
Sesampainya di hotel...
Keduanya pun melangkahkan kakinya masuk kedalam hotel.
"Bagaimana tiket penerbangan besok Lex?" tanya Zionel.
"Sudah beres pak Zio, anda yakin tidak akan membatalkan perjalanan lagi kan?"
"Temui Stevani besok pagi agar ia menandatangani kontraknya, setelah itu baru kita berangkat. Kepulangan kita kali ini tergantung cara kerjamu Lex."
"Aku?"
Zionel menghentikan langkahnya lalu menatap tajam Alex.
"Apa aku harus menyuruh pelayan hotel untuk melakukannya?"
Alex terkekeh. "Bukan itu maksudku pak Zio, aku pikir anda yang akan menangani nona Stevani."
"Aku tidak ingin digigitnya lagi." jawab Zionel.
"Rupanya seorang Cruise takut digigit seorang wanita." ejek Alex.
Zionel menendang kaki Alex. "Aku takut kehilangan kendali bukan takut hal lain Lex, ingat itu...!"
Alex meringis sambil mengelus kakinya. Lalu kembali mengikuti Zionel menuju pintu lift hotel. Setelah sampai di lantai kamar, keduanya pun keluar dari lift. Keduanya melangkahkan kakinya lagi menuju kamar.
"Anda belum makan apapun pak Zio, lebih baik anda memesan sesuatu." ujar Alex.
"Aku tak lapar sama sekali, dan aku rasa aku akan kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulutku saat ini."
Alex kembali melihat bibir Zionel, benar saja bibir pria itu semakin terlihat bengkak.
"Jangan menatapku seperti itu, aku akan lebih baik setelah mengobatinya. Aku lelah..." kata Zionel seraya masuk kedalam kamarnya.
Alex menghela nafasnya, ia pun menuju kamarnya sendiri.
*****
Zionel langsung memasuki kamar mandinya, ia menatap cermin di kamar mandi. Bibirnya benar benar bengkak, gigitan Stevani begitu kuat.
"Kau benar benar melampiaskan kemarahanmu." gumam Zionel.
Ia pun mulai mengolesi salep di bibirnya yang terluka. Sekali sekali ia meringis karena perih. Ia teringat saat mencium wanita itu, entah mengapa ia melakukannya.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Alex sepertinya benar, aku menginginkannya bukan untuk menghukumnya. Saat wanita itu terus marah padaku, berteriak dan memukulku, aku sama sekali tidak memikirkan bagaimana caranya membalasnya, tapi aku justru mencari cara untuk menghentikannya. Dan caraku adalah menciumnya dan merasakan kehangatan bibir itu kembali. Apa aku sudah gila?" pikir Zionel.
Zionel menghela nafas panjang, ia menatap obat obatan yang dibeli oleh Alex.
"Alex sialan, ia benar benar membeli obat anti rabies." gerutu Zionel lalu membuang obat itu ke kotak sampah yang ada di kamar mandi.
Zionel membuka pakaiannya, setidaknya ia harus berendam air hangat di bathtub sebelum ia tidur. Ia menyiapkan airnya di dalam bathtub, setelah siap ia pun masuk dan mulai merendam dirinya.
*****
Stevani menatap kontrakannya yang terasa kosong tanpa Zaline. Semua barang barangnya benar benar sudah dibereskan oleh bu Yoyoh termasuk seluruh pakaian Zaline.
"Akhirnya aku akan meninggalkan tempat ini, apakah pilihanku ini sudah benar? Apakah saat Zaline terbangun nanti, ia tidak marah dengan keputusanku membawanya meninggalkan kota ini. Ya Tuhan... sebenarnya apa yang Engkau inginkan, pria yang menodaiku adalah pria yang membantu pengobatan adikku. Ini bukan suatu kebetulan, ia memang sengaja datang ke rumah sakit setelah malam itu." gumam Stevani sedih.
Stevani memegang bibirnya, ia teringat bagaimana Zionel menciumnya di dalam mobil beberapa saat yang lalu.
"Apa pria itu benar benar sudah gila? Mengapa ia berani menyentuhku lagi? Apa baginya uang untuk pengobatan Zaline adalah uang untuk membeli tubuhku?" gerutu Stevani.
Dengan kesal Stevani kembali mengepak beberapa barangnya yang masih tertinggal. Saat ia melihat boneka kesayangan Zaline, tak terasa air matanya mengalir.
"Aku akan membawa kesayanganmu ini Zaline, kau harus kembali sehat jika ingin bertemu dengannya." gumam Stevani sambil terisak. "Aku tak boleh cengeng, aku harus kuat." imbuhnya seraya kembali mengepak barang barangnya.
Suara ketukan pintu terdengar, Stevani segera menghapus air matanya lalu menuju pintu.
"Siapa?" tanyanya.
Stevani segera membuka pintunya lalu tersenyum saat mendapati bu Yoyoh sedang berdiri di depan pintu.
"Ini sudah sangat larut bu, mengapa datang kemari? Masuklah..."
Bu Yoyoh mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kontrakan Stevani.
"Ibu tidak bisa tidur karena memikirkan neng Vani. Kata tuan Alex, neng Vani akan pulang malam ini jadi ibu menunggu. Maaf ibu dengan lancang membantu neng Vani mengepak barang barangnya. Neng Vani benar benar akan pindah kan?"
Stevani menganggukkan kepalanya. "Tidak ada pilihan lagi bu."
"Neng... tuan Zio itu baik. Ibu yakin neng Van dan neng Zaline akan bahagia."
"Bu Yoyoh belum tahu saja, ia melakukan ini karena sesuatu. Aku tertipu olehnya bu. Tapi aku sudah terlanjur terjerumus ke dalamnya, aku tak bisa mundur lagi, ini semua demi Zaline." pikir Stevani.
"Bu... sepertinya aku akan berangkat besok. Karena Zaline belum bisa dipindahkan, untuk beberapa hari bahkan minggu aku akan merepotkan bu Yoyoh untuk menjaganya. Tapi jika keluarga ibu tak mengizinkannya, ibu tak perlu ke rumah sakit lagi karena memang percuma, ibu tak bisa melihatnya juga." pinta Stevani.
"Neng Vani jangan khawatir, semuanya sudah dikatakan tuan Zio. Ibu janji akan menjaga neng Zaline di rumah sakit. Neng Vani juga jangan pikirkan soal keluarga ibu, mereka tidak mempermasalahkan hal ini. Mungkin neng Vani akan marah dan kecewa pada ibu, sebenarnya tuan Zio memberikan banyak uang untuk ibu. Tuan Zio tak mau ditolak, terpaksa ibu menerimanya neng."
__ADS_1
"Sepertinya semuanya sudah dipikirkan oleh pria itu, bagaimana ia bisa menyelesaikan semuanya hanya beberapa jam saja. Aku tak bisa meremehkan pria itu, ia benar benar pria berkuasa." pikir Stevani lagi.
"Ibu tenang saja, aku tak marah atau kecewa. Itu adalah pemberian dari Tuhan lewat tuan Zio. Terima saja untuk mengembangkan warung makan bu Yoyoh. Selama ini bu Yoyoh sudah baik dengan kami, kami bahkan belum bisa membalasnya."
"Huuussss... neng ngomong apaan sih. Kalian itu sudah seperti anak ibu sendiri. Kalau ada apa apa nanti disana, neng bisa hubungi bu Yoyoh. Sering datang ke kota ini jika tidak sibuk neng."
Stevani tersenyum lalu memeluk wanita paruh baya itu.
"Aku pasti akan merindukan bu Yoyoh." ujar Stevani lalu kembali terisak.
Bu Yoyoh ikut terisak. "Ibu juga pasti akan merindukan kalian neng."
Stevani melepaskan pelukannya, lalu menghela nafas panjang, ia pun mengulas senyumnya berusaha tegar di depan bu Yoyoh.
"Ada lagi yang bisa ibu bantu neng?" tanya bu Yoyoh.
"Sudah tidak ada bu, besok aku tinggal mengurus kepindahan Zaline di sekolah. Kemungkinan siang aku akan berangkat ke kota D. Bu Yoyoh tak perlu mengantarkan aku, karena dari sini ke bandara sangat jauh. Bu Yoyoh cukup menjaga kesehatan. Terus menghubungiku walaupun kita sudah berjauhan." jawab Stevani.
Bu Yoyoh mengangguk, wanita itu kembali terisak. Stevani menggelengkan kepalanya lalu mengusap air mata bu Yoyoh.
"Tolong jangan buat aku semakin berat meninggalkan kota ini bu." ujar Stevani.
"Maafkan ibu neng, ibu menangis karena bahagia, neng akhirnya akan meninggalkan kota X dan orang orang yang selalu merendahkan neng selama ini. Ibu berharap neng benar benar bahagia bersama tuan Zio dan membuktikan pada semua orang yang pernah menghina neng kalau neng Vani hidup dengan baik disana."
Stevani kembali memeluk bu Yoyoh sekilas lalu melepaskannya kembali. Ia memegang kedua lengan bu Yoyoh dengan lembut.
"Sudah waktunya bu Yoyoh pulang dan beristirahat, semuanya sudah beres disini. Aku hanya tinggal membawa barang barang ini besok. Kota ini tetap akan jadi kenangan terindah untukku terutama karena adanya bu Yoyoh bersama kami."
"Baiklah neng, bu Yoyoh pulang dulu ya. Besok kalau tidak keberatan, ibu mau mengantarkan neng ke sekolah."
Stevani tersenyum. "Baiklah aku akan menjemput bu Yoyoh jika akan ke sekolah Zaline besok."
Stevani pun mengantarkan bu Yoyoh keluar kontraknya.
"Jangan mengantarkan ibu neng, neng Vani beristirahat saja."
"Terima kasih bu untuk semuanya."
Bu Yoyoh menyentuh pipi Stevani lalu meninggalkannya untuk kembali ke rumahnya. Stevani hanya bisa menatap punggung bu Yoyoh dengan sedih saat wanita paruh baya itu mulai melangkahkan kakinya.
"Terima kasih atas semua yang bu Yoyoh lakukan untuk kami, semoga Tuhan membalas kebaikan ibu. Aku janji akan datang kemari untuk menengok keadaan bu Yoyoh. Zionel Cruise tidak punya hak untuk melarangku pergi kemanapun." pikir Stevani.
Ia pun kembali masuk ke dalam kontrakannya.
__ADS_1
*****
To Be Continue...