Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Panas


__ADS_3

Stevani terkesiap saat mendengar suara Zionel yang keras, ia tanpa sengaja menjatuhkan kotak tersebut hingga membuat semua isinya berantakan.


"Zi... Zio... ma... maaf..." ujar Stevani panik.


Stevani menundukkan tubuhnya untuk membereskan kekacauan itu.


"Jangan sentuh...!!" bentak Zionel membuat Stevani seketika mundur.


"Ya Tuhan... aku melakukan kesalahan, kali ini ia kembali seperti pertama kali aku mengenalnya." pikir Stevani.


Tubuh Stevani gemetar ketakutan saat Zionel semakin mendekatinya. Tapi pria itu justru menundukkan tubuhnya dan mulai memunguti semua barang itu lalu segera memasukkannya ke dalam kotak lagi. Setelah selesai pria itu menutup kotaknya lalu berdiri dan menatap Stevani.


"Apa yang kau lakukan dengan barangku?" tanya Zionel berubah menjadi lebih lembut.


"Maaf... aku hanya..."


"Kau boleh menyentuh barang lain tapi tidak dengan kotak ini Van." potong Zionel.


"Aku minta maaf... aku sudah lancang, maaf Zio."


Zionel beranjak dari sana menuju lemari, ia meletakkan kotak tersebut seperti semula lalu mengunci lemarinya. Pria itu cukup lama berdiri di depan lemari membuat suasana menjadi canggung.


"Zio..." panggil Stevani lirih.


"Kotak ini berisi semua kenanganku bersama Haena. Aku hanya tak ingin melihatnya saat ini." ujar Zionel lalu membalikkan tubuhnya menatap Stevani.


"Aku pulang lebih awal karena mengkhawatirkanmu, tapi aku tiba tiba marah karena masalah kecil seperti ini dan membuatmu ketakutan." pikir Zionel.


Zionel melangkahkan kakinya mendekati Stevani. "Apa aku membuatmu takut?"


Stevani mengangguk lalu menggeleng membuat Zionel terkekeh.


"Jawaban apa itu membuatku bingung saja. Maaf aku tadi berlebihan, apa kau sudah makan siang?" tanya Zionel lagi.


"Kau Zionel Cruise yang aku kenal kan?" tanya Stevani.


Zionel menyipitkan matanya. "Memangnya ada berapa Zionel Cruise yang kau kenal." ucapnya seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Zionel menepuk sofa di sebelahnya meminta Stevani duduk di sampingnya. Tapi Stevani masih terus berdiri dan menatapnya penuh tanya.


"Duduklah Van atau aku akan menarikmu agar duduk di pangkuanku." goda Zionel.


"Dasar mes*m." gumam Stevani.


"Aku mendengar ucapanmu." sahut Zionel.


Stevani menghela nafas panjang lalu bersedia duduk di samping Zionel.


"Jadi apa yang membuatmu bertanya seperti itu?" tanya Zionel lagi.

__ADS_1


"Bertanya seperti itu? Apa?"


"Jangan menyebalkan seperti itu Van, kau bilang apakah aku Zionel Cruise yang kau kenal? Mengapa kau bertanya seperti itu?"


"Oh... ehm... sejak semalam kau aneh."


"Aneh?"


"Sudahlah lupakan saja." jawab Stevani.


"Katakan apa yang ingin kau tanyakan dan ada keanehan apa pada diriku." ujar Zionel.


"Kau sejak semalam sudah sering bilang maaf, dan sikapmu tidak seperti biasanya."


"Bukankah hal yang wajar jika aku minta maaf karena melakukan kesalahan?"


"Tapi sebelumnya..."


Zionel menatap Stevani dengan lekat, ia juga menatap leher mulus Stevani yang mulus. Melihat tatapan seperti itu membuat Stevani kikuk, ia menelan saliva nya dan wajahnya menjadi merah.


"Sialan... mengapa aku ingin mengecup leher wanita ini? Bertahanlah Zio..." pikir Zionel.


"Ehm... bagaimana tenggorokanmu?" tanya Zionel.


"Sudah lebih baik, terima kasih." jawab Stevani.


"Apa kau sudah makan siang? Apa buburnya habis? Aku membawakan makanan yang tidak akan mengganggu radangmu lagi, jika kau sudah lapar kau bisa..."


"Kau cepat sekali akrab dengan orang lain, itu bagus selama ia adalah seorang wanita. Tapi tidak jika ia seorang pria."


"Aku hanya mengenalmu dan pak Alex."


"Kau tetap tidak boleh dekat dekat dengan asistenku."


"Tapi kenapa?" tanya Stevani.


Zionel mendekati Stevani hingga jarak wajahnya tinggal beberapa centimeter saja. Keduanya saling bertatapan, Zionel benar benar ingin sekali mencium bibir Stevani. Namun seketika Stevani memalingkan wajahnya, memecahkan kecanggungan diantara mereka.


"Ehm... aku ingin mandi dulu. Rasanya benar-benar panas." ujar Zionel canggung.


"Zio..."


"Hah..."


"Dokter Mark menghubungiku tadi, ia bilang Zaline sudah ada perubahan." ujar Stevani.


"Benarkah? Itu bagus. Aku akan menghubungi dokter Mark dan menanyakannya langsung."


Stevani menganggukkan kepalanya. Zionel pun beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Sajikan makanan itu, sebenarnya aku yang sudah lapar." pinta Zionel.


"Tentu, kau mandi saja. Aku akan menyiapkan makanannya." jawab Stevani.


Zionel menganggukkan kepalanya lalu segera meninggalkan Stevani untuk membersihkan dirinya.


*****


Zionel terus menyiram tubuhnya dengan air dingin, ia berusaha memadamkan hasrat yang timbul sejak tadi. Semakin ia mengakui perasaannya sendiri, ia semakin sulit mengendalikan diri. Ia terus saja ingin mencium Stevani bahkan menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


"Apa aku sudah gila? Apa orang yang sedang jatuh cinta akan seperti ini?" gumam Zionel dibawah guyuran air dingin.


"Aku harus bisa menahan diri sampai wanita itu juga menginginkanku. Ah... sialan... mengapa kau terus bangun hanya dengan memikirkannya saja." umpat Zionel sambil memaki miliknya yang menegang.


Cukup lama Zionel bergulat dengan pikirannya dan air dingin tersebut. Setelah ia dan ponakan kecilnya mampu dikendalikan, ia pun keluar dari kamar mandi. Ia berjalan melewati ruangan menuju ruang ganti, pria itu terkejut saat mendapati Stevani justru sedang memejamkan matanya sambil duduk di sofa.


Dan miliknya kembali menegang saat melihat wajah dan bibir Stevani. Merasa kesal dengan ulah ponakan kecilnya, dengan cepat ia pun segera masuk ke ruang ganti.


"Aku harus segera menikah dengan Stevani, setidaknya aku tidak melakukan kesalahan jika sudah sah di hadapan Tuhan dan hukum. Aku tidak akan mungkin bisa terus bertahan jika seperti ini. Aku bisa sewaktu-waktu menerkam wanita itu. Namun jika sudah ada ikatan pernikahan, setidaknya Stevani tidak terlalu mempermasalahkan sentuhanku." pikir Zionel sambil memakai bajunya dengan kasar.


Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar ganti. Wanita yang ia cintai itu sudah membuka matanya.


"Kau lama sekali, makanannya sudah dingin." ujar Stevani.


"Cuaca sangat panas. Aku suka berendam." jawab Zionel.


"Tapi aku rasa hari ini sedikit mendung, tidak terlalu panas seperti biasanya."


"Tapi aku merasakan panas itu dua kali lipat dari biasanya."


"Apa kau sedang tidak sehat?" tanya Stevani seraya beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Zionel.


Stevani mengangkat tangannya untuk mengecek dahi Zionel, namun seketika Zionel menghindar.


"Aku sudah lapar, temani aku makan Van." pinta Zionel seraya melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Stevani menarik tangannya dan merasa malu karena mendapat penolakan yang begitu jelas dari Zionel. Zionel menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan tubuhnya. Ia merasa bersalah karena menolak Stevani, namun ia melakukannya bukan karena tak menyukainya. Tapi ia takut menginginkan lebih dari sekedar sentuhan itu.


Panas yang ia rasakan saat ini bukan karena sebuah penyakit, namun hasrat yang luar biasa menggebu-gebu. Ia yakin sentuhan sedikit saja dari wanita itu akan membangunkan kembali ponakan kecilnya yang baru saja ia tenangkan.


"Hei... nona... aku sudah lapar." ujar Zionel.


"Aku benar benar masih kenyang, kau bisa makan duluan." jawab Stevani seraya meninggalkan Zionel menuju kamar.


Zionel menghela nafas panjang. "Terlalu cepat jika aku katakan sekarang jika aku sebenarnya mencintaimu Vani. Tunggulah jika sudah saatnya tiba, dan ketika aku menyatakan perasaanku itu, kau tidak akan bisa lari lagi dariku karena Zionel Cruise tidak akan menerima penolakan." pikir Zionel.


Zionel melanjutkan langkahnya lagi menuju ruang makan, makanan yang sebenarnya ia belikan untuk Stevani akhirnya dengan terpaksa ia makan sendirian.


*****

__ADS_1


Happy Reading All...


Next...


__ADS_2