
Falera dan Varisa melangkahkan kakinya perlahan menuju ruang tamu. Sontak Nicholas terkejut mendapati istrinya keluar dari kamarnya. Pria itu bangkit dari duduknya lalu segera menghampiri istrinya.
"Kenapa mommy keluar kamar?" tanya Nicholas sambil membantu istrinya duduk ke sofa.
"Benar, kami bisa menjenguk ke dalam." sahut Rumi.
"Itu tidak sopan, bagaimana aku bisa membiarkan tamu menghampiriku di kamar. Selamat datang di rumah keluarga Cruise tuan, nyonya." jawab Falera.
"Terima kasih nyonya Cruise, maaf jika kedatangan kami mengganggu istirahat anda." kata Yudistira.
"Oh tidak apa apa, aku justru senang kalian sangat perduli padaku." kata Falera.
"Kami sudah menyampaikan maksud tujuan kami datang kemari pada tuan Cruise. Selain ingin melihat keadaan anda, kami juga ingin segera meresmikan hubungan antara putri kami dengan putra anda Zio." ujar Rumi.
Falera terkejut, ia menatap suaminya. Nicholas tersenyum lalu mengangkat kedua bahunya.
"Apa kalian sudah dengar soal putraku yang akan menikah?" tanya Falera.
"Kami sudah mendengarnya dari Varisa, tapi putri kami bersedia menunggu sampai..."
"Sepertinya terjadi kesalahpahaman disini." potong Falera. "Aku sangat menyukai Varisa, aku pun berharap putri kalian akan menjadi bagian dari keluarga Cruise. Tapi tanpa diduga putra kami melakukan kesalahan. Ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi selain itu sepertinya putra kami memang mencintai wanita itu. Kami akhirnya menyerah dan mengizinkannya untuk memilih wanita yang ia inginkan. Varisa... Tante minta maaf karena telah membawamu kedalam masalah keluarga ini." imbuhnya.
"Tunggu nyonya Cruise, maksud anda Zio menikah karena mencintai wanita itu bukan karena sebatas tanggung jawab?" tanya Yudistira.
Falera menganggukkan kepalanya begitu juga dengan Nicholas.
"Tidak tidak... Tante bilang Zio tidak pernah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin ia mencintai wanita itu?" ujar Varisa.
Falera menghela nafas panjang. "Maaf sayang, tante bersalah padamu."
"Varisa mohon tante, aku bisa menunggu sampai anak itu lahir dan Zio menceraikannya. Lalu aku akan menjadi ibu pengganti untuk anak Zio. Aku bisa menunggunya 9 bulan kemudian, tapi tolong resmikan hubungan kami dengan pertunangan. Aku janji akan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri."
"Benar nyonya Cruise, putriku sejak dulu sangat menyukai anak kecil, aku yakin ia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak Zio nanti. Kami bisa menunggu sampai Zio dan wanita itu bercerai, kalian setuju pernikahan ini karena takut akan status anak yang dikandung wanita itu kan?" ujar Rumi.
"Aku sebenarnya tidak menyetujui akan hal ini, tapi sepertinya putriku sangat mencintai putra anda. Jadi aku pun menyetujui keinginannya, kami juga bisa menjadi kakek dan nenek untuk anak Zio nanti." sahut Yudistira.
Nicholas dan Falera saling bertatapan karena kebingungan.
"Begini saja, apa kalian bisa menunggu sebentar. Aku akan menghubungi Zio untuk menjawab permintaan kalian." ujar Falera.
__ADS_1
"Mom... kita sudah tahu jawabannya. Tak perlu mendatangkan Zio kemari, ia sedang sibuk bekerja sayang." kata Nicholas.
"Apa maksud ucapan anda tuan Cruise?" tanya Yudistira.
"Perjodohan yang telah diatur istriku sebelumnya sudah tidak mungkin. Putra kami Zionel Cruise sudah memutuskan akan menikah dengan wanita yang ia cintai, dan soal kehamilan wanita itu adalah bonus untuk keluarga kami. Walaupun anak itu kelak akan lahir, Zio tidak akan mungkin bercerai. Jadi tuan, nyonya, Varisa... atas nama istriku, aku minta maaf yang sebesar besarnya dalam masalah ini. Varisa, kau wanita yang sangat cantik dan cerdas, aku yakin masih banyak pria yang lebih baik dari Zionel di luaran sana. Dengan berat hati aku mengatakan untuk tidak memperpanjang masalah perjodohan ini lagi. Zio sudah memiliki pilihannya sendiri, maaf tuan Yudis." ujar Nicholas.
Varisa terbelalak. "Tidak... aku yakin Zio tidak mencintai wanita jelek itu. Ma... Pa... aku tidak ingin memutuskan perjodohan ini."
Yudistira beranjak dari tempat duduknya. "Ini adalah hinaan untuk keluarga kami, kalian akan menyesal karena memutuskan perjodohan secara sepihak. Ma... Varisa... kita pulang sekarang."
Rumi beranjak dari tempat duduknya juga, menarik tangan Varisa dengan paksa sambil mengikuti suaminya keluar dari rumah Cruise.
*****
Falera menghela nafas panjang sambil menyenderkan punggungnya ke sofa setelah melihat keluarga Yudistira meninggalkan rumahnya.
"Beruntung kita tidak berbesanan dengan mereka mom. Sikap mereka benar benar memalukan." ujar Nicholas.
"Daddy yakin ini akan baik baik saja? Sepertinya tuan Yudistira sangat marah."
"Mereka bisa melakukan apa pada keluarga Cruise. Ayo kembali ke kamar, kau butuh istirahat."
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri mom. Masalah ini berakhir disini saja. Kita harus ikut membantu persiapan pernikahan Zio yang tinggal hitungan hari. Kita sudah sepakat soal ini, dan ingat kesehatanmu, jangan terlalu banyak pikiran." ujar Nicholas.
Pria itu membantu istrinya lagi beranjak dari tempat duduknya menuju kamar untuk beristirahat.
*****
Bu Ema pamit pada Stevani setelah selesai membersihkan apartemen.
"Tunggu bu, dimana rumah bu Ema?" tanya Stevani.
"Dekat dari sini non, tepatnya di belakang apartemen ini." jawab bu Ema.
"Apa disana ada rumah rumah warga?"
Bu Ema mengangguk "Tentu saja non."
"Aku kira kawasan ini hanya dihiasi dengan gedung gedung tinggi. Apa aku boleh berkunjung kesana?"
__ADS_1
"Ya boleh non. Tapi tuan Zio pasti tidak mengizinkannya."
"Kenapa aku harus izin dengannya?"
Bu Ema terkekeh. "Ya harus izin, sebentar lagi non kan bakal jadi istri tuan. Kemanapun non pergi ya harus izin. Dan kalau non datang kesana sendiri, itu berbahaya non."
Stevani menyipitkan matanya. "Berbahaya? Ibu saja aman mondar mandir kemari."
"Si non... ibu mah sudah biasa dan memang warga sini. Penampilan ibu juga biasa, siapa yang mau mengganggu ibu di jalan. Kalau non Vani sih satu langkah saja bisa diikuti banyak laki laki."
"Ya Tuhan bu berlebihan sekali. Baiklah, hati hati di jalan bu. Senang bisa berbicara dengan bu Ema."
"Ibu juga senang bisa ngobrol dengan non Vani, terasa sudah lama kenal."
Stevani tersenyum lalu membiarkan bu Ema meninggalkan apartemen. Stevani menatap isi apartemen yang sudah rapi dan bersih, ia kembali merasa kesepian saat ini. Waktu masih menunjukkan pukul 2 siang, tentu saja Zionel tidak mungkin kembali secepat itu.
"Hah... apa yang harus aku lakukan sekarang? Bersih bersih rumah sudah, makan pun sudah. Aku tak bisa tidur siang dan hanya berdiam diri disini. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku bisa mati karena bosan." gumam Stevani.
Wanita itu duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Ia terkejut saat melihat berita tentang perusahaan kontruktor terbesar di kota D sedang membangun ulang hotel berbintang. Dan sosok pria arogan yang selalu bersamanya setiap hari muncul disana. Pria itu terlihat tampan saat melakukan konferensi pers.
Stevani berubah menjadi serius dan mendengarkan semua ucapan Zionel Cruise tentang pekerjaannya. Tanpa sadar ia pun tersenyum saat melihatnya.
"Ternyata wajahmu terlihat sangat tampan saat sedang serius seperti itu. Sosok pria yang berbeda saat bersamaku. Berwibawa, tampan dan gagah. Seandainya kau tidak menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah, mungkin pandanganku akan berbeda. Sayang sekali..." gerutu Stevani. "Ckckck... apa aku sudah gila, kenapa aku mulai memperhatikannya." imbuhnya seraya mematikan televisinya.
Stevani beranjak dari tempat duduknya, ia mulai melihat lihat lebih dekat benda benda yang ada di dalam apartemen Zionel. Ia menemukan sebuah kotak kecil di dalam lemari hias.
"Apa Zio menyimpan perhiasan di apartemen ini? Ah mana mungkin, orang kalangan atas sepertinya tidak akan menaruh barang berharga sembarangan. Lalu apa isi kotak ini? Semoga Zio tidak marah jika aku melihatnya, aku bisa mati penasaran jika tidak membukanya. Zio... maaf..." gumam Stevani seraya mengambil kotak kecil itu.
Stevani membawa kotak tersebut ke ruang santai lalu mulai membuka kotaknya. Terlihat beberapa amplop seperti isi surat dan beberapa lembar foto disana.
"Sepertinya ini foto keluarga, ah... setidaknya aku bisa melihat seperti apa wajah adiknya yang hilang." gumam Stevani seraya mengambil lembaran foto tersebut.
Stevani mulai melihat satu per satu foto tersebut sambil tersenyum. Zionel terlihat sangat lucu saat masih kecil di dalam foto itu. Wanita itu terhanyut hingga tak menyadari Zionel kembali dari perusahaan.
"Apa yang kau lakukan pada barangku?" bentak Zionel mengejutkan Stevani.
*****
Berhasilkah Stevani melihat wajah kecil Haena Cruise...???
__ADS_1
Happy Reading All...😘😘😘