
Zionel sontak saja menahan tangan Stevani. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku kira aku sedang bermimpi."
"Apa maksudmu?" tanya Zionel karena masih belum menyadarinya.
"Seorang pria arogan dan kaya raya seperti tuan Zionel Cruise meminta maaf padaku." ejek Stevani.
Zionel mengumpat. "Apa yang kau lakukan di dapur?"
"Apa kau tak lihat yang aku jatuhkan ke lantai? Tentu saja aku minum."
"Lalu apa yang sakit? Aku mendengar sedikit yang kau gumamkan."
"Tenggorokanku, tiba tiba terasa kering dan sangat sakit." jawab Stevani.
"Apa yang kau makan tadi?" tanya Zionel.
Stevani berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. "Makanan biasa saja."
"Makanan biasa yang bisa jadi luar biasa hingga menimbulkan radang tenggorokan. Ikut aku..."
Zionel menarik tangan Stevani menuju ruang tamu dan membuat wanita itu duduk di sofa.
"Jangan kemana mana, tunggu aku disini." perintah Zionel.
"Mengapa aku harus menuruti perintahmu?" pikir Stevani kesal.
Beberapa menit kemudian, Zionel membawa obat dan segelas air putih.
"Minumlah obatnya lalu lanjutkan tidurmu, besok setelah kau bangun, aku yakin akan membaik." ujar Zionel.
"Tak perlu, aku akan baik baik saja setelah tidur." jawab Stevani.
"Tak bisakah sekali saja kau menurut agar kita tidak terus bertengkar?"
"Ck... baiklah." Stevani mengambil obatnya lalu menelannya sambil meringis karena sakit saat menelan.
Zionel menyentuh leher wanita itu lalu mengelusnya membuat Stevani terbelalak.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Stevani sambil mundur.
"Apa sakit sekali?" tanya Zionel lembut.
Stevani merinding mendengar pria itu yang berubah dalam sekejap tidak seperti biasanya.
"Se... sedikit." jawab Stevani gugup.
"Kembalilah tidur."
"Aku akan membereskan pecahan gelas dulu."
__ADS_1
"Tidak perlu, biar aku saja. Kau bisa melukai dirimu."
"Lalu bagaimana dengan kau Zio? Kau juga bisa terluka."
"Jangan cerewet, aku sudah sering melakukannya. Kembalilah ke kamar."
"Aku masih ingat sebelumnya tidur di sofa, bagaimana aku bisa pindah ke kamar?" tanya Stevani penasaran.
"Bukankah tenggorokanmu sangat sakit, banyak bicara akan membuatmu semakin kesakitan. Tidurlah..."
Kali ini Zionel mendorong tubuh Stevani pelan agar masuk ke kamar. Wanita itu akhirnya berhenti mendebat ucapan Zionel lalu masuk ke kamar. Setelah Zionel yakin Stevani tidur, ia pun mulai membersihkan pecahan gelas di dapur itu.
*****
Stevani membalik balikkan tubuhnya di atas ranjang, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan sikap Zionel yang berbeda.
"Apa yang merasuki pria itu, mengapa ia tiba tiba sangat khawatir padaku, meminta maaf dan caranya berbicara tadi... ikh..." pikir Stevani.
Stevani terus merinding saat mengingat sikap Zionel tersebut.
"Apa mungkin ia sedang merencanakan sesuatu agar aku menyetujui hak asuh itu? Tidak akan... sampai matipun jika aku mengandung anaknya, aku tidak akan menyerahkannya. Aku akan tetap mempertahankan anak yang aku lahirkan walaupun harus masuk ke dalam penjara." pikir Stevani lagi. "Benar... aku harus menjauhi pria itu, aku tidak boleh lemah dan mengalah dengannya. Tidak semua bisa dibeli dengan uang." gumamnya.
"Berhentilah membalik balikkan tubuhmu Van, suara denyitan ranjang itu mengganggu tidurku...!" teriak Zionel.
"Aku tidak bisa tidur." balas teriak Stevani.
"Ya Tuhan... berhentilah ikut berteriak, jaga tenggorokanmu yang sakit. Apa kau ingin ku temani?"
"Mimpi saja."
"Dasar pria mes*m, aku akan menendangmu jika kau berani melakukannya." ancam Stevani balik.
Zionel akhirnya melepaskan tawanya setelah berhasil menggoda Stevani. Pria itu memejamkan matanya kembali setelah tidak mendengar suara berisik dari dalam kamar.
*****
Keesokan harinya...
Zionel terkejut saat mendengar suara ponselnya berdering. Panggilan masuk dari ayahnya membangunkannya. Zionel segera mengangkat telepon itu dengan malas.
"Iya dad."
"Apa kau tahu mommy akan keluar dari rumah sakit hari ini?" tanya Nicholas.
"Ya aku tahu."
"Kalau begitu mengapa kau belum menjemput kami, mommy pasti senang jika kau melakukannya. Dan ada yang harus kita bicarakan lagi Zio."
"Jika kalian ingin membicarakan soal pembatalan pernikahanku, itu tidak akan terjadi dad. Persiapan sudah 80%."
"Kau terlalu banyak berpikir Zio, cepatlah ke rumah sakit."
__ADS_1
"Daddy, ini masih pagi sekali. Jika mommy keluar dari rumah sakit sepagi ini, kalian bisa meminta supir, aku akan menemui kalian di rumah."
"Apa yang kau lakukan semalam Zio? Apa kau baru tertidur? Lihatlah jam berapa ini?"
Zionel menatap jam dindingnya lalu terbelalak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia segera bangun dari tidurnya.
"Oh ya Tuhan... mengapa aku bisa terlambat bangun?" gumamnya. "Dad... aku akan mandi terlebih dahulu lalu menjemput kalian." ujarnya.
"Baiklah kami tunggu." jawab Nicholas seraya memutus panggilannya.
Zionel segera beranjak dari sofa menuju kamar, ia terkejut karena Stevani juga masih tertidur. Ia mendekati wanita itu dan memeriksanya karena khawatir. Tapi ia bernafas lega karena wanita itu tidak demam.
"Sepertinya hanya efek obat. Aku akan menghubungi Alex untuk membelikan sarapan untukmu. Aku terburu buru ke rumah sakit." gumam Zionel seraya mengecup kening Stevani.
Pria itu beranjak dari kamar tidur menuju kamar mandi.
Setelah ia selesai membersihkan diri dan berpakaian dengan rapi, ia kembali menengok Stevani tapi wanita itu masih tidur dan hanya mengganti posisi tidurnya saja. Zionel hanya tersenyum melihatnya, ia pun segera keluar dari apartemen.
Sambil berjalan menuju parkiran mobil, ia segera menghubungi Alex untuk membelikan makanan untuk Stevani.
"Pak Zio, satu jam lagi akan ada meeting dengan kontruktor bagian barat. Bukankah anda yang memintanya." ujar Alex.
"Ya Tuhan, aku melupakan itu. Undur waktunya setelah makan siang Lex. Kebetulan aku juga harus menjemput mommy di rumah sakit. Dan Stevani sepertinya kurang sehat, aku khawatir ia tak bisa memasak sendiri karena lemah."
"Nona Stevani sakit? Apa sudah menghubungi dokter pak?"
"Kau sangat perhatian pada calon istriku, apa kau semakin dekat dengannya?"
"Oh... anda salah paham pak. Hanya saja kemarin ia terlihat baik baik saja tapi tiba tiba anda..."
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Berhentilah banyak tanya, cukup kau kerjakan perintahku jika masih ingin bekerja dengan keluarga Cruise." ancam Zionel.
"Baik pak." jawab Alex.
Zionel menutup teleponnya lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mobilnya lalu beranjak meninggalkan apartemen menuju rumah sakit.
"Menjengkelkan sekali mendengar pria lain memperhatikan Stevani walaupun itu Alex. Aku tidak akan membiarkan siapapun dekat dengannya. Ia tak boleh mendapat pelarian jika berniat meninggalkanku. Aku ingin wanita itu berpikir hanya akulah yang ia butuhkan. Stevani Yunsu, kau harus tetap berada di sisiku. Aku harus mencari cara agar kau tetap bersamaku." gumam Zionel.
Zionel terus bergumam sendiri tanpa henti. Setelah ia meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya yang sebenarnya pada Stevani, ia semakin tak ingin ada pria manapun memikirkan wanita itu.
"Jika aku meminta Alex mengirimkan sarapan untuk Stevani, bukankah ia akan semakin dekat dengannya. Sialan... aku tak ingin itu terjadi." gumam Zionel lagi.
Zionel menekan tombol telepon di setir mobilnya untuk menghubungi Alex.
"Ya pak." jawab Alex.
"Kau tak perlu mengantarkan sarapan ke apartemenku. Kau suruh saja Gina yang mengantarkannya. Kau urus meeting Lex, setelah aku selesai menjemput mommy, aku akan segera ke perusahaan." ujar Zionel seraya langsung menutup teleponnya.
Zionel tersenyum dan bernafas lega karena ia menemukan ide lain untuk menjauhkan Alex dari Stevani.
*****
__ADS_1
Happy Reading All...
Next...