Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Ada Asam Cuka


__ADS_3

Apa yang diinginkan Zionel benar benar dilakukan oleh Alex, pria itu akhirnya berhenti tepat di restoran depan bandara. Alex memarkirkan mobilnya dengan cantik lalu keluar. Pria itu segera membuka pintu mobil Zionel.


Zionel menatap Stevani. "Kita makan." ujarnya datar.


"Aku tetap disini." jawab Stevani ketus.


"Keluar sendiri atau aku akan menyeretmu?" ancam Zionel.


"Lakukan saja jika kau berani." tantang Stevani.


Zionel menghela nafasnya, ia keluar dari mobil lalu memutar menuju pintu samping Stevani. Pria itu membuka pintu mobil itu dengan kasar membuat Stevani terkesiap.


"Aku sudah bilang pada Alex kalau aku tak bisa kenyang, aku takut mabuk perjalanan." ujar Stevani cepat cepat.


"Alex? Kau panggil Alex apa?" bentak Zionel.


"A... a... Alex." jawab Stevani tergagap.


"Sejak kapan kalian menjadi begitu dekat hingga kau harus memanggil namanya?"


"Pak Zio aku hanya..."


"Kau diam Lex..." bentak Zionel.


Seketika ucapan Alex terhenti.


"Sebenarnya kau kenapa sih? Kenapa kau seperti wanita yang sedang datang bulan? Sebentar sebentar marah, sebentar sebentar kesal." ejek Stevani.


"Kau sudah menandatangani kontraknya, kau adalah milikku. Jadi kau tidak berhak dekat dengan pria lain sekalipun itu Alex. Aku tak ingin kau memanggil namanya lagi, panggil ia pak Alex... Ingat PAK." pinta Zionel.


Alex justru tertawa lalu meninggalkan mereka menuju restoran.


"Kapan sih aku setuju menjadi milikmu atau menjadi wanitamu?"


Zionel tertawa. "Ya Tuhan nona Stevani Yunsu, kau tidak mungkin bodoh kan? Bukankah kau sudah membaca isi kontraknya. Sudah jelas bahwa selama satu tahun kau tak bisa dekat dengan pria lain karena kau adalah wanita Zionel Cruise, wanitaku yang artinya milikku."


Stevani terbelalak. "Isi kontrak itu ada hal seperti itu?"


"Ckckck... kau sepertinya benar benar tidak membaca isi kontraknya."


"Apalagi yang ada di dalamnya?" tanya Stevani.


"Aku sudah mengirimkan kontraknya pada pengacaraku di kota D. Kau akan tahu setelah sampai disana."


"Apa salahnya kau mengatakannya?" bentak Stevani.


"Aku lapar." jawab Zionel seraya meninggalkan Stevani dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.


"Dasar pria brengsek...!!!" teriak Stevani di dalam mobil.


Tentu saja suara teriakan itu tak mungkin bisa di dengar oleh Zionel dari luar.


*****

__ADS_1


Zionel masuk ke dalam restoran, tentu saja tatapan matanya sangat tajam pada Alex.


"Apa anda sedang cemburu padaku?" goda Alex.


"Berani sekali kau menyuruh Stevani memanggil namamu Lex."


"Aku senang ia memanggil namaku, terasa semakin dekat." goda Alex dengan sengaja.


"Jangan harap ia memanggil hanya namamu saja."


"Ya Tuhan pak Zio, sejak aku tahu anda tertarik dengan nona Stevani, aku langsung mundur dengan cepat. Anda bukanlah sainganku."


"Siapa yang tertarik dengan wanita itu Lex. Apa kau tidak membaca isi surat kontraknya yang kau buat dengan tanganmu sendiri?"


Alex tertawa. "Baiklah aku mengalah, aku tidak akan membiarkan nona Stevani memanggil namaku saja."


"Itu baru benar."


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, ia bisa mencium aroma asam cuka ( cemburu ) di sekitar tubuh Zionel, tapi atasannya masih juga belum menyadarinya. Namun melihat sikap Zionel, Alex bisa lebih tenang. Karena ia yakin, Zionel akan melindungi Stevani sekuat tenaga dari keluarganya sendiri.


Pelayan restoran mulai memberikan menu makanan pada mereka, setelah keduanya memesan makan siang, pelayan itu pun meninggalkan mereka untuk menyiapkan makanannya.


"Tunggu aku hampir melupakan sesuatu, bukankah aku menyuruhmu mengambil kotak obat, mengapa kau hanya mengambil kompres es batu?"


"Ya Tuhan... anda masih membahasnya. Lengan nona Stevani hanya memar terbentur benda tumpul pak Zio, ia tak membutuhkan obat apapun kecuali kompresan."


"Baiklah lupakan itu, tapi aku masih tak percaya kalau ia hanya terjatuh sendiri. Kau bilang wanita itu tidak baik saat menghubungimu. Ia terdengar ketakutan kan?"


"Cari tahu soal itu Lex, kau harus melakukan apa yang harus dilakukan jika mereka benar benar melukai Stevani."


"Pak Zio... kesan nona Stevani saat mengatakan hal itu di depan mereka sangat baik. Mereka akan lebih menghormati nona, bahkan akan menghargainya sebagai istri anda."


"Bukankah itu memang harus dilakukan mereka dan siapapun yang bekerja di perusahaan Cruise."


"Anda melupakan latar belakang nona Stevani yang sebenarnya. Jika sikap nona seperti ini, maka latar belakang sebelumnya akan tergantikan pak Zio. Aku rasa lebih baik anda melupakan kejadian kecil ini demi kebaikan nona Stevani."


Zionel menghela nafasnya. "Baiklah, kali ini aku biarkan. Tapi tidak ada lain kali Lex, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dan menyakiti orangku."


"Tentu pak Zio, hanya kali ini."


"Apa wanita itu benar benar tak mau makan siang?" tanya Zionel.


"Sepertinya ini pertama kalinya ia melakukan perjalanan jauh, ia tak ingin mabuk perjalanan dan mempermalukan dirinya sendiri pak Zio."


"Bukankah ada obat anti mabuk, mengapa ia tak mengkonsumsinya saja?"


Alex hanya mengangkat kedua bahunya karena memang tak tahu.


"Bagaimana keadaan Zaline Yunsu?" tanya Zionel lagi.


"Aku sudah menghubungi dokter Mark, sepertinya perkembangan kesehatan nona kecil itu membaik. Kita tak perlu waktu lama untuk memindahkannya."


"Baguslah jika seperti itu. Aku tak ingin Stevani terus bersedih saat sampai di kota D."

__ADS_1


"Anda benar benar mengkhawatirkan nona Stevani pak."


"Tentu saja, ia harus tetap ceria di depan keluarga Cruise. Aku tak ingin melihat wajahnya yang seolah olah sedang dipaksa menikah."


"Bukankah memang itu yang sedang anda lakukan?" ejek Alex.


"Ingat Lex... Rasa tanggung jawab. Kau lupa apa yang terjadi pada kami."


"Oke oke... rasa tanggung jawab." jawab Alex seraya tersenyum.


Pelayan restoran pun menyajikan pesanan mereka.


"Berapa lama lagi pesawat kita landing?"


Alex melihat jam tangannya. "Kemungkinan setengah jam lagi pak."


"Kalau begitu cepatlah makannya, aku tahu kau makan sangat banyak seperti babi." ejek Zionel.


Alex mengumpat membuat Zionel akhirnya tertawa. Keduanya pun mulai makan siang mereka dengan tenang.


*****


Stevani terus memikirkan isi kontrak perjanjian nikah itu. Ia begitu bodoh karena tak membacanya terlebih dahulu. Namun yang ia lakukan sebenarnya karena tak ingin berubah pikiran lagi. Ia hanya ingin Zaline benar benar melakukan pengobatan terbaik.


"Zaline... kakak benar benar merindukanmu. Segeralah kembali padaku sayang, aku ingin menceritakan pria gila ini padamu." pikir Stevani.


Stevani menatap ponselnya, ia membuka galeri foto. Wanita itu tersenyum setiap kali melihat Zaline disana. Setiap tingkah gadis cantik itu selalu diabadikan Stevani secara diam diam, bahkan ia juga sering mengabadikan foto saat Zaline tertidur dengan mulut menganga.


"Apa sekarang kau sedang tidur seperti ini Zaline, jika itu yang kau lakukan pasti dokter dan suster akan tertawa melihatnya."


Stevani kembali tersenyum saat memikirkan hal itu, ia menghela nafas panjang lalu menutup galeri ponselnya.


"Semakin aku melihat fotomu, aku semakin merindukanmu. Dan yang lebih bodoh lagi, walaupun aku tersenyum tapi air mataku akan segera tumpah. Aku harus kuat, aku pasti bisa melewati semua ini. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di kota D nanti, tapi yang jelas apapun itu, aku harus tetap bertahan demi kesembuhan Zaline." gumam Stevani.


Stevani terus terhanyut dalam lamunan lamunannya sampai ia tak tahu jika Alex dan Zionel kembali. Ia terkesiap saat pintu mobilnya terbuka.


"Kau melamun nona." ejek Zionel.


"Aku tidak... ah lupakan saja." jawab Stevani ketus.


"Nona Stevani, apa anda ingin membeli sesuatu sebelum masuk ke bandara?" tanya Alex.


"Sepertinya tidak, terima kasih." jawab Stevani lembut.


"Menjengkelkan." gerutu Zionel.


Stevani menatapnya namun tak ada lagi ucapan selanjutnya dari pria itu, sedangkan Alex hanya bisa menahan tawanya. Alex tahu jika perbedaan nada bicara Stevani yang membuat Zionel kesal.


*****


Happy Reading All...


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2