
"Sialan..." umpat Zionel saat bertemu dengan Alex di luar ruangan.
Alex seketika menjauh karena yakin ialah penyebab kekesalan atasannya.
"Mendekatlah Alex Rudiart, kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sebelum aku diberi hukuman oleh adikku."
"Pak Zio... ini tidak seperti yang anda pikirkan. Aku hanya terpaksa mengatakannya pada nona Zaline. Ini seperti kepalang tanggung karena keceplosan."
"Kepalang tanggung kepalamu... Jadi aku boleh motong gajimu karena kepalang tanggung karena kesal."
"Bu...bu...bukan seperti itu. Oh ayolah pak Zio, nona Zaline hanya ingin memberi hukuman pada anda dengan memisahkan nona Stevani beberapa ha..."
Alex terbelalak dan menghentikan ucapannya sendiri, ia kembali keceplosan membuat Zionel terkejut.
"Sialan... sudah kuduga itulah yang ia pikirkan. Alex... kau harus merasakan kegilaanku nanti..." ujar Zionel sambil menggertakkan giginya.
"Pak Zio... ini hanya..." Alex mulai gugup tapi dalam hatinya ingin tertawa melihat atasannya yang mulai ketakutan.
"Hanya apa? Kemarilah Lex..."
Alex justru semakin menjauh, ia tak ingin lagi merasakan tendangan keras dari Zionel.
"Lex..." geram Zionel.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Nicholas keluar dari ruangan.
Zionel menatap tajam Alex seraya mengacungkan jarinya seolah olah sedang berkata "TUNGGU SAJA KAU" pada Alex.
"Apa mereka sudah tidur?" tanya Zionel.
Nicholas menganggukkan kepalanya. "Zaline tidak ingin melepaskan Vani. Jadi keduanya tertidur diranjang, sedangkan mommy akhirnya tertidur juga di sofa. Perawat masih belum datang untuk memindahkan Vani?"
Zionel menggelengkan kepalanya. "Aku akan berbicara dengan perawat untuk membiarkan Vani tetap di ruangan ini malam ini. Tapi daddy dan mommy harus beristirahat di rumah, rumah sakit bukan tempat yang baik untuk kalian apalagi tidak ada tempat tidur yang layak di dalam ruangan."
"Apa kau pikir daddy bisa membawa mommy mu pulang Zio. Ia akan terus menempel pada Zaline. Mereka baru saja bertemu, melepaskan kerinduan selama 5 tahun lebih tidak secepat itu."
"Daddy benar, tapi aku hanya mengkhawatirkan kesehatan kalian."
__ADS_1
"Kami sangat sehat, biarkan kami tetap disini Zio."
"Baiklah jika itu keinginan kalian. Lalu bagaimana dengan rapat pemegang saham besok? Daddy sudah melihat keadaan Zaline kan?"
"Untuk apa Alex berdiri sejauh itu? Lex... kemarilah... kita sedang membicarakan masalah perusahaan." pinta Nicholas.
Alex menatap Zionel, dengan terpaksa pria itu mendekati mereka. Setelah Alex mulai mendekat, Nicholas mulai berbicara.
"Setelah melihat keadaan Zaline, sepertinya putriku itu sangat kuat untuk menghadiri rapat pemegang saham besok. Kita tidak bisa membuat surat pengalihan saham dalam semalam Zio. Jadi permintaan Zaline untuk pergi ke perusahaan memang tepat, kita harus datang dan menghancurkan keserakahan Gilbran. Dan tentu saja besok pihak kepolisian juga harus dikerahkan untuk menangkapnya."
"Tapi dad... Zaline baru satu hari terbangun dari komanya. Ini memang sebuah keajaiban karena ia terlihat baik baik saja. Tapi aku masih mengkhawatirkan keadaannya."
"Saat anda pulang, dokter Herman sudah memeriksa keadaan nona Zaline pak. Walaupun masih dalam penyembuhan, tapi dokter mengizinkan nona Zaline untuk keluar dari rumah sakit sebentar, lalu setelah itu ia harus segera kembali kesini." ujar Alex.
"Zaline hanya seorang gadis kecil, ia memiliki trauma dalam kasus penculikan lima tahun yang lalu. Ia juga pasti ketakutan saat bertemu dengan Gilbran si brengsek itu. Apakah ada jaminan jika ia akan baik baik saja besok? Aku tidak ingin kehilangan Zaline untuk kedua kalinya." ucap Zionel.
"Nona Zaline lebih dewasa dari usianya, dan ia terlihat sangat kuat persis seperti nona Stevani. Jika anda melarangnya pergi besok, aku yakin ia akan kabur dari sini untuk menyelamatkan perusahaan Cruise. Itulah yang aku lihat saat berbicara dengannya tadi."
"Dan membuatmu hilang akal sampai mengatakan semuanya, sialan..."
"Daddy setuju dengan Alex, Zaline bukan hanya gadis kecil yang tak tahu apa apa Zio. Adikmu sangat cerdas, ia dewasa diusianya yang masih muda. Hilangnya Haena saat itu dan bertemu dengan Stevani adalah sebuah berkah dan jalan dari Tuhan untuk keluarga Cruise. Kesampingkan rasa khawatirmu itu. Besok kita bawa Zaline ke perusahaan bukan berarti tanpa persiapan. Bicarakan ini dengan dokter Herman, dan hubungi dokter Julius. Kita bawa beberapa dokter ahli yang akan mendampingi Zaline, jika terjadi sesuatu padanya ada dokter ahli yang akan siap menanganinya. Yakinkan hatimu untuk bertindak Zio, segera selesaikan masalah kegilaan dalam keluarga Cruise. Hentikan kebutaan hati Nile dan suaminya karena harta, mereka harus segera sadar atas perbuatannya." ujar Nicholas dengan wajah sedih saat menyebut nama adiknya.
"Dad... hukuman mereka akan berat karena perbuatan mereka. Aku tidak perduli dengan Gilbran tapi tante Nile..."
"Apa kau goyah karena hubungan keluarga Zio? Aku sudah memutuskan hubungan ini setelah tahu semuanya, walaupun Nile dipengaruhi suaminya, tetap saja ia ikut bersalah. Atau mungkin sejak awal, Nile lah yang mempengaruhi suaminya. Apapun itu, daddy sudah siap dengan keputusan ini. Zaline Haena Cruise harus diberi keadilan."
"Zaline Haena Cruise?"
Nicholas tersenyum. "Bukankah nama itu cantik saat disatukan?"
"Ya Tuhan terima kasih dad. Nama itu akan membuat Stevani senang. Zaline Haena Cruise, benar benar cantik. Baiklah, kali ini aku akan menyetujui pendapat kalian. Zaline akan hadir saat rapat pemegang saham besok. Daddy kembalilah ke dalam, aku masih ada urusan dengan Alex."
"Maaf pak Zio, aku harus segera pulang. Ini sudah melebihi jam kerjaku." jawab Alex mulai takut lagi.
"Kapan kau boleh mengatur jam kerja saat bersamaku?" tanya Zionel. "Kau sudah bosan menjadi seorang asisten?" ancamnya.
"Ah... bukan seperti itu pak."
__ADS_1
"Hentikan Zio, Alex sudah bekerja keras membantu keluarga ini. Kau selalu saja bersikap keras padanya."
"Ini semua karena ulahnya sendiri dad."
"Apa kau pikir Zaline tidak akan tahu jika Alex tidak mengatakannya? Bukankah lebih cepat lebih baik adikmu tahu tentang hubunganmu dengan Vani."
"Tapi setidaknya nanti dad, aku masih mengkhawatirkan kondisi Vani. Sedangkan Zaline bersiap-siap memisahkan kami."
"Hah... Maksudmu Zaline akan memberikan hukuman seperti itu?" tanya Nicholas.
Zionel menganggukkan kepalanya.
Nicholas kali ini melepaskan tawanya. "Sepertinya ia sangat tahu kelemahan kakaknya sekarang. Anak yang cerdas, daddy bangga padanya."
Zionel terbengong, ayahnya justru setuju dengan penyiksaan yang akan ia alami nanti. Alex terus menahan tawanya. Kekesalan Zionel memuncak, pria itu menendang kaki Alex tepat di tulang kering kakinya. Seketika Alex mengelus kakinya yang nyeri, itu lebih baik daripada gaji atau bonusnya dipotong pria itu.
"Ah... sudahlah... didalam kesedihan pertemuan ini, ada kalian yang sangat menghibur hatiku. Aku berharap tidak akan adalagi kesedihan untuk keluarga kita." ujar Nicholas lalu mendekati Zionel.
"Putraku... bersiaplah untuk berpisah sementara dengan istrimu." ejek Nicholas sambil menepuk pundak Zionel.
"Oh ya Tuhan... aku berhutang apa di kehidupan sebelumnya, mengapa tidak ada satupun yang mendukungku?" keluh Zionel.
Nicholas kembali terkekeh seraya meninggalkan mereka masuk ke dalam ruangan. Seketika Alex menjauhi Zionel setelah Nicholas meninggalkan mereka.
"Kau..."
"Pak Zio aku pamit pulang, besok pagi aku akan segera kemari." potong Alex.
Zionel kembali mengumpat melihat tingkah Alex. "Pulanglah, kau tak perlu kemari besok. Langsung saja ke perusahaan dan siapkan semua berkas yang akan kita bawa ke rapat nanti termasuk berkas saham kepemilikan Zaline. Tetap lakukan semuanya dengan normal Lex, kita beri kejutan pada pria brengsek itu."
"Baik pak..." jawab Alex sambil membungkukkan tubuhnya.
Alex segera pergi meninggalkan Zionel sebelum pria itu kembali murka atas perbuatannya.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1