Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Mulai Terungkap


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Seperti dugaan mereka, Zionel semakin sibuk. Pria itu nyaris tidak bertemu dengan istrinya karena disaat ia pulang ke rumah, Stevani pasti sudah terlelap dalam tidurnya. Zionel hanya bisa mengecup kening istrinya dan membuat wanita itu terbangun sebentar lalu tertidur lagi.


Namun ia harus menahan situasi itu demi mendapatkan kebenaran atas menghilangkannya Haena. Zionel juga harus menahan rasa rindunya pada Stevani karena benar benar sibuk mempersiapkan bukti bukti yang kuat yang mengarah pada pelaku kejahatan dalam keluarganya.


Tepat hari ini, Andreaz Cruise datang ke rumah besar. Nicholas memintanya untuk datang demi menyelesaikan masalah dalam keluarganya satu per satu.


Pria itu melangkahkan kakinya dengan ragu karena ini pertama kali kakaknya memintanya datang secara pribadi ke rumah besar Cruise.


"Tuan Andreaz." sapa salah satu pelayan di rumah itu. "Tuan Nicho sudah menunggu anda di ruang kerjanya." imbuh wanita itu.


"Mengapa harus ke ruang kerja? Sebenarnya ada apa ini?" pikir Andreaz mulai ketakutan.


Namun tentu saja ia tak bisa mundur atau lari jika kakaknya sudah memintanya seperti itu. Dengan langkah yang berat Andreaz mendekati ruang kerja Nicholas. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengetuk pintunya.


"Masuk." suara bariton Nicholas terdengar dari dalam ruangan.


Andreaz menelan saliva nya lalu mendorong pintu itu dan masuk ke dalam ruangan.


"Kak..." ujar Andreaz ragu.


"Duduklah." jawab Nicholas datar.


Andreaz pun duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut sambil menunggu kakaknya berbicara. Nicholas mendekati adiknya, ia langsung membanting berkas di meja depan Andreaz.


"Lihatlah..." perintah Nicholas.


Tangan Andreaz mulai gemetar saat mengambil berkas itu. Matanya langsung terbelalak saat membaca isinya.


"Kak... Aku hanya..."


Tatapan Nicholas tajam membuat Andreaz seketika menutup mulutnya.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan seperti ini Andre? Kau sudah memiliki keluarga sendiri. Jika istri dan anakmu tahu, apa yang akan terjadi pada hidupmu hah?"


Andreaz menundukkan kepalanya.


"Aku tidak melarangmu untuk perduli pada sesama dan bagi orang yang membutuhkan. Tapi tujuanmu ini sungguh berbeda. Kau sengaja membantu yayasan itu karena pemiliknya adalah cinta pertamamu. Apa kau sudah gila hingga berniat menggali kuburmu sendiri? Demi Tuhan Andre, melangkahlah ke depan jangan lagi menoleh ke belakang. Kau lupa jika putramu semakin dewasa. Apa kau rela kehilangan anak dan istrimu hanya karena masalah seperti ini?"


"Kak... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Saat itu..."


Andreaz mulai menceritakan pertemuannya kembali dengan Arletty Lojaya tanpa sengaja. Dengan sabar Nicholas mendengarkan ucapan adiknya.


"Jadi seperti itu kejadian sebenarnya, aku sama sekali tidak sengaja melakukannya. Aku juga memakai uang perusahaan sesuai jumlah donasi, sama sekali tidak melebihi budget yang diberikan perusahaan." ujar Andreaz di akhir ceritanya.


"Ini bukan masalah uang Andre. Ini masalah keluargamu, aku marah karena ingin kau melindungi keluargamu sendiri. Jangan kau hancurkan keluargamu karena kesalahpahaman seperti ini. Kau bisa berbicara denganku dan menyerahkan masalah donasi padaku. Tapi kau justru menyembunyikannya dan turun tangan sendiri, kau tentu memiliki tujuan untuk terus bertemu dengannya kan?"


"Demi Tuhan tidak kak, selama satu tahun terakhir ini aku baru dua kali menemuinya, itupun karena ia meminta bantuanku untuk persiapan acara penggalangan dana di yayasan itu. Aku mencintai istriku saat ini, aku tidak ingin kehilangan mereka."


"Kalau begitu hentikan semua ini." kata Nicholas tegas.


Andreaz terbelalak, jika ia menghentikan dana donasinya, maka yayasan Arletty Lojaya akan hancur seketika.


"Maksud kakak, kakak akan tetap membantu yayasan itu?"


Nicholas menghela nafas panjang. "Kau pikir aku akan menghentikan donasi karena masalah pribadi, Andre apa kau baru mengenal kakamu ini? Aku hanya ingin kau menjauh dari wanita itu. Biarkan kami yang mengatasinya, ini demi keluargamu. Jika kau sekali saja menemuinya, maka aku akan menghen..."


"Baik kak aku janji." potong Andreaz. "Aku tidak akan menemuinya lagi, tapi tolong tetap bantu yayasan itu. Bukan karena pemiliknya, tapi karena anak anak yang ada disana. Aku melihat mereka secara langsung dan mengetahui bagaimana kesulitan mereka." imbuhnya.


Nicholas beranjak dari tempat duduknya seraya berdiri di samping adiknya, ia menepuk pundak Andreaz.


"Kau tahu mengapa aku sangat menyayangimu Andre? Itu karena kau memiliki jiwa sosial yang tinggi sama persis seperti papi, kau juga sangat bertanggung jawab dengan pekerjaanmu. Aku minta maaf karena tak bisa lagi menjaga keluarga besar Cruise dengan baik." ujar Nicholas.


Andreaz terbelalak saat mendengar ucapan kakaknya. "Apa maksud kakak?"


"Aku lalai, sebentar lagi kau akan tahu apa maksudku ini. Apapun yang terjadi nanti, aku harap kau tetap menjadi adikku yang seperti ini. Kita akan memperbaiki kelalaian itu bersama sama. Andre... apa yang aku katakan hari ini jangan kau katakan pada siapapun termasuk keluargamu. Kau cukup diam dan menunggu akhir dari semua ini."

__ADS_1


"Kakak... aku masih tidak paham."


"Pergilah, kembali ke perusahaan dan bekerja dengan baik."


"Kak..."


"Jika kau bertanya lagi, aku akan mengatakan masalah ini pada istrimu." ancam Nicholas.


"Oh ya Tuhan... Kau membuatku penasaran. Tapi baiklah, aku akan mendengarkanmu. Kak... Jika kau memiliki masalah, aku bisa membantumu."


Nicholas menggelengkan kepalanya. "Saatnya tiba nanti, kau pun akan menyaksikannya. Cukup diam saat ini Andre."


Andreaz menganggukkan kepalanya saat melihat wajah Nicholas yang tiba tiba sangat sedih. Ia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi, namun ia harus tetap diam seperti permintaan kakaknya.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke perusahaan. Kak... terima kasih soal ini. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Apapun yang terjadi, aku Andreaz Cruise akan mendukung kakak sepenuhnya. Kak... ada kami bersamamu jadi jangan menunjukkan wajah seperti ini lagi."


Nicholas menyeringai. "Aku tahu kau akan berada disisiku. Pergilah..."


Andreaz menghela nafas panjang, ia beranjak dari tempat duduknya seraya berpamitan pada kakaknya. Pria itu keluar dari ruang kerja Nicholas namun ia terus mengerutkan keningnya sambil terus berpikir.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kak Nicho? Mengapa ia terlihat sangat serius? Mengapa aku kembali merasa takut? Aku sudah lama tidak melihat wajah kak Nicho yang seperti itu, apa masih ada masalah dalam keluarga Cruise ini?" pikir Andreaz sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Sedangkan Nicholas kembali melihat berkas yang ia terima dari Zionel semalam, tanpa terasa air matanya mengalir. Rasa kecewa yang luar biasa membuncah di dalam hatinya. Ia tak. menyangka ini akan terjadi pada keluarga besar Cruise yang selama ini ia jaga.


Nicholas mengepalkan tangannya lalu memukul mejanya dengan keras. "Mengapa kau tega melakukan ini pada keluargamu? Mengapa?" teriaknya.


Nicholas melempar barang barang yang ada di mejanya hingga menimbulkan kegaduhan. Pelayan segera menghampiri ruang kerja itu.


"Tuan Nicho anda baik baik saja?"


Nicholas menarik nafasnya lalu memberikan isyarat dengan tangannya agar pelayan itu pergi. Beruntung Falera sedang menemani Stevani ke dokter kandungan. Jika tidak, apa yang ia lakukan bisa membuat mereka semua panik.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


__ADS_2