Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Kebohongan Yang Lain


__ADS_3

"Mom... mengapa datang pagi pagi sekali?" ujar Zionel.


"Apa aku tak boleh datang ke apartemen putraku sendiri?" ujar Falera.


"Bukan seperti itu, tapi..."


"Hai..."


Seorang wanita tiba tiba muncul di belakang Falera dan memotong ucapan Zionel membuat pria itu terbelalak.


"Bagaimana mommy..."


"Sejak kapan aku mengajarimu menyambut tamu seperti itu Zio. Sayang... ayo masuk." kata Falera sambil melangkah masuk diikuti oleh wanita itu.


Wanita itu adalah wanita terakhir yang dijodohkan dengan Zionel yaitu Varisa.


Zionel menghela nafasnya lalu segera menutup pintu. Pria itu mencari keberadaan Stevani namun sudah tidak ada di ruang makan.


"Zio... ini adalah Varisa." ujar Falera.


"Aku sudah tahu." jawab Zionel datar.


Varisa mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri, namun Zionel mengabaikan wanita itu, ia justru meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Stevani.


"Mohon dimaklumi, begitulah sikap Zio." bisik Falera.


Varisa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Falera.


*****


Zionel menemukan keberadaan Stevani di dalam kamar, wanita itu terkesiap saat Zionel menepuk pundaknya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Zionel.


"Pertanyaan macam apa itu? bukankah kau yang menyuruhku berdandan."


"Ssstttt... pelankan suaramu. Dengarkan aku Van, diluar bukan Alex tapi mommy dan juga... ah sialan... mengapa aku harus bertemu dengan wanita itu." Zionel terdengar sangat kesal.


Stevani menyipitkan matanya. "Jadi tadi yang mengetuk pintu ibumu, lalu siapa wanita lain yang kau maksud hingga membuatmu sangat kesal?"


"Entah apa yang mommy pikirkan, ia membawa Varisa, wanita yang akan dijodohkan denganku." jawab Zionel.


"Sepertinya ibumu mulai menunjukkan sikap yang sebenarnya bahwa ia tidak menyukaiku."


"Aku tidak perduli Van, aku tidak ingin ada wanita lain yang terlibat dalam hidupku selain kau. Jadi kali ini aku pinta padamu, untuk melakukan peranmu sebagai calon istriku lagi."


"Ini perintah atau meminta tolong, mengapa aku masih terdengar arogan." kata Stevani.


Zionel menghela nafasnya. "Oke baiklah, kali ini aku kembali meminta bantuan darimu. Singkirkan wanita itu dari hadapanku."

__ADS_1


Stevani terkekeh geli.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Zionel kesal.


Stevani segera menggelengkan kepalanya. "Keluarlah, sebentar lagi aku selesai. Aku harus terlihat lebih baik dari wanita itu bukan."


Zionel menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kamar kembali menemui ibunya dan Varisa.


"Ada keperluan apa mom datang kemari pagi pagi?" tanya Zionel setelah mendekati mereka.


"Mengapa kau terlihat tidak senang dengan kunjungan mommy Zio?"


"Bukan seperti itu, aku sebentar lagi akan keluar karena ada keperluan. Dan juga hari ini aku dan Vani akan memesan gaun pengantin." jawab Zionel.


Varisa terbelalak. "Gaun pengantin? Siapa yang akan menikah?"


"Zio sedang bercanda sayang, kami belum menyetujui pernikahan ini." kata Falera.


"Ada apa ini sebenarnya tante?" tanya Varisa.


"Sepertinya ibuku belum mengatakannya, aku akan segera menikah dan juga calon istriku tinggal disini. Sayang... cepatlah... mommy terlalu lama menunggu." teriak Zionel.


"Zio hentikan... kapan mommy bilang setuju kau menikah minggu depan. Aku sengaja membawa Varisa datang kemari agar kau tahu wanita inilah yang akan memasuki keluarga Cruise. Ia lebih cocok dan mommy sudah tahu siapa orang tuanya."


"Bukankah kita sudah membahas ini mom, oh ayolah... aku tidak ingin berdebat lagi."


Stevani keluar dari kamar lalu mendekati mereka. Seketika Zionel tersenyum lebar lalu menyambut Stevani dengan mencium pipi wanita itu.


Stevani masih tercengang karena ciuman itu ditambah lagi pertanyaan Zionel yang seolah olah mereka semalam melakukan kemesraan. Wanita itu tersenyum canggung lalu menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi tante." sapa Stevani.


"Pagi." jawab Falera datar dan mulai menunjukkan ketidaksukaannya.


"Inilah calon istriku yang akan aku nikahi minggu depan, ada atau tidak ada restu dari orang tuaku." kata Zionel tegas pada Varisa.


Varisa beranjak dari tempat duduknya, ia merasakan amarah karena dipermalukan seperti itu.


"Tante seharusnya bilang jika Zio sudah punya calon istri." kata Varisa kesal.


"Tenanglah Varisa. Kau salah paham sayang, tidak akan ada pernikahan dalam keluarga Cruise tanpa restu kami." ujar Falera. "Zio... bukankah kami sudah bilang agar kau menunggu keputusan kami. Mengapa kau sangat keras kepala." imbuhnya.


Zionel menggenggam tangan Stevani. "Bukankah kalian mengajarkanku untuk belajar bertanggung jawab. Saat ini Stevani sedang mengandung anakku, penerus keluarga Cruise. Aku tidak bisa menunda pernikahan lagi."


Ucapan Zionel membuat semuanya terkejut, terutama Stevani yang saat ini harus berperan sebagai wanita hamil di depan kedua wanita itu.


"Apa kau bilang? Hamil?" setelah mengatakan itu Falera langsung jatuh pingsan membuat mereka semua panik.


Mereka semua segera membawa Falera keluar apartemen menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


*****


Di rumah sakit....


Keluarga Cruise masih menunggu dokter keluar dari ruang perawatan. Nicholas Cruise terus menyalahkan putranya karena membuat ibunya jatuh pingsan. Untung saja setelah Zionel mengatakan kejadiannya, ayahnya tidak ikut pingsan. Hanya saja mereka tiba tiba menatap Stevani semakin tidak senang.


Stevani tak berani mendekati keluarga Cruise, hingga akhirnya Zionel lah yang menghampirinya.


"Kau tidak perlu takut, mommy akan baik baik saja." ujar Zionel.


"Mengapa kau mengatakan hal itu Zio? Apa kau sudah gila?" bisik Stevani.


"Bukankah kemungkinan besar memang seperti itu."


"Mengapa kau percaya diri sekali bisa menghamiliku hanya dalam satu malam. Aku yakin tidak akan terjadi apapun pada tubuhku."


"Jangan mulai lagi Van, aku melakukan ini juga agar mommy tidak lagi bersikeras menolak pernikahan kita."


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibumu?"


"Aku lebih tahu kesehatan mommy, ia bukan wanita yang lemah. Percaya atau tidak, ini hanya sebuah sandiwara yang ia lakukan agar aku mengalah. Aku pernah mengalami hal ini satu tahun setelah kehilangan Haena." jawab Zionel.


"Apa maksudmu?" tanya Stevani kebingungan.


Zionel menghela nafas panjang. "Bukan saatnya kita membahas hal ini. Tapi percayalah, ia akan baik baik saja. Sebentar lagi Alex kesini, kau harus ikut dengannya."


"Kau benar benar gila, dalam situasi seperti ini kau masih memikirkan soal pernikahan palsu itu."


Zionel menggertakkan giginya menahan amarah. "Ikuti saja perintahku Van, jangan terus memancing emosiku. Ingatlah, pengobatan adikmu masih aku yang membiayainya. Jangan kau pikir aku lebih lembut denganmu, jadi kau semakin berani membantah semua keinginanku."


Ingin sekali Stevani memukul pria yang ada di sampingnya saat ini. Tatapan keluarga Cruise terhadapnya semakin menakutkan, tapi Zionel masih tetap memaksanya memasuki neraka di depannya.


"Ya Tuhan... cobaan macam apalagi yang akan aku hadapi. Seharusnya Zionel menerima wanita itu, ia sangat cantik dan berkelas. Sangat berbeda denganku yang tak berpendidikan dan tidak memiliki keluarga seperti ini." pikir Stevani.


Alex benar benar datang disaat Stevani terhanyut dalam pikirannya. Suara Zionel lah yang membuatnya tersadar.


"Pergilah... Biar aku saja yang menghadapi keluarga Cruise." perintah Zionel.


"Tapi... bukankah pandangan mereka akan semakin buruk terhadapku?"


Zionel menatapnya tajam tanpa menjawab ucapan Stevani.


"Oh baiklah aku pergi." imbuh Stevani.


"Tak perlu berpamitan dengan mereka, biarkan aku yang menanganinya. Dan aku akan segera menemuimu disana."


Stevani menghela nafas panjang lalu segera meninggalkan Zionel mengikuti Alex meninggalkan rumah sakit.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


Next...


__ADS_2