Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Syarat Kontrak Pernikahan


__ADS_3

Setelah mereka selesai di dalam butik, Zionel segera membawa Stevani pergi dari sana.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Stevani.


"Hanya syok." jawab Zionel datar.


"Kau yakin akan tetap keras kepala seperti ini? Bukankah akan membuat ibumu dalam bahaya Zio."


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, tidak akan terjadi apa apa pada mommy. Ia sangat sehat, ia hanya memanfaatkan situasi ini untuk mengubah keputusanku. Dan kau jangan menambah situasi ini menjadi sulit. Kau cukup diam dan hanya menunggu hari pernikahan kita."


"Egois sekali, apa kau tidak memikirkanku sedikit saja? Aku juga terlibat di dalam masalah keluargamu. Jika orang tuamu tidak menyetujuinya, bukankah sama saja aku masuk ke dalam neraka."


"Apa kau lupa janjiku untuk melindungimu? Oh ayolah Van, berhentilah terus berdebat masalah ini. Tidak ada yang bisa mengubah keputusanku. Aku akan tetap menikahimu minggu depan."


Stevani menyenderkan punggungnya ke jok mobil lalu menatap keluar jendela. "Sebenarnya wanita itu lebih baik untukmu. Kau harusnya menerima perjodohan ibumu."


Zionel menepikan mobilnya. "Kau ingin tahu alasan terbesarku menolak untuk menikah?"


Stevani menatap Zionel penuh tanya.


"Sebenarnya aku tak ingin menikah sebelum menemukan Haena. Itulah alasan terbesarku."


"Lalu mengapa kau..."


"Karena aku sudah tidur denganmu." potong Zionel. "Apa kau ingin mendengar lebih banyak lagi alasan lain mengapa aku menikahimu?" bentaknya.


"Kau takut aku hamil kan? Dan aku rasa itu tidak mungkin." jawab Stevani keras kepala.


Zionel menggertakkan giginya, pipinya berdenyut menahan amarah. Pria itu seketika mengambil sebuah amplop coklat di jok belakang lalu menyerahkannya pada Stevani.


"Bacalah isi kontrak yang kau tanda tangani nona, kau bisa mundur jika kau sanggup dengan persyaratannya." ujar Zionel kesal.


Dengan tangan gemetar Stevani mulai membuka amplop tersebut, kali ini ia membaca dengan teliti isi kontraknya. Matanya terbelalak saat sudah mengetahui isi kontrak itu. Air matanya tiba tiba merebak karena beberapa syarat membuatnya sangat sakit hati.


"Mengapa kau lakukan ini padaku?" tanya Stevani sambil terisak.


Zionel menghela nafas panjang. "Kapan aku memaksamu Van, ini semua sudah kau setujui."


"Syarat lain mungkin aku masih bisa menerimanya, tapi bagaimana mungkin jika aku mengandung anakmu, hak asuh otomatis menjadi milikmu. Apa kau pikir aku akan menjadi seorang ibu yang tidak bertanggung jawab? Apa kau pikir aku tidak memiliki hati hingga mau menyerahkan anak kandungku sendiri pada orang lain?"


"Orang lain? Apa maksudmu? Aku ayah dari anak itu."


"Kau akan membuangku setelah satu tahun, tapi aku tidak memiliki apapun, bahkan anakku sendiri akan kau rampas dari tanganku. Apa maksudmu mencantumkan syarat seperti ini Zio?"

__ADS_1


"Kapan aku bilang akan membuangmu setelah satu tahun Stevani? Kau harus tahu itu demi kebaikan kita berdua."


"Tidak...!!! Ini bukan kebaikan untukku. Ini keegoisanmu, kau menggunakan cara licik agar aku terbuang tanpa apapun. Kau pria jahat yang pernah aku temui." teriak Stevani.


"Ah sialan... mengapa ia berpikir seperti itu? Aku hanya menuliskan syarat itu untuk berjaga-jaga agar ia tidak lari dariku setelah satu tahun. Jika ia benar benar mengandung anakku, yang aku inginkan mereka tetap berada di sisiku." pikir Zionel.


Air mata Stevani semakin tumpah, ia terisak hingga tubuhnya bergetar hebat.


"Van... berpikirlah positif tentang maksudku. Aku tidak ada maksud jahat padamu. Ini aku lakukan untuk melindungi anakku nanti." ujar Zionel berusaha menenangkan Stevani.


Alih alih diam, Stevani justru semakin menangis. Zionel menggigit bibirnya, seketika ia keluar dari mobil karena ia tak tahan melihat wanita itu menangis sesesak itu.


Zionel mengambil ponselnya lalu menghubungi Alex.


"Kau dimana Lex?"


"Tentu saja di perusahaan bos." jawab Alex.


"Cepatlah ke jalan Sam Ratulangi. Aku tunggu sekarang." perintah Zionel lalu menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Alex.


Hampir satu jam Zionel berada di luar mobil sambil menunggu kedatangan Alex. Ia sama sekali tak ingin masuk ke dalam mobil dan melihat Stevani lagi. Mobil Alex akhirnya berhenti tepat di belakang mobil Zionel. Alex segera turun dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Zionel.


"Maaf bos, jalanan macet parah." ujar Alex.


"Urusan? Anda sangat free hari ini."


"Ck... banyak omong kau Lex. Cepatlah, aku tak ingin mobilku banjir dipenuhi air matanya."


"Kalian bertengkar lagi?"


Zionel segera menendang kaki Alex membuat Alex meringis kesakitan.


"Oh baiklah aku akan segera membawanya pulang." ujar Alex lalu mendekati pintu mobil Stevani.


Alex membuka pintu mobilnya, entah apa yang Alex katakan sehingga Stevani keluar dari mobil Zionel.


Setelah Zionel melihat wanita itu keluar, ia pun segera masuk ke dalam mobilnya lalu menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan mereka.


*****


Stevani masuk ke dalam mobil Alex dengan wajah yang sangat murung dan mata yang sembab. Alex menyalakan mobilnya dan mulai mengendarainya.


"Ehem... Maaf Van, kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Alex.

__ADS_1


"Mengapa kau tak mengatakannya Lex?" tanya Stevani balik.


Alex menyipitkan matanya. "Soal?"


"Syarat kontrak itu."


"Bukankah saat aku memintamu untuk menandatanganinya, aku sudah bilang baca terlebih dahulu."


"Aku tak memikirkan syarat gila itu Lex. Aku tak menyangka Zionel selicik itu." jawab Stevani.


"Hah licik? Apa maksudmu? Syarat mana yang membuatmu berpikiran seperti itu?" tanya Alex.


"Soal hak asuh anak. Apa yang kalian pikirkan tentang itu? Apa aku tak pantas merawat seorang anak karena terlahir dari keluarga miskin?"


"Oh ya Tuhan... kau salah paham nona. Aku bisa menjamin seribu persen tentang masalah ini."


"Kau jangan membela atasanmu, aku tahu yang ia pikirkan."


"Demi Tuhan, aku tidak membela siapapun Van. Dengarkan aku... pak Zio melakukan ini hanya untuk menahanmu tetap berada disisinya jika kau benar benar mengandung anaknya. Percayalah, pak Zio tidak ingin kau dan anak kalian nanti terpisah satu sama lain. Ia melakukan ini hanya untuk berjaga jaga jika suatu hari kau tetap ingin pergi darinya."


"Tidak... ia hanya takut kehilangan ahli warisnya. Bukan takut kehilanganku. Jika ia memiliki hati, ia tak mungkin melakukan ini padaku." jawab Stevani keras kepala lalu kembali terisak.


Alex kebingungan harus mengatakan apalagi karena Stevani masih tidak mempercayai penilaiannya tentang perasaan Zionel sebenarnya.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Alex.


"Tak bisakah kau membantuku untuk mengubah isi kontraknya Lex. Aku mohon padamu, bantulah aku. Bukankah kau sendiri yang bilang aku bisa meminta bantuan padamu." pinta Stevani.


"Aku memang mengatakan hal itu Van. Tapi ada batas kemampuanku. Kontrak itu sudah dipegang pengacara pribadi pak Zio. Kekuatan hukum sangat kuat, kecuali kau bisa mengembalikan uangnya yang bernilai miliaran itu. Dan pikirkan juga kondisi adikmu saat ini. Percayalah padaku, tidak ada yang dirugikan disini."


"Mengapa kau juga sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Aku pikir kau bisa menjadi temanku Lex."


Alex menghela nafasnya. "Nona Stevani Yunsu, jika kau tidak mempercayai ucapanku. Bagaimana aku bisa menjadi temanmu? Kita bangun rasa percaya satu sama lain, barulah kita bisa menjadi teman. Dan aku yakin tidak ada pilihan lain untukmu kecuali tetap mengikuti kontrak pernikahan ini. Dan satu lagi yang harus kau tahu, jika pak Zio tidak memiliki perasaan padamu, mana mungkin ia tak sanggup melihatmu menangis sampai menghubungiku untuk menjemputmu."


Stevani bergeming, ia masih tak percaya jika Zionel memiliki perasaan pada wanita seperti dirinya.


*****


Happy Reading All...


Next...


Scroll sampai bawah... hehe

__ADS_1


__ADS_2