
Keesokan harinya...
Zionel dan Alex sudah sampai di bandara. Ada beberapa orang tim medis juga berada disana untuk menyambut pasien, bahkan mobil ambulance khusus sudah berada di dekat landasan. Mereka terus menunggu kedatangan Zaline yang berada di salah satu pesawat hari ini.
Zionel terlihat berkali-kali mengepalkan tangannya, pria itu bahkan terlihat memucat tidak seperti biasanya. Alex memperhatikan atasannya itu, ia akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Zionel sambil membawa sebotol air mineral.
"Pak Zio, anda baik baik saja kan?" tanya Alex seraya menyodorkan minumnya.
Zionel mendongak lalu mengambil botol air mineral tersebut. "Tidak apa apa." jawabnya datar.
"Maaf jika aku lancang pak, tapi jika anda belum siap melihat nona Haena, anda bisa tunggu di mobil saja, biar aku yang menyambut dan memastikannya."
Zionel menggelengkan kepalanya. "Hari ini adalah hari penantian panjangku Lex. Aku merasa bersalah padanya, aku tak bisa menemukannya lebih cepat hingga membuatnya menderita."
Zionel menundukkan kepalanya, ia kembali mengepalkan tangannya. Terlihat ada kesedihan yang mendalam pada wajah pria itu membuat Alex bingung harus berbuat apa.
"Pak Zio... anda sudah berusaha keras untuk mencarinya, ini sama sekali bukan kesalahan anda. Sebenarnya Tuhan memberikan anda dua hadiah sekaligus saat ini, istri sekaligus nona Haena."
Zionel menganggukkan kepalanya tapi pria itu tetap terlihat sedih. Saat bagian informasi mengumumkan kedatangan pesawat, Zionel dan Alex beranjak dari tempat duduknya. Mereka keluar dari ruang tunggu khusus menuju landasan. Saat pesawat itu mulai berhenti, langkah Zionel seketika ikut terhenti.
Tiba tiba kakinya terasa membeku, jantungnya berdegup kencang, ia pun berkeringat dingin. Zionel menggertakkan giginya untuk menahan emosinya. Kedua tangannya kembali mengepal erat.
"Pak Zio..." ujar Alex. "Belum terlambat jika anda ingin menunggu di mobil." imbuhnya.
Zionel memejamkan matanya sejenak, ia menghela nafas panjang dan memaksakan diri melangkahkan kakinya mendekati pesawat. Mobil ambulance mulai ikut mendekati pesawat, pintu belakang ambulance itu mulai terbuka lebar.
Jantung Zionel kembali berdegup kencang saat petugas pesawat mulai membantu mendorong sebuah ranjang pasien yang dilengkapi dengan alat alat medis. Ranjang itu mulai diturunkan dari pesawat. Zionel dan Alex segera mendekati ranjang itu. Mata mereka terbelalak saat melihat gadis kecil yang terbaring disana.
Tak perlu membuktikan tanda lahir yang ada di telapak kaki Haena, Zionel dan Alex bisa memastikan Zaline memang benar Haena. Wajah kecilnya 5 tahun yang lalu sama sekali tidak berubah.
Zionel memegang samping ranjang itu, ia nyaris meremat seprainya dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat, ia akhirnya berjongkok seraya melepaskan tangisannya. Ini pertama kalinya bagi Alex melihat Zionel emosi seperti itu. Zionel berkali kali memukul pahanya dengan keras sambil terus terisak.
"Maaf... maafkan abang Hae... maaf..." ucapnya sambil terus terisak.
Alex dengan ragu memegang pundak atasannya. "Pak Zio..."
__ADS_1
"Aku menemukannya Lex... ia benar benar adikku, aku menemukannya."
"Anda benar pak, ini memang nona Hae."
"Mengapa aku terlambat menemukannya, lihatlah keadaannya. Mengapa ia terbaring seperti ini? Mengapa ia harus menderita?" ujar Zionel terus menangis.
"Pak Zio... anda tidak terlambat. Anda telah menyelamatkan nona, ia sekarang baik baik saja."
"Tuan... kita harus segera membawa pasien," ujar salah satu petugas medis.
Alex membantu Zionel bangun, tubuh Zionel masih gemetar. Keduanya kembali menatap Haena, petugas mulai mendorong ranjang itu lagi hingga masuk ke dalam mobil ambulance.
"Lex... aku akan ikut mobil ambulance. Kita bertemu di rumah sakit." ujar Zionel seraya naik ke mobil ambulance itu.
Alex hanya bisa mengangguk, ia menghela nafas panjang saat mobil ambulance mulai meninggalkan landasan. Alex pun segera keluar dari bandara menuju mobilnya dan dengan cepat mengikuti mobil ambulance tersebut.
*****
Di dalam mobil ambulance, Zionel terus menggenggam tangan Haena. Air matanya kembali mengalir saat melihat wajah pucat itu.
"Hae... maafkan abang. Segeralah sembuh dan katakan semua yang telah terjadi. Abang janji kali ini tidak akan melepaskan siapapun yang menyakitimu. Hae... seperti apa kehidupanmu selama ini sayang? Apakah sangat sakit selama kau menjalani pengobatan?"
"Sus... apa ini? Apakah sakit rasanya?" tanya Zionel pada salah satu perawat yang duduk bersamanya.
"Bagi pasien koma, itu hal yang wajar tuan. Setelah ia sembuh, semua itu akan menghilang dengan sendirinya. Itu hanya beberapa bekas suntikan atau bekas pengambilan sampel darah. Nona Zaline cukup lama berada dalam keadaan koma, jadi hilangnya kesadaran membuat memar memar itu muncul."
"Baiklah aku mengerti." jawab Zionel.
Zionel kembali menatap Haena. Ia mengusap wajah gadis kecil itu dengan lembut.
"Apa kau tahu sayang? Kau tumbuh dengan baik dan semakin cantik. Aku harus mengatakannya padamu Hae, tapi kau harus janji tidak akan marah padaku. Sebenarnya aku mengambil kakakmu Stevani. Aku menikahinya dan kini ada ponakanmu yang akan segera lahir. Aku janji tidak akan menyakiti Stevani, aku akan melindunginya sama persis sepertinya yang selama ini melindungimu. Cepatlah sadar Hae, berkumpul lagi bersama kami."
Tiba tiba Zaline merespon Zionel, ia menggerakkan beberapa jarinya membuat Zionel terkejut.
"Sus..."
__ADS_1
Perawat segera memeriksanya. "Ini respon positif tuan, selamat..."
Entah mengapa emosi Zionel kembali memuncak, pria itu kembali menangis. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan saat ini. Zionel menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar saat ia berusaha menahan isakannya.
Perawat itu tersenyum namun tanpa sadar ia pun ikut meneteskan air matanya. Ia tak menyangka ada seorang pria yang bisa menangis sesedih itu.
"Tuan... anda harus tenang."
Zionel terus terisak, ia kembali menggenggam tangan Zaline, mengecup punggung tangannya berkali kali dan terus meminta maaf pada adiknya.
Suasana haru itu akhirnya terhenti saat mobil ambulance mereka memasuki gedung rumah sakit. Mobil itu berhenti tepat di pintu masuk rumah sakit. Zaline mulai di bawa turun dan dengan sigap para tim medis membantunya untuk masuk ke ruang perawatan khusus.
*****
Zionel terus menatap pintu ruangan, ia dan Alex masih menunggu dokter yang memeriksa keadaan Zaline keluar. Zionel terus menolak air mineral yang diberikan Alex. Pria itu sama sekali tidak ingin minum walaupun setetes.
"Pak Zio... Anda harus tenang, anda bisa sakit jika seperti ini." ujar Alex.
"Lebih baik aku yang sakit daripada adikku Lex."
"Lalu bagaimana dengan nona Stevani?" tanya Alex.
Zionel menatapnya.
"Nona Stevani sedang mengandung, kondisi tubuhnya sangat lemah. Ia harus menahan diri untuk tidak bertemu adiknya saja sudah membuatnya stres pak Zio. Jika anda jatuh sakit, bagaimana perasaannya?" imbuh Alex.
Seketika Zionel mengambil botol air mineral itu dari tangan Alex seraya menenggaknya beberapa tegukan. Alex menghela nafasnya, Stevani memang kelemahan atasannya saat ini.
"Aku belum menghubungi mereka Lex. Bisakah kau beri kabar pada pak Presdir." pinta Zionel.
"Tentu saja pak." jawab Alex.
Zionel mengangguk, ia membiarkan Alex menghubungi orang tuanya dan juga istrinya. Sedangkan ia terus saja menatap pintu ruang perawatan Zaline yang masih tertutup rapat.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...
Yang mewek jangan lupa lap pakai tisu ya🤣🤣🤣