Aku Bukan Wanita Murahan

Aku Bukan Wanita Murahan
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Keesokan harinya...


Zionel terbangun lebih dulu karena merasakan pegal dan kesemutan di lengannya. Ia mengerjapkan matanya berkali kali lalu tersadar sepenuhnya. Namun pengendalian dirinya cukup baik, ia terkejut namun perlahan lahan melepaskan tangannya dari kepala Stevani. Ia juga melepaskan tangan wanita itu yang melingkar di tubuhnya.


Pria itu turun dari ranjangnya lalu menatap wajah cantik Stevani yang masih terlelap. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena masih kebingungan mengapa wanita itu berada di pelukannya.


"Apa wanita ini tidur sambil berjalan, atau sama halnya seperti diriku yang kedinginan. Tapi melihat sikap keras kepalanya, bukankah lebih baik ia mati kedinginan daripada menaiki ranjang dan memelukku. Lalu apa yang terjadi sebenarnya?" pikir Zionel.


Perlahan lahan ia melangkahkan kakinya keluar kamar lalu menatap sofa yang sebelumnya di tempati oleh Stevani.


"Haisssss... sudahlah... lebih baik aku tanyakan saja nanti." gumam Zionel lagi.


Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah selesai ia pun segera menuju dapur. Zionel terbiasa menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri sebelum mandi.


Mengingat Stevani belum bangun, ia pun menyiapkan sarapan sederhana tanpa menggunakan wajan yang akan membuat keributan di dapur. Zionel memanggang roti dan menyiapkan sandwich, setelah itu ia pun membuat dua gelas susu sambil tersenyum.


"Aku tidak boleh minum kopi di pagi hari, itu perintah calon nyonya muda Cruise." gumamnya sambil tersenyum.


Perasaan bahagia timbul dalam hatinya saat mengingat ucapan ucapan Stevani padanya. Ia yang tak bisa dilarang siapapun, entah kenapa justru merasa senang jika Stevani yang melakukannya.


Zionel menata sarapan itu di meja makan, setelah selesai ia pun kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


*****


Stevani menggeliatkan tubuhnya, ia kembali menguap namun seketika menutup mulutnya karena tersadar dimana ia sekarang. Ia terbangun dengan terkejut membuat kepalanya berdenyut. Ia mencari keberadaan Zionel namun tak menemukan pria itu.


Wanita itu memukul kepalanya sendiri dengan pelan. "Apa kau bodoh Van? Mengapa kau kembali berakhir satu ranjang dengan pria itu? Bagaimana aku bisa menghadapinya sekarang? Tidak tidak... ini semua salah pria itu." gumamnya lalu terburu buru menuju dapur.


Stevani kembali terkejut saat melihat meja makan sudah tersedia sarapan. Ia pun semakin canggung dan merasa bodoh dengan dirinya sendiri.


"Selamat pagi..." sapa Zionel membuat Stevani terkesiap.


Stevani membalikkan tubuhnya lalu berteriak saat Zionel ternyata baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan seperti biasa masih menggunakan handuk di pinggangnya.


"Tak bisakah kau lebih sopan." bentak Stevani sambil memejamkan matanya.


"Bukankah kau harus terbiasa, mandilah lalu kita sarapan." jawab Zionel seraya beranjak menuju ruang ganti.


"Dasar pria gila." gumam Stevani.


Wanita itupun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


*****


Setelah Zionel selesai berpakaian dengan rapi, ia pun membuka pintu apartemennya. Tentu saja hanya untuk mengambil koran dan majalah langganannya lalu kembali menuju sofa sambil menunggu Stevani selesai membersihkan diri.


"Zio... apakah kau duduk di sofa?" teriak Stevani dari dalam kamar mandi.


Zionel menutup majalahnya. "Iya... ada apa?"


"Aku lupa membawa baju handukku, bisakah kau pergi dari sana. Aku mau ke kamar ganti."


Zionel menyunggingkan senyumnya. "Bersedekahlah sedikit, anggap saja sarapan pagi buatku."

__ADS_1


"Berhentilah menggodaku tuan mes*m. Baiklah, aku tidak akan keluar dari sini."


Zionel akhirnya melepaskan tawanya. "Ya Tuhan... baiklah aku mengalah. Aku akan ke balkon."


Zionel pun beranjak dari sana sambil membawa majalahnya menuju balkon apartemen.


Beberapa menit kemudian, Stevani keluar dari kamar mandi sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Ia bernafas lega karena tidak menemukan keberadaan Zionel di dalam ruangan. Ia pun berlari kecil menuju ruang ganti.


Saat Stevani keluar dari ruang ganti, ia sudah melihat Zionel duduk di ruang makan. Pria itu sudah menggigit sandwich nya.


"Maaf aku sudah kelaparan." ujar Zionel sambil menyeringai.


"Tidak masalah, jika kau sudah lapar tidak perlu menungguku." jawab Stevani.


"Tidak sopan nona, kita tinggal bersama tentu saja harus sarapan atau makan bersama."


Stevani mendekatinya lalu duduk di depan Zionel. "Terima kasih untuk sarapan pagi ini, maaf aku bangun terlambat."


"Ini sudah kebiasaanku membuat sarapan sendiri, hanya menambah sedikit lebih banyak untuk penghuni lain, tak perlu sungkan."


"Ehm... soal semalam..."


"Aku juga ingin tahu, tapi sarapan lebih penting sekarang. Jika kita membahasnya, aku yakin mood mu berubah menjadi buruk." potong Zionel.


"Kaulah yang membuatnya menjadi buruk."


"Lihatlah... belum dimulai saja kau sudah menyalahkan aku."


Zionel berhenti menggigit sandwich nya. "Sepertinya aku kembali bermimpi buruk, tapi kenapa malam ini aku tidak mengingatnya? Sangat aneh."


Stevani menyipitkan matanya. "Apa maksudmu tidak ingat, apa kau mau menyalahkan aku lagi karena naik ke atas ranjang itu?"


"Aku sudah bilang hentikan, kita sarapan terlebih dahulu." pinta Zionel.


Dengan wajah cemberut, Stevani melanjutkan sarapan. Ia bahkan menggigit sandwich itu seolah-olah sedang menggigit Zionel.


"Aku rasa rotinya tidak sekeras itu, mengapa kau menggigitnya seolah-olah sedang menggigit batu." ejek Zionel.


"Aku membayangkan roti ini adalah kau." bentak Stevani.


"Wow... aku penasaran rasanya digigit olehmu."


"Apakah waktu itu belum cukup?" ejek Stevani balik.


Seketika Zionel mengumpat saat ingat bagaimana bibirnya digigit dengan keras oleh wanita itu. Merasa menang, Stevani akhirnya terkekeh. Zionel memperhatikan Stevani saat wanita itu tertawa.


"Seharusnya kau sering menunjukkan wajah seperti ini daripada wajah perangmu Van."


Stevani menghentikan tawanya, ia juga menghentikan sarapannya karena sudah kenyang.


"Apa kau sering bermimpi buruk?" tanya Stevani tiba tiba.


Zionel menganggukkan kepalanya. "Sejak Haena menghilang."

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud apapun, tapi apa kau pernah menghubungi psikiater tentang masalahmu ini?"


"Sampai saat ini aku masih mengunjungi psikiater. Dan hasilnya tetap saja, kadang setiap hari, dua hari sekali, seminggu sekali aku memimpikan hal yang sama. Haena terus meminta tolong padaku. Tapi... selama ini setiap kali aku bermimpi, aku akan mengingatkannya. Tapi semalam, bagaimana aku bisa lupa?"


"Kau terus saja berteriak jangan tinggalkan abang Hae... saat aku ingin membangunkanmu, kau malah..."


Stevani menghentikan ucapannya lalu menatap wajah Zionel yang masih penasaran. Pria itu memajukan tubuhnya.


"Apa aku menciummu? Atau..."


"Pikiranmu sungguh mes*m." bentak Stevani.


Zionel tertawa. "Lalu apa yang aku lakukan nona?"


"Sudahlah lupakan saja, yang jelas aku tertidur tanpa sengaja disana."


"Oooooo..." ujar Zionel sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


"Oooooo??? jawaban macam apa itu?" pikir Stevani.


"Alex akan segera tiba untuk menjemputmu. Berdandanlah sedikit." kata Zionel.


"Menjemputku? Kemana?"


"Ckckck... mudah sekali kau melupakan atau kau sudah mulai pikun sebelum menikah nona. Tentu saja untuk ke butik baju pengantin."


"Aku tidak lupa soal itu, tapi kau bilang hanya menjemputku lalu kau?" tanya Stevani penasaran.


"Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan lari. Tentu saja aku akan kesana, tapi ada sedikit urusan yang ingin aku selesaikan terlebih dahulu. Setelah selesai, aku akan datang." jawab Zionel.


"Aku malah berharap kau akan lari." gumam Stevani.


"Apa adalagi yang ingin kau tanyakan?"


"Tidak... tidak... aku akan membereskan meja terlebih dahulu." jawab Stevani.


"Tidak perlu, kau bisa membuat Alex menunggu. Hari ini biar pelayan lagi yang melakukannya."


"Bukankah kau sudah janji akan membiarkanku melakukannya."


"Aku tahu itu, tapi kau sedang ada kepentingan lain daripada membereskan rumah. Oh ayolah nona, haruskah kau terus membantah ucapanku."


Baru saja Stevani ingin membalas ucapan Zionel, suara ketukan pintu terdengar.


"Apa ku bilang, Alex sudah datang dan kau belum siap." ujar Zionel seraya beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.


Pria itu membuka pintu apartemennya dan terbelalak saat melihat siapa yang datang.


*****


Happy Reading All...


Next...

__ADS_1


__ADS_2