yang akan kita lakukan. Walaupun sebenarnya aku pun kurang setuju, tapi kita tidak bisa memikirkan cara lain hanya dalam satu hari. Ini bukan masalah perusahaan ataupun harta keluarga Cruise, tapi kita harus menghentikan keserakahan mereka." imbuhnya.
Nicholas menghela nafas panjang. "Daddy sebenarnya tak tega membuat Zaline ikut turun tangan dalam masalah perusahaan. Usianya masih sangat muda, bahkan ia belum bisa berjalan dengan baik."
"Zaline hanya perlu muncul untuk menguatkan kepemilikan sahamnya, tentu saja ia tidak akan ikut turun tangan mengatasi masalah perusahaan dad. Oh ayolah... jangan membuatku menjadi serba salah lagi. Bukankah daddy yang memutuskan agar Zaline tetap harus muncul besok. Aku sudah membulatkan tekad untuk menuruti keinginan daddy, jangan goyahkan pemikiranku lagi dad."
Nicholas tersenyum. "Baiklah, daddy tidak akan menggoyahkan keputusan ini lagi. Tapi pikirkan caramu untuk memberitahu Vani, wanita hamil lebih sensitif dari biasanya, salah bicara sedikit akan menjadi masalah besar Zio."
Zionel menganggukkan kepalanya. "Dad... bukankah lebih baik pulang saja ke rumah. Lihatlah ruangan ini, tidak ada tempat untuk kalian beristirahat."
"Daddy sudah menghubungi supir, sebentar lagi daddy akan pulang ke rumah. Tapi mommy tetap tidak akan mau pulang Zio, jadi biarkan mommy tetap disini."
Zionel kembali menatap ibunya. "Sepertinya memang harus membiarkan mommy tetap disini. Jika kita memaksanya pulang, itu akan menyakiti hatinya."
Nicholas kembali tersenyum. "Besok daddy akan langsung ke perusahaan."
"Apa daddy akan tetap merahasiakan masalah ini pada om Ram dan om Andre?"
"Tidak... daddy akan menghubungi mereka besok. Masalah rapat pemegang saham tentu saja harus diketahui mereka. Tapi soal kedatangan Zaline besok akan menjadi kejutan untuk semuanya."
"Daddy yakin?"
Nicholas mengangguk. "Sebelum Zaline muncul di rapat besok, daddy ingin melihat wajah keluarga daddy satu per satu. Daddy takut kak Ram atau Andre justru memberi dukungan pada Gilbran."
"Daddy masih mencurigai keluarga yang lain?"
"Zio... sejak daddy tahu siapa yang membuat Zaline hilang, daddy tidak bisa lagi percaya pada siapapun. Kali ini daddy tidak ingin dibodohi lagi dan mengorbankan anak anak daddy."
"Ini pasti berat buat daddy."
__ADS_1
"Sangat..." jawab Nicholas dengan wajah muram. "Kakekmu lah yang akan lebih terluka disana saat tahu sebentar lagi keluarga besar Cruise akan hancur." imbuhnya.
Zionel menggelengkan kepalanya. "Keluarga ini tidak akan hancur dad. Hanya saja kita harus menyingkirkan kerikil kerikil yang menghalangi jalannya. Tentu saja semua itu tidak mudah dad."
"Sepertinya supir sudah tiba, daddy akan pulang sekarang. Jaga mereka baik baik Zio, dan urus semua yang diperlukan untuk Zaline. Ia tetap harus diawasi tim medis saat keluar besok." ujar Nicholas seraya beranjak dari tempat duduknya.
Zionel ikut beranjak namun Nicholas segera mencegahnya.
"Tetaplah disini, daddy masih bisa sendiri."
"Tapi dad..."
"Menurutlah..."
Zionel menghela nafasnya dan akhirnya mengalah, ia tak mengantar ayahnya keluar dari rumah sakit. Nicholas pun meninggalkannya begitu saja.
*****
Zionel menarik selimut untuk ibunya lalu ia mendekati tempat tidur pasien lagi dan melakukan hal yang sama. Namun gerakannya membuat Stevani terbangun dari tidurnya.
"Ya Tuhan... maaf sayang." ujar Zionel.
"Aku ketiduran, jam berapa ini?"
"Aku sudah lebih baik sekarang." jawab Stevani seraya menatap Zaline di sampingnya. "Ia benar benar adikku, seperti inilah jika ia sedang manja padaku. Tapi ia adalah gadis kecil yang mandiri, aku nyaris tidak memiliki waktu menemaninya karena sibuk bekerja tapi ia tetap berada di rumah sendirian tanpa rasa takut untuk menungguku pulang." imbuhnya sedih.
"Hidup kalian sudah sangat berat, jadi jangan menyalahkan diri sendiri. Kau wanita hebat yang mampu mengatasi masalah ini sendirian, aku bangga mendapatkan wanita sepertimu Vani. Saat pertama kali kita bertemu, sebenarnya aku sudah mengagumimu, hanya saja..."
"Kau keras kepala untuk mengakuinya, karena kau merasa tidak mungkin bisa ditaklukkan oleh siapapun apalagi itu seorang wanita. Itulah yang membuatmu terlihat kasar dan arogan Zionel Cruise." ejek Stevani.
"Berhentilah mengejekku nona cantik, walaupun yang kau katakan itu hampir benar tapi..."
"Lihatlah... kau masih saja bersikap arogan. Apa yang aku katakan itu bukan hampir benar tapi memang benar."
"Oh ayolah sayang, beri aku harga diri sedikit. Saat itu aku harus tetap waspada pada siapapun di sekitarku. Sejak Haena hilang, aku benar benar selalu menjaga jarak pada siapa saja apalagi itu seorang wanita. Kau merusak pertahanan diriku, kau muncul dengan pakaian seksi dan sangat cantik. Tapi bukan itu poin utamanya, saat kau bicara aku sangat terkejut karena kecerdasan seseorang bisa dinilai dari cara bicaranya."
"Jadi aku wanita yang cerdas?"
"Tentu saja... Dan kau selalu membuatku penasaran."
Stevani menahan tawanya. Wajah Zionel tiba tiba terlihat sangat bingung, pria itu terus menatap Stevani penuh keraguan.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Stevani.
"Aku memang tak bisa menutupinya darimu sayang. Tapi aku takut kau akan marah jika aku mengatakannya." jawab Zionel.
"Ada apa Zio? Kau membuatku penasaran."
"Ini soal Zaline."
Stevani terbelalak. "Ia baik baik saja kan, apa dokter mengatakan hal buruk tentang kondisinya?"
"Sayang, tenanglah... Ini bukan soal kesehatannya."
"Lalu?"
"Berjanjilah kau tidak akan marah tentang masalah ini." pinta Zionel.
"Tergantung apa yang ingin kau sampaikan padaku."
"Oh ayolah sayang... aku sangat takut menghadapi istriku yang marah."
"Ciiiih... bukankah sebelumnya kau suka sekali berdebat denganku."
"Itu dulu... kau harus menggarisbawahi itu."
"Katakan ada apa Zio? Aku akan mendengarkan dan bersikap lebih tenang."
"Sebenarnya besok adalah rapat pemegang saham yang diatur oleh Gilbran. Pria itu sudah tidak sabar untuk menjadi seorang Presdir. Ia mengumpulkan beberapa pemegang saham kecil dan mulai membelinya dengan maksud untuk memperbesar kepemilikan sahamnya. Jika ia berhasil maka saham miliknya dan milik kami berjumlah sama, dan dengan dukungan beberapa orang lagi, Gilbran bisa menduduki posisi sebagai seorang Presdir pengganti daddy."
"Tunggu Zio... aku benar benar tidak paham soal saham yang kau bicarakan. Jadi bisakah kau langsung ke intinya saja."
"Jadi intinya... hanya Zaline yang bisa mencegah itu semua."
"Sepertinya pikiranku sedang tidak berjalan dengan baik, aku masih tidak mengerti apa yang ingin kau katakan."
"Vani... Zaline memiliki saham paling besar di perusahaan, kau sudah tahu itu kan?"
Stevani menganggukkan kepalanya.
"Besok saat rapat pemegang saham, hanya kehadiran Zaline yang bisa mencegah keinginan Gilbran untuk mengendalikan perusahaan."
Stevani mencerna semua ucapan Zionel, setelah ia sadar maksud keinginan suaminya, wajah wanita itu berubah menjadi tidak senang.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...