Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Tamparan Yudistira


__ADS_3

"Mama...!!!" teriak Varisa sambil mengejar ibunya.


Rumi terus menangis karena sangat kecewa dengan putrinya, ia menuruni anak tangga sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Ma..." Varisa berhasil mengejar ibunya dan kembali bersimpuh di kaki ibunya. "Aku mohon maafkan aku ma, aku tahu aku salah, aku tahu aku sudah mengecewakan mama."


Rumi bergeming, air matanya tak bisa berhenti mengalir.


"Ma... pukuli aku tapi jangan diam seperti ini ma. Aku mohon..."


Rumi menghela nafasnya. "Apa kurangnya kami nak? Kami selalu mengikuti keinginanmu. Papa berjuang mati matian demi semua ini. Untuk siapa itu? Hanya untuk membahagiakan putri satu satunya. Tapi apa yang kau lakukan, kau melakukan hal serendah ini. Jika kau berhasil membunuh wanita itu, kau membunuh 2 orang sekaligus. Wanita itu dan juga anak yang ada di dalam kandungannya. Lalu setelah itu, apa kau akan hidup tenang dan bisa bersama Zio? Tentu saja tidak nak, kau akan mendekam dalam penjara selama sisa usiamu, bahkan kau bisa dihukum mati."


"Aku menyesal ma, aku benar benar menyesal. Zio baik baik saja, aku tidak membunuh siapapun ma. Untuk itu, aku ingin ke Amerika." jawab Varisa.


"Kau pikir keluarga Cruise akan membiarkan semua ini? Walaupun kau tidak berhasil membunuh mereka, tapi kau tetap melukai Zio." bentak Rumi.


"Ma... tolong bantu aku. Aku tidak ingin masuk penjara. Ma... ini semua perbuatan Cecil."


"Serahkan dirimu pada kepolisian dan katakan semuanya agar hukumanmu lebih ringan. Lari dari sini justru akan menambah berat hukumanmu nak." pinta Rumi seraya duduk di hadapan putrinya. "Mama melakukan ini karena terlalu menyayangimu." imbuhnya seraya memegang lengan putrinya.


"Tidak... reputasiku akan hancur jika sampai aku masuk penjara, lebih baik aku mati saja." teriak Varisa seraya melepaskan tangisannya lagi.


Suara teriakan Varisa membuat Yudistira terkejut. Pria itu baru kembali bekerja dan langsung mendengar keributan antara istri dan anaknya. Pria itu segera melangkahkan kakinya menuju arah suara pertengkaran. Ia berhasil menemukan keduanya sedang duduk di lantai anak tangga.


"Ada apa ini? Penjara dan kematian apa yang kalian bicarakan?" tanya Yudistira.


Rumi dan Varisa sama sama terkejut, keduanya menatap Yudistira dengan ketakutan terutama Varisa.


"Pa..." ujar keduanya bersamaan.


Yudistira mengerutkan keningnya penuh tanya, ia menaiki tangga menghampiri mereka.


"Apa ini ma? Kalian kenapa?" tanya Yudistira lagi.


Rumi segera berdiri. "Pa... tenangkan dirimu." pintanya.


"Pa... tolong bantu Varisa, aku takut pa." pinta Varisa.


"Ada apa Varisa? Apa ini karena keluarga Cruise lagi?" tanya Yudistira.


Rumi kebingungan, ia tak bisa berkata apapun pada suaminya. Dengan tubuh gemetar Varisa bangun lalu menghadapi ayahnya, ia mulai bercerita tentang semua yang ia lakukan. Yudistira tentu saja terkejut dan...


Plaaaaakkkk....


Tamparan keras melayang ke pipi Varisa hingga wanita itu terjatuh.


"Papa...!!!" teriak Rumi seraya membantu putrinya.


Yudistira menyesal karena melayangkan tangannya. Tapi ia begitu kecewa dengan apa yang dilakukan putrinya.


"Kau memang pantas masuk penjara." bentak Yudistira. "Anak memalukan, kau telah mencoreng nama baik keluarga ini. Apa yang aku lakukan untukmu selama ini, apakah belum cukup hah...!" teriaknya.


"Pa... tenanglah..." pinta Rumi. "Kita harus mencari solusi dalam masalah ini." imbuhnya.


Varisa menangis semakin keras, ia bangun lalu berlari ke arah kamarnya.

__ADS_1


"Ris...!" teriak Rumi memanggilnya. "Pa..."


"Ya Tuhan... apa kesalahanku?" ujar Yudistira.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang pa? Aku tidak membenarkan perbuatan Varisa, tapi ia putri kita satu satunya pa." kata Rumi seraya terisak.


Yudistira memeluk istrinya. "Aku harus merendahkan diriku pada keluarga Cruise tentang masalah ini ma. Tenangkan dirimu, kita akan segera menyelesaikan masalah ini. Jaga Varisa, aku akan ke rumah Cruise sekarang." ujarnya seraya melepaskan pelukannya dan langsung pergi begitu saja.


"Pa..." panggil Rumi namun suaminya sama sekali tidak mendengarkannya.


Rumi hanya bisa kembali menangis saat keadaan semakin runyam.


*****


Zionel membuka matanya, perlahan lahan ia melepaskan Stevani lalu turun dari ranjangnya. Pria itu berjalan dengan perlahan menuju pintu ruangan untuk mencari Alex, namun yang ia lihat hanya Roxy yang sedang asyik bermain game online.


"Dimana Alex?" tanya Zionel membuat Roxy terkejut hingga nyaris menjatuhkan ponselnya.


"Ya Tuhan bang mengejutkan saja." jawab Roxy.


"Kau itu menjadi penjaga sekarang, jika kau asyik main ponsel bisa bisa kau lengah." ujar Zionel.


"Maaf bang, aku bosan."


"Ck... dimana Alex?"


"Pak Alex sedang makan, ia belum makan siang. Bang Zio lebih baik kembali beristirahat, bukankah dokter melarang abang berjalan jalan."


"Bawel... sini ponselmu." pinta Zionel.


Zionel menatapnya tajam, seketika Roxy memberikan ponselnya pada Zionel. Pria itu segera menghubungi Alex.


"Halo... ada apa Roxy? Pak Zio baik baik saja kan?" tanya Alex setelah mengangkat teleponnya.


"Ini aku." jawab Zionel.


Alex tersedak hingga terbatuk-batuk, Zionel segera menjauhkan ponselnya.


"Apa kau bodoh Lex? Bisa bisanya kau tersedak."


"Maaf pak Zio, aku hanya terkejut. Ada apa pak? Aku akan segera kesana."


"Belikan aku dan Stevani makan malam, makanan rumah sakit tidak enak."


"Anda ingin makan apa?"


"Kau tahu tanpa bertanya." jawab Zionel seraya menutup teleponnya.


Zionel mengembalikan ponsel Roxy. "Kau bawa charger tidak? Ponselku mati."


Roxy mengeluarkan charger dari dalam tas kecilnya, lalu menyerahkannya pada Zionel.


"Kau berguna juga, tetap disini sampai Alex kembali. Setelah ia kembali, kau boleh pulang. Disini tidak ada tempat tidur kecuali kau ingin dirawat." kata Zionel.


"Iya bang. Bagaimana keadaan kakak ipar?" tanya Roxy.

__ADS_1


"Selama ia bersamaku, maka ia akan baik baik saja." jawab Zionel seraya menutup pintu ruangan.


Roxy hanya bisa menggaruk kepalanya, sikap Zionel memang selalu galak seperti itu, namun sebenarnya ia sangat menyayangi sepupu sepupunya. Roxy kembali bermain game online sambil menunggu kedatangan Alex.


*****


Zionel kembali masuk dan mendapati kekasihnya sedang menatapnya tajam dan bibirnya mengerucut.


"Kau sudah bangun?" tanya Zionel.


"Apa yang kau lakukan? Darimana?" tanya Stevani kesal.


Zionel mendekati kekasihnya. "Jangan marah nona, aku hanya mencari Alex karena lapar."


"Kau kan bisa memanggilnya dari sini tanpa harus turun dan berjalan jalan."


"Oke... aku salah." jawab Zionel seraya naik ke ranjang lagi.


Stevani menurunkan sebelah kakinya untuk turun, seketika Zionel menahannya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Zionel.


"Buang air kecil." jawab Stevani.


Zionel segera turun lagi lalu memutari ranjang.


"Zio... aku bisa sendiri."


Zionel langsung menggendongnya membuat Stevani terkesiap.


"Zio... lukamu. Turunkan aku." pinta Stevani.


Zionel tak mendengarkan ucapan Stevani, pria itu terus membawa kekasihnya ke kamar mandi.


"Demi Tuhan... kau menyebalkan sekali Zio." ucap Stevani setelah diturunkan Zionel, wanita itu langsung memeriksa luka Zionel.


Zionel menahan tangannya lalu menatap Stevani. "Jangan menyentuhnya sayang, aku bisa melucuti pakaianmu."


"Ciiiih... mes*m. Keluar sana...!!!"


Zionel terkekeh saat melihat wajah Stevani yang memerah. "Panggil aku jika membutuhkan sesuatu."


"Iya cerewet..." jawab Stevani.


Zionel terbelalak, ia mendekati Stevani lalu menarik punggungnya hingga menempel pada tubuhnya.


"Katakan sekali lagi."


"Zio... aku hampir pipis di celana, berhentilah menggodaku."


Zionel tertawa terbahak-bahak hingga membuat lukanya nyeri. Ia melepaskan Stevani lalu keluar dari kamar mandi itu. Pria itu pun menunggu kekasihnya di depan pintu kamar mandi tersebut.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2