
Zionel benar benar mahir dalam permainan itu, tangannya terus meremas gunung kembar milik Stevani dari belakang sedangkan boko ngnya terus maju mundur cantik disana. Setiap permainan yang Zionel lakukan membuat Stevani merasakan kenikmatan yang berbeda.
"Aaarrrgghhh... Zio..."
Mendengar rintihan lembut dari bibir istrinya membuat Zionel semakin menggila. Ia menggigit daun telinga Stevani, mengecup belakang lehernya dan meninggalkan banyak kiss mark disana. Jari Zionel mulai mengikuti rudal keras miliknya yang masih bersarang di goa itu. Jarinya mulai menggelitik bagian sensitif Stevani.
Sambil terus mendorong keluar masuk disana, jari pria itupun ikut selaras menyentuh bagian itu. Tubuh Stevani menggeliat tanpa henti, nafasnya kembali tersengal-sengal.
"Aaarrrgghhh... aaarrrgghhh..." rintihan kembali keluar dari bibir Stevani.
"Aaarrrgghhh..." balas Zionel penuh kenikmatan. "Sayang..." bisiknya.
Zionel menarik diri membuat Stevani merasa kehilangan. Namun bukan untuk menghentikan permainannya, pria itu kembali membalikkan tubuh istrinya hingga kembali tidur terlentang. Ia kembali membuka kedua pa ha Stevani. Dan Stevani sungguh terkejut saat Zionel menundukkan kepalanya tepat di bagian inti miliknya.
Pria itu justru mencicipi bagian itu dengan lidahnya. Stevani melenguh dan menggila, tubuhnya melengkung ke atas saat lidah suaminya bersarang di lubang goa miliknya.
"Zio..." panggilnya semakin parau.
Tanpa instruksi dari siapapun, Stevani menyisir rambut Zionel dengan jarinya. Ia tanpa sadar menekan kepala suaminya saat permainan lidah itu semakin mahir disana. Berkali-kali Stevani memanggil nama Zionel dengan lirih. Panas di seputaran bagian tersebut semakin terasa.
"Ya Tuhan... manis sekali sayang." ucap Zionel lalu kembali memasukkan lidahnya disana.
Pria itu menyapu bersih milik istrinya, Zionel benar benar menggila, apa yang ia janjikan untuk memuaskan Stevani benar benar ia lakukan malam ini. Stevani memejamkan matanya, ia mulai tak tahan lagi.
"Zio... aku hampir meledak." ucap Stevani.
Zionel menghentikan permainan lidahnya, ia membalikkan tubuh istrinya. Pria itu membantu istrinya menekuk lututnya hingga berubah menjadi posisi seperti seekor kucing berdiri. Tanpa ampun Zionel kembali memasukkan rudal keras miliknya. Mendorong, menarik keluar masuk disana. Lagi lagi posisi berbeda dilakukan Zionel namun tetap membuat wanita itu merasakan kenikmatan yang sama.
Keduanya saling memanggil nama satu sama lain. Zionel semakin mempercepat permainannya, ia mendorongnya dengan kuat.
"Vani... aaarrrgghhh..." teriak Zionel saat akhirnya kembali mengeluarkan lahar panas di dalam lubang goa tersebut.
"Aaarrrgghhh... Zio..." sahut Stevani saat ikut mencapai puncaknya.
Keduanya terkulai lemah kembali, perlahan Zionel menarik rudal miliknya yang masih bersarang dengan lembut. Pria itu akhirnya ikut berbaring di samping Stevani. Memeluk wanita itu sambil mengecup keningnya.
"Aku mencintaimu sayang." ucap Zionel.
Stevani masih mengatur nafasnya lalu menatap Zionel. Wanita itu menge cup bibir Zionel sekilas.
"Aku juga mencintaimu suamiku." jawab Stevani.
Zionel terkejut mendengar panggilan "suamiku" untuk pertama kalinya dari mulut istrinya. Pria itu tersenyum penuh kebahagiaan. Keduanya akhirnya tertidur.
*****
Stamina Zionel memang luar biasa. Sepanjang malam ia tak membiarkan Stevani tertidur dengan lelap. Pria itu terus membangunkan Stevani dan melakukannya entah berapa kali, meninggalkan bekas permainan di seluruh tubuh wanita itu. Dan kini Stevani nyaris tak bisa menggerakkan tubuhnya karena merasakan nyeri terutama di bagian inti miliknya.
Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Stevani mengerjapkan matanya berkali-kali dan terbangun dari tidurnya. Ia tak menemukan Zionel di tempat tidur.
__ADS_1
"Dimana Zio?" gumam Stevani.
Wanita itu duduk sambil meringis karena kesakitan. Ia segera memakai piyama tidurnya.
"Ya Tuhan... tubuhku sakit sekali. Dan kenapa milikku perih sekali." pikir Stevani sambil memaksakan diri turun dari ranjangnya.
Terdengar suara kunci pintu kamar terbuka. Stevani terus menatap arah datangnya suara dan akhirnya pria yang menghilang dari ranjangnya muncul. Zionel langsung menghampiri Stevani saat melihat wanita itu.
"Kau darimana?" tanya Stevani seraya menekuk wajahnya.
Zionel seketika memeluk istrinya. "Pagi sayang, maaf aku dari toserba membeli sesuatu. Aku tak tega membangunkanmu tadi."
"Kau sudah membangunkanku sepanjang malam Zio." jawab Stevani.
Zionel terkekeh lalu mengecup puncak kepalanya. "Terima kasih untuk malam ini, aku tak tahu mengapa aku terus menginginkanmu sayang."
"Kau yakin aku tidak mengecewakan?"
Zionel melepaskan pelukannya lalu membelai pipi Stevani. "Pertanyaan yang bodoh istriku. Aku benar benar merasakan kepuasan. Jangan pernah berpikir macam-macam. Kau adalah istri yang sempurna pilihanku."
Wajah Stevani tiba tiba murung.
"Ada apa sayang? Apa kau memikirkan Zaline lagi? Aku akan menghubungi dokter Mark sekarang." kata Zionel.
"Aku memang memikirkan Zaline, tapi ada yang lebih aku pikirkan lagi Zio."
"Ini soal kebohongan kita Zio. Daddy dan mommy sekarang benar-benar sudah menerimaku, mereka bahkan sangat percaya dan menyayangiku. Tapi identitasku juga kehamilanku, apa tidak sebaiknya kita katakan secepatnya. Aku tidak ingin mengecewakan mereka."
Zionel menghela nafasnya. "Kau benar sayang, aku akan mencari waktu untuk mengatakan identitasmu yang sebenarnya pada daddy dan mommy. Tapi soal kehamilan, aku rasa itu tak perlu."
"Tapi kenapa?"
"Apa kau lupa sudah berapa kali aku menanamkan benih dalam rahimmu semalam. Aku selalu mengecek kesehatanku dan aku yakin kau akan segera hamil Vani. Aku bahkan masih yakin jika kau sekarang memang sudah hamil setelah malam di kota X itu. Bagaimana jika kau menggunakan testpack kehamilan?" pinta Zionel.
Sontak saja Stevani melepaskan diri dari Zionel, ia berjalan perlahan menuju sofa. Rasa perih di bagian miliknya semakin terasa saat ia melangkahkan kakinya. Zionel terus memperhatikan istrinya dan menyadari kejanggalan di setiap langkahnya.
"Sayang... Bagian mana yang sakit?" tanya Zionel sambil mendekati Stevani lagi.
"Ah... tidak ada." jawab Stevani namun wajahnya memerah karena malu.
"Kau tidak bisa membohongiku." ucap Zionel seraya membantu Stevani duduk.
Zionel membuka tali piyama Stevani membuat wanita itu terkejut.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Stevani seraya menahan piyamanya agar tidak terlepas.
Zionel mengerutkan keningnya. "Aku ingin memeriksa tubuhmu. Ini memang salahku sayang, aku ingin memastikannya."
"Ya Tuhan... apa kau sudah gila?"
__ADS_1
Zionel tertawa. "Mengapa kau masih malu setelah semalam..."
"Zio..." rengek Stevani.
Zionel kembali tertawa. "Diamlah... tubuhmu sudah menjadi milikku. Aku hanya ingin memeriksanya sebentar."
"Tak perlu... astaga... ingin sekali aku memukulmu hingga pingsan."
Tawa Zionel semakin meledak. "Maaf sayang aku terus menggodamu."
Setelah mengatakan itu, Zionel justru langsung mengangkat tubuh Stevani hingga membuat wanita itu terkesiap.
"Apa yang kau lakukan Zio? Turunkan aku..." pinta Stevani.
Zionel terus membawa Stevani, pria itu ternyata membawa istrinya menuju kamar mandi. Ia menurunkan Stevani perlahan di lantai yang dingin.
"Tunggu sebentar." pinta Zionel seraya keluar dari kamar mandi.
Tak lama pria itu kembali menemui istrinya dengan membawa sebuah botol.
"Aku akan menyiapkan air hangat dan menaruh aroma terapi ini di dalamnya. Itu akan mengurangi rasa sakit tubuhmu terutama bagian..."
"Hentikan... aku mengerti." potong Stevani.
Zionel tersenyum lalu mengangguk, dengan telaten ia menyiapkan air hangat untuk istrinya.
"Nah... air mandi sudah siap tuan putri. Jangan berendam terlalu lama, aku menunggumu sarapan."
Stevani menganggukkan kepalanya. "Zio... terima kasih."
Zionel mendekati Stevani. "Mulai sekarang berterima kasihlah dengan cara seperti ini..." ucapnya seraya menci um bibir istrinya.
Pria itu memanggut bibir Stevani cukup lama.
"Aku harus berhenti, jika tidak... bisa bisa aku menyiksa tubuhmu yang kesakitan." goda Zionel.
"Ck... keluarlah suamiku yang mes um." ejek Stevani.
Ingin sekali Zionel menghukum istrinya, namun ia harus mengendalikan diri mengingat Stevani terlihat sedang menahan rasa sakit didepannya karena malu.
"Tunggu saja saat tubuhmu kembali sehat nona." ancam Zionel.
Tanpa di duga Stevani justru menjulurkan lidahnya dengan menggemaskan. Zionel kembali melepaskan tawanya lalu keluar dari kamar mandi agar Stevani bisa memanjakan diri dengan air hangat aroma terapi.
*****
Part ini permintaan para Reader yang ingin lanjutan hareudang.
Happy Reading All...
__ADS_1