
Stevani masuk ke dalam klub, seperti biasanya ia masuk lewat pintu karyawan. Tapi setelah ia sampai di ruangan khusus karyawan, ia tak menemukan siapapun disana.
"Sepertinya mereka sudah mulai bekerja." pikir Stevani.
Ia pun mengambil tas dan ponselnya yang tertinggal di lokernya lalu keluar dari ruangan itu.
"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam padaku, mengapa aku berakhir di kamar hotel dan melepaskan kesucianku tanpa aku mengingat siapa pria yang menodaiku." pikir Stevani lagi.
Stevani melangkahkan kakinya mencari cari teman temannya. Ia menatap bar dari kejauhan.
"Aku tidak mungkin menemui kak Angga setelah kejadian di rumah sakit tadi. Aku juga tak mungkin bilang tentang apa yang terjadi padaku kemarin. Aku harus menemui Cia atau pak Huber." gumam Stevani.
Stevani berusaha menghindari Angga, ia perlahan lahan melangkahkan kakinya dan sembunyi sembunyi di balik tubuh tamu klub. Ia menghela nafas lega karena berhasil melewati meja bar.
"Beruntung kak Angga sedang sibuk, seharusnya Cia ada di ruangan Anggrek malam ini. Pelanggannya akan datang malam ini disana." ucap Stevani seraya menuju ruangan Anggrek.
Sesampainya di depan pintu ruangan, ia sangat ragu untuk masuk ke dalam. Stevani hanya terpaku disana sambil memikirkan cara untuk berbicara dengan Cia.
"Van... kau datang." kata Juana membuat Stevani terkesiap.
"Ya Tuhan... kau mengejutkan aku Jua."
"Kaulah yang mengejutkan karyawan klub, ikut aku..." ajak Juana seraya menarik tangan Stevani menuju tempat yang lebih sepi.
"Mengapa kau keluar dari pekerjaan ini tanpa mengatakan apapun pada kami Van?"
Juana mulai menghardiknya setelah mereka lebih nyaman untuk berbicara.
"Aku minta maaf Jua, aku datang kemari untuk berpamitan dengan kalian." jawab Stevani.
"Jadi kau benar benar ingin berhenti bekerja?"
Stevani menganggukkan kepalanya. "Aku akan segera pindah ke kota D. Aku tak bisa bekerja lagi disini."
"Tapi kenapa tiba tiba, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Operasi adikmu berhasil kan? Mengapa awalnya kau mengambil cuti lalu sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja?"
Stevani menghela nafas panjang. "Kau seperti seorang penyidik nona. Bagaimana aku harus menjawab semua pertanyaanmu itu."
"Ceritakan semuanya, kau tahu yang sangat kecewa adalah Cia. Wanita itu sejak mendengar kabar kau berhenti tanpa mengatakan apapun, ia langsung uring-uringan tidak jelas."
"Ceritanya sangat panjang Jua, tapi sebelum itu bolehkah aku bertanya?"
Juana menganggukkan kepalanya.
"Apa kau tahu apa yang terjadi padaku kemarin malam? Aku sampai saat ini tidak bisa mengingatnya."
__ADS_1
Juana menatapnya. "Kau benar benar lupa?"
Stevani mengangguk.
"Aku juga tidak jelas apa yang terjadi padamu, kemarin malam kita semua sangat sibuk. Tapi kau bilang pada Tia kalau kau menerima tantangan pria pria kaya di ruangan melati demi mendapatkan uang. Apa itu benar? Apa kau mengingatnya?"
"Tentu saja bagian itu aku ingat, yang aku tanyakan..."
Stevani menghentikan ucapannya, haruskah ia mengatakan pada Juana apa yang terjadi padanya. Stevani kembali mengingat kejadian itu, ia juga ingat jika di ruangan itu ada Zionel yang ikut berpartisipasi dalam permainan mereka. Dan jika tidak salah, ia justru menerima tawaran pria itu demi uang 200 juta.
"Hei... mengapa kau melamun?" tanya Juana.
"Malam itu aku menerima tantangan minum satu botol wiski demi uang 200 juta Jua. Tapi setelah itu aku tak mengingat apapun lagi." jawab Stevani.
"Hah... kau minum satu botol sedangkan kau sama sekali belum pernah minum, apa kau cari mati Van?"
"Demi Zaline dan terlepas dari perangkap mas Dani, aku terpaksa melakukannya."
"Jadi kau berhasil mendapatkan uang itu dan lepas dari tuan Dani."
Stevani justru menggelengkan kepalanya membuat Juana terbelalak.
"Lalu...?"
"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu, apa kau tahu setelah itu apa yang terjadi padaku?"
"Pagi itu saat aku terbangun, aku masih sempat melihat kartu ATM yang berisi uang itu di meja samping tempat tidur. Apa setelah aku mabuk berat, aku masih sempat membawa kartu itu. Lalu siapa diantara mereka yang telah mengambil kesucianku? Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Stevani.
"Kau melamun lagi Van. Apa kau mengingat sesuatu? Lalu jika kau benar benar minum sampai mabuk, kenapa kau tidak mendapatkan uangnya?" tanya Juana penasaran.
"Lupakan saja Jua, aku sendiri masih sangat bingung. Ingatanku terpaku di saat aku minum satu botol wiski itu, setelah itu apa aku mabuk berat atau aku pingsan, dan bagaimana setelahnya aku sama sekali tidak tahu."
"Tapi setelah kau sadar kau terbangun di rumahmu sendiri kan?"
"Tentu saja, dimana lagi." jawab Stevani cepat.
"Astaga biasa saja, aku hanya asal bertanya. Lalu bagaimana dengan Zaline?"
"Operasinya berjalan dengan lancar, aku akan membawanya ke rumah sakit terbaik di kota D untuk pengobatan lanjutan. Itulah mengapa aku memutuskan untuk berhenti bekerja Jua."
"Jadi kau masih terikat dengan tuan Dani ya?"
Stevani menggelengkan kepalanya.
"Hah... lalu?"
__ADS_1
"Ada penyelamat lain yang membantuku lepas dari mas Dani." jawab Stevani.
"Tapi aku seperti keluar dari mulut buaya, masuk ke kandang macan Jua. Hidupku tetap dikendalikan oleh orang lain sekarang." pikir Stevani.
"Syukurlah kalau begitu. Aku harap kau dan adikmu berbahagia, aku pasti akan merindukan kebersamaan kita Van." ujar Juana seraya memeluk Stevani.
Stevani membalas pelukan temannya. "Terima kasih Jua, jika aku bisa kembali ke kota ini, aku janji akan menemui kalian semua."
Juana mengangguk. "Aku harus bekerja sekarang, aku akan memanggilkan Cia. Tetaplah disini sampai Cia datang."
"Terima kasih Jua, setelah bertemu Cia, aku akan menemui pak Huber, kak Angga, Tia dan yang lainnya untuk berpamitan."
Juana tersenyum lalu meninggalkan Stevani menuju ruangan Anggrek. Stevani terus berdiri disana sambil menunggu wanita yang selalu membantunya lepas dari masalah di klub itu.
"Akhirnya kau berani muncul di hadapanku Van." bentak Cia.
Stevani mengulas senyumnya lalu memeluk Cia. "Jangan marah Cia..."
"Bagaimana aku tidak marah, kau keluar dari pekerjaan ini tanpa mengatakan apapun padaku. Aku belum sempat ke rumah sakit karena aku mabuk berat, ketika aku bangun sudah waktunya bekerja. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Katakan Vani, aku yakin ada sesuatu. Adikmu baik baik saja kan?" tanya Cia.
Stevani melepaskan pelukannya. "Keadaan Zaline masih lemah, setelah operasi ia harus menjalani perawatan intensif Cia. Aku bahkan belum bisa melihat wajahnya. Dokter mengatakan ia harus tetap berada di ruangan itu kurang lebih 3 minggu. Cia, apa kau tahu apa yang terjadi padaku kemarin?"
"Tentu saja aku tahu. Setelah kau menerima tantangan pria pria di ruangan melati itu, kau justru dengan bodohnya menerima tantangan meminum satu botol wiski."
"Lalu apa yang terjadi padaku?"
"Apalagi nona? Sebagai pemula tentu saja kau jatuh pingsan."
"Lalu?"
"Kau dibawa pulang oleh pria tampan. Pak Huber bilang kau diantarkan pulang ke rumah. Kau sama sekali tak mengingatnya?"
"Pak Huber tahu?"
"Tentu saja tahu, mereka meminta izin pada pak Huber untukmu."
"Mereka? Maksudmu yang membawaku lebih dari satu orang? Apa kau tahu siapa mereka itu?"
"Haisssss... yang penting kau benar benar pulang dengan selamat Van. Mengapa kau terus bertanya? Aku tak tahu siapa mereka. Tidak ada yang terjadi padamu kan? Kau malah mengalihkan pembicaraan, aku masih tidak mengerti mengapa kau malah berhenti bekerja di waktu kau meminta cuti." jawab Cia kesal.
"Aku tidak apa apa, aku hanya bertanya Cia. Karena setelah itu aku benar benar tak ingat apapun." jawab Stevani.
"Aku tidak diantarkan pulang Cia, mereka membawaku ke sebuah hotel. Artinya lebih dari satu orang yang tidur denganku. Aku benar benar kotor, jika Zaline tahu ia pasti akan membenciku. Maafkan aku Cia, aku tak bisa menceritakan semuanya padamu." pikir Stevani sedih.
"Wajar jika kau tidak ingat, kau benar benar nyaris menghabiskan satu botol wiski. Alkohol yang kuat bisa merusak daya ingatmu, tapi seiringnya berjalan waktu, kau pasti akan mengingat semuanya." imbuh Cia.
__ADS_1
*****
Happy Reading All...