Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Mendapat Restu Cruise


__ADS_3

Alex menatap ponselnya dengan tercengang, baru saja ia meminta Kirana membatalkan meeting dengan kontruktor, Zionel kembali menghubunginya dan memintanya melanjutkan meeting tersebut sesuai jadwal sebelumnya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Zionel bahkan memintanya untuk menghubungi bagian umum perusahaan untuk mengantarkan sarapan ke apartemennya.


"Apa yang terjadi pada pak Zionel, bukankah ia tak ingin orang lain selain aku mengetahui apartemennya. Tapi demi Stevani, ia bahkan menyuruh Gina mengantarkan sarapan untuk wanita itu. Ia juga masih belum mengumumkan hubungannya dengan Stevani, yang mengetahui masalah ini baru aku dan juga Kirana yang ikut membantu persiapan pernikahannya. Jika masalah ini menyebar di perusahaan akan semakin membahayakan baginya." gumam Alex sambil menyenderkan tubuhnya.


Alex mengambil telepon kantor, ia tetap harus melaksanakan perintah Zionel. Alex menghubungi bagian umum untuk membelikan sarapan dan mengantarnya ke apartemen Zionel. Ia juga memberitahu alamat Zionel pada Gina dan mengancam Gina agar merahasiakan alamat apartemen itu jika tidak ingin di pecat. Hanya cara itu yang bisa Alex lakukan saat ini karena mengkhawatirkan atasannya.


Alex juga segera menghubungi Kirana untuk mengatur jadwal meeting seperti semula. Tentu saja Kirana sama bingungnya dengan sikap Zionel. Wanita itu terus bertanya mengapa Zionel mengambil keputusan tidak seperti biasanya.


"Jangan banyak tanya Kirana, kita harus mengikuti perintah pak Zio." ujar Alex lewat teleponnya.


"Tapi pak Alex, aku baru saja menutup telepon setelah menghubungi pak Ishak. Bagaimana caraku mengatakan jika meeting kembali seperti semula." jawab Kirana.


"Kau seorang sekertaris, kau bisa mencari alasan yang baik agar pak Ishak tidak merasa dipermainkan. Aku masih memiliki pekerjaan lain Kirana." ujar Alex seraya menutup teleponnya.


Alex kembali menyenderkan tubuhnya ke kursinya. "Kau benar Kirana, ini pertama kalinya pak Zio plin plan dalam mengambil keputusan perusahaan. Sepertinya kehadiran Stevani dalam kehidupannya, mampu mengubah segalanya." pikir Alex.


Pria itu menghela nafas panjang lalu kembali meneruskan pekerjaannya.


*****


Zionel akhirnya sampai juga di rumah sakit, ia langsung menuju ruangan ibunya. Disana kedua orang tuanya sudah siap untuk pulang ke rumah, mereka tentu saja sedang menunggu Zionel.


"Maaf mom, dad, aku terlambat menjemput kalian." ujar Zionel.


"Setelah kedatangan wanita itu kau bisa melupakan mommy dan tentu saja semakin melupakan Haena." ujar Falera kesal.


"Mommy berpikir terlalu berlebihan, aku tidak akan melupakan mommy apalagi Haena." jawab Zionel.


"Ini buktinya Zio, kau bahkan lupa jika mommy keluar dari rumah sakit."


"Aku kemarin banyak urusan dan semalam kurang tidur mom. Aku bangun kesiangan, hanya itu. Tolong jangan salahkan Stevani, ini tidak ada hubungannya dengan wanita itu." kata Zionel.


"Lihatlah dad, belum apa apa putra kita sudah membela wanita itu." ujar Falera.


"Ya Tuhan... apa yang harus aku katakan lagi sekarang?" Zionel mulai kesal karena terus dipancing emosinya.


"Ya Tuhan... sudah hentikan... ini rumah sakit bukan tempat berdebat. Dan mommy juga harus lebih tenang, bukankah semalam kita sudah membicarakannya." ujar Nicholas. "Zio... kita harus bicara setelah sampai di rumah." imbuhnya.


"Aku terburu buru dad. Aku harus kembali ke perusahaan. Hari ini ada meeting dengan kontruktor bagian barat. Daddy lupa soal kontruksi bangunan hotel yang tertunda bulan lalu. Ini jadwalku meneruskan kontruksi itu." jawab Zionel.


"Ya ampun, apa sudah saatnya?" tanya Nicholas.

__ADS_1


Zionel menganggukkan kepalanya.


"Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal Zio, kau tak perlu menjemput kami jika memang ada urusan perusahaan."


"Apakah mommy akan menerima alasanku, ia akan terus menyalahkan Stevani karena aku membuat alasan untuk tidak menjemputnya."


"Aku tidak seburuk itu Zio." jawab Falera.


"Mommy dulu memang tidak buruk, tapi setelah tahu aku akan menikahi wanita pilihanku, mommy berubah."


"Tak bisakah kalian berhenti berdebat, Zio tidak seperti itu caramu berbicara dengan ibumu. Kapan aku mengajarkanmu berbicara tidak sopan pada orang tua." kata Nicholas.


"Maaf... maaf mom..." jawab Zionel.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang sekarang. Kau bisa terlambat meeting Zio."


Zionel mendekati ibunya. "Tolong jangan memancing emosiku terus mom. Selama ini aku selalu menuruti permintaanmu. Tak bisakah aku sekali saja meminta sesuatu padamu?"


Wajah Falera muram. "Mengapa harus wanita itu? Mommy hanya mengkhawatirkanmu Zio."


"Pertama aku membuat kesalahan, kedua aku benar benar mencintainya mom. Percayalah dengan pilihanku kali ini."


Nicholas mulai meninggalkan keduanya untuk berjalan lebih dulu keluar dari ruangan. Ia ingin memberikan ruang yang lebih untuk istri dan putranya berbicara.


Zionel menghela nafas panjang. "Aku janji tidak akan ada yang berubah sedikitpun walaupun Stevani hadir dalam kehidupanku. Mommy, daddy, dan Haena sama pentingnya dalam kehidupanku. Sekarang Zio ingin bertanya pada mommy, jika mommy dihadapkan oleh dua pilihan antara daddy dan pria lain yang dijodohkan, siapa yang mommy pilih?"


"Anak nakal, mengapa kau bertanya sesuatu hal yang tidak mungkin. Tentu saja mommy hanya mencintai daddy. Jika mommy bersama pria lain, mana mungkin mommy melahirkan kau dan Haena. Tapi ini lain ceritanya Zio, berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal."


"Aku hanya ingin mommy memikirkan perasaanku."


"Apa mommy selama ini tidak memikirkanmu? Aih... sudahlah... sepertinya aku tak akan bisa memisahkan kalian."


"Jadi?" tanya Zionel sambil memeluk pundak ibunya.


Falera menghela nafasnya. "Sedikit saja Stevani menyakitimu, mommy akan berusaha memisahkan kalian dan membuat Varisa menjadi istrimu."


"Jadi?" tanya Zionel lagi karena belum mendapat jawaban yang ia inginkan.


"Oh ayolah Zio, berhenti bertanya."


Keduanya mulai melangkahkan kaki keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Jawabannya mom." pinta Zionel.


"Dasar keras kepala, lakukanlah jika itu bisa membuatmu bahagia. Setidaknya kehadiran cucuku akan membuatku bahagia." jawab Falera.


Seketika Zionel mengecup pipi ibunya berkali kali membuat wanita itu tertawa geli karena ulah putranya. Nicholas hanya bisa tersenyum dari kejauhan saat melihat keduanya kembali damai.


"Mommy tenang saja. Jika Stevani belum hamil saat ini, maka setelah menikah nanti, aku akan membuatnya kembali tidur denganku, dan kami sama sama akan membuat cucu buat mommy." pikir Zionel dengan nakal.


Zionel tertawa geli setelah memikirkan hal itu, ia berharap bisa mengikat Stevani selamanya. Mereka pun keluar dari rumah sakit untuk kembali ke rumah besar Cruise.


"Mengapa kau tidak membawa Stevani menjemput kami Zio?" tanya Nicholas.


"Dan membuat mommy kembali pingsan." ejek Zionel.


Nicholas melepaskan tawanya.


"Berhentilah mengejekku Zio. Bagaimana aku tidak syok setelah mendengar semua itu." ujar Falera.


"Aku ingin mengatakan hal itu sambil mencari waktu yang pas mom. Tapi mommy yang memaksaku mengatakannya dengan tiba tiba." jawab Zionel.


"Oh ya Tuhan, setelah ini aku harus menghadapi Varisa." ujar Falera.


"Itu tanggung jawab mommy." kata Zionel dan Nicholas bersamaan.


Keduanya tertawa membuat Falera semakin kesal.


"Ayah dan anak sama saja, seandainya saja Haena ada saat ini, mungkin aku..."


Zionel dan Nicholas berhenti tertawa. Nicholas memeluk pundak istrinya untuk menenangkan wanita itu.


"Aku janji akan menemukannya mom, aku tidak akan menyerah sedikitpun soal Haena. Percayalah kita akan berkumpul bersama lagi." ujar Zionel.


Falera menganggukkan kepalanya dengan kesedihan yang selalu ia rasakan saat mengingat anak keduanya tersebut.


"Haena... kembalilah sayang... kembali berkumpul bersama kami nak." pikir Falera sedih.


"Maaf mom aku berbohong soal kehamilan Stevani, aku masih belum tahu apakah wanita itu sedang mengandung anakku atau tidak. Tapi aku melakukan semua ini demi kebaikan semuanya." pikir Zionel.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


Next 1 episode again...


__ADS_2