Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Suasana Haru


__ADS_3

Suasana haru kembali terjadi saat Zaline menceritakan semua yang terjadi 5 tahun yang lalu pada orang tuanya. Mereka sedang duduk di sofa ruangan, kecuali Zionel yang terus berada di samping Stevani. Nicholas dan Falera terus mengutuk perbuatan Gilbran pada putri mereka.


"Namun Tuhan mengembalikan putriku dalam kondisi baik, terima kasih Tuhan..." ujar Falera disela tangisannya. "Hae... kau masih sama seperti 5 tahun yang lalu, kau tetap putriku yang imut." imbuhnya kembali memeluk Zaline.


"Daddy akan memberikan keadilan untukmu, daddy akan membalas perbuatan mereka. Nak... selamat datang kembali dalam keluarga Cruise." ucap Nicholas.


Zaline mengangguk. "Aku merindukan kalian, rasanya sungguh menyakitkan harus jauh dari kalian karena ancaman mereka."


"Kau masih kecil putriku, mengapa kau berusaha melindungi kami tanpa mengatakan apapun? Seharusnya kami yang melindungimu nak. Mommy hancur saat kehilanganmu."


"Maaf mom... maaf... Jika saja aku tidak bertemu dengan kak Vani, mungkin saja aku tidak bisa lagi bertemu kalian. Kakak adalah malaikat pelindungku, ia rela berkorban apapun demi aku yang bukan adik kandungnya sendiri. Ia rela dihina, dicaci maki demi mendapatkan uang untuk pengobatanku. Kak Vani berhak mendapatkan kebahagiaan, ia sangat baik."


"Kau benar, ia adalah wanita yang sangat baik. Daddy sangat berhutang budi padanya."


"Hae... mommy minta maaf. Mommy pernah melakukan kesalahan pada Vani. Mommy menghinanya, memukulnya, bahkan sempat mengusirnya. Mommy menyesal telah melakukan itu."


Zaline menggelengkan kepalanya. "Salah paham terkadang membuat pikiran kita buruk mom. Walaupun aku terkejut dengan cerita pak Alex, tapi aku sangat memahami mommy. Hanya saja, mommy harus lebih mengendalikan diri sebelum bertindak. Kakak cukup menderita karenaku, aku tidak ingin kakak kembali menderita."


"Dengarkan putri kita mom, ia lebih dewasa darimu. Daddy sangat bangga padanya."


"Mengapa pemikiranmu sangat dewasa sayang?" tanya Falera.


Zaline menatap Stevani lagi. "Kakak... semua sikapku karena kakak. Ia yang mengajarkan aku segalanya. Ia wanita yang luar biasa."


"Mengapa ia masih belum bangun mom? Aku bisa gila jika seperti ini." ujar Zionel.


"Zio... Vani adalah wanita yang sangat kuat, ia hanya sedang beristirahat saat ini." jawab Falera.


"Mengapa perawat belum juga datang untuk memindahkannya, rumah sakit ini tidak sebaik rumah sakit pusat. Bagaimana aku bisa tenang mom?"


Zaline beranjak dari tempat duduknya kembali mendekati ranjang. "Kak Vani, bangunlah... Zaline sangat merindukan kakak."


Suara Zaline mampu membangunkan Stevani, wanita cantik itu mengerjapkan matanya, dan akhirnya terbuka lebar menatap datangnya suara.


"Sayang kau bangun..." ujar Zionel.


"Kakak..." ucap Zaline.


Air mata Stevani merebak, wanita itu sesenggukan sambil mengangkat tangannya untuk membelai wajah Zaline. Zaline menangis sambil memegang tangan Stevani yang ada di pipinya.


"Kakak... Zaline... kembali kak..."


Seketika Stevani bangun, ia menarik Zaline ke dalam pelukannya. Menangis dengan hebatnya membuat semuanya kembali menangis. Bahkan Zionel pun tak bisa menahan air matanya lagi melihat kedekatan mereka.


"Uh... aku bisa gila berada disini." ucap Zionel sambil menghapus air matanya sendiri.


"Aku merindukanmu... Aku tidak bisa hidup jika kau tak bangun lagi Zaline... Aku nyaris gila karena harus berpisah denganmu." ujar Stevani disela isakannya.

__ADS_1


"Maaf... Zaline selalu membuat kakak khawatir. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan kakak sendirian. Aku akan terus bersama kakak." jawab Zaline masih terisak.


Stevani melepaskan pelukannya, ia memeriksa tubuh Zaline. "Kau baik baik saja, kau yakin sama sekali tidak merasakan sakit. Setelah operasi, kau koma sangat lama. Apa sama sekali..."


"Tidak kak... aku tidak apa apa. Bekas jahitan pun hampir kering, hanya beberapa luka di punggung yang masih perih." jawab Zaline.


Stevani langsung membalikkan tubuh Zaline lalu memeriksa punggung gadis kecil itu. Stevani terkesiap saat melihat luka seperti terbakar di punggungnya. Mereka semua tersenyum disela tangisan mereka saat melihat sikap Stevani pada Zaline. Kasih sayang itu terlihat dengan jelas tanpa ada kepura-puraan.


"Kau tidak perlu panik sayang, itu hanya luka normal karena ia lama berbaring di ranjang." kata Zionel.


"Bang Zio benar kak, ini bukan luka dalam." sahut Zaline seraya membalikkan tubuhnya lagi.


"Ini bukan mimpi kan? Kau benar benar sembuh seperti dulu lagi?"


Zaline mengangguk seraya memeluk Stevani lagi. "Aku kembali... aku benar benar kembali seperti dulu."


Stevani kembali terisak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Demi Tuhan sayang kendalikan emosimu, kau bahkan membuatku nyaris mati melihatmu pingsan. Kondisimu benar benar tidak baik saat ini." pinta Zionel sambil mengusap punggung istrinya.


"Maaf..." jawab Stevani. "Zaline kau harus berbaring, aku mengambil tempat tidurmu. Kau harus beristirahat dengan baik untuk memulihkan kesehatanmu."


Zaline langsung naik ke atas ranjang membuat Stevani menggeser tubuhnya karena belum sempat turun dari sana. Gadis kecil itu langsung memeluk tubuh Stevani.


"Aku rindu tidur seperti ini." ujar Zaline.


Tangisan mereka seketika berubah menjadi tawa geli saat melihat sikap manja Zaline pada Stevani. Zionel membantu istrinya kembali berbaring di ranjang. Pria itu mengecup kening Stevani dengan lembut.


"Berhentilah menggoda kakakku, setelah aku pulang dari rumah sakit, aku akan memberikan hukuman yang pantas untuk abang, tunggu saja." ancam Zaline.


"Hah... hukuman? Apa salahku gadis nakal?"


"Ck... pura pura lupa. Bang Zio sudah membuat kak Vani menderita saat di kota X. Aku harus membalas perbuatan abang."


Stevani terkekeh geli sedangkan Zionel langsung mengumpat dalam hati.


"Alex harus aku beri pelajaran. Hei nona, itu sudah berlalu jangan menyimpan dendam, bisakan?"


Zaline menjulurkan lidahnya.


"Kau... berani sekali mengejekku."


Stevani menatap suaminya dengan tajam. "Apa yang ingin kau lakukan pada adikku?"


"Oh ya ampun, mom...dad...apa yang harus aku lakukan? Mereka bekerja sama untuk menghukumku."


"Jika itu pantas, maka kami akan mendukungnya." jawab Falera seraya terkekeh.

__ADS_1


Zionel menatap ayahnya.


"Aku mendukung kedua putriku." sahut Nicholas ikut terkekeh.


"Ya Tuhan... lalu siapa yang ada di pihakku? Dengarkan abang Zaline, saat itu hanya kesalahpahaman saja. Aku memperlakukan Vani karena..."


"Karena sikap abang yang arogan." potong Zaline.


"Bu... bukan seperti itu."


"Bahkan abang melakukan kesalahan besar saat kakak mabuk, bang Zio seperti bukan pria sejati memanfaatkan keadaan."


"Zaline hentikan..." pinta Stevani malu.


"Waktu itu... aku..." Zionel menelan saliva nya lalu menghela nafas panjang. "Aku jatuh cinta pada kakakmu sejak pertama kali bertemu. Aku kehilangan kendali atas diriku karena sangat menginginkannya. Ayolah Zaline, aku sudah bertanggung jawab. Aku akan menebus kesalahanku selama sisa hidupku." imbuhnya.


"Berhentilah mengerjai abangmu." bisik Stevani.


Zaline menahan tawanya. "Hukuman tetap hukuman, abang harus menerimanya."


"Sayang bantu aku..."


Stevani mengangkat kedua bahunya sambil memeluk Zaline.


"Zaline... abang bisa membaca pikiranmu. Hukuman yang akan kau berikan pasti sangat membuatku menderita, beri keringanan sedikit."


"Apa kak Vani mendengar sesuatu? Sepertinya ada lebah dalam ruangan ini." ejek Zaline.


"Kau..." seketika ucapan Zionel terhenti saat melihat tatapan Stevani yang tajam. "Sepertinya aku harus bertemu dengan Alex." imbuhnya seraya meninggalkan mereka.


Zaline melepaskan tawanya, ia sangat bahagia setelah berhasil menggoda Zionel. Falera dan Nicholas mendekati mereka. Keduanya menggelengkan kepalanya.


"Kau usil seperti dulu Hae." ucap Falera.


"Aku rasa semakin usil mom." sahut Nicholas.


"Mom, dad... maaf aku membuat kalian khawatir. Aku tadi..."


"Hentikan Vani, jangan banyak berpikir. Kau harus dirawat beberapa hari disini. Tapi kalian tidak bisa seperti ini..."


"Malam ini saja mom, izinkan aku tidur dengan kakak." pinta Zaline.


"Baiklah, kalian harus beristirahat sekarang." jawab Falera sambil menarik selimut untuk mereka. "Ini pertama kalinya aku melihat dua pasien dalam satu ranjang dad."


Nicholas terkekeh. "Hanya terjadi pada keluarga Cruise mom."


Mereka semua tertawa bahagia setelah tangisan haru menyelimuti pertemuan itu.

__ADS_1


*****


Happy Reading All...


__ADS_2