Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kebusukan Gilbran Terungkap


__ADS_3

Stevani tak bisa tenang di ranjang pasiennya, setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan khusus ibu hamil. Ia harus berkali-kali meminta Roxy melihat keluar rumah sakit untuk mencari keberadaan Zionel.


"Ya Tuhan... lindungilah Zaline..." pinta Stevani sambil memejamkan matanya meminta pada Tuhan.


"Mengapa mereka masih belum ada kabar juga? Apakah rapatnya masih belum selesai, ini sudah semakin sore. Aku benar benar mengkhawatirkan kondisi Zaline." gumam Stevani seraya melihat ponselnya berkali-kali.


"Roxy..." panggil Stevani.


Pintu ruangan kembali terbuka, Roxy masuk dan menemui Stevani lagi.


"Iya kakak ipar." jawab Roxy.


"Masih belum ada kabar?" tanya Stevani.


Roxy menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya ada apa sih kak? Mengapa kakak sepertinya sangat khawatir? Aku benar benar bingung."


Stevani menatap Roxy, ia ingat ucapan Zionel agar tetap merahasiakan keberadaan Zaline dari Roxy sampai ia kembali ke rumah sakit.


"Aku hanya menginginkan sesuatu darinya." jawab Stevani asalan.


"Ya ampun kakak ipar, kan ada aku disini. Jika kakak membutuhkan sesuatu, bisa katakan saja padaku."


Stevani tersenyum. "Sayangnya bayiku menginginkan ayahnya. Maaf aku sangat cerewet hari ini. Tapi jika ada kabar, segera katakan padaku."


Roxy menghela nafasnya. "Baiklah, jika kakak butuh sesuatu teriak saja seperti tadi. Aku akan memberi kabar kakak ipar jika bang Zi kembali."


Stevani menganggukkan kepalanya dan membiarkan Roxy kembali meninggalkannya. Stevani kembali menatap ponselnya. Pesan yang ia kirimkan masih juga belum mendapatkan balasan.


"Zio... balaslah sekali saja, kau membuatku sangat khawatir." gumam Stevani.


Stevani turun dari ranjangnya, ia berjalan perlahan menuju jendela rumah sakit. Ia menatap ke parkiran, namun karena jaraknya begitu jauh, ia sama sekali tidak bisa melihat mobil suaminya sendiri. Pikirannya yang kalut membuat perutnya menegang, ia meringis karena perutnya tiba tiba kram.


"Maafkan mama sayang, seharusnya mama bisa lebih tenang." ujar Stevani sambil mengelus perutnya sendiri.


Kram di perutnya masih terasa, ia kembali ke ranjangnya lagi dan mulai merebahkan tubuhnya. Air matanya kembali tumpah karena di saat seperti ini, Zionel tak ada di sampingnya. Rasa khawatirnya semakin besar karena suaminya pun tak memberi kabar padanya.


Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini seorang perawat masuk untuk memeriksanya.

__ADS_1


"Nyonya... ada apa?" tanya perawat saat melihat Stevani menangis. "Apa ada yang sakit?" imbuhnya seraya memeriksa tubuh Stevani.


Stevani menggelengkan kepalanya. "Apa pasien bernama Zaline sudah kembali ke ruangannya?"


"Zaline? Sepertinya tidak ada ibu hamil bernama Zaline saat ini."


"Ya Tuhan... apa aku bodoh. Mengapa aku bertanya pasien jantung disini? Benar benar bodoh." pikir Stevani.


"Nyonya mencari pasien itu? Apakah ada hubungannya dengan nyonya?"


"Lupakan saja sus, sepertinya aku salah bicara." jawab Stevani.


"Perut nyonya sangat keras, ini kram. Apa nyonya tidak merasakan sakit? Nyonya tenangkan pikirannya, ini bisa berbahaya untuk janin yang masih muda."


"Baik sus... aku akan berusaha lebih tenang."


Perawat tersebut menyuntikkan obat ke infus Stevani. "Jika kram nya semakin parah, segera panggil kami."


Stevani menganggukkan kepalanya kemudian perawat tersebut meninggalkannya kembali.


*****


"Apa yang sudah kau lakukan sangat keterlaluan Nile. Haena adalah keponakanmu sendiri, anakku. Bagaimana kau bisa tega melakukan semua ini padaku? Saat kau ingin menikah dengan Gilbran, akulah orang yang pertama membantumu. Tapi apa balasan yang aku terima." ujar Nicholas sedih.


"Demi Tuhan kak, aku tidak melakukannya. Semua ini ide suamiku, aku hanya mengikutinya saja. Aku tidak bermaksud membunuh Hae. Aku menyayanginya seperti putriku sendiri." jawab Nile sambil terus menangis. "Kak Ram... aku tidak melakukannya." imbuhnya.


Zionel menggertakkan giginya menahan amarahnya. "Aku tidak sudi lagi memanggilmu tante. Kau bukan lagi bagian dari keluarga Cruise. Kau bahkan tidak meminta maaf, kau justru terus melemparkan kesalahanmu pada suamimu sendiri. Orang macam apa kau ini?" bentaknya.


"Zio... Tante mohon lepaskan tante. Ini memang bukan perbuatan tante. Tante sama sekali tidak melakukannya."


Gilbran tertawa sambil melangkahkan kakinya bergabung dengan mereka.


"Apa kau sedang melempar kesalahanmu padaku sayang? Apa aku yang melakukannya sendiri? Ini semua idemu, kau lah yang menginginkan aku menjadi Presdir di perusahaan Cruise. Kau tidak terima karena ayahmu memberikan saham terbesar pada cucunya bukan padamu putri satu satunya. Mengapa sudah seperti ini kau masih tidak mengakuinya?" ujar Gilbran.


Seketika Nile bungkam setelah suaminya datang. Wajah wanita itu memucat lalu menundukkan kepalanya. Air matanya terus mengalir karena rasa takut yang ia rasakan saat ini.


"Kau sudah gila Nile. Papa memberikan saham pada kita dengan jumlah yang sama besarnya. Jika papa memberikan saham besar untuk Haena itu adalah hal yang wajar. Saat papa butuh hiburan, hanya Haena yang menemaninya. Saat papa sakit, Haena yang selalu merawatnya padahal gadis itu masih kecil. Saat itu kita kemana? Kita sangat sibuk dengan keluarga dan urusan masing masing. Harta ini tidak akan pernah dibawa mati Nile. Kau sama sekali tidak pernah kekurangan dalam hal apapun, mengapa kau sangat serakah?" kata Ramirez.

__ADS_1


"Benar... aku memang marah pada papa. Aku sangat marah padanya." teriak Nile. "Akulah putri satu satunya, akulah anak kandungnya. Tapi papa justru memberikan saham terbesar pada Haena yang hanya cucunya. Bahkan papa memberikan bagian saham itu pada Zionel. Dimana saham untuk Cecil, dimana saham untuk cucunya yang lain. Apakah semua ini adil untukku? Kak Ram, kakak jangan pura pura tidak kesal dengan semua ini. Kakak pun pernah merasa kecewa dengan surat wasiat papa karena kak Nicho yang paling diuntungkan disini." imbuhnya.


"Apa yang kau katakan Nile? Aku sama sekali tidak merasa kecewa. Untuk itulah aku tetap tidak mau berurusan dengan perusahaan Cruise. Aku sejak muda memilih untuk melakukan usaha sendiri. Dan keadilan apalagi yang kau inginkan dari Nicholas? Ia sangat adil mengelola perusahaan. Semua keuntungan ini selalu ia kirimkan sesuai saham yang kita punya, lalu apa kau lupa bahwa ia juga membuatkan rekening khusus untuk anak anak kita, Nicho tetap memberikan uang untuk mereka secara adil setiap bulan." bentak Ramirez.


Nile terkejut. "Rekening khusus? Rekening khusus apa?"


Disaat itulah Nicholas dan Zionel tahu mengapa Nile merasa tidak adil. Sepertinya ini semua memang ulah Gilbran.


"Apa maksudnya? Rekening khusus apa?" tanya Nile lagi.


Nicholas menarik nafasnya dalam-dalam. "Sepertinya rekening itu tidak sampai padamu Nile. Tanyakan pada suamimu sendiri."


"Pria brengsek, seharusnya kau memang ku bunuh saja." umpat Zionel.


"Rekening apa pa... apa maksud mereka? Cecil memiliki rekening khusus dari perusahaan, lalu dimana itu?" tanya Nile.


"A...aa...ada...aku simpan...aaku simpan." jawab Gilbran tergagap.


"Dimana kau menyimpannya? Mengapa aku tidak tahu? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Katakan pa... apa yang kau lakukan di belakangku?" teriak Nile.


"Ma... aku tidak melakukan apapun. Aku... tidak..."


"Sepertinya kau pun tak tahu jika suamimu berniat menodai Haena. Tanyakan padanya." celetuk Zionel.


Nile terbelalak, lagi lagi ia merasa dikhianati oleh suaminya. Wanita itu meraung keras, memukul suaminya berkali-kali. Keributan itu membuat anggota kepolisian melerai mereka.


"Dasar brengsek... kau mengkhianatiku... kau baji*gan... kepar*t..." teriak Nile.


Gilbran menyunggingkan senyumnya seraya meninggalkan mereka untuk kembali ke dalam penjara.


Nicholas, Ramirez dan Zionel ikut beranjak dari sana.


"Kak... maafkan aku... maafkan aku... aku tidak mau masuk penjara... kakak..." teriak Nile lagi.


"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu Nile." jawab Nicholas.


Mereka semua meninggalkan Nile yang terus berteriak, wanita itu segera dibawa petugas untuk kembali ke penjara lagi.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2